
****
Plak! Satu pukulan Nayla layangkan dibahu Reynand. Dia benar-benar gusar. Laki-laki itu sedari tadi terus mengganggunya. Bahkan laki-laki itu berani mengambil kesempatan dikala dia tidur dengan menyusupkan tangan didalam bajunya. Nayla jadi berpikir apa Reynand sering melakukannya saat dirinya tengah nyenyak terlelap.
Huh! Benar-benar menyebalkan!
Reynand kembali mendekatinya. Benar-benar tidak membaca situasi. Dia yang baru mengambil seragam sekolah dengan buru-buru dari lemari malah diganggu. Laki-laki itu hendak memeluknya dari belakang.
“Abang keluar nggak, aku mau pakai baju.” Nayla mengehentakkan kakinya kelantai kesal. Wajahnya merah padam antara malu dan marah saat Reynand terus mendekati ingin memeluknya. Nayla merasa semakin hari sikap mesum Reynand semakin menjadi.
“Cium dulu.”
Tuh, kan memang dasar!
Akhirnya Nayla pura-pura memasang senyum sumringah. Terlintas sesuatu dikepalanya saat ini. Perlahan dia pun berjalan mendekat kearah Reynand.
“Tutup mata dulu tapi.” Ucap Nayla lembut.
Reynand menyambutnya dengan senang hati. Saat Nayla mulai mendekatkan wajahnya dia pun terpejam.
Nayla terkekeh. Ya tuhan, apa Reynand sebegitu inginnya dicium.
Lama Reynand menunggu namun dia merasa tidak ada sentuhan diarea wajahnya.
“Dasar predator! Cabul! Mesum!” Setelah melontarkan kalimat itu Nayla langsung berlari kekamar mandi dengan membawa seragam sekolahnya.
Astaga, Reynand geleng-geleng kepala. Mengusap-usap lehernya dengan senyum yang tidak bisa diartikan. Rupanya gadis itu sudah pintar mengerjainya. Kalau dirinya tidak bisa menahan diri, sudah dia terkam gadis itu sedari tadi.
Huh! Sabar Reynand nanti ada waktunya.
“Abang sudah akau mau berangkat.” Rengeknya tat kala Reynand mulai menarik sepatu yang akan dia pakai dan mengangkatnya tinggi.
Ini Reynand mengajak main atau apa si? Atau balas dendam karena dia mengerjainya tadi.
Laki-laki itu terus tertawa jenaka seolah-olah dia sangat terhibur dengan apa yang sedang dia lakukan.
“Ya udah aku nggak usah pakai sepatu.” Ujarnya kesal. Kemudian keluar dari kamar dengan sebelah sepatunya. Sebenarnya kalau dia mau dirinya bisa memakai sepatu yang lain. Tapi Reynand sudah membuatnya sangat gusar.
“Nayla ngambek ya?” mengikuti Nayla menuruni tangga.
“Nay.”
Tak ada sahutan, gadis itu sudah benar-benar ngambek rupanya.
“Nay. Ya, jangan marah dong. Maafin. Abang kan cuma bercanda.”
“Terserah!” menjawab ketus.
“Nay. Nih sepatunya.” Meletakkan sepatu Nayla didasar tangga.
“Mau abang pake in?”
“Nggak usah.” Menunduk hendak memakai sepatu tersebut.
“Sudah sini biar abang yang pake in.” segera menarik kaki Nayla dan langsung memakaikan sepatu tersebut.
Duh, padahal lagi sebal. Reynand malah bersikap manis begini. Dia jadi salah tingkah kan.
__ADS_1
Saat itu ketika hendak berangkat sekolah, Nayla sudah duduk dikursi depan penumpang. Sementara pak Tio akan mengantarnya. Tiba-tiba Reynand datang dengan mengendarai mobil miliknya. Kemudian menyuruh Nayla untuk ikut dengannya.
“Kenapa? Pak Tio mau nganterin aku sekolah abang.” Mau apa lagi si orang ini?
“Biar abang yang nganter kamu.” Masih menyuruh Nayla keluar dengan gerakan tangannya.
“Nggak mau. Pak, udah pak jalan, biar bapak aja yang nganter.” Nayla bersikukuh, membuat Pak Tio kebingungan.
“Nggak usah Pak, biar saya saja yang antar istri saya.”
Eh? Pak Tio jadi pusing. Ini pasutri kenapa?
“Pokoknya nggak mau. Nanti kayak waktu itu lagi.”
“Waktu itu? kapan? Emang abang ngapain?”
Ngapain? Nayla mendengus. Ini pura-pura lupa apa? Jelas-jelas waktu itu sewaktu pulang sekolah Reynand melakukan hal yang tidak-tidak padanya. Sampai membuat dirinya…. Ah sudahlah. Nayla ingin berteriak, malu sendiri mengingat itu.
“Waktu dipinggir jalan dekat sekolah. Abang raba-raba aku. Padahal cuma mau cium katanya, tapi malah ngelakuin lebih.” Sudahlah, katakan saja dengan jelas.
He? Pak Tio yang mendengar perkataan polos Nayla langsung membelalak. Dia paham sekarang arah pembahasannya. Deheman pun beberapa kali dia lontarkan dari mulutnya.
“Abang janji nggak bakalan gitu lagi.” Ucap Reynand meyakinkan.
Janji? Ya ampun, memang dirinya akan percaya dengan mulut Reynand. Tadi saja waktu bangun tidur dia merasakan tangan laki-laki itu ada diatas dadanya. Tiba-tiba Nayla merasa ngilu sendiri.
“Nggak. Nggak. Aku nggak mau. Pokoknya Pak Tio harus antar aku.”
“Ya ampun Nay, kok gitu si ama abang.” Reynand sok ngambek.
Huh, bodoh amat. Nayla memalingkan wajah tidak perduli.
“Tapi….” Pak Tio bingung mau menuruti yang mana.
“Udah Pak Tio antar Mama belanja. Biar Nayla saya yang antar.” Reynand tersenyum senang. Mama tau saja anaknya mau berduaan dengan sang istri.
“Iya udah biarin Reynand yang mengantar Nayla. Kamu antar saya sama Mbok Yana kepasar.” Ujar Mama lagi.
“Udah sana pak.” Reynand mengusir. Pandangannya beralih pada Nayla yang sedang berjalan kearah mobilnya dengan wajah cemberut kesal.
"Apa!" Ketusnya saat memasuki mobil.
Lagi-lagi Reynand terkekeh.
~
“Udah nyampe aku mau turun.” Rengek Nayla karena pintu mobil masih terkunci.
“Bentar.” Mencoba menahan.
“Apa lagi?” Matanya kembali menusuk tajam.
“Ya udah, nggak jadi.” Ucapnya pelan. Sepertinya dia tidak bisa mengganggu Nayla sekarang. Entah kenapa feel-nya kurang dapat. Suasana hati Nayla terlihat sangat tidak bagus, mungkin itu akibat dia terus mengganggunya sedari tadi.
“Abang mau apa?” Akhirnya Nayla merendahkan nada suaranya. Sepertinya Reynand menahan untuk mengatakan sesuatu.
“Nggak apa-apa. Em, kamu baik-baik disekolah ya.”
__ADS_1
Nayla mengernyit. Ngomong apa sih? Tumben, macam nenek-nenek menasehati cucunya.
“Udah. Mau ngomong itu aja.”
“Iya….” Namun Reynand terlihat ragu.
“Nggak ada yang lain?” Nayla memastikan.
Reynand menggeleng. Dirinya mencoba tersenyum. Walaupun sebenarnya ada yang dia inginkan. Tapi, lebih baik dia menahan untuk mengatakan. Sedari tadi Nayla terus marah-marah padanya. Dia tidak ingin gadis itu menjadi semakin kesal. Apalagi dia harus segera masuk kelas. Dia tidak ingin mood Nayla buruk nantinya. Marah-marah itu capek kan.
Melihat Reynand seperti itu Nayla terdiam bingung. Dia ingin turun sekarang, tapi entah kenapa dia merasa ada sesuatu.... yang kurang. Dilihatnya lagi Reynand yang sedang melihat lurus kedepan. Apasih? Mengapa laki-laki itu tidak mau melihat kearahnya, dia kan mau turun.
“Abang.”
“Iya.” Laki-laki itu menoleh kearahnya.
Perlahan Nayla melepas seatbelt ditubuhnya. Tak lama dia beranjak mendekati Reynand. Membuat laki-laki itu menoleh heran. Kenapa?
“Kok belum turun?” tanya Reynand.
“Ada yang kelupaan.”
“Em….” Reynand masih menatap heran.
Gemetar-gemetar Nayla menangkup wajah Reynand dengan kedua tangannya. Membuat tatapan mereka bertemu. Berdebar-debar lagi. Sudahlah, mau bagaimana lagi. Dia sendiri tidak bisa mengendalikan debaran jantungnya yang tidak tahu apa penyebabnya itu.
Cup! Dia mengecup bibir Reynand pelan. Membuat laki-laki itu membelalak kebingungan.
Setelah melepas kecupannya Nayla menatap wajah Reynand. Tidak ada respon. Dia pun mengulangnya lagi, kali ini tidak hanya mengecup. Dia mulai menggerakan bibirnya melum*t bibir Reynand pelan, rasanya lembut. Pantas saja Reynand suka sekali minta cium.
Eh, tidak mau rupanya. Nayla pikir Reynand akan membalas ciumannya dengan lebih bergairah. Namun rupanya laki-laki itu malah melongo dan tidak merespon sedikit pun.
Akhirnya karena tidak ada respon untuk yang kedua kali. Nayla pun berniat turun dari mobil.
“Abang aku turun ya.” Ucapnya tanpa memandang wajah Reynand. Rasanya dia malu sendiri dengan tingkah beraninya barusan. Apaan si Nayla, jadi hilang muka kan.
Namun tidak! Sebuah tarikan membuat dia langsung menghempas dipangkuan Reynand. Dirinya pun terkejut seketika. Nayla menatap Reynand penuh kebingungan.
Reynand memandangi wajah Nayla sebentar, seperti mencari sebuah makna yang tersirat disana. Dan secara perlahan dia pun memejamkan mata seiring menurunkan ciuman dibibir Nayla. Dilum*tnya bibir itu perlahan, seolah tidak ingin kenikmatan itu segera berakhir. Tanganya pun ikut naik turun mengelus punggung Nayla lembut.
Semakin lama Nayla pun mengikuti permainan Reynand. Melingkarkan tangannya dileher laki-laki itu dengan mesra. Menerima setiap sentuhan yang Reynand berikan. Seolah lupa apa penyebab dirinya tidak ingin diantar laki-laki itu tadi. Ah, dasar! Maunya dia apa si sebenarnya. Pada akhirnya dia terbuai juga kan, bahkan yang terlebih dulu mendaratkan ciuman tadi adalah dirinya sendiri. Apa ini juga karena hormon datang bulan? Tapi, apa mungkin?
“Udah.” Ucap Nayla terengah-engah. Setelah Reynand nmelepas ciuman panas mereka. Huh, pagi-pagi sudah berkeringat.
Reynand tersenyum menatapnya. Morning kiss yang indah. Ia mengelus pipi Nayla lembut. Dan….
Tiba-tiba bel sekolah berbunyi, terlihat dari kaca mobil semua murid yang hampir terlambat berlarian menuju pagar yang akan ditutup oleh satpam. Nayla tersadar, dengan segera melepaskan diri dari pelukan dan pangkuan Reynand. Membuka pintu dan bergegas turun dari mobil. Aaaa, tuh kan memang tidak bagus membiarkan Reynand mengantarnya.
*
*
*
*
*
__ADS_1
*