
****
Sekitar lebih dua bulan kemudian. Nayla kini sudah mulai disibukan dengan kuliah. Dengan perut yang terus membesar, perempuan itu mulai menjalani hari-harinya dikehidupan kampus. Semuanya ia nikmati dengan suka cita.
Namun, ada satu hal yang selalu membuat ia merasa jengkel. Ada salah satu mahasiswi dikelasnya yang seperti selalu ingin mencari masalah sejak awal masuk kuliah. Namanya Bianka, perempuan itu dulu satu angkatan dan satu sekolahan dengannya, namun berbeda kelas dan jurusan. Perempuan yang memang hobi membuat masalah dengan orang lain dan tidak tahu alasan pastinya. Kalau kata teman-teman SMAnya dulu dulu Bianka itu tidak suka dengan orang yang terlihat lebih bahagia darinya.
"Ih, gimana sih rasanya, lo kan lagi hamil, gak capek ya ngejalaninnya sambil kuliah." Ujar Bianka sembari memangku dagu dengan kedua tangan. Perempuan itu tengah duduk dibangku tepat disamping Nayla, namun untuknya mereka dipisah oleh jarak yang jauh.
Benar-benar, pertanyaan yang selalu ia dengar setiap hari dari perempuan menyebalkan ini. Memang tidak bosan terus-terusan menanyakan hal yang sama.
"Tapi, untungnya lo punya suami konglomerat ya, palingan tugas-tugas kuliah, lo nyuruh orang buat ngerjain." tambah Bianka sinis.
Nayla menggeram kesal, ia lalu menoleh dan menatap tajam. "Enak aja, walau pun lagi hamil begini gue ngerjain tugas-tugas kuliah gue sendiri ya. Emangnya lo, setiap ada kuis selalu lihat kiri-kanan. Udah berapa kali lo ditegur sama dosen." Sindir Nayla tak kalah puas. "Gimana, kalah kan lo sama ibu-ibu hamil kayak gue." Nayla benar-benar tidak mengerti apa alasan Bianka terus mengganggunya.
Bianka yang tidak menduga akan respon Nayla yang tidak biasanya meluruskan tubuhnya dan bersidekap. "Gimana sih rasanya masih sekolah diam-diam udah nikah aja, ih gak nyangka deh ternyata belum lulus udah hamil." Rupanya Bianka tak gentar untuk membuat hati Nayla memanas.
Nayla menyambar cepat. "Enak.... elo penasaran?! Mau gue ceritain gak rasanya." sahut Nayla tak kalah nyolot, entahlah rasanya ia benar-benar emosi saat ini. Kalau bisa ia ingin sekali mengucir mulut Bianka dengan kencang menggunakan tali ban bekas.
Bianka yang mendengar jawaban itu pun geram. Yang tadinya ia ingin membuat hati Nayla tambah memanas, kini malah ia yang terdiam tak bisa membalas kata.
Tia yang memang mengambil jurusan yang sama dengan diperkuliahan mencoba menenangkan dan selalu duduk disampingnya mencoba menenangkan. "Sabar Nay, lo lagi hamil. Tahan ya...." usapnya pada punggung Nayla dengan
pelan.
Nayla lagi-lagi mendengus kesal. "Nggak bisa yak, gue bawaannya kesel terus denger dia ngomong. Emang ada apa sih dengan kehamilan gue? Salah? Nggak kan." Ia merengut sembari mengeluarkan beberapa buku-bukunya menghempas meja.
Tia kembali mencoba menenangkan sahabatnya itu. "Sabar ya, nggak salah kok. Gue malah bangga ngelihat lo. Elo itu kuat banget. Kalau gue jadi elo gue yakin deh bakalan sulit ngejalanin ini. Jadi, sabar ya." Tia sangat tahu, menurut artikel kehamilan yang beberapa kali ia baca, ibu hamil itu sangat sensitif. Maka dari itu, berbicara dengan ibu hamil harus hati-hati.
Saat itu, kuliah pada jam terakhir pun selesai. Nayla pun langsung keluar bersama Tia yang ikut disampingnya. Jika dahulu mereka selalu bertiga bersama Suci, kini hanya berdua. Dikarenakan Suci berkuliah di kota surabaya.
"Lo dijemput suami lo, iya kan." Tanya Tia dan Nayla mengangguk pelan.
"Nay, Tia...."
Keduanya menoleh pada sumber suara.
"Riko!" ujar keduanya bersamaan. Riko yang masuk di universitas yang sama dengan mereka dan mengambil jurusan yang berbeda.
"Bareng yuk...." Ajak Riko kemudian dan keduanya pun mengangguk.
"Gila dosen dikelas gue galak banget...." Riko memulai ceritanya.
__ADS_1
"Rasain!" Ledek Tia kemudian.
"Jangan gitu dong." Riko menyenggol bahu Tia pelan.
Lalu Nayla pun terkekeh melihat keduanya. "Jangan keseringan berantem deh lo berdua." tambahnya.
"Siapa juga yang berantem...." Sahut Tia.
Kemudian tiba-tiba obrolan mereka terusik oleh suara dari arah belakang.
"Duh, Riko.... si Nayla udah punya suami masih aja lo ngarep."
Nayla mendengus kesal. Lagi-lagi perempuan itu, seperti tidak ada habis ingin menguji kesabarannya.
"Lo ngomong apa sih?" sambar Riko.
Bianka bersidekap dan menghentikan langkahnya. "Ya, satu angkatan juga tau, kalau dulu lo itu suka kan sama Nayla. Tapi sayangnya cewek yang lo suka malah nikah diam-diam, udah bunting duluan lagi sebelum lulus." Bianka berujar penuh kepuasan.
"Lo, ngomong apa?!!" Nayla mendekatkan dirinya pada sosok yang membuatnya kesal itu. "Kenapa sih, elo itu sewot banget sama hidup gue. Kenapa lo gak urusin hidup lo aja dari pada terus-terusan ngeribetin gue."
Bianka mendengus kesal. "Gue yakin, lo gak punya kebebasan kan, setelah menikah?"
"Kebebasan yang gimana maksud lo? Hidup gue bahagia, gue bahagia sama suami gue. SANGAT-SANGAT BAHAGIA, jadi lo gak usah pusing ngurusin hidup gue lagi." Setelah melontarkan kata-kata itu Nayla langsung berbalik. Ia mendengus kesal. Benar-benar menyebalkan.
Nayla yang sudah melangkah langsung memutar arah setelah mendengar teriakan tersebut. "Apa lo bilang?!"
"Cewek gendut...." sahut Bianka santai. "Gue gak salah ngomong, kan?"
Nayla mengepal kedua tangannya masih kesal.
Tia dan Riko yang melihat hal itu lalu mendekat.
"Udah Nay, gak usah diladenin." ucap Tia.
"Pulang yuk, Nay." Riko berusaha meraih lengan Nayla takut terjadi hal yang tidak diinginkan.
Nayla tak perduli ia terus menatap wanita dhadapannya itu dengan tatapan tajam penuh amarah.
Lagi-lagi mulut Bianka masih tidak puas untuk menyulut api kepada seseorang. "Sebenarnya gue penasaran sih, alasan elo nikah diam-diam, bukan karena udah isi duluan, kan."
PLAK!!!!
__ADS_1
Benar-benar bedebah, Nayla rasanya ingin berteriak kencang ditelinga perempuan tidak jelas ini, setelah tamparan itu dengan segera Nayla pun langsung menjambak rambut Bianka dengan kuat. Hormon kehamilannya benar-benar bekerja sangat baik saat ini. Haha, terserahlah yang ia ingin adalah memberi pelajaran kepada wanita mengesalkan saat ini juga. Sudah terlalu lama ia memendam rasa ini.
"Apa lo bilang!!" Nayla menarik rambut itu semakin kuat. "Kalo lo gak suka sama semua yang ada di hidup gue, gak usah dilihat!!"
"Ya ampun Nay, udah." Tia berusaha melepaskan Nayla dari tarikan ganasnya pada rambut panjang Bianka.
"Sakiiiiit...." Bianka berusaha melepas pegangan kuat Nayla pada rambutnya.
"Nay, Nay, udah.... orang-orang nanti pada lihatin elo." Riko melirik kiri kanan, untungnya lorong disana sangat sepi, hanya ada mereka ber-empat, berlima bersama dede bayi dalam perut.
Nayla tidak perduli ia terus menarik rambut Bianka dengan sangat kuat tanpa menyadari ponselnya terus berdering sedari tadi. Sementara Tia dan Riko terus berusaha memisahkan. Huh, rupanya tenaga ibu hamil kuat juga.
"Gue udah nahan diri selama ini sama lo ya." Tariknya semakin kuat. "Lo seharusnya bisa memilih untuk gak fokus sama hidup gue."
Bianka meringis. "Duh, lepasin gue dong.... sakit.... woi-iiiii." Tenaga Nayla saat itu benar-benar tidak bisa Bianka lawan. Ia benar-benar tidak menyangka Nayla yang dulunya pendiam dan sedingin es, sekarang sangat bringasan. Ternyata benar apa yang orang-orang bilang jangan pernah menganggu ibu hamil. Sekarang dia sendiri yang merasakan akibatnya.
"Makanya, punya mulut itu dijaga. Lo sadar gak, sih ha? Kalau ucapan lo selama ini udah nyakitin gue. Cewek gak jelas!! Aneh!!" tarikannya semakin kencang.
"Aw, iya deh, a-ampuuun. Lepasin dong rambut gue, sakit. Entar rambut gue rusak dong. Ini perawatannya mahal.... Sori...." Pinta Bianka yang semakin merunduk dengan masih berusaha menyingkirkan tangan Nayla dari rambutnya.
"Ya ampun Nay, udah dong.... astaga, plis lepasin dia, lo lagi hamil, Nay." pinta Tia semari berusaha melepas tangan Nayla. "Kasihan anak didalam perut lo, Nay. Duh, elo kesurupan apa sih sebenarnya?"
Oh tuhan, rasanya Riko pun terkejut melihat Nayla yang seperti ini. Sangat luar biasa hebat, ia mengerjap penuh kekaguman. Entah kenapa ia merasa waktu tiga tahun tidak cukup untuk mengenal Nayla dengan baik setelah ia melihat adegan ini. Tapi, ia merasa kalau Bianka sesekali memang harus diberi pelajaran.
Dan, tiba-tiba sosok yang sedari tadi menempelkan ponsel ditelinganya yang tengah celingak-celinguk mencari sosok sesorang tiba-tiba tercekat.
"Ya ampun, Nay." Reynand langsung meraih tubuh yang tengah melakukan pergulatan yang tidak seimbang itu. Namun ia kesulitan melakukan itu karena Nayla terus bersikeras dengan tindakannya. "NAY!! SUDAH!!" sentak Reynand akhirnya.
Nayla yang mendengar sentakan itu langsung menoleh dan langsung melepas pegangan eratnya pada rambut Bianka dengan mendorong kepala gadis itu kuat. "Kenapa sih aku dibentak?!" dengusnya. "Aneh, hari ini kok semua orang seneng banget ya bikin aku kesel." Namun sebenarnya Nayla juga bingung sendiri kenapa darahnya tiba-tiba mendidih dengann sangat cepat.
Reynand gelagapan ia lupa kalau istrinya sekarang gampang senditif. "Nggak Nay, bukan gitu, tapi lihat kamu lagi hamil anak kita, aku cuma gak mau kalau nantinya kalian berdua tersakiti, sayang...."
Nayla tidak perduli dengan omongan Reynand. Wanita itu dengan cepat membenahi rambut dan penampilannya yang cukup berantakan lalu bergegas pergi dan melangkah cepat.
*
*
*
*
__ADS_1
Happy Reading semua!!