
****
Reynand memijat kepalanya yang masih tampak pusing, sesekali ia melepas kacamata yang memang jarang ia pakai itu untuk sedikit menekan dengan jari matanya yang mulai lelah. Ia meluruskan tubuh dan merenggangkannya karena kaku dan pegal.
Keluar dari kamar maka laki-laki itu pun langsung menuju ke dapur.
"Ma.... lihat Nayla nggak?" tanyanya saat melihat sang ibu tengah memasukkan lauk kedalam pendingin.
"Diluar...." jawab Mama singkat.
"Kok Mama biarin diluar, nanti kalau masuk angin gimana?"
Mama Adel tidak menggubris, selesai menutup pintu kulkas ia pun langsung menuju wastafel dapur.
Reynand mengikuti sang ibu. "Ma, Nayla sendirian di luar?"
"Sama pak Tio."
"Kok sama pak Tio, mereka ngapain?"
Mama Adel yang selesai mencuci tangan berdecak lalu berputar untuk menghadap anaknya. "Lagi ngobrol sama pak Tio." ketusnya. "Makanya istri kamu, jangan dibuat kesal...."
Kesal?
"Nayla, ngomong sesuatu...."
"Sekarang Mama tanya sama kamu. Kamu apain dia!?"
****
Beberapa saat kemudian laki-laki yang tengah merasa bersalah itu berjalan keluar menuju taman. Dan, benar saja yang Reynand lihat disana adalah Nayla yang tengah tertawa dihadapan pak Tio. Menerka Apa yang pak Tio lakukan sehingga istrinya terlihat begitu. Untuk kali ini dia merasa bahwa pak Tio adalah saingannya.
"Bapak ngapain sama istri aku?"
Mendengar suara tersebut pandangan pak Tio langsung beralih, sementara itu Nayla enggan untuk menatapnya.
"Bapak lagi ngobrol sama mbak Nay, katanya mbak Nayla bapak ini lucu." ujarnya dengan raut wajah jenaka. "Makanya bapak ajak mbak Nayla ngobrol biar bisa ketawa terus, soalnya bapak lihat sebelumnya mukanya mbak Nayla itu, cemberuut...." jelasnya sengaja. Agak-agaknya pak Tio paham penyebab kegundahan Nayla tadi.
Sudut bibir Reynand tertarik sebelah, entah kenapa perkataan pak Tio seolah menyudutkan dirinya.
"Iya toh, mbak." pak Tio tersenyum melihat Nayla yang juga senyum tipis kearahnya. "Tuh, kalau senyum gini kan, cantik." lalu tertawa.
Reynand berdecak. "Bapak gak usah godain istri aku...." lalu mendekat dan duduk disebelah Nayla. "Bapak mending pergi deh sekarang udah ada aku disini buat nemenin Nay...."
Pak Tio pun beranjak dari duduknya diatas batu besar yang memang menghadap dengan bangku taman tempat Nayla duduk. "Makanya mas, punya istri jangan dibikin ngambek."
Reynand lantas melotot. "Pak Tio kok makin menyulut api sih...."
Maka sebelum Reynand menyelesaikan ucapannya, pak Tio dengan cepat pamit undur diri dari sana.
Kepergian pak Tio dari sana memulai keheningan diantara kedua pasutri itu.
Reynand berdehem sejenak. "Nay...." lirihnya takut-takut.
Nayla mendesah. Perempuan itu lantas berdiri dari duduknya. Kenapa dia jadi malas ya berduaan dengan Reynand. Rasanya sebal-sebal gimana gitu.
Seketika Reynand pun refleks berdiri. "Tunggu, kamu mau kemana, duduk disini dulu sama aku." ia menahan lengan Nayla.
__ADS_1
Nayla mengernyit, ha? Bukannya tadi laki-laki ini sangat tidak ingin diganggu olehnya? Maka tanpa menggubris ia melepas cekalan tangan itu.
"Nay...." Reynand merengek. "Ngambek ya?" menyusul hingga ia ada dihadapan perempuan itu sekarang.
Nayla menatap jengah, ia menggeser tubuhnya dari hadapan Reynand. Namun lagi-lagi laki-laki dihadapannya ini ikut menggeser tubuh tepat dihadapannya dan begitu seterusnya hingga tiga kali berturut.
"Maaf ya? Aku tadi...."
"Minggir nggak!" sambar Nayla cepat.
"Sayang...." berusaha meraih tangan istrinya.
Nayla menarik pelan tangannya dari Reynand. "Tolong ngertiin aku. Aku lagi pusing, lagi gak mau lihat muka kamu."
Reynand lantas mendesis mendengar ucapan itu, entah kenapa rasanya ucapan itu hampir sama dengan apa yang ia lontarkan tadi.
Mengangkat tangannya kaku saat Nayla berlalu. Ia pun lantas mulai mengoreksi diri. Tadi dia salah ya? Dia ngomong apa sih tadi? Haha, bodoh! Masak dia lupa dengan ucapannya sendiri.
"Arrrghh..." ia menjenggut rambutnya kasar.
"Reynand! Kenapa kamu teriak malam-malam begini?" ujar kakek yang saat itu baru saja ada keperluan dengan security rumah. Laki-laki itu kemudian berhenti sejenak dari langkahnya. Seperti sebelum-sebelumnya Reynand kembali membahas sesuatu yang serius bersama kakek.
Setelah Reynand melakukan obrolan singkat dengan kakek, ia mengusap kepala pelan. Entah kenapa ia merasa kepalanya serasa mau pecah saat ini. Tanggung jawab sebagai pemimpin perusahaan dan tanggung jawab sebagai suami jelas berbeda. Dan keduanya harus ia jalani semua.
Tapi sepertinya lebih baik ia mengabaikan tentang perusahaan sekarang, lihat saja istrinya jadi kesal pada dirinya karena ia terlalu fokus pada tanggung jawabnya yang satu itu.
Dan, beberapa saat kemudian.
Cklek!
Reynand mendorong pintu kamar dan bergegas masuk. Dilihatnya Nayla sudah berbaring dengan memeluk bantal guling dan juga membelakangi tempatnya tidur.
"Nay, tidur ya?" ia grasak-grusuk sendiri dengan sedikit menimpa tubuh Nayla yang miring. "Ya ampun Nay.... yuk kita ngobrol. Katanya tadi kamu mau ngomong sesuatu." menggoyang tubuh yang terlelap itu pelan. "Nay, sekarang aku udah siap dengerin kamu ngomong."
"Nay...."
"Nay...."
Nayla yang mendengar itu kemudian berbalik dan berdecak sebal. "Apaan sih?! Kayak anak kecil tau gak." Lebih tepatnya ia sebenarnya tidak mood lagi untuk berbicara tentang hal apa pun saat ini.
"Aku kayak anak kecil?!" Reynand menatap heran. "Kamu gak usah berlebihan deh Nay...." ujarnya pelan.
Lantas Nayla pun merasakan dadanya memuncak tak menentu. Ia kemudian perlahan bangkit dan duduk. "Apa tadi kamu bilang? Aku berlebihan? Seharusnya kamu tanya dong sama diri kamu sendiri kenapa aku begini."
Melihat wajah yang langsung memerah itu, Reynand langsung gelagapan. "Aku tadi gak...."
"Gak apa!? Ha?!" Wajah Nayla semakin memerah.
Reynand kemudian meraih tangan yang mengepal itu. "Nay, bukan gitu maksud aku. Aku tadi cuma lagi.... Aku bingung, kerjaan lagi banyak dan aku pusing gimana harus...."
Nayla melepaskan cekalan Reynand dari tangannya. "Ya udah, maaf karena udah ganggu kerjaan kamu...." Perempuan itu berbalik enggan menatap Reynand.
"Ya ampun, Nay. Kamu kenapa sih? Itu tadi bukan masalah besar, kan...."
Bukan masalah besar katanya?
Perempuan itu lalu menoleh, ia bersidekap dan menatap suaminya dengan intens. "Terus aku harus gimana?" Ujarnya kemudian dengan kedua tangan terbuka. "Jadi, buat seterusnya aku harus gimana kalau aku mau bicarain soal anak ke kamu...." Entahlah Nayla tidak tau apa yang harus ia katakan selanjutnya.
__ADS_1
"Maafin aku...." Reynand mendekatkan wajah mereka. "Aku salah, aku gak akan begitu lagi Nay...."
Nayla mendorong tubuh Reynand yang mendekat. "Aku bener-bener gak ngerti akan sikap kamu malam ini?" menatap raut wajah Reynand yang berubah pias. "Kamu nggak kayak biasanya." Alis wanita semakin menurun.
Reynand menunduk mendengar perkataan itu. Haruskah ia menceritakan apa masalahnya saat ini?
"Ada apa sih sebenarnya?" Tanya Nayla lembut. "Atau jangan-jangan kamu gak siap ya punya anak? Gak siap jadi ayah? Makanya tadi menghindar saat aku mau bahas soal itu...."
Reynand lantas mengangkat kepalanya dan menggeleng pelan. "Nggak bukan, aku senang kita bakalan punya anak."
"Terus, apa masalahnya? Atau bosan sama aku...." ingatkan saja tadi dia merasa tersinggung saat Reynand menolak untuk didekati.
"Bukan Nay, bukan karena itu.... Aku malah makin cinta sama kamu. Kamu itu separuh nyawaku."
Idih! Nayla merasa geli. Sempat-sempatnya dia ngegombal disaat begini.
"Cerita kalau gitu, masalah kamu itu apa? Biar aku ngerti atas perubahan sikap kamu tadi." pertanyaan Nayla terus menuntut.
"Aku gak bisa cerita apa-apa sekarang, aku gak mau jadiin masalah aku sebagai beban buat kamu...." Reynand semakin memijat kepalanya yang terasa pusing. Rasanya ia ingin melupakan masalah itu saja. "Tapi aku bener-bener nyesel atas sikap buruk aku tadi ke kamu, maaf aku salah, Nay.... gak seharusnya aku memperlakukan kamu seperti tadi."
Nayla mendengus jengah. Dia sangat kenal suaminya, Reynand tidak pernah bersikap seperti tadi padanya. Mau selelah apa pun laki-laki itu Reynand selalu menahan diri untuk meluapkan amarah dihadapannya. Jadi sebenarnya ada masalah apa dengan Reynand?
Reynand kemudian kembali mendekatkan diri. "Sekarang, aku mau elus-elus anak kita, aku mau minta maaf juga sama dia..." ujar Reynand dengan tangan mulai mengelus perut buncit Nayla.
Walau pun Nayla belum mendapatkan jawaban atas keanehan sikap suaminya malam ini. Wanita itu lantas membiarkan Reynand melakukan apa yang ia mau.
"Sayang...." Reynand terus mengelus-elus perut istrinya dengan lembut. "Maaf ya, kamu jangan benci sama ayah.... nanti kalau sudah lahir ayah jangan dimusuhi, tadi ayah gak niat buat gak perduli sama kamu." Reynand mengangkat kedua jarinya
Rasain!
Nayla menatap tajam sosok dihadapannya.
Emang enak ngerasa bersalah sama calon anak sendiri.
Cup! Tiba-tiba Nayla mengerjap saat kecupan ringan mendarat dibibirnya.
"Kamu gak mikir hal-hal buruk tentang aku kan?" tanya Reynand dengan tatapan menelisik.
Ha?
Sejurus kemudian Reynand berbisik pelan "Aku sayang banget sama kamu...."
Belum sempat Nayla menjawab, ia kembali mengerjap saat kecupan keras itu kemudian merambat menuruni leher mulusnya.
Dan, beberapa saat kemudian terjadilah apa yang seharusnya terjadi.
*
*
*
*
Bagian ehem-nya di-skip ya. Part ini udah panjang banget, tapi aku gak mau bikin jadi 2 eps.
Q: Tor kapan Nayla lahiran?
__ADS_1
A: Ditunggu ya!
Happy Reading!