Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
S2 - Cuek!


__ADS_3

****


Malam harinya, setelah pergulatan Nayla dengan sosok wanita berambut ikal tadi, Reynand terus-terusan menasehati istrinya itu disetiap dia ingat tentang kejadian tadi. Entah itu saat mereka mandi bersama, menuruni tangga untuk makan malam atau kapan pun Reynand ingat.


"Nggak boleh gitu lagi, Nay."


"Hmm...."


"Untung tadi dia nggak sanggup buat ngelawan."


"Hmm...."


"Aku takut tadi dia sempat bales kamu dan nyakitin anak kita yang ada didalam perut."


"Iya, iya...."


Kira-kira seperti itulah deretan nasehat yang Reynand ucapkan kepada sang istri.


Intinya laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi ayah muda itu sangat takut jika Nayla kembali mengulangi tingkah laku yang tidak tidak terpikirkan tadi, kenapa ia bilang tidak terpikirkan? Dia saja sampai ragu kalau yang melakukan hal itu tadi adalah Nayla.


Dikala ia tengah memeriksa file-file pekerjaannya dengan berkutat pada laptop dimalam hari itu, sejurus kemudian Nayla yang baru saja menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya beranjak naik keatas ranjang lalu menggelayutinya dari belakang sembari tangan melingkar dilehernya. Fokusnya pada layar dihadapannya itu tidak mengalihkan perhatiannya kepada Nayla yang mengintip dari belakang.


"Masih lama, ya?" tanya Nayla yang mengintip dari balik kepala sang suami.


Tidak digubris, Reynand terlalu fokus saat itu. Maka Nayla pun menekan pelukannya pada leher Reynand guna menarik perhatian Reynand.


"Duh, Nay...." ucapnya pelan berusaha melepas lingkar tangan Nayla pada lehernya lalu sambil terus fokus pada layar pemancar sinar-X dihadapannya.


"Kok aku dicuekin sih...." Perempuan itu mendorong bahu Reynand protes, namun lagi-lagi laki-laki yang sedang serius itu tidak menggubrisnya.


"Memang banyak banget ya, pekerjaannya?"


"Hmm...." Jawab Reynand singkat.


"Kira-kira berapa lama lagi selesai." Seharusnya Nayla tidak perlu menanyakan itu, ingatkan saja malam-malam sebelumnya Reynand bahkan tidur melewati tengah malam.


Dan, pertanyaan itu hanya dijawab oleh gelengan kepala.


Nayla mencubit pipi Reynand pelan. "Ih, dicuekin terus.... aku mau ngomong sesuatu...." rengeknya kemudian, memang hormon kehamilan membuat dirinya merasa ingin lebih diperhatikan.


Reynand pun lantas melepas kacamata minusnya, lalu berbalik menatap Nayla. "Nay, aku lagi ada kerjaan, nanti aja, ya...."


"Tapi...."


"Plis, kerjaan aku lagi banyak banget...." Lalu raut wajah yang nampak serius itu kembali berbalik.


"Tapi besok itu kita harus...."

__ADS_1


Merasa terusik Reynand menyambar cepat tanpa menoleh kearah Nayla. "Nay! Tolong ngertiin aku. Aku lagi pusing, kerjaan lagi banyak." lalu mendesah berat sembari memijat kepalanya pusing. Sepertinya pekerjaan di perusahaan sedang padat-padatnya.


"Ini soal anak kita...."


"Kamu dengar nggak sih, tadi aku bilang kalau lagi gak bisa diganggu?!"


Mendengar seruan itu Nayla pun memuncak. "Iya deh, ya udah.... tapi jawab dulu, kerjaannya kira-kira kapan selesai?"


Reynand kembali tidak menggubris. Laki-laki itu malah terlihat seperti sengaja mendiamkannya. Tapi, barusan dia menyebut soal anak....


Ini benar Reynand tidak perduli atas benihnya sendiri? Hah, kenapa dia jadi sebal ya?


Merengut oleh perilaku itu, Nayla pun berdecak sebal dan bergegas turun dari ranjang. Kesal! Tapi, mau bagaimana lagi. Reynand punya tanggung jawab terhadap pekerjaannya. Tanggung jawab untuk terus menghidupkan apa yang telah kakek bangun selama ini. Maka untuk itulah lebih baik tidak mengganggu Reynand untuk saat ini. Mungkin memang dirinya yang salah karena mengajak berbicara di waktu yang tidak tepat.


Memang sejak menyandang menjadi pemimpin tertinggi di Prasaja Grup Reynand sangat jarang bisa menghabiskan waktu dengannya, terkadang suaminya itu pun pada jam-jam seperti ini tengah berada diruangan pribadi kakek yang kini menjadi ruangan pribadi milik suaminya.


Ia pun melangkah untuk keluar dari kamar, menoleh sebentar kebelakang, lagi-lagi Reynand masih serius menatap layar laptop dihadapannya.


Nayla kemudian perlahan membuka pintu kamar, ia sepertinya perlu udara segar agar tidak merasakan sesak. Huh, kenapa tiba-tiba dia jadi merasa sesak begini ya?


Menuruni tangga beberapa saat, perempuan itu kemudian berjalan pintu keluar.


"Nay!"


Panggilan Mama Adel membuatnya menoleh. "Iya Ma...." sahutnya.


"Keluar sebentar cari angin...." jawabnya.


Mama memperhatikan raut wajah Nayla dengan seksama. "Kok, kamu cemberut gitu? Ada masalah?" tanya Mama lagi menelisik.


Nayla menggeleng pelan, kemudian berusaha untuk tersenyum agar terlihat baik-baik saja. "Nggak apa-apa, aku cuma lagi suntuk aja Ma. Mau keluar sebentar."


"Reynand, dia lagi apa?" ujar Mama penasaran.


"Lagi banyak kerjaan Ma...."


Mama Adel pun mangut mendengar jawaban itu.


****


Nayla memandangi air tenang kolam dihadapannya itu. Lampu taman yang cukup terang membuat ikan koi yang ada didalam sana terlihat sangat jelas. Mereka seperti sangat senang akan kedatangannya.


Entahlah dia sudah seperti anak kecil saja, melihat ikan berkejar-kejaran seperti membuat hatinya sedikit tenang.


Sembari duduk dikursi taman Nayla sedari tadi terus mengelus-elus perutnya dengan pelan. Sesekali ia merasakan didalam sana. Menurut yang ia dengar dari Beta, dirinya memang mulai bisa merasakan gerakan bayi dalam kandungannya. Tersenyum menatap perut buncitnya, rasanya tidak sabar menunggu bayi kecilnya hadir didunia.


"Nggak sabar deh nunggu kamu lahir." Lirihnya pelan. Lalu ia merasakan gerakan itu lagi. "Kamu mau dielus-elus ayah, ya?" menjeda ucapannya sejenak sembari terus mengelus-elus perut buncit itu. Kemudian mendesah pelan dengan hati yang bergetar. "Ayah lagi sibuk.... nanti ya sayang, kalau ayah gak sibuk pasti kamu bakal dielus-elus seperti biasanya."

__ADS_1


Besok jadwal untuk memeriksakan kandungannya lagi kepada Beta. Beta menyarankan kalau ia harus datang bersama Reynand sembari mengetahui jenis kelamin anak mereka. Tapi, mengingat kesibukkan suaminya, rasanya Nayla tidak yakin untuk mengatakan hal tersebut. Mungkin seperti sebelumnya, ia akan minta tolong ditemani oleh Mama Adel. Tentu saja Mama Adel pasti setuju, karena Mama Adel memang selalu yang paling heboh jika menyangkut tentang kehamilannya.


"Loh, kok mbak Nay diluar sendirian?"


Suara pak Tio tiba-tiba membuyarkan lamunannya.


Nayla kemudian menatap laki-laki paruh baya itu dengan senyuman. Lagi-lagi dia mencoba terlihat bahagia dihadapan orang lain.


"Lagi mau cari udara segar Pak." Sahut Nayla.


"Jangan diluar sendirian mbak, apa lagi mbak Nay lagi hamidun." Pak Tio membuat gerakan perut buncit dengan kedua tangannya. "Nanti ada yang ngikutin." ujarnya bergidik ngeri sendiri dengan ekspresi yang menggelikan.


Nayla terkekeh mendengar ucapan pak Tio. Entahlah cara bicara dan ekspresi pria paruh baya ini malah mengocok perutnya.


"Loh, kok malah tertawa mbak. Ini serius loh."


Lagi-lagi Nayla terkekeh. "Habis, pak Tio lucu."


"Eh, bapak lucu ya?" tanya laki-laki itu kegirangan.


Nayla mengangguk pelan. "Iya lucu banget, sampai-sampai air mata aku keluar." Nayla menghapus air mata yang mengalir dari sudut matanya. Entahlah ia tidak yakin ini air mata apa sebenarnya. Yang jelas ia tidak mengerti kenapa air matanya ini tiba-tiba keluar.


"Bapak seneng kalau mbak Nayla terhibur. Nanti sering-sering deh pak Tio bikin mbak Nayla tertawa."


Ia lagi-lagi mengusap sudut matanya pelan. "Duh, iya. Bapak emang lucu banget." Lumayan untuk menghibur perasaannya yang sedang galau.


"Udah disiapin nama belum mbak, calon anaknya?" tanya laki-laki itu spontan.


Nayla mengangguk pelan. Tapi, nama itu dipersiapkan kalau nanti anak mereka perempuan.


"Oh, ya?!" Seru pak Tio heboh. "Bapak jadi ikutan gak sabar, udah lama dirumah ini nggak ada tangisan bayi. Yang terakhir pak Tio lihat ya itu, mas Reynand waktu masih bayi."


Nayla mendengarkan cerita pak Tio dengan seksama.


Dan sang pembawa cerita makin semangat. "Dulunya waktu bayi, mas Reynand itu gemuk. Ha-ah. Dulu tapi, pas sudah besar jadi ganteng."


Begitulah obrolan ringan antara Nayla dengan pak Tio pun terus berlanjut. Setidaknya hatinya tidak merasa sesak lagi saat ini, berbicara dengan pak Tio ternyata sedikit menghibur dirinya. Ia merasa pak Tio lebih mengerti dirinya dari pada laki-laki yang telah membuatnya kesal tadi.


*


*


*


*


Happy Reading!

__ADS_1


__ADS_2