
****
"Gantinya masih dikamar mandi?"
Langkah kaki Nayla yang hendak melangkah masuk kekamar mandi pun terhenti. Ia menggenggam erat baju seragam ditangannya. Sedikit menggigit bibir dia pun tertunduk.
Berjalan mendekat "Kan kita suami istri. Masih malu, setelah apa yang kita laku...." Ia sontak terkekeh saat Nayla langsung melotot dan merengut kearahnya. Baiklah Nayla tidak mau membahas itu.
Dan, blam. Dengan hentakan kaki Nayla menutup pintu itu dengan keras.
Sesaat kemudian gadis itu pun telah selesai mandi, lengkap dengan memakai seragamnya. Yang Nayla herankan adalah Reynand suka sekali menunggunya keluar dari kamar mandi. Memandangi dari awal langkahnya keluar dari tempat lembab itu.
Terkadang dia bisa tiba-tiba grogi oleh tingkah berlebihan yang ditunjukkan Reynand. Mulai dari menyisir rambut, belajar dan memasang sepatu, apapin yang ia lakukan, semua itu sudah seperti tontonan yang tidak bisa Reynand lewatkan.
Lalu, tadi Reynand mempertanyakan kenapa dia masih mengganti pakaian dikamar mandi?
Nayla menarik nafas.
Itu salah satu alasannya, dia tidak ingin saja tatapan mesum itu terus memandanginya, bisa-bisa dia tidak akan selesai mengenakan pakaian.
"Nay...."
Tiba-tiba Nayla tersentak saat tangan Reynand melingkar erat memeluk tubuhnya dari belakang. Nafas berat dan hangat itu mulai menerpa lehernya.
Nayla mendadak meremang.
"Pulang nanti abang gak bisa jemput kamu." Ia semakin menyusupkan wajahnya diceruk leher itu.
"Kenapa?" tanyanya gugup dengan debaran jantung yang semakin membuat sesak.
"Nanti malam abang harus menghadiri acara live talkshow." Decapan pada kulit leher itu terdengar jelas.
"Dimana?" tanyanya semakin sesak nafasnya karena ia pun ikut memburu oleh mulut Reynand mulai mengusik kulit lehernya dengan sensual.
Reynand lalu membalik tubuh Nayla untuk menghadapnya.
"Em...." Reynand Memegangi bahu Nayla. Gemetar?!
"Nay...." Reynand langsung mengintip wajah itu khawatir.
Tiba-tiba.... "Aku kayaknya harus kedokter jantung...." Ucap Nayla gugup.
Ha?
Dan itu berhasil membuat Reynand cemas seketika "Kenapa? Jantung kamu sakit?"
Gadis itu mengerjap sesaat "Nggak tau. Kayaknya ada kelainan...." Lirihnya semakin merunduk.
"Nay, kamu jangan bercanda."
"Aku nggak bercanda...."
"Terus? Gimana rasanya? sakit?"
Gadis itu semakin menunduk. Rasa cemas Reynand pun semakin menjadi, dengan cepat ia mengangkat wajah itu menghadapnya. Rona diwajahnya? Ini bukan raut wajah orang yang sedang sakit, tapi....
Melihat sikap malu-malu itu sepertinya Reynand paham. Ia kemudian membuang pandangan kesegala arah. Lalu mendongakkan kepalanya keatas, lama. Menggosok tengkuknya, Reynand menahan senyum diwajah.
Apa ini? Nayla sedang berusaha mengerjainya, begitukah?
"Kamu salah deh, Nay. Kayaknya bukan harus kedokter jantung." Reynand sedikit terkekeh.
Nayla akhirnya memalingkan wajahnya. Dia juga tidak mengerti tapi mau bagaimana lagi. Daripada nanti jantungnya meledak, dia pernah bilang kan, takut kalau nanti jantungnya meledak seperti bom waktu.
"Wajar kok, Nay. Jatuh cinta memang begitu...."
__ADS_1
Bugh! Reynand meringis. Nayla memukul dadanya dengan sangat kuat.
"Sakit Nay...."
"Abang tuh...." Rengeknya malu.
"Emang berdebar-debarnya tiap saat banget ya?" Senyumnya, menggoda.
Nayla menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Bukan lagi, bahkan hanya melihat bekas telapak kakinya saja bisa membuat dia berdebar-debar.
"Kalau lagi berduaan?"
Gadis itu semakin menunduk malu.
"Em, waktu kita.... ciuman?"
Nayla sudah tidak tahu, harus bagaimana lagi. Tebakan Reynand selalu benar. Ia selalu berdebar tentang apa pun yang dilakukan bersama laki-laki itu. Ini rasanya gila, benar-benar membuatnya gila.
"Kalau.... malam itu." Dan, bukan hanya Nayla yang mendengar, Reynand yang mengatakannya pun langsung memanas.
"Aku mau berangkat...." Ucapnya mendorong tubuh tegap itu dengan kuat. Namun sayang, karena Reynand lebih kuat menahan pergerakannya. Maka bobot tubuh itu pun tidak dapat berpindah.
"Lepasin Nay...."
Nayla langsung ternganga. Maksudnya?
"Apa yang kamu rasain.... ungkapin." Menyentak bahu itu dengan kuat.
"A-aku...." Ah, Nayla terlalu sulit mengutarakan apa yang ia rasa.
Menghela nafas, dengan cepat Reynand langsung mendekap tubuh itu dengan erat. Benar saja, ia dapat merasakan semuanya. Debaran jantung gadis itu, benar- benar kencang. Hal yang tidak ia sadari selama ini. Maksudnya ia tidak tahu kalau, deguban-nya sekuat ini, padahal mereka sudah sering saling menyentuh. Bahkan sudah....
"Nay kamu...."
Gadis itu mencengkram baju kaosnya dengan erat. Ia tidak tahu, rasa ini benar-benar membuatnya sesak. Harus bagaimana? Dia harus bagaimana mengendalikannya?
Nayla menggeleng dan semakin erat mengenggam erat kaos yang dipakai Reynand.
"Ya, tuhan Nay...."
"Kamu harus lepasin perasaan itu sekarang."
Lalu ia pun merengek malu "Ih, nggak mau. Udah, aku mau berangkat...."
Astaga, Reynand sudah semakin gemas.
"Bilang...."
"Nggak...."
"Harus dilepasin Nay, kalau nggak. Kamu bakalan makin sesak...."
Ragu-ragu Nayla pun mulai membuka mulutnya "A..." Entah kenapa tiba-tiba lisannya sepeti tertahan, mungkin karena dia terlalu gugup.
"Apa? Bilang...."
Nayla pun semakin merasa didesak.
"Nayla...."
Aaaa Nayla sudah tidak tahan lagi, dengan cepat ia pun memekik "I love you!"
Deg!
Dan itu mampu membuat Reynand terpaku lama. Apa ini? Benar-benar, padahal sebelumnya mereka pernah saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Tapi....
__ADS_1
"I love you.... Aku cinta kamu." Nayla semakin meremas kaos belakang laki-laki itu dengan erat. Menyusupkan kepalanya didada lebar itu dalam-dalam. Rasanya ia akan benar-benar meledak saat itu juga.
Ya tuhan, hanya untuk mengatakan itu saja dia sampai harus terengah-engah dan berkeringat seperti ini.
"N-nay...." Baiklah pengakuan Nayla tadi mampu membuat kerongkongan Reynand mengering. Ia pun mendorong tubuh gadis itu untuk memberi jarak, menatap wajahnya yang sudah memerah padam.
Astaga! Ini mereka berdua kenapa sih sebenarnya?! Rasanya pernyataan mereka malam itu belum terasa cukup. Padahal mereka sudah saling memberikan jiwa dan raga dengan sepenuh hati.
Apa mungkin perasaan mereka belum dilepaskan sepenuhnya. Ya tuhan, apa pengakuan cinta mereka malam itu masih kurang? Bukan, apa perasaan itu semakin tumbuh dan bertambah?
Hah, Reynand benar-benar sudah tidak tahan lagi. Rasanya ia juga akan ikut meledak saat itu juga.
Baiklah, dengan perasaan yang terus menggebu-gebu itu Reynand pun langsung bergerak cepat. Dan, seketika gadis itu kembali memekik kala ia mengangkat tubuhnya tinggi.
Membenahi posisi kaki yang melingkar ditubuhnya untuk membuat mereka merasa nyaman. Setelah itu Reynand pun mulai menatap sorot mata gadisnya dengan penuh perasaan.
Memiringkan kepalanya, ia pun mulai berusaha untuk menggapai benda ranum itu.
Seakan mendapat tarikan magnet, perlahan Nayla pun mulai menurunkan kepalanya. Meraih pagutan itu dengan mesra. Awalnya hanya saling menggigit lembut, kemudian dilepaskan lalu beradu pandang dengan penuh hasrat dan melakukannya lagi, begitu seterusnya.
Namun, lama kelamaan aksi itu menjadi semakin mendesak. Mereka pun mulai menyusupkan indera perasa mereka masing-masing. Saling memaut didalam merasakan kelembutan disana. Menyesap setiap rasa yang ada.
Nayla dapat merasakan tubuhnya sedikit berguncang seiring dengan langkah kaki Reynand yang melangkah. Hingga akhirnya mereka berdua pun sama-sama terhempas disisi ranjang dan membuat pagutan itu terlepas.
Seolah sama-sama telah melepaskan perasaan yang tertahan, lalu mereka berdua pun saling bersitatap dan tersenyum.
"I love you too...."
Umpan balik yang dilontarkan Reynand itu mampu membuat hati Nayla menyeruak penuh warna, bersemi menjuru kesegala arah.
"Aku juga cinta kamu, Nay...."
Dan, saat bibir itu kembali mendekat, Nayla dengan cepat menahan dengan tangannya. Lalu beranjak turun dari pangkuan itu segera. Ia ingat, waktunya tidak cukup lagi untuk melanjutkan kegiatan ini.
"Nanti aku telat...."
*
*
*
*
Hai!
Kalau ada yang tanya, kenapa baru up? Aku kemarin tiba-tiba tepar, jadi butuh istirahat yang cukup. Semangatin terus ya. Biar bisa terus melanjutkan cerita ini.
Maaf ya kalau ceritanya gini-gini aja, typo dan sebagainya. Misalkan kalian merasa bahasanya juga aneh, terkadang aku juga gak sengaja masukin bahasa daerah.
Mudah-mudahan kalian nggak bosan. Bagi yang sudah bosan, terserah deh, aku juga gak bisa maksa. Ehe,
Ini episode terakhir........
.
.
.
.
..........untuk malam ini.
Silahkan berikan komentar kalian. Author butuh komen nih, hiks.
__ADS_1
Jangan lupa, like and vote kalau kalian bisa.
Happy Readingđź’“