
****
Sepulangnya mereka dari rumah sakit. Atas permintaan Nayla yang tiba-tiba ingin makan makanan kesukaannya yang berada didekat kampus. Reynand pun segera mengabulkan permintaan istrinya. Laki-laki itu kemudian segera menghentikan mobilnya dipinggir jalan dekat rumah makan yang ditunjuk oleh Nayla.
"Kamu tunggu dimobil ya." pinta Reynand pada Nayla yang kala itu hendak beranjak mengikuti dirinya. "Tunggu dimobil aja, antriannya panjang." ia menunjuk antrian pembeli makanan disana.
"Tapi...."
"Jangan turun, nanti kena debu, terus kepanasan."
Oleh perkataan itulah akhirnya Nayla pun kembali duduk rapi didalam mobil. Memang ya kalau suami sudah memberi titah, sebagai seorang istri dirinya pun langsunh nurut. Seperi ada sebuah energi asing yang tidak ia ketahui dalam sosok yang sering orang-orang sebut dengan suami itu.
Sembari menunggu Reynand yang tengah membeli makanan. Perempuan itu mengedarkan pandangannya kesegala arah dari balik kaca jendela.
Tapi tunggu! Seketika ia melihat seseorang berjalan cepat melewati mobil mereka. Itu Bianka!
Terus kenapa dengan Bianka!
Baiklah kenapa juga dia harus heboh. Memang sejak dari hari itu Bianka sudah tidak pernah lagi melontarkan kata-kata tidak manusiawi padanya. Hanya saja Nayla merasa wanita itu masih sering memperhatikannya diam-diam.
Lalu yang Nayla lihat seterusnya adalah Bianka yang berjalan menuju sebuah mobil berwarna merah cerah. Ia pun tiba-tiba mengingat sesuatu. Mobil merah itu, bukannya dia sangat mengenalnya.
Maka dengan hati yang penasaran Nayla pun membuka pintu mobil dan segera turun. Saat itu yang ia lakukan hanya mengikuti kemana langkah kakinya menuju. Berjalan disisi trotoar bergerak kearah mobil merah cerah itu.
Deg! Matanya membelalak. Benar! Mobil merah itu!
Astaga! Perempuan itu sudah bebas rupanya. Tapi tunggu! Apa hubungannya dengan Bianka?
Namun ditengah rasa penasaran itu, ba-tiba Nayla tersentak kaget saat ada yang mencekal pergelangannya. Ia pun refleks menoleh kebelakang.
"Ya ampun, aku cariin kemana-mana, disini kamu ternyata." Ujar Reynand ngos-ngosan. "Kamu ngapain disini Nay?" Tanyanya khawatir.
"Tadi aku lihat...." Nayla menoleh kembali kearah mobil merah cerah yang ia lihat tadi. Sudah hilang! Mereka sudah pergi?!
"Nay!?"
Nayla mengerjap mendengar suara suaminya.
"Kamu lihat apa sih?"
Nayla menggeleng pelan. Kemudian gadis itu kembali berbalik kebelakang. Bianka dan wanita itu? Mereka ada hubungan apa? Apa karena itu, Bianka terus-terusan mengganggunya selama ini.
"Kita pulang yuk!" Ajak Reynand. "Kayaknya kamu kecapean." Reynand mengusap kening berkeringat Nayla khawatir..
°•°•°•°•°•°•°°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•
Malam harinya, di rumah.
Nayla seketika menepuk-nepuk bahu Reynand kuat, membuat pergerakan suaminya itu tiba-tiba terhenti. Reynand menatap Nayla sejenak merasa khawatir. Terlihat jelas bulir-bulir keringat mengucur deras dari seluruh bagian kulit mulus istrinya.
__ADS_1
Reynand masih terdiam, namun melihat mata Nayla yang terpejam dalam ia pun semakin merasa was-was.
"Kenapa? Kamu gak nyaman."
Nayla menggeleng pelan dengan nafas yang masih menderu kencang. Sangat terlihat jelas kalau wanita yang tengah berada dibawah kungkungan lelakinya itu tengah berusaha meraup dan melepas oksigen sebanyak mungkin.
"Sakit?!" Tanya Reynand lagi.
Nayla kembali menggeleng. Lagaknya dia masih kesulitan berbicara karena kerongkongan yang terasa kering.
"Aku capek, berenti dulu ya sebentar."
Reynand yang merasa sudah kepalang tanggung pun akhirnya mengangguk. Ia hanya bisa menahan kaku dengan sabar, untuk saat ini turuti dulu apa maunya istri.
"Aku mau minum, haus."
"Bentar aku ambilin kamu minum." Tuh, kurang baik apa dia sebagai suami. Disaat hampir mencapai puncak dia masih mau untuk menjadi suami yang siaga seperti ini.
Reynand menyodorkan segelas air minum dari atas nakas kepada Nayla yang telah mendudukan diri. Bumilnya itu lantas meneguk semuanya sampai habis.
Setelah memberikan air minum tersebut, lantas yang Reynand lihat adalah Nayla yang tengah menatapnya dengan sorot yang tidak terbaca.
"Kamu kenapa?"
"Soal, perempuan itu...." Nayla mengerjap dengan tarikan nafas berat. "Dia masih didalam sana kan?"
"Jadi, nanti kalau dia ngelakuin hal kayak dulu lagi gimana?"
"Itu gak bakalan terjadi, kamu tenang aja ya." Ujar Reynand menenangkan. "Jangan terlalu dipikirin, kasihan anak kita, kasihan kamunya juga."
"Bukan masalah itu, aku gak takut sama sekali. Tapi, seperti yang selama ini terjadi. Dia itu nekat!"
"Nay? Kamu gak usah khawatir. Aku akan berusaha buat ngelindungin kamu."
Nayla mengangguk pelan dan menunduk. Ada keraguan dalam hatinya saat ini. Biar bagaimana pun wanita itu pernah menjadi trauma besar dalam hidupnya dan juga duri diantara hubungannya dengan Reynand.
"Nay...."
"Apa?"
"Lanjut yuk, tanggung nih. Ini tadi kamu yang minta kan, malah diberhentiin ditengah jalan."
Nayla mencubit tangan Reynand. "Masih sempet-sempetnya, aku lagi curhat."
"Sakit yang sayang...." protes Reynand sembari mengelus-ngelus bagian kulitnya yang sedikit memerah akibat ulah jari lentik istrinya.
Karena mata yang membulat itu belum merespon. Reynand kemudian meraih tubuh polos istrinya dan mendekap erat namun masih berusaha melindungi perut buncit sang istri.
"Tapi ada yang lebih sakit lagi...." mengendus diarea ceruk leher bumilnya dan menghisap disana. "Lanjutin ya, kamu gak sengaja bikin aku tersiksa kan?"
__ADS_1
Nayla mendorong tubuh Reynand pelan. "Aku lagi gak mood, lain kali aja kita lanjutin." dengan raut wajah datar.
"Jangan becanda dong sayang...." Reynand meraih tubuh Nayla kembali.
"Aku gak becanda, ini serius." setelah mendorong tubuh Reynand kembali, ia lalu mendesah pelan. "Kayaknya aku mulai bosan deh."
"Bosan?"
Nayla mengangguk.
"Kamu, bosan sama aku?" Tanya Reynand pelan.
"Em."
"Nayla...." Reynand memiringkan kepalanya heran. "Ya ampun. Nay, jangan becanda dong." ucapnya tak percaya.
"Aku gak becanda, gak tau kenapa aku jadi gak mau sama kamu."
Kata-kata Nayla kali ini benar-benar mampu membuat Reynand sakit hati. Jantung Reynand tiba-tiba berdegub kencang.
"Nay aku benar-benar gak ngerti apa maksud kamu, aku ada salah?"
Nayla diam, gadis itu malas sibuk menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Kemudian perlahan melangkah turun dari ranjang.
"Nayla!?" Reynand berseru penuh tanya.
Ia kemudian mendorong tubuh Reynand pelan. "Aku lagi gak mau.... gak tau kenapa tiba-tiba aku gak mood, aku bosan." suaranya pun tiba-tiba merendah.
Reynand mulai frustasi. "Apa ini ada hubungannya dengan cerita kamu tadi?"
Nayla masih terdiam, perempuan itu kini telah berganti memakai kimono ditubuhnya. Sementara selimut yang ia kenakan tadi diletakkan kembali keatas kasur,
"Jawab aku?!" Reynand menaiki ranjang untuk mendekati Nayla yang ada disisi seberang ranjang.
"Aku bener-bener, lagi malas sama kamu." Nayla mendongak untuk menatap Reynand.
Reynand kemudian meraih tangan Nayla. "Kenapa kamu tiba-tiba jadi begini?"
°
•
°
•
Selamat menikmati, maafkeun aku yang terlalu slow melow menggarap novel ini. Cerita ini kupersembahkan untuk para readers yang masih penasaran dan nungguin.
Happy Reading deh!!
__ADS_1