Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Minta Maaf


__ADS_3

****


Pagi itu Nayla tengah duduk didepan cermin. Dilihatnya lagi tanda itu sebelum dia menempelkan koyo disana. Dia berpikir sejenak sambil mengelus lehernya. Ini, tanda ini adalah perbuatan Reynand. Dan, Reynand adalah suaminya. Semalam dia memukul dan memarahi Reynand habis-habisan karena ulahnya itu. Tapi, kenapa dia jadi merasa bersalah ya. Padahal kan yang membuat ulah adalah Reynand.


Diperhatikannya lagi sosok yang sedang tidur itu dari pantulan cermin.


Selama ini sebenarnya Reynand sudah bersikap lembut padanya. Bahkan Reynand telah beberapa kali membuatnya tersentuh.Tapi, dia selalu marah saat laki-laki itu ingin menyentuhnya. Bukan, bukan dia tidak ingin disentuh. Dia hanya belum siap jika Reynand mungkin ingin lebih dari itu. Dia hanya terlalu takut.


Tiba-tiba Nayla ingat pesan Mami, jangan pernah menolak suami. Ah, kenapa dia jadi sedih begini. Mami sudah kehilangan suaminya, yaitu ayah kandungnya sendiri. Jika Mami tahu apa yang sudah dilakukannya kepada Reynand Mami pasti tidak suka dan merasa sedih.


Bukannya seharusnya dia bersyukur, kan? Ada Reynand dihidupnya saat ini. Terlepas mereka hanya dijodohkan dan walaupun mereka tidak saling mencintai.


Bukan tidak saling mencintai, tapi mungkin belum. Reynand sebenarnya tidak pernah menunjukkan rasa benci padanya. Hanya saja waktu awal-awal mereka menikah Reynand mengajaknya pisah kamar. Itu pun dia juga menyetujuinya.


Cup! Satu kecupan dipipi Reynand dia berikan sebelum berangkat sekolah. Hatinya menjadi damai. Kenapa dia merasa lega setelah memberikan kecupan itu. seolah-olah itu adalah permintaan maafnya atas tindakan kurang ajarnya semalam, karena telah menjadi istri yang durhaka.


“Abang aku pergi ya. Maaf semalam aku udah marah-marah dan mukulin abang pakai bantal.” Mengelus pipi Reynand pelan sebelum akhirnya mengecupnya kembali. Jantung Nayla berdebar lagi. Dia mengelus dadanya pelan. Debaran jantung, ayo dong dikondisikan. Kenapa kau membuat tubuh ini terus-terusan berdebar tidak karuan.


Setelah itu Nayla bergegas keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan. Setelah itu, seketika itu juga mata Reynand terbuka. Dipegang pipinya yang tadi dikecup oleh Nayla. Dia tersenyum, sikap Nayla pagi ini sangat manis.


~


Saat itu dikantin sekolah.


“Duh sumpah gue pusing banget hari ini. apaan si tuh bapak-bapak lagi ngejelasin pelajaran apa ngedongeng. Gue sampai ngantuk.” Suci bersungut-sungut.


“Heh, mulut ember. Itu guru kita, Lo mau nanti kualat.” Timpal Tia.


“Biarin!” Sungut Suci.

__ADS_1


“Eh, Nay itu kenapa lo pakai koyo?” tanya Tia.


“Oh, em, ini.” Duh, Alasan apa ya? Dia harus bilang apa sama teman-temannya.


“Eh iya, ini kenapa leher lo.” Suci mencoba membuka koyo yang ada dileher Nayla. Sifat keponya mulai keluar lagi.


“Jangan dibuka.” Menepis tangan Suci.


“Lo nggak panas gitu siang-siang gini pakai koyo mana cuaca panas lagi.” Tanya Tia lagi.


“Nggak, soalnya leher gue emang lagi sakit.” Huh! Akhirnya dia berbohong untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Tidak apa-apa kan berbohong demi kebaikan.


“Oh gue kira tu leher ada bekas cup*ng!” Tia yang memang frontal berucap asal.


“Ha, cu-cup*ng ya nggaklah emang siapa yang bakal ngelakuin itu ke gue.” Nayla berucap gagap. Ah, ucapan Tia kenapa bisa sangat tepat begitu si. Kan dia jadi merasa tertangkap basah.


“Ya kali aja lo punya pacar tanpa sepengtahuan kita.” Timpal Tia lagi.


Hahah Iya. Dia memang tidak punya pacar. Tapi, dia punya suami dan Tia sangat ngefans dengan suaminya. Tidak terbayangkan bagaimana reaksi Tia kalau Reynand adalah suaminya. Duh, dia jadi ingat apa yang dilakukannya dengan Reynand tadi pagi.


Tapi, tumben suaminya itu tidak mengiriminya pesan. Biasanya tiap detik dijam segini ponselnya sudah penuh dengan pemberitahuan pesan dari Reynand.


“Gue tau. Leher lo pasti habis dicupang suami lo kan.” Suci bebisik pelan ditelinga Nayla. Kemudian mengambil pentol baksonya lagi dan memasukkan kedalam mulut. Dalam hatinya terkekeh geli.


“Lo tu ya. Nggak hati-hati banget kalau ngomong.” Bisik Nayla balik. Dia melirik Tia takut sahabatnya yang satu itu mendengar.


“Berarti benerkan?” Suci berbisik lagi menaik turun kan alisnya.


Brak! Gebrakan kuat dimeja. Membuat apa yang ada diatas sana bergetar.

__ADS_1


“Lo kenapa ngedobrak meja?” Tanya Suci yang tiba-tiba kaget.


“Iya lo kenapa ya?” Nayla tak kalah kaget juga.


“Gue kesel aja si. Akhir-akhir ini lo berdua sering banget bisik-bisik didepan gue. Lo berdua ngomongin gue? Atau, kalian emang nyembunyiin sesuatu?” Tia bersungut penuh kecurigaan.


“Lo kenapa si ha? Aneh banget deh.” Ucap Suci.


“Gue kenapa? Tanya pada diri kalian masing-masing kenapa gue jadi gini. Lo berdua sebenarnya masih menganggap gue sahabat atau nggak?" Tia meminum habis es jeruknya sebelum akhirnya dia melengos pergi meninggalkan Nayla dan Suci.


“Duh, gimana nih Ci. Tia makin lama makin curiga deh kayaknya. Apa gue harus cerita sama Tia kalau gue udah….” Nayla menghentikan ucapannya dan menunduk.


“Ya, bisa jadi dia curiga kalau kita nyembunyiin sesuatu. Tapi bukan berarti dia curiga kalau lo udah nikah. Udah biarin aja. Paling nanti juga dia baik lagi.” Mengelus bahu Nayla pelan.


“Makasih ya Ci, lo udah menjaga rahasia ini ke semua orang.”


“Tenang aja. Walaupun bacot gue ini kemana-mana. Tapi gue masih bisa kok jaga rahasia dengan baik hehe.” Suci tersenyum bangga.


Nayla tersenyum. Dia sedikit tenang karena Suci bisa mengerti dirinya. Walaupun terkadang sahabatnya itu sangat sering hampir keceplosan dan membuatnya was-was.


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2