
****
Nayla mendudukan diri dengan rapi di kursi sebuah restoran mewah itu. Ia menatap dengan seksama sosok berwajah pucat dihadapannya. Sangat berbeda dengan yang ia lihat dahulu, tubuh wanita dihadapannya ini terlihat lebih kurus.
Sembari menerka-nerka ia sesekali menghela nafas karena jengah menunggu apa maksud dan tujuan ia dibawa kesini.
"Sori ya, aku minta bantuan sepupu aku buat bawa kamu kesini."
Nayla tersenyum tipis menanggapi.
"Kelihatannya sekarang kamu semakin bahagia." sosok itu menyoroti bagian gendut perempuan dihadapannya.
"Kamu juga, cara bicara kamu berbeda." Nayla menimpali. "Kalau boleh tau, apa tujuan kamu ingin bertemu saya?"
Perempuan itu menghela nafas sejenak. Tatapan sayunya terus menyoroti Nayla. Seakan Nayla terlihat begitu menarik di matanya saat ini. Semakin cantik dengan tubuh yang berisi karena hamil muda, serta seorang istri dari sosok pimpinan perusahaan terkenal. Sangat berbeda dari yang ia lihat dahulu. Gadis belia itu kini terlihat lebih dewasa.
"Reynand pasti makin cinta sama kamu." suara lembutnya kembali berucap.
Nayla tidak menggubris. Ia hanya bungkam dengan tanpa banyak merubah ekspresinya.
Kemudian nampak wanita itu tersenyum. "Nggak nyangka, laki-laki itu akhirnya melabuhkan hatinya sama kamu. Aku kira dia nggak suka sama perempuan."
Em,
Nayla mendongak mendengar ucapan itu. "Maksudnya? Nggak suka perempuan?"
"Yang aku tau dia itu sosok laki-laki pekerja keras, dulu dia bilang dia ingin membangun perusahaan yang besar. Tapi ternyata yang paling mengejutkan tiba-tiba dia melakukan konferensi pers , dan akhirnya tersebar kabar kalau dia adalah cucu dari seorang pengusaha terkenal. Kamu beruntung mendapatkan laki-laki seperti itu."
"Hm...." Nayla menyunggingkan bibirnya dan mengangguk. "Jadi ada keperluan apa sebenarnya?"
Ia menghela nafas pelan sebelum akhirnya berbicara. "Perbuatan yang aku lakuin beberapa waktu yang lalu...." perempuan itu menyunggingkan senyum pelan. "Itu aku lakuin bukan tanpa alasan."
Suasana hening seketika. Nayla menunggu kelanjutan ucapan wanita dihadapannya. Ia tahu wanita tersebut butuh waktu makan ia menunggu sejenak.
"Soal itu.... aku benar-benar mencintainya." lirihnya pilu. "Aku sangat cinta dengan...."
__ADS_1
"Berhenti!" Nayla seketika beranjak dari duduknya. Wajahnya seketika memerah mendengar wanita lain mengatakan soal perasaan dengan suaminya tepat didepan mata. "Jangan bilang apa pun lagi, kamu nggak puas nyakitin aku waktu itu." ujarnya dengan amarah sembari memegang perutnya.
"Tunggu aku belum selesai bicara...." ia pun ikut berdiri mewanti-wanti jika Nayla akan kabur.
"Aku nggak mau dengar apa pun lagi dari kamu, dia suami aku...." lirihnya. "Kami akan segera punya anak, tolong jangan hancurkan kebahagiaan kami. Aku mohon, jangan lakukan apa pun lagi." ujarnya dengan nafas tersengal.
Wanita itu kemudian terlihat menunduk sejenak dengan waktu yang terjeda beberapa saat ia kembali berbicara. "Kami dahulu punya kenangan, maksudnya aku pernah punya kenangan indah bersama Reynand."
Nayla langsung memalingkan wajahnya dan memejamkan mata. Kini satu tangannya memegangi pinggangnya yang entah kenapa tiba-tiba terasa nyeri.
"Kamu harus dengar, ada alasan mengapa aku sangat bersikeras mempertahanin dia waktu itu. Dia laki-laki pertama yang bikin aku jatuh cinta cinta dengan begitu dalam...." ujarnya kemudian menundukkan kepala dan mengepal kedua tangan. "Dia baik, kamu gak gau, dia pernah menolong aku waktu kami masih sama-sama kuliah diluar negeri."
Nayla masih memalingkan wajah enggan menatap. Ia sesekali mendongak menatap kelangit-langit restoran untuk menahan perasaannya.
"Sudah ceritanya?" Nayla kemudian memberanikan diri untuk saling bersitatap. "Kalau sudah aku mau pulang." mengambil tasnya kemudian hendak bergegas pergi.
Wanita yang bum puas berbicara itu lalu mengejar. "Tunggu!" Ia mencekal tangan Nayla "Dengarin dulu aku bicara. Tolong, kamu harus dengar ini!"
••••
"Mungkin kamu nggak pernah dengar cerita ini sebelumnya...." ia lalu tersenyum mengenang. "Bahkan Reynand pun mungkin nggak pernah tau, kalau yang dia lakuin saat itu telah mengubah kehidupan aku begitu besar." lagi, dia tersenyum penuh arti. "Tapi, dia sudah milik kamu sekarang. Nyatanya sekeras apa pun aku berusaha, cinta tetap nggak berpihak sama aku." lirihnya pilu.
Ini sudah kesekian kalinya, Nayla mendengar wanita ini mengatakan tentang cinta dihadapannya.
Ia kemudian berusaha untuk bersitatap dengan wanita dihadapannya. "Cinta emang sesuatu yang sulit dipahami." Ia kemudian menarik sudut bibirnya tipis. "Tapi, kamu harus tau. Dia selalu lihat aku dengan mata berbinar setiap hari, selalu berusaha memperlakukan aku dengan lembut walau kadang ada sikapnya yang gak aku ngerti. Aku biarin dia nguasain diri aku sepenuhnya, begitu pun juga dia sama menyerahkan dirinya seutuhnya buat aku. Aku tau usaha dia buat selalu numbuhin rasa diantara kami." Nayla menjeda ucapannya sejenak. "Kamu tau, kami juga selalu berusaha dengan keras. Kami juga selalu berharap, aku dan Rey berusaha untuk saling numbuhin sebuah rasa yang sering disebut dengan yang namanya cinta."
Perempuan yang tengah menyimak dengan serius itu tiba-tiba meneteskan air mata hingga jatuh diatas pahanya. "Apa mencintai
memang semenyakitkan ini, apa berharap memang seperih ini? Apa cinta bisa membuat hati seseorang jadi hancur?" tanyanya sembari membiarkan tetesan air mata itu mengalir diwajahnya yang tirus dan pucat.
"Iya!" sambar Nayla. "Semua hal akan kamu rasain karena hal yang disebut dengan yang namanya cinta, tapi seberapa kamu ngerasain sakit, luka, kecewa dan juga perih darinya.... kamu akan tetap nerima dia. Tanpa sadar kamu akan terus berusaha bertahan."
"Sesulit dan serumit itu?"
Nayla mengangguk. "Iya, bahkan bisa lebih dari yang kamu bayangin dikepala kamu. Dan, terkadang memang nggak masuk akal dan diluar logika."
__ADS_1
Dia mengangguk dengan air mata yang terus mengalir sejadi-jadinya. Melihat itu Nayla mendorong kotak tissue yang ada dihadapannya. Wanita tersebut mengambilnya kemudian mengusap pelan wajahnya.
Nayla terdiam dikursinya, matanya nanar memandang perempuan yang ada dihadapannya itu. Ia menghela nafas, rasanya tidak percaya dia bisa mengatakan itu. Ia kemudian tersenyum sembari mengelus perutnya pelan. Ia rasa perkataan tersebut keluar dari dalam hatinya tanpa dia duga. Entahlah yang jelas dia hanya berusaha menjelaskan perihal apa yang ia rasa.
Huh, hari ini kenapa dia seperti menggurui orang yang jauh lebih tua darinya tentang cinta? Anak bau kencur? Bicara apa sih kamu Nayla? Tapi, perkataan tadi, benarkah cinta serumit itu? Benarkah yang namanya cinta memang begitu?
Kalau dilihat dari perjalanan yang ia rasakan bersama Reynand selama ini, cinta itu memang rumit. Dan, mungkin akan lebih rumit lagi untuk kedepannya. Namun, mereka harus berusaha dan saling menerima.
"Gue boleh peluk elo kan, kita gini aja deh ngomongnya." Ia kemudian beranjak cepat dari duduknya.
Lamunan Nayla tentang filosofi cinta tiba-tiba buyar oleh suara itu.
"Bolehkan?"
Ha? "I-iya boleh...."
Mendapat pelukan itu Nayla hanya bisa terdiam kaku. Namun, kemudian tangannya perlahan terangkat untuk membalas pelukan itu sembari mengelus-elus punggunnya pelan.
"Anak kecil, elo belajar dari mana sih tentang beginian?" lirihnya dengan isakan yang terdengar ditelinga Nayla. "Gak nyangka lo cepet banget gedenya."
Nayla terkekeh pelan. "Aku belajar ini dari...." belum sempat Nayla menjawab ucapan itu sebuat tarikan kuat tiba-tiba melepas pelukan mereka.
"Airin!! Lo mau apain Nayla? Lepasin dia!!"
•
•
•
•
Nggak ada part Rey sama Nay. Kalau udah ketemu, mereka itu bisa kebangetan hehe. Aku takut kalian nantinya malah mual.
Happy Reading!
__ADS_1