
****
Jadi, saat Nayla mengantar Mami sampai ke mobilnya, wanita nomor satu didalam hidupnya itu menyuruhnya mendekat. Celingak-celinguk melihat keadaan sekitar dan merasa aman. Mama Adel lalu membisikkan sesuatu.
“Sini dulu deh.”
Nayla lalu semakin mendekat saat Mami yang berdiri disamping mobil yang pintunya sudah terbuka menarik tangannya.
Kemudian mulai mengutarakan maksudnya.“Mami mau tanya....”
“Mami mau tanya apa?”
“Kalian.... Udah berencana, untuk punya anak?”
Untuk sesaat pertanyaan tiba-tiba itu membuat Nayla termangu.
“Nayla, kok bengong?”
“Kami belum pernah membahas soal itu.” Nayla sangat ingat mereka berdua sekali pun membahas tentang itu.
“Kenapa? Kalau tiba-tiba kamu hamil gimana? Kalian harus membicarakan ini. Punya anak itu nggak gampang.”
Nayla menunduk bingung. Sebenarnya ia belum berpikir sampai kesana. Soal anak masih sangat jauh dari jangkauannya. Maksudnya ia juga belum terlalu memikirkan itu. Apalagi dengan keadaannya sekarang. Lagi pula Reynand juga tidak pernah tercetus soal ini.
“Jadi? Apa kalian menunda?”
“Mi....” lalu Nayla pun mulai ragu “Aku belum mau bahas soal ini.” Lalu ia tertunduk.
“Mami cuma nanya, kalian nunda apa nggak?”
“Nggak tau Mi....” lalu Nayla menggigit bibir bawahnya.
“Nggak tau gimana? Pas sebelum gituan udah diskusi belum mau nunda atau nggak?” Tanya Mami spontan.
Gadis itu langsung menyambar malu “Mami.” Nayla menekan nada bicaranya. Maminya apa-apaan. Ia lalu merengut sebal. "Udah deh, Mami pulang. Kasian Romeo nanti nunggu." sarannya pelan.
"Eh, kamu ngusir Mami."
__ADS_1
Tuh, kan serba salah. Nayla sebenarnya hanya ingin menghindari pembicaraan ini, bukan berniat seperti itu.
"Nggak bukan gitu, habisnya Mami bahas masalah itu. Kan, aku jadi...." menunduk malu.
"Nggak usah malu. Sama siapa lagi kamu cerita soal ini kalu bukan sama Mami kamu sendiri. Mami cuma mau pastiin, kamu udah siap belum punya anak." Lalu saat melihat Nayla mulai tidak nyaman dengan pembahasan ini Mami pun mengalih topik pembicaraan.
"Soal suami kamu, kamu bilang dong sama dia yang tegas kalau jadi lelaki. Sampai kapan kamu akan disakitin terus sama dia. Walau pun Reynand belum tentu seperti itu, tapi Mami nggak suka lihatnya." Mami menjeda sejenak. "Dia lebih sering diberitakan bersama lawan mainnya itu, Mami nggak tau itu hanya untuk kebutuhan syuting atau apa. Yang jelas Mami nggak suka lihat kamu sakit hati."
Perkataan Mami tersebut mampu menusuk hati Nayla. Benar, Mami memang benar. Dia memang sakit hati melihat Reynand diberitakan bersama perempuan lain. Apalagi pemberitaan itu dibuat seolah mereka memiliki hubungan romansa.
"Mami ngomong gini demi kamu loh." Dada wanita itu sudah naik turun karena sudah terlalu terbawa perasaan. "Ingat kalau kamu udah nggak bisa nahan sakit hati, kamu pulang aja kerumah. Bukan berarti Mami menyuruh kamu kabur dari suami kamu. Tapi, sesekali Reynand harus tahu kalau sebenarnya dia sudah membuat kamu sakit hati."
Nayla semakin tertunduk. Yang ia rasakan saat ini adalah kasihan pada Maminya. Gara-gara ini Maminya jadi kepikiran.
"Mami maaf...."
"Nggak usah minta Maaf, lagian ini udah janji kakek sama Mami sebelum nikahin kalian. Kakek tidak melarang Mami untuk ikut campur, selama masih batas wajar."
Nayla lalu mengangkat kepalanya. Air mata perempuan itu mulai bercucuran. Rasa kasihan terhadap Maminya semakin menjadi. Ia tahu Maminya saat ini sedih.
Mami menatap Nayla dalam-dalam. Sakit memang melihat anak sendiri tersakiti. Bahkan ia merasa sakit itu lebih baik tersalurkan pada dirinya.
Walau pun ia tahu Nayla dan Reynand sudah saling menerima satu sama lain. Tapi, perasaan was-was itu selalu timbul dibenak Mami. Apa lagi soal pemberitaan Reynand dan wanita itu yang selalu timbul. Habis berita baru muncul lagi berita lain yang selalu menghebohkan. Mami hanya takut setelah ini berita apalagi yang akan keluar.
"Mami selalu lihat komentar para netizen yang memandang hubungan mereka sangat serasi. Mami sakit hati Nayla, bacanya."
Melihat Reynand yang spertinya terlalu cuek mengenai pemberitaan tersebut dan juga wanita itu yang seperti sangat menginginkan menantunya. Ya, Reynand terlalu cuek mungkin karena sudah terlalu sering jadi pemberitaan. Jadi dia sudah tidak ambil pusing lagi.
Tapi bagi Mami, komentar-komentar tersebut selalu menyayat hatinya. Bagaimana tidak menantunya dipasangkan dengan wanita lain.
"Dengar. Kalau kamu udah nggak tahan, kamu boleh datang menemui Mami. Mami siap jadi pendengar."
Gadis itu sudah tidak tahan lagi untuk terisak. Air matanya menetes jatuh ketanah. Nayla tidak menyangka kalau Maminya akan sangat memikirkan hal ini. Dia jadi semakin merasa berasalah telah membuat sakit hati Maminya. Walaupun kesalahan itu tidak dibuat olehnya, tapi Nayla tidak tega. Mami sudah terlalu sering merasakan sakit.
Menghidupi ia dan Romeo setelah papinya meninggal. Mami menjadi singel parent dan menggantikan sang Papi menjadi tulang punggung keluarga. Itu yang Nayla lihat selama peejalanan hidupnya selama Papi telah tiada. Hatinya selalu meringis melihat itu. Mami yang harus kelelahan setiap hari untuk menyibukkan diri. Semata-mata ia lakukan untuk membuang ingatan tentang suaminya.
Kala malam datang ibunya itu lebih senang menyendiri. Seolah mengenang hari-hari yang telah lalu, mengingat sang belahan jiwa yang telah pergi untuk selama-lamanya.
__ADS_1
Nayla sangat berharap Maminya tidak memikirkan apa-apa lagi. Mami sudah semakin tua. Dan, dia hanya ingin Mami bahagia disisa hidupnya.
"Mami...." gadis itu semakin tertunduk dan terisak. "Maaf...."
Mami menarik nafas lalu terdiam, ia juga menahan kesedihan yang dalam dihatinya. Ia raih tubuh putrinya yang gemetar itu lalu memeluknya erat.
Sudah dari dulu sejak suaminya meninggal Mami selalu seperti ini, selalu menahan kesedihan didalam hatinya. Niatnya adalah dia tidak boleh lemah didepan anak-anak. Mereka harus melihatnya sebagai sosok ibu yang kuat. Setelah suaminya meninggal Mami tidak pernah lagi memperlihatkan sebetapa lemah dan rapuh dirinya didepan kedua buah hatinya.
Mami merasa tugas melindungi itu beralih pada dirinya. Tidak ingin terus-terusan berderai air mata maka Mami mengeraskan hatinya, membuang sifat lembutnya. Lebih sering menonjolkan sifat galak yang ada kepada Nayla dan Romeo. Menjadi wanita mandiri dan tegas yang terlihat berambisi dengan pekerjaannya.
Sibuk, kesibukkan itu mampu membuatnya lupa akan segala gundah yang ia rasakan.
"Sudah kamu masuk, gih." Mami melepas pelukan erat itu. "Udah nangisnya." Mami lalu mengusap air mata putrinya itu dengan jari-jari pelan.
"Denger, awas ya kalau Reynand buat ulah lagi. Kamu benar-benar harus pulang ikut Mami." Lalu setelah Nayla mengangguk pelan wanita paruh baya itu bergegas memasuki mobil. Dia tidak ingin larut dalam suasana. Takutnya apa yang ia tahan-tahan itu meledak juga.
Nayla melambaikan tangannya bersamaan Mami juga. Ia masih sesenggukkan. Lama ia diluar hanya untuk menetralkan apa yang ia rasa.
Tidak ada yang boleh melihat ia menangis. Mama ia mengusap habis air matanya.
Namun, saat ia mulai menuju pintu masuk. Sebuah pelukan hangat menyambutnya.
Mama Adel? Apa Mama Adel melihat semuanya?
Melepas pelukan itu lalu Mama Adel tersenyum "Jangan nangis lagi ya."
Mama Adel benar-benar salah kalau Nayla tidak akan menangis lagi.
Gadis itu sangat mudah sekali tersentuh. Dan, benar saja Nayla kembali terisak. Nayla juga tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini menjadi lebih sensitif. Seperti ada sesuatu yang aneh dari dalam tubuhnya saat ini.
Dan kalau dipikir-pikir mungkin dia seperti ini karena hormon datang bulan. Mengingat sudah satu minggu belum juga kedatangan tamu bulanan.
*
*
*
__ADS_1
*
Happy Reading! Y