
****
Nayla dapat merasakan sejuk terhadap pemandang alam yang terbentang luas dihadapannya saat itu. Hal itu rupanya dapat menghilangkan rasa penatnya selama krang lebih dua jam diperjalanan tadi. Dia ingin sekali memasuki bentangan tanaman hijau itu saat ini. Aroma daun teh sangat menyegarkan indera penciumannya.
“Em….” Jawabnya memejamkan mata. Ia merentangkan tangan menikmati pemandangan yang terbentang itu dengan bahagia, menerima semua kekayaan alam yang terhampar didepannya itu. Suasana yang sangat sejuk dan menyegarkan.
Hemm…. Nayla rasanya ingin sering-sering kesini. Bagaimana kalau nantinya dia membangun rumah disini saja? Sangat amat menenangkan. Ia pun menghirup udara segar itu berkali-kali.
“Kamu suka?” Tanya Reynand yang berdiri belakanganya.
“Kayaknya enak deh, kalau punya rumah disini.” Ucapnya polos, masih sambil menghirup udara bersih itu.
“Ya udah, kalau begitu kita pindah rumah, mau?” Bisik Reynand sembari melingkarkan tangannya kepundak gadis itu.
Nayla menoleh, sedikit mendongak untuk menatap bingkai wajah yang sedang ndusel-ndusel dikepalanya. Walaupun masih belum terbiasa, nyatanya sekarang dia tidak menolak jika Reynand tiba-tiba memeluknya seperti ini.
__ADS_1
“Eh, serius? Emang bisa.” Nayla mendongak lagi.
“Hm….” Mengecup kening itu sekilas. “Kalau kamu mau?”
“Mau kok, mau.” Ucapnya kegirangan.
Reynand tersenyum, Nayla tetaplah gadis yang masih polos. Ia mengusap puncak kepala Nayla pelan. Kemudian mengajak gadis itu masuk kedalam vila. Vila pribadi milik keluarganya.
Nayla berjalan menuju dapur. Ia menghampiri Mama Adel dan Mami Miska yang sedang berada didapur. Kedua wanita paruh baya itu tengah asik bercengkrama sembari menyusun makanan yang mereka bawa dari rumah keatas meja. Entah bergosip atau apa Nayla tidak tahu.
“Eh, ini dia yang lagi diomongin datang.” Ujar Mama Adel sesaat setelah menoleh kearahnya.
“Kamu ngapain kesini? Udah, sana temani suami kamu.” Ucap Mami sembari menyusun beberapa makanan diatas piring.
“Biarin aja kenapa Mis, dia kan mau bantu. Tiap hari dia juga selalu ketemu sama Reynand.” Sahut Mama Adel.
__ADS_1
Nayla tersenyum menanggapi. Benar apa kata Mama Adel. Tidak mungkin, kan. Orang lagi sibuk-sibuk didapur dia malah asik berduaan dengan Reynand. Mereka kan bukan pengantin baru lagi. Rasanya saja sampai saat ini masih seperti pengantin baru.
He,
Rasa apa sih, Nay?
“Eh, Mis, nanti ada si Vinta. Anaknya Mas Ridwan.”
“Mas Ridwan?” Tanya Mami.
“Itu anak angkatnya papa yang di rumah sakit umum itu, loh. Nanti mau kesini kemarin aku ajak, jadi si Vinta itu, dia itu dokter kandungan. Siapa tahu Nayla mau konsultasi.” Tambah Mama Adel.
“Ah, nanti-nanti saja, del. Nayla belum tamat sekolah.” Sahut Mami. Ia melirik Nayla sekilas. Duh, tidak terbayang kalau putrinya itu harus hamil begitu cepat.
Tapi kalau pun iya nantinya Nayla hamil. Namanya juga sudah menikah. Mami juga tidak bisa menolak, kan. Ah, semoga anak itu bisa menerimannya nanti.
__ADS_1
“Lah mumpung dia disini loh, Mis. Sekalian mereka mengakrabkan diri. Nanti kalau Nayla sudah hamil kan enak, konsultasi sama dia.”
Nayla yang saat itu jadi pembicaraan hanya bisa diam saja. Ia sudah bergelut didalam kepalanya. Mama Adel yang seperti sangat menginginkin dia hamil muda mulai membuatnya pikirannya terbebani, walaupun disisi lain Mami tidak memaksakan. Pemahamannya soal bagaimana dia bisa hamil belum sampai sepertinya. Maksudnya dia masih terlalu muda untuk memikirkan itu apalagi dirinya masih sekolah bukan.