Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Terlalu Percaya Diri


__ADS_3

****


Ini gila! Benar-benar gila.


Reynand berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah. Mereka berdua tersengal. Ditatapnya mata indah yang sedang berkabut itu. Wajahnya terlihat memerah dan nafasnya pun memburu.


Reynand tidak yakin harus meneruskan ini. Maksudnya tidak didalam kondisi sang gadis dalam keadaan dipengaruhi oleh minuman. Ia pun berusaha untuk mengembalikan akal sehatnya. Bagaimanapun mereka harus melakukannya dalam keadaan sama-sama sadar.


Dengan segenap menahan rasa yang ada, ia pun beranjak menjauh dari tubuh yang hampir tak berdaya itu.


Namun, saat ia hendak turun dari ranjang, tangan lembut itu tiba-tiba mencekalnya.


“Jangan pergi....” Gadis itu tiba-tiba terisak dan membuat Reynand tercengang heran.


“Jangan temui perempuan itu lagi....”


“Aku nggak suka....” ia tambah terisak pilu.


Reynand masih mematung bingung. Ia tidak mengerti apa maksud dari yang Nayla katakan barusan. Ini siapa yang sedang dibahas.


Wanita? Siapa maksudnya.


“Abang pasti mau ketemu dia lagi, iya kan?"


“Abang bohong sama aku.”


Tunggu! Ini Nayla berbicara apa sebenarnya. Kapan dia bohong? Maksudnya kebohongan apa yang dia perbuat, sampai Nayla seperti ini. Ia pun menghela nafas. Dalam pikirnya Nayla seperti ini karena pengaruh minuman itu.


“Nay, lebih baik kamu tidur. Kamu lagi mabuk.” Kembali duduk disisi ranjang mencoba menenangkan.


“Nggak mau.” Ucapnya memberontak.


“Nayla....” Reynand menghela nafas, dia tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Nayla terus terisak. Ia pun akhirnya memeluk gadis itu dengan erat mencoba menenangkan. Lantas menciumi puncak kepalanya dengan kelembutan.


“Ya, udah. Abang bohong apa sama kamu?” Ya, ia rasa lebih baik menanyakan maksudnya. Siapa tahu dia memang pernah membohongi gadis itu.


Biarlah Nayla mengatakan isi hatinya. Ia tahu biasanya orang mabuk akan lebih berani berbicara tentang apa yang mereka rasakan.


Baiklah, Nayla belum juga mengatakan apa-apa.


“Nay, tidur ya, oke.” Reynand menghapus tetesan air mata itu pelan dengan jarinya.


“Aku nggak suka, kalau abang sama perempuan lain...”


Perempuan?


Ya, tuhan. Perempuan mana yang Nayla maksud? Dia bukanlah peramal yang bisa menebak isi pikiran orang.


Ini Nayla, sedang menuduh dirinya atau.... mengutarakan perasaannya? Dia, cemburu kan, maksudnya? Tapi perempuan yang mana yang dimaksud gadis ini?


Reynand benar-benar tidak mengerti, kenapa juga Nayla harus menemukan minuman itu. Harusnya dia simpan ditempat yang lebih aman tadi.


“Kenapa, ya. Setiap didekat abang jantung aku sering berdebar-debar....” Gadis itu terkekeh, menoleh kearah Reynand. Membuat laki-laki itu terpaku oleh sebuah kalimat jujur yang keluar dari mulutnya.


Perlahan Nayla meraih tangan yang sedang memegangi pundaknya itu, kemudian perlahan ia tarik untuk merasai detak jantungnya.


Reynand mengerjap. Ia semakin kebingungan.

__ADS_1


“Gimana? Berdebar-debar kan....” Ucapnya tersenyum lebar, lalu melepas tangan Reynand asal.


Terang saja, tingkah laku Nayla kali ini, membuat Reynand mengurungkan niatnya untuk menyuruh gadis itu untuk tidur lagi. Ia lebih tertarik, untuk mendengarkan celotehan yang keluar dari mulut mungil itu.


“Tapi, tadi, jantung aku rasanya sakit....” dia kembali terisak. Membuat Reynand menjadi tidak tega.


“Abang bohongin aku, abang pergi makan malam romantis dengan yang namanya....” Ucapannya terhenti karena cegukan.


“Nay, sudah...” Reynand hendak membaringkan Nayla dikasur, namun gadis itu malah menepis tangannya.


Ini? Nayla, serius tahu kalau dia bohong malam itu? Tapi, kok bisa? Tahu dari mana?


Seketika dia gelagapan saat Nayla tiba-tiba menangis meraung-raung. Reynand benar-benar bingung, dia harus bagaimana?


“Abang kenapa bohong? Aku nggak suka....”


“Abang pasti nyeselkan dijodohin sama aku...”


“Maafin aku, maafin karena membuat abang terpaksa menikah sama aku....”


“Aku banyak nggak ngertinya, abang pasti nggak suka kan dengan tingkah aku....”


Dan setelah rentetan keluhan dan pengakuan yang Nayla ucapkan. Reynand benar-benar tidak tahan lagi. Dia langsung menarik kembali gadis itu kedalam pelukannya.


“Kenapa Abang bohong? Abang pasti suka dengan cewek itu....”


Reynand kembali menghela nafas. Nayla salah paham, ia yakin itu. Dari mana coba bisa mengetahuinya.


Dan disaat dia tengah berusaha menenangkan gadis itu. Tiba-tiba ponselnya berdering.


Telepon dari nomor tidak dikenal. Jujur Reynand tidak ingin menjawabnya disaat deperti ini. Apalagi nomor itu tidak dikenal sama sekali.


Ketika dia hendak meletakkan ponselnya kembali, tiba-tiba ada sebuah pesan masuk. Bertumpuk dengan pesan-pesan lainnya.


“Rey, kok diem aja sih, tadi pas aku telepon kamu.”


“Aku kecewa ya sama kamu.”


“Tadi, kamu kan, yang angkat telepon?”


Reynand rasanya tidak perlu untuk menyelesaikan membaca pesan-pesan itu. Sepertinya dia tahu apa yang terjadi. Meskipun pastinya dia tidak tahu apa yang Nayla dengar dari Airin.


Sial, rupanya wanita itu licik juga. Dia tidak kehabisan akal untuk menghubunginya setelah nomor itu diblokir.


"Cium aku...."


Sebuah kata yang mampu mengalihkan pikiran Reynand atas kekesalannya terhadap Airin.


Apa? Reynand mengerjap.


"Abang, ayo lakukan apa yang selama ini ingin abang lakukan...."


Ha? Maksudnya?


"Hubungan, yang membuat kita menjadi suami istri sepenuhnya."


Reynand menelan ludahnya. Dia tahu betul maksud perkataan Nayla. Ia juga merasa ini penawaran yang bagus. Tapi.... Nayla?

__ADS_1


"Kamu lebih baik tidur sekarang...." Elaknya. Iya, lebih baik seperti itu, daripada dia benar-benar tidak bisa menahan diri.


Sia-al, kenapa sisi polos Nayla harus hilang disaat seperti ini? Gadis itu hanya menegak sekitar setengah gelas atau lebih minuman. Itu berarti gadis ini masih mempunyai kesadaran, hanya saja dia lebih berani saat ini. Dan, sekarang Nayla sudah bertindak diluar batas.


"Tapi, nggak sekarang Nay." Reynand mencoba menjelaskan, sebenarnya lebih kepada untuk meyakinkan gadis itu tentang keputusannya. Walaupun sebenarnya ragu-ragu ia ingin mengiyakan.


"Kenapa? Aku nggak secantik cewek yang abang temui malam itu, iya" ucapnya sendu.


"Pasti aku kurang cantik, iya kan?"


"Nggak, Nay. Bukan begitu...." Jelas Reynand pasrah.


Gadis itu pun mulai terlihat frustasi. Kenapa sih? Biasanya tanpa diminta, Reynand akan memancing dirinya untuk melakukan hal tersebut.


"Abang.... ayo kita lakukan itu sekarang." ia kembali meminta dengan kelembutan.


"Abang, nggak mau kamu menyesal...." Ia menatap mata bulat itu dalam. Mencari sebuah keyakinan disana.


"Nggak, sudah seharusnya kita ngelakuin itu, iya, kan."


"Nayla...." Reynand masih belum yakin, atas keputusan Nayla. Ia kembali menatap sorot mata itu dalam-dalam.


Dan, akhirnya karena Reynand terus melakukan penolakan. Gadis itu pun tertunduk dan terisak kembali. Ada apa sih dengan dirinya? Ah, memalukan sekali. Haha, jadi Reynand tidak menginginkannya.


"Bodoh!" Nayla kembali meracau.


"Abang nggak mau karena aku nggak berpengalaman, iya kan? Aku bodoh banget udah sok-sokan nawarin diri. Aku emang nggak tahu malu."


Ya, ampun.


Reynand hanya bisa termangu. Nayla benar-benar sangat berani berbicara saat ini.


" Aku memang nggak ngerti hal-hal kayak gitu." Terisak lagi sebelum melanjutkan ucapannya


"Aku udah terlalu percaya diri kayaknya." Mengakhiri ucapannya kali ini dengan tawa yang aneh.


"Ya, udah.... kalau Abang memang nggak mau. Aku juga nggak bisa maksain diri ke orang yang nggak suka sama...."


Cup!


Reynand langsung menghentikan mulut seksi yang sedang cerewet itu dengan mulutnya. Gadis ini rupanya benar-benar ingin mengujinya.


"Jangan, ngomong begitu lagi. Kita akan lakuin itu, sekarang...."


*


*


*


*


*


*


Cie, kalian nungguin ya. Haha, sabar ya.

__ADS_1


Like, vote, dan komentar jangan lupa.


Happy Reading, semua!💓


__ADS_2