Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Cucu?


__ADS_3

****


Hari sudah malam saat mereka sampai dirumah. Melepas seatbeltnya lalu Reynand berbalik menatap Nayla. Jadi mungkin karena terlalu malu dan gugup akan rencana ritual yang akan mereka lakukan setelah ini, Nayla sedari perjalanan pulang kerumah tadi tidak ingin menatap Reynand dan terus memalingkan wajah keluar jendela.


Reynand tersenyum, sepertinya sifat pemalu itu memang benar-benar sifat mendasar dari istrinya ini. Yang pastinya Nayla akan terus memperlihatkan sikap malu-malunya itu untuk beberapa lama.


"Nay...."


Tidak ada sahutan.


Reynand pun menggoncang bahunya "Nayla...."


"Emh...." Perempuan itu melenguh.


"Kamu ketiduran."


Nayla mengangguk "udah nyampe?"


Reynand mengangguk. Lalu matanya tertuju pada sebuah mobil yang terparkir disamping mobilnya.


Mengetahui siapa pemilik mobil itu, kemudian keduanya pun turun dan bergegas untuk masuk kedalam rumah.


Genggaman tangan itu begitu kuat, Nayla sampai kesusahan untuk melepaskannya. Ia melirik Reynand kesal, mencoba melepas genggaman kuat itu dengan tangan lainnya.


"Lebay tau gak." Nayla menyentak tangan itu hingga terlepas. Ada Maminya dan ia terlalu memperlihatkan perilaku Reynand yang menurutnya berlebihan ini.


Reynand menghentikan langkahnya. Sepertinya hari ini mereka terlalu sering terbawa emosi yang campur aduk. Lalu pandangan itu menusuk dalam.


Nayla pun menunduk merasa bersalah "Jangan, jangan didepan Mami." Bukan ia tidak suka, tapi menurutnya perilaku ini sangat tidak pantas jika terlalu diumbar atau dia memang belum terbiasa saja. Mami tidak pernah melihatnya seperti ini. Nayla terlalu kaku untuk memperlihatkannya.


Bahkan Riko hanya satu-satunya teman lelaki paling dekat yang Mami tahu.


Maksudnya Nayla tahu mereka sudah menikah. Tapi, entahlah mungkin saat ini ia hanya tidak tahu bagaimana harus bersikap dengan perlakuan ini.


Tapi sepertinya Reynand tidak terlalu perduli, laki-laki itu malah menarik bahunya untuk saling berhadapan.


"Mami kamu bakalan sering melihat ini, bahkan mungkin lebih." Reynand menyunggingkan bibirnya penuh arti.


Nayla mengerjap, reaksi Reynand seperti ini? berarti Reynand tidak tersinggung "Ya, udah kalau begitu kita masuk."


Reynand kemudian dengan cepat menarik pinggang itu mendekat "Ke kamar?"


"Nggak, kita temui Mami dulu." Mendorong tangan yang mendekapnya itu.


"Nggak usah." Reynand mulai menyusuri leher mulus itu dengan cepat.


"Gak enak sama Mami." kembali ia berusaha mendorong tubuh yang menempel dan terus berusaha mencumbunya.


Reynand tidak perduli, tangannya semakin aktif menjamah apa yang ia inginkan. Kemudian ia menggiring Nayla pelan untuk bersembunyi dibalik pilar kokoh rumah itu. Melanjutkan aktivitas mereka disana dengan menggebu-gebu.


"Jangan disini." Ia protes, namun matanya terpejam dan mendesah kuat saat Reynand mulai mengecup keras diatas dadanya hingga meninggalkan tanda yang begitu jelas disana.


Lalu mata berkabut itu menatap penuh gairah "Tadi kamu janji."


"Tapi, jangan disini. Temuin Mami dulu, Mami pasti mau ketemu...." Nayla menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan geraman yang mulai keluar dari mulutnya. Reynand semakin menggila, tubuhnya tidak bisa menahan gejolak itu. Terpejam dan ia terus menikmati perlakuannya. Apalagi saat tangan itu mulai menjamah area paling sensitifnya yang masih berlapis kain itu, ia lantas gelagapan.


Namun seketika ia tersadar.

__ADS_1


"Berenti...." Menyentak tubuh itu kuat "Ya, udah kita lanjutin dikamar." Ucap perempuan itu terengah-engah. Dan, itu mampu menghentikan kegilaan Reynand.


Reynand benar-benar gila. Bisa-bisanya mereka melakukan itu dibalik pilar. Sementara orang tua mereka ada didalam rumah.


Reynand yang tak kalah memburu pun mengangguk setuju "Sekarang Nay.... aku mau sekarang." Sepertinya gelora ini sudah tidak bisa ia tahan lagi. Ia ingin segera merampungkannya..


Nayla meneguk ludah pelan. Ragu-ragu ia mengangguk "Iya...." sepertinya setelah ini ia akan menghabiskan malam yang panjang.


Dan, disaat kedua sejoli itu mulai menaikki tangga. Sosok cantik nan elegen walau sudah berkepala empat itu pun kemudian mendekat.


"Baru nyampe kalian?"


Lantas keduanya pun menoleh.


Mami!


"Mami mau ngomong dulu." Terlihat Mami melipat kedua tangannya diatas perut. Tatapannya seperti siap mengeksekusi salah satu diantara mereka.


"Sekarang?" Tanya Nayla.


"Iya sekarang...." lalu.... "Kamu nggak mau peluk Mami atau apa Nayla? Kamu kayaknya nggak kangen ya sama Mami."


Tersadar Nayla pun mendekat.


"Nggak Mi, bukan gitu." Lalu Nayla langsung menghambur dan memeluk Mami Miska.


"Udah mulai lupa ya kamu sama Mami kamu sendiri." Dan, Mami pun semakin ketus. Tangannya lurus kebawah tanpa membalas pelukan.


"Mami apa-apaan sih...." Nayla mendengus kesal. Cih, Maminya kok lebay begini ya.


"Sudah cepetan, Mami mau ngomong sama kalian berdua." Melepas pelukan itu, kemudian melenggang berjalan terlebih dahulu.


"Mami mau ngomong apa?" tanya Nayla saat ia baru saja terduduk disofa ruang tamu itu.


"Mami mau ngajak kamu pulang malam ini." Tuh, tambah ketus.


Reynand yang baru mau duduk pun tiba-tiba tercekat lalu menatap Mami protes. Matanya pun bertubrukan langsung dengan sorot yang ingin segera menyalahkannya itu. Ini pasti Mami Miska sedang kesal padanya. Gara-gara acara live semalam, pasti kan.


"Mis...." Mama Adel yang duduk bersampingan mencoba menahan emosi besannya itu.


"Mami serius mau ngajak aku pulang?"


Mamu terkejut akan reaksi tidak terduga Nayla.


"Iya, cepetan beresin barang-barang kamu. Mami tunggu lima menit." kembali bersidekap, acuh.


Lalu Reynand protes "Nay...." Ia menggeleng tidak setuju.


Nayla paham "Bentar...."


"Udah dong Mis, kasian tau Reynand...." Bisik Mami Adel pelan.


"Lah, gimana, dia aja nggak kasihan sama Nayla." Mami Miska sengaja mengeraskan suaranya.


"Duh, kamu tu jangan kebawa emosi terus deh." Mama Adel mengelus punggung yang menegang itu pelan.


"Gimana aku nggak emosi, aku nggak bisa fokus kerja gara-gara ini." Hawa Mami Miska semakin memanas.

__ADS_1


"Makanya kamu itu berenti aja kerja, temenin aku disini." Mama Adel menambahkan lagi.


"Nggak bisa del...." Mami Miska tidak ingin menjelaskan alasan pastinya.


Lalu Mama Adel tersenyum "Bisa kok, apalagi mungkin sebentar lagi kita akan punya cucu. Biar kita urus berdua pasti seru."


"Cucu?" Mami menoleh kaget.


Sementara pembahasan tentang cucu itu berlangsung, samar-samar mereka mendengar bisik-bisik tegang dihadapan mereka.


"Jangan mau ya, ikut Mami kamu pulang...."


"Nggak, Mami cuma bercanda."


"Kalau beneran gimana, padahal kamu ada janji loh sama aku."


"Ih iya , bawel mulu soal itu."


"Sayang...."


"Em.... nggak usah nyender gini. Pundak aku keberatan. Lagian malu diliatin. Abang aaaa."


"Udah, yuk, kekamar."


"Sabar kenapa. Ini masih diajak ngobrol. Tangannya jangan disitu."


"Tinggalin aja yuk.... Biarin Mami kamu sama Mama ngobrol berdua."


"Berenti gak!"


Lalu Mama Adel dan Mami Miska saling bersitatap. Sepertinya mereka paham apa yang kedua anak muda itu bisikan.


Tersipu mendengar itu lantas Mami Miska berucap "Apaan sih, anak kamu nggak malu bahas ginian didepan kita." Ya, walaupun bisik-bisik tapi kan, masih terdengar jelas.


Menyunggingkan senyum penuh arti Mama Adel pun berucap "Tuh, kan. Lagian kalau kamu bawa Nayla pulang gimana kita bisa dapat cucu." terkekeh.


"Del, aku belum siap...."


Mama Adel terpejam lalu menghela nafas tahu maksud kalimat itu "Mis, mereka sudah menikah dan kita tidak bisa melarang jika itu terjadi...."


Entahlah.... Mami Miska merunduk bingung. Mau bagaimana lagi ini adalah konsekuensinya. Dan benar, ia tidak bisa menolak jika hal itu benar-benar terjadi. Menjadi nenek diusia muda.


*


*


*


*


*


*


Hai Readers!


Like, vote, komen ya.

__ADS_1


Happy Readingđź’‹


__ADS_2