Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Menanti Kepulangan


__ADS_3

****


Ini sudah kelewatan, gadis itu tersentak setelah Reynand mendorongnya hingga terhuyung kebelakang. Airin benar-benar sudah melewati batas. Tanpa perduli bagaimana kondisi gadis itu saat ini, Reynand segera berlalu meninggalkan tempat itu.


Bodoh!


Bodoh!


Bisa-bisanya dia membuat Airin berkesempatan menciumnya.


“Reynand!”


Reynand belum sempat menutup pintu mobil karena gadis itu berlari dengan cepat dan menahan pintu mobilnya.


“Minggir! gue mau pulang.” Ucapnya datar.


Gadis itu kembali tersentak setelah Reynand menepis tangannya.


“Nggak Rey, jangan tinggalin aku. aku….. aku-aku udah lama nungguin kamu.” Ia tiba-tiba terisak, tarikan nafasnya kencang seperti ingin mengeluarkan beban yang berat. Sebelum akhirnya kalimat yang ia lontarkan membuat Reynand memejamkan matanya dalam. “Aku cinta sama kamu.” Ucapnya pasrah. Mata it uterus berderai seiring pengakuan cintanya.


“Rey, plis, jangan pergi….” Gadis itu menarik ujung jasnya. Wajahnya sendu penuh harap.


Reynand memalingkan wajah, Ia menghela nafas kasar. Bagaimana pun dia adalah manusia yang punya hati. Seketika dia merasa tidak tega.


Tapi…. dengan pelan dia menjauhkan tangan Airin dari ujung jasnya.


“Sori, gue…. gak bisa.” Dengan cepat reynand menutup pintu mobilnya. Meninggalkan gadis itu dengan derai yang terdengar semakin pilu.


~


Reynand terengah-engah menaikki anak tangga. Malam ini dia benar-benar telah melakukan hal yang gila. Apa sebenarnya yang ada didalam kepalanya.


Salah!


Dia benar-benar salah!


Pelan-pelan dia membuka pintu kamar. Tangannya gemetar, entah kenapa dia merasa bersalah.


Merasa bersalah kepada siapa?


Tadi dia menemukan lima panggilan tidak terjawab dari ponselnya. Sial! Kenapa dia harus meninggalkan ponselnya dimobil tadi. Ini pertama kalinya, gadis itu menghubungi duluan.


Saat pintu kamar terbuka, matanya menyoroti semua sisi ruangan itu.


Nayla, dimana dia? Reynand langsung tersentak saat mendapati gadis itu tidak ada didalam kamar. Dicari dikamar mandi pun gadis itu tidak ada. Kemana dia?


Dia pun bergegas keluar dari kamar. Kenapa dia jadi sepanik ini. ya tuhan dimana dia? Mendadak Reynand frustasi. Namun, saat hendak menuruni tangga langkahnya terhenti. Senyumnya tiba-tiba mengembang, lega. Perlahan kakinya melangkah mendekati sosok mungil yang sedang berdiri membelakanginya disisi balkon.


Reynand menggaruk kepalanya. Apa-apaan dia ini. dalam pikirnya tadi Nayla menghilang entah kemana.


Sebegitu takutkah dia kehilangan gadis tukang ngambek dan galak itu.


Apa yang dilakukannya pada sat dini hari begini? Mencari anginkah? Atau….


Dengan cepat Reynand memeluknya dari belakang.


Gadis itu terkesiap. Saat dia hendak memutar tubuh, Reynand menahannya. Lagi-lagi jantungnya tidak pernah bosan memberi kejutan berkali-kali padanya. Dia…. Rindu sosok ini.


“Kenapa belum tidur.” Ucapnya sembari menyusupkan wajahnya keceruk leher jenjang itu.


Hening!


Deg!

__ADS_1


Deg!


Deg!


Nayla benar-benar tidak tahan lagi, dia ingin berbalik dan memeluk tubuh itu dengan erat.


“Nay.”


Bahkan suaranya pun mampu mengobati rasa rindunya.


Perlahan matanya mulai menyoroti sosok itu saat Reynand dengan pelan membalik tubuhnya.


“Kenapa kamu belum tidur dan berdiri disini.” Tanya tersengal sambil menyelipkan anak rambut Nayla yang berantakan diterpa angin.


Nayla bergeming. Ia terus menatap wajah itu dengan debar jantung yang semakin tak menentu.


“Nayla.”


Reynand termangu, apa ini? kenapa Nayla menatapnya seperti ini.


“Na-nay, kamu…. Kenapa?”


Nayla tersentak, dia langsung berpaling. Astaga ada apa dengan dirinya.


“Abang dari mana?” tanyanya masih dengan debaran kencang didadanya. Matanya menyoroti penampilan Reynand dari tas sampai bawah.


“Itu…. abang tadi ada acara sama teman-teman.” Menggaruk kepala, memutar bola matanya sembarang. Terang saja, karena dia sedang bohong.


Teman-teman apaan? Dirinya malah menikmati makan malam yang tidak nyaman dan penuh dramatisir.


Tapi, eh, ini kenapa? Hidung Nayla mengendus-endus ditubuhnya.


“Abang ganti parfum? Kok kayak parfum cewek ya?”


Deg! Lagi-lagi Reynand tersentak.


Oh, ya? Masak si?


Nayla mengernyit tidak percaya. Atau jangan-jangan dia memang…. Nayla mulai menunjukkan sorot mata penuh kecurigaan.


“Kamu kenapa belum tidur?” Reynand langsung mengalihkan topik pembicaraan.


Ah, itu.


Nayla mendadak salah tingkah. Kenapa ya? Tidak mungkin dia jujur kalau dia menunggu laki-laki itu pulang. Menunggu hingga dia mengangis sampai terisak-isak.


Itu pasti memalukan sekali. Dia sungguh malu sendiri mengingatnya. Malu tapi, sebenarnya dia rindu.


Hh, kalau punya sifat gengsi memang susah ya. Apa-apa harus ditahan. Tapi, kalau perempuan memang harus begitu katanya, tidak boleh agresif, tidak boleh mendekati duluan. Perempuan itu harus menunggu. Itu yang selalu Nayla dengar.


“Nay….”


“Nggak apa-apa, em… kita balik kekamar yuk.” Ajak Nayla buru-buru.


Apa ini?


Reynand dapat melihat kalau gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu, dan gerak-gerik itu dia terlihat salah tingkah. Dengan cepat langkah gadis itu pun terhenti saat dia mencekal pergelangan tangannya..


“Jawab, kenapa kamu belum tidur?” Reynand menangkup wajah Nayla dengan kedua tangannya. Ia sedang mencari sesuatu dari sorot mata itu.


“A-bang apaan si?” Nayla mencoba untuk tidak menatap mata Reynand. Bisa tidak si dia menghilang saja dari sini sekarang.


“Jawab dulu!” Reynand kembali menahan pundak Nayla saat gadis itu hendak melepaskan diri darinya.

__ADS_1


Jawab apa?


Duh, tidak! Tidak!


Dia tidak boleh mengatakannya. Haha, apa mungkin dia harus mengatakan seperti ini ‘aku sedang menunggumu pulang’? tidak mungkin! Dia tidak ingin melakukannya.


“Abang…. Aku mau balik kekamar.” Ucapnya memohon.


Reynand mulai menatapnya dengan ekspresi datar. Baiklah kalau dia tidak mau menjawab. Saat itu juga Reynand mengangkat tubuhnya. Tidak perduli gadis itu memekik. Kemudian dengan langkah cepat dia langsung membopong gadis itu kekamar.


“Abang mau apa? Turunin!”


Setelah menutup pintu kamar, mendorong dengan punggungnya. Reynand langsung membawa Nayla keatas ranjang dan mengunci gadis itu dibawah kungkungannya.


“Abang kenapa si!” Nayla mendorong dada Reynand agar menjauh darinya, dan memalingkan wajah dari sorot mata menyeramkan itu.


“Jawab dengan jujur, kenapa kamu belum tidur? Apa yang kamu lakukan dengan berdiri dibalkon.”


“Iya-iya aku kasih tau. Tapi minggir dulu!” Akhirnya dia menyentak.


Kemudian terduduk setelah Reynand menjauh dari atas tubuhnya. Ia pun memandang laki-laki menyebalkan itu dengan kesal. Hh, dia harus hati-hati mulai sekarang. tenaganya benar-benar tidak sebanding dengan orang ini, padahal tadi dia sudah mendorong dengan sekuat tenaganya. Benar-benar menyeramkan.


“Nayla, jadi?”


“Apa?” ucapnya mengelak.


Ah, tidak kapok rupanya. Reynand menyeringai.


“Jadi nggak mau jawab, ni.” Reynand mulai mendekatinya lagi.


“Iya-iya. Aku jawab.” Munder jauh kebelakang.


“jadi, aku belum tidur karena besok hari minggu.” He, dia tidak salah menjawab kan?


Oh,


Reynand kecewa. Memang benar, besok hari minggu. Lalu jawaban apa yang dia harapkan.


“Abang nggak nanya lagi?” Rupanya Nayla masih mengharapkan laki-laki itu untuk peka.


“Nggak. Sudah, abang mau ganti baju dulu.” Reynand pun beranjak dari ranjang.


Namun, saat ia hendak melepas jas yang ia pakai Nayla mendadak memeluknya dari belakang.


“Tadi, aku…. nungguin abang pulang.”


Bagaikan air yang mengalir dihatinya, entah kenapa Reynand merasa kalimat yang diucapkan Nayla terdengar sangat manis ditelinga.


Perlahan dia pun berbalik, dilihatnya gadis itu menunduk menyembunyikan wajahnya.


Tentu saja, Nayla butuh keberanian besar untuk mengatakan itu.


Malu, dia benar-benar malu.


“Terimakasih ya, kamu udah nungguin abang pulang.” Ucapnya lembut sambil memeluk Nayla erat.


Nayla semakin tertunduk setelah Reynand mendaratkan kecupan lembut dikeningnya. Ah, kenapa dia jadi sebahagia ini. Perasaan ini, tidak berlebihan kan?


*


*


*

__ADS_1


*


Like, vote, komen!


__ADS_2