Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Sikap Mami Berlebihan


__ADS_3

****


"Sayang ayo makan dulu." Begitulah ucapan Mami dipagi hari itu. Sedari tadi Mami mondar-mandir begitu sibuk melakukan segala hal sebelum berangkat ke kantor.


Jadi hanya mereka berdua sekarang, sementara Romeo telah berangkat sekolah. Nayla terlihat santai dipagi itu karena sedang libur masa tenang sebelum menghadapi ujian.


"Makan, Nay." Ucap Mami sesaat setelah mendudukkan diri dikursi meja makan. "Kamu itu jangan terlalu banyak pikiran, dua hari lagi sudah mau ujian. Ayo makan." Menyendok makanan kedalam piring. Mau bagaimana pun Mami adalah wanita karir yang sibuk. Gerakannya selalu cepat berbeda sekali dengan putrinya yang apa-apa terlalu banyak mikir.


"Sayang makan ya, aku suapin mau?"


Ha? Lagi-lagi Nayla terngiang suara itu. "Mi, kapan aku kembali ke...."


Menatap putrinya spontan, Mamu langsung mengehentikan gerakan tangannya sejenak. "Mami belum izinkan kamu kembali bersama suami kamu. Sebelum dia benar-benar membuktikan kalau dia memang sudah menyelesaikan urusan dengan wanita itu." Wanita itu, hah. Wanita biadab yang telah menyakiti putrinya. Awas saja kalau dia nekat berulah lagi. Maka Mami akan menggilingnya dengan mobil.


Ah, Nayla menunduk. Piring didepannya masih kosong dan belum terisi. Sesaat kemudian perlahan dia menyendok nasi dan.... ayam goreng!


Lagi-lagi ada sesuatu yang mengganjal pada dirinya.


"Mi aku nggak mau makan ayam." Nayla menutup hidungnya.


"Loh bukannya kamu suka ya, makan ayam goreng masakan Mami. Jangan pilih-pilih deh kamu tuh."


Mual, Nayla benar-benar mual. Ia menutup mulutnya spontan seolah akan mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya.


Mami menghentikan kegiatan makannya. "Kamu kenapa?" Tanya Mami heran.


Menggeleng Nayla langsung berlari cepat menuju wastafel dapur.


"Nay...." Mami menoleh bingung. Didengar Nayla seperti sedang memuntahkan sesuatu dari sana. "Nayla!" Dan, Mami beranjak dari duduknya bergegas menghampiri putrinya khawatir.


"Sayang." Lalu memperhatikan putrinya yang seperti masih mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya itu dengan heran.


"Kamu kenapa, sih?" Mami membelalak. "Sakit?" Memijat tengkuk Nayla pelan.


Nayla menggeleng tidak mengerti. Sesaat kemudian ia menghidupkan keran dan membasuh mulutnya. Tak ada makanan yang keluar hanya ada cairan saja. Lagi-lagi kepalanya berdenyut pusing.


Lalu Mami membelalak lagi menerka. "Sejak kapan?" Mami membalik tubuh Nayla menghadapanya. Pucat! Mami tidak terlalu memperhatikan wajah itu dari tadi. Kalau diingat dari kemarin Nayla memang terlihat pucat.


Masih bergeming Nayla terlihat lemas memegangi perutnya.


"Sayang? Sejak kapan kamu begini?"


"Beberapa hari yang lalu...." Kemudian gadis itu mual lagi.


Astaga! Mami mulai menduga. "Kamu datang bulannya lancar, kan?" Tanya mami spontan.


Nayal menggeleng lagi menjawab pertanyaan mami. Dia benar-benar mual saat ini.


"Jadi kamu telat?!" Ya, mata Mami semakin membola.


Nayla mengangguk pelan.


"Mami penasaran sayang."

__ADS_1


Oh tuhan, Mami menutup mulutnya. Jangan-jangan Nayla sedang.... Apa mungkin? Duh, Nayla belum selesai ujian. Bagaimana ini?


"Nay, kamu fokus ujian dulu ya. Jangan mikir yang macem-macem." Mami jadi bingung. Tapi ini belum pasti. Apa dia harus membawa Nayla ke dokter sekarang? Tapi, tanpa suami apa kata orang nanti? Sedangkan Reynand tidak ia perbolehkan menemui Nayla untuk saat ini.


"Kamu muntah gara-gara kecium aroma masakan Mami ya."


"Kayaknya." sahut Nayla singkat.


"Kamu nggak suka bau daging?"


Lalu Nayla mengangguk pelan.


Benar! Mami menduga terkaannya benar. Soalnya mami ingat dulu dirinya juga tidak suka mencium aroma dan makan daging.


Tetapi ada sesuatu yang menyusup dalam hatinya saat ini. Seperti sebuah perasaan yang menyejukkan hati. Tapi, kenapa harus disaat Nayla sedang ujian?


Bukannya waktu itu Reynand mengatakan kalau mereka menunda. Mami benar-benar bingung harus bagaimana?


Kenapa Mami jadi tidak sabar untuk membawa Nayla kedokter ya. Tapi, sepertinya dia tidak harus memberitahu Nayla untuk saat ini. Biarlah dia ingin agar putrinya itu fokus untuk ujian.


Mami menatap wajah putrinya menelisik. Nayla tidak sadar kan, kalau dia sedang....


Mami kemudian berdehem pelan. "Kamu tau kamu kenapa?"


"Masuk angin mungkin." Jawab Nayla asal.


"Oh, ya udah. Kamu mau makan apa sekarang?"


Sup Ayam, tanpa ayam??


"Ya udah, Mami bikinin."


"Tapi Mami kan, kerja. Pesan online aja."


"Eh, nggak, nggak, masakan Mami lebih enak, sehat lagi. Mami nggak izinin kamu makan makanan dari luar." Betul, Nayla harus makan makanan yang sehat. Mami ingin yang ada didalam sana tumbuh dengan baik. Ah, kenapa Mami jadi bersemangat begini ya.


"Mi, beneran nggak usah. Aku nggak mau ngerepotin."


"Duh, diam deh. Ini Maminya mau masakin kok dilarang. Duduk sana dimeja makan. Masakin kamu cuman sebentar nggak lama kok."


Mami menaikkan lengan kemejanya. Lalu kemudian berjalan cepat menuju kulkas.


"Untung aja bahan-bahannya ada Nay, jadinya mami nggak usah repot-repot buat kepasar."


Nayla beranjak dari duduknya dan menghampiri Mami. "Aku bantuin aja ya Mi, mami kan mau kerja."


"Ya ampun Nayla, duduk nggak. Kamu itu gak boleh capek-capek."


Nayla mengernyit bingung. "Cuma bantuin masak mi. Mami aneh deh."


Tak menggubris perkataan putrinya Mami lantas mengisi panci dengan air lalu memanaskannya. Kemudian wanita super energik itu memotong sayuran, seperti kol, kentang, wortel dan juga tomat tidak lupa juga irisan daun bawang dan seledri. Mengupas bumbu-bumbu dan menghaluskannya dengan cepat.


Eh, menoleh sadar Nayla berdiri disampingnya. "Sayang, duduk gih. Lagian Mami udah lama kan nggak masakin kamu apa yang kamu mau." Mami mengelus pipi putrinya dengan punggung telapak tangan.

__ADS_1


Termangu bingung, Nayla lalu menuruti Maminya. Kenapa ya, mami kok agak aneh?


Beberapa menit kemudian masakan Mami mengepul sempurna, wangi dan menggugah selera. Bergegas setelah mematikan kompor Mami mengambil mangkuk dan menuang sup kedalamnya.


"Nih sayang, ayo makan." ucap Mami selesai meletakkan semangkuk sop yang masih panas itu.


"Sini mami ambilin sendoknya." Mengambil sendok dari tempatnya lalu menyerahkan kepada putrinya yang terlihat menggemaskan. Duh, kok Mami sekarang tambah gemas ya melihat Nayla. Entahlah, Mami merasa hatinya saat ini tengah berbunga-bunga. Padahal dugaannya belum tentu benar.


Menyendok sup ayam tanpa ayam atau sup sayur tersebut, Nayla memasukkan kedalam mulutnya perlahan.


"Enak?" Tanya Mami kemudian.


Nayla mengangguk. "Enak, seger." Nayla lalu menyeruputnya lagi. "Em.... enak mi."


Huh, syukurlah. Akhirnya, senang deh Mami Nayla mau makan. Hatinya pun menjadi lebih tenang sekarang.


Mami lalu melirik jam tangannya. Telat 30 menit. Lalu ia tersenyum, tidak apa-apa demi putri tercinta.


"Mami berangkat, ya."


Lalu Nayla tersentak saat Mami tiba-tiba mencium kening dan kedua pipinya cepat. Sendok yang ia pegang pun tidak sengaja terjatuh kedalam mangkuk itu.


"Kamu nggak boleh capek-capek. Nggak usah banyak gerak dulu." Mami sangat tau putrinya masih lemah. Hah, kok mami jadi deg-degan begini sih. Ya tuhan, apakah ini benar? Semoga dia tidak salah menerka. Padahal sebelumnya dia sendiri ragu menginginkan ini.


Nayla mengangguk pelan.


"Ingat, pokoknya kamu dengerin Mami. Jangan angkat-angkat barang yang berat-berat atau apapun. Jangan lari-lari."


Hah? Nayla menoleh? Ini Mami berlebihan nggak sih.


"Mi?" Nayla menatap heran.


Paham Nayla merasa aneh akan sikapnya maka mami Miska mengelus kepala putrinya pelan. "Mami tuh sayang sama kamu, pokoknya kamu jangan ngapa-ngapain dulu hari ini sampai selesai ujian."


Nayla mengernyit bingung. Serius, ini Mami kenapa sih? Nayla tahu maminya sayang akan dirinya, tapi kali ini, care-nya Mami itu berlebihan loh.


Kemudian mami mengelus perut rata putrinya. "Terus perutnya dijaga ya. Jangan sampai kebentur atau cidera."


Lalu Nayla termangu oleh ucapan itu. Ada apa dengan perutnya?


*


*


*


*


Hayo! kira-kira perutnya Nayla kenapa?


Jangan dikatain beg• lagi loh si Nayla-nya. Dianya aja gak ngerti dia kenapa.


Happy Reading untuk semua.

__ADS_1


__ADS_2