Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Keputusan?


__ADS_3

****


Kesal, marah, sedih, sakit hati, semua perasaan itu bercampur menjadi satu. Airin benar-benar menyebalkan. Ingin sekali Nayla membalas menjambak wanita itu tadi jika saja keadaan tubuhnya tidak terasa lemah.


Ia benci perempuan seperti Airin. Seharusnya dia berteriak kuat-kuat di telinga wanita itu dengan mengatakan kalau Reynand adalah suaminya, jika saja dia tidak mengingat pernikahan mereka adalah sebuah rahasia.


Mengesalkan, Airin benar-benar perempuan ular dan tidak tahu diri.


Air matanya terus mengalir. Ia sesenggukan sedari tadi di dalam mobil. Entahlah, hanya dengan cara ini dia bisa menumpahkan apa yang ia rasakan sekarang.


Sementara Reynand yang berada di sampingnya tidak begitu fokus menyetir mobil. Ia memegangi salah satu tangan gemetar itu kuat-kuat sementara tangan satunya lagi dia gunakan untuk menyetir. Sesekali Reynand menoleh menatap wajah yang sudah sembab itu sembari terus berusaha fokus memperhatikan jalan. Dia benar-benar merasa bersalah sekaligus khawatir.


Andai saja Nayla tidak harus memaksa pulang sekarang, pasti dia akan menghentikan mobil terlebih dahulu dan membuat perempuan itu tenang.


Airin benar-benar tidak bisa di biarkan. Reynand menggeram kesar. Dia marah mengingat perlakuan itu. Apa yang sudah di lakukan Airin kepada istrinya sampai menangis sesenggukan seperti ini?


"Nay...." Begitulah kata yang terucap ditengah kekhawatiran yang sedang melanda itu.


Maka sesampainya dirumah Nayla langsung keluar dari mobil mendahului Reynand. Tidak perduli jika sang suami terus memanggilnya.


"Nay tunggu...."


Begitulah, langkah cepat kaki Nayla terhenti oleh langkah yang jauh lebih cepat darinya. Reynand menggapai lengannya. Kemudian memeluk tubuh itu dengan erat di teras rumah dengan dikelilingi pilar-pilar besar nan kokoh.


"Tadi kamu diapain aja sama dia?" Tanya Reynand ngos-ngosan sembari mengelus rambut panjang itu serta menciumi puncak kepalanya.


Nayla tidak menjawab. Air matanya malah semakin mengalir dengan deras. Dengan Reynand terus menanyainya seperti ini, katakanlah air mata itu akan semakin mengalir. Dia tidak tahu kenapa, tapi memang begitu. Semakin Reynand banyak bertanya maka akan semakin deras telaga bening itu tumpah.


"Nay, dia nyakitin kamu?" Reynand meneguk ludah pelan. Tentu saja pertanyaan itu adalah pertanyaan bodoh. "Ya udah, kalau kamu belum mau jawab. Kita masuk dulu." Ujarnya setelah melepas pelukan itu sejenak.


Maka sembari masih memeluk tubuh itu erat Reynand pun mulai menuntun Nayla melangkah. Sebenarnya dia ingin menggendonya saja, tapi segera ia urungkan karena tidak ingin Nayla mengamuk.


Namun, seketika suara berat yang tiba-tiba memanggil menghentikan mereka sebelum benar-benar melangkah masuk kedalam rumah.


"Reynand...." Begitulah raut wajah serius itu menatap mereka berdua dengan sorot mata yang berbeda. Kerutan di wajah yang berumur itu terlihat jelas namun tidak menghilangkan kewibawaan disana.


Ia berdiri diantara asisten dan juga seorang pengawal pribadinya. Wajah renta itu sudah terlihat kelelahan mungkin karena saking padatnya pekerjaan yang ia lakukan hari ini. Andai saja Reynand menyadari itu.


Menarik nafas panjang kakek pun membuka suara. "Ada apa ini? Kamu apakan Nayla, Reynand?" Kakek memandangi Nayla yang langsung berusaha terdiam sedari sejak menyadari kehadirannya tadi.

__ADS_1


Ia juga dapat melihat perempuan yang berstatus istri cucunya itu masih mengeluarkan suara sesenggukan yang terus berusaha dia tahan agar tidak keluar.


Reynand masih tidak menggubris pertanyaan itu, ia kini malah malah menyibukkan diri dengan terus memeluk sang istri erat seolah tidak perduli kehadiran sang kakek.


Kakek semakin melotot. Pamer? Tidak lihat situasi apa?


"Reynand!" Akhirnya suara berat itu pun sedikit meninggi. "Kamu tidak punya telinga?" Suaranya datar namun sangat serius.


Maka suasana menegang pun dirasakan Nayla, ia tidak pernah melihat kakek seserius itu. Nayla mendongak untuk menatap wajah suaminya, namun telihat laki-laki yang tengah memeluknya erat ia masih terdiam menatap kearahnya, seolah tidak terusik oleh aura seram yang kakek perlihatkan.


"Kamu apakan istrimu?" Lalu kakek menatap kearah Nayla, kini ia menampakan sorot mata yang berbeda. "Nayla, apa yang Reynand lakukan sehingga membuat kamu jadi seperti ini?" Begitulah kakek menanyai Nayla dengan lembut berbeda sekali dengan saat ia menanyai Reynand tadi.


Menggeleng pelan seolah dirinya tidak apa-apa, kemudian Nayla ingin melepaskan diri dari pelukan Reynand. Tetap ia tetap terkurung didalam pelukan itu, karena Reynand menahannya dengan erat.


Lalu suara khas habis menangis itu pun berusaha berucap. "Lepasin, nggak enak dilihat kakek." Karena sedari tadi masih terbawa suasana, Nayla rupanya baru sadar akan pemandangan yang mereka perlihatkan.


"Em...." Bukannya melepas pelukan mereka, Reynand kini malah mengecup puncak kepala itu pelan kemudian tersenyum menatap sang istri yang matanya membulat tidak percaya akan sikapnya ini.


"Reynand!"


Dan, teguran kakek kesekian tersebut bertepatan dengan cubitan keras Nayla dipinggang Reynand. Benar saja pelukan itu pun akhirnya melonggar. Dengan mata melotot maka Nayla pun kemudian beralih menatapa kakek. Sepertinya dia juga paham kalau kakek dan cucu itu butuh waktu untuk berbicara serius.


Lalu Nayla pun mohon izin. "Aku masuk duluan kek." ujarnya kemudian. Sejenak Reynand masih menahan pergelangannya, namun segera Nayla lepaskan kuat-kuat.


Cucu dan kakek itu bersitatap sejenak. Namun bedanya tatapan Reynand tidak setegas tatapan tajam itu. Rupanya rasa takut akan kakek masih ada pada dirinya.


"Kamu apakan istri kamu? Kamu paksa? Kamu bentak? Atau, kamu selingkuhi?"


Reynand membelalak. " Kakek apa-apaan sih, nggak mungkin aku ngelakuin hal-hal macam itu." Selaknat-laknatnya Reynand mana bisa dia melakukan itu kepada istrinya yang lemah lembut. Untuk menyentuhnya saja dia harus berhati-hati dan pelan-pelan, eh.


"Dia cuma lagi sensitif aja, biasa perempuan." Akhirnya Reynand beralasan, karena tidak mungkin dia menceritakan perihal sebenarnya. Biarlah itu menjadi urusan dia saja nantinya. Dia tidak ingin kakek ikut campur tentang ini.


Sorot mata kakek terlihat tidak yakin. "Bahagiakan dia...." Sebuah kalimat yang mampu membuat jantung Reynand berdenyut. "Walau kalian dijodohkan, kakek harap kamu benar-benar bisa menerima Nayla menjadi istri kamu." Sorot mata kakek benar-benar penuh harap dan Reynand dapat melihat itu dengan jelas.


Reynand dapat merasakan dadanya naik turun tak menentu. "Kakek tenang saja, aku pasti akan membuatnya bahagia...." Ucapnya yakin.


Lalu bibir kakek tersungging tipis mendengar itu. Setidaknya Reynand berbicara dengan penuh keyakinan. Ia menarik nafas penuh kelegaan.


Namun rasanya kakek belum puas. "Jangan lagi kamu biarkan dia menangis seperti tadi...."

__ADS_1


Lalu sadar cucunya terkesan seperti menyembunyikan sesuatu. "Jangan sampai kakek tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kalau tidak, kamu tidak bisa melarang kakekmu ini untuk ikut campur dan turun tangan."


Wajah cucunya itu pun menegang mendengar apa yang dikatakan barusan. Kakek tahu Reynand mulai tidak nyaman akan sikapnya barusan, maka ia lalu mengalihkan topik pembahasan yang juga penting menurutnya.


"Jadi, sampai kapan kamu akan terus seperti ini? Kapan kamu akan membuat keputusan? Jika kamu memang ingin terus melanjutkan pekerjaan itu...." Kakek menjeda ucapannya sejenak, menatap ucapannya masih dengan sorot yang sama. "Setelah resepsi kalian jangan tinggal disini...."


Lalu ucapan itu berhasil membuat Reynand terkejut seketika. Kenapa kakek tiba-tiba....


"Kakek tidak akan mengambil tanggung jawab untuk hidup kalian, intinya tanggung jawab penuh akan istrimu ada pada diri kamu sendiri."


Tidak ada kata main-main pada tiap kalimat itu, Reynand dapat merasakannya. Tapi Nayla sekarang memang tanggung jawabnya. Lalu kenapa?


Lalu seperti tahu apa yang Reynand pikirkan kakek kembali melanjutkan. "Kakek serius Reynand, karena mungkin nanti kamu akan memilih jalanmu sendiri. Maka, kakek tidak berhak ikut campur untuk itu." Menjeda beberapa saat sembari menatap raut wajah tegang cucunya, kakek mulai melanjutkan ucapannya lagi. "Terkecuali, kalau kamu setuju memutuskan untuk melanjutkan mengelola perusahaan."


Reynand masih terdiam tidak berkutik. Ia membiarkan kakek untuk melanjutkan ucapannya.


"Semakin cepat kamu memutuskan, maka semakin cepat kamu belajar Reynand. Kamu belum memiliki pengetahuan apapun tentang perusahaan, usia kamu akan semakin bertambah. Selagi kamu masih muda, kakek ingin agar kamu mulai serius."


Reynand benar-benar tidak memiliki kata yang tepat untuk menjawab ucapan itu. Ia tertunduk kemudian termenung beberapa saat, sampai akhirnya suara berat itu kembali terdengar.


"Jadi putuskanlah secepatnya, menjadi seorang aktor selamanya atau, meneruskan perusahaan yang sudah susah payah kakek bangun selama ini."


Setelah melontarkan kalimat demi kalimat yang mampu membuat cucunya mematung itu, kakek pun segera berlalu diikuti oleh dua orang bawahannya yang sedari tadi masih berdiri menunggu sang bos dengan setia disana.


Bergeming, Reynand tertunduk. Berkacak pinggang, ia mendongak lalu mengigit bibir kuat-kuat.


Membawa Nayla keluar dari rumah ini? Tidak, bukannya dia tidak sanggup jika nanti harus menghidupi istrinya. Tapi.... Reynand menoleh kebelakang searah dengan langkah kakek yang berjalan meninggalkannya.


Setega itukah kakek? Tega membiarkan Nayla.... maksudnya itu tadi terdengar seperti mengusir. Kakek ingin mengusir dia dan istrinya begitu?


Hah, Reynand yakin kakek cuman menggertak. Tapi, ia pun mulai ragu. Bagaimana kalau itu benar?


Sial, sepertinya dia benar-benar tidak memiliki waktu untuk berpikir.


*


*


*

__ADS_1


*


______________________________________________________


__ADS_2