
****
Hai readers!
Aku kembali lagi hehehe.... Nggak sampe seminggu aku udah kangen mau up.
Jadi aku akan melanjutkan kisah ini lagi. Kisah sederhana sepasang anak manusia. Kenapa aku bilang sederhana? Karena aku memang mengemasnya seperti itu.
****
Malam itu Reynand baru pulang dari bekerja pada jam 10 malam. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikannya hari ini. Memasuki kamar dengan lampu masih menyala ia lihat sang istri telah tertidur dengan sangat pulas dengan wajah menghadap kearah pintu kamar seperti memang sedang menunggunya pulang.
Reynand tersenyum, rasa lelahnya seketika menghilang melihat sosok itu. Meletakkan tas kerjanya diatas meja rias sembari melonggarkan dasi yang melingkar dilehernya ia pun mendekat.
Pandangan matanya menyusuri setiap jengkal tubuh terlelap Nayla. Reynand dekatkan wajahnya untuk mencium kening istrinya kemudian ia melirik kearah perut sang istri yang belum membuncit. kemudian mengelus-elus perut itu dengan pelan dan dia juga memberikan kecupan berkali-kali disana.
Kemudian ia tatap wajah istrinya yang terlihat begitu tenang dengan mengelus dan mengendus rambut halus dan wangi itu.
Nayla mulai tersadar tat kala merasakan elusan tangan Reynand pada rambutnya. Nayla menggeliat oleh perilaku suaminya. Perlahan mata yang tadinya terpejam rapat itu terbuka. Nayla mengerjap mendongak keatas memandang sosok yang tengah tersenyum padanya.
"Em.... udah pulang?" Tanyanya dengan sebelah tangan refleks mengucek mata pelan.
"He-em...." Reynand yang tadinya duduk disisi ranjang perlahan mulai menaikkan kakinya yang tadi menjuntai dilantai kemudian membaringkan diri disamping Nayla.
Merasakan pelukan Reynand perlahan Nayla memutar tubuhnya untuk membuat mereka saling berhadapan, bersitatap dan berpelukan.
Reynand menyusupkan wajah diceruk leher istrinya. "Aku mau mandi, tapi masih malas. Soalnya capek banget, Nay.”
Mengusap-usap kepala Reynand dengan sebelah tangan memeluknya. "Ya udah mandi dulu kalau gitu." Kecupan dipuncak kepala berkali-kali ia berikan.
"Nanti, sebentar lagi, aku masih kangen, seharian ini nggak ketemu."
Nayla mengangkat kepalanya. "Nggak kebalik ya? Perasaan yang seharian gak ketemu kamu itu aku deh." protesnya kemudian.
Reynand kemudian terkekeh didalam ceruk leher itu.
Mereka berdua memang tidak bertemu seharian ini, karena tadi pagi saat Nayla terbangun dari tidurnya Reynand sudah berangkat bekerja.
Nayla masih mengusap-usap kepala Reynand dengan pelan. "Ya udah mandi dulu gih, nanti tambah malas lagi."
Reynand mengangguk,mana bisa ia tidak menuruti apa yang terlontar dari suara lembut itu. Ia mengangkat kepalanya kemudian mengecup kening istirnya cepat. "Aku mandi dulu ya, kamu kalau ngantuk tidur lagi aja, Nay." Mengusap-usap kepala Nayla pelan.
Nayla menggeleng. "Aku mau nunggu kamu selesai mandi, sekalian mau siapin baju ganti."
__ADS_1
"Baju ganti biar aku ambil sendiri, aku bisa kok Nay." Reynand beranjak dari sisi istrinya.
Nayla menggeleng tidak setuju. "Biar aku yang siapin. Abang tuh suka berantakkan kalau ngambil baju sendiri dilemari. Sini sekalian aku lepasin kancing bajunya." Nayla beringsut turun dari ranjang.
Reynand berbalik menatap wajah Nayla yang sudah mengikutinya. "Istri aku baik banget sih. Padahal lagi ngantuk tapi bela-belain buat ngurus suaminya." Ujar Reynand sembari terkekeh pelan.
“Aku udah nggak ngantuk lagi, kok.” Sahut Nayla, tapi Reynand dapat melihat dengan jelas tidak seperti itu adanya.
“Tuh, mata kamu merah. Kan, aku udah bilang jangan maksain diri, Nay. Aku nggak mau kamu terlalu capek.”
“Nggak, aku nggak capek.” kilahnya pelan.
"Keras kepala banget, sih Nay. Aku tau kamu masih ngantuk, aku lihat dari mata kamu.”
"Biarin, salah siapa tadi pagi berangkat kerja nggak bangunin dulu. Kita kan udah jarang ngabisin waktu berdua akhir-akhir ini.”
"Aku cuma nggak mau ganggu tidur kamu, Nay. Kamu pasti masih capek, kan. Aku tuh cuma berusaha buat ngertiin kamu." Mengecup kening istrinya lagi dan lagi dengan cepat. Rasa gemas Reynand itu memang akan selalu ada kalau sudah dengan istrinya.
"Iya deh suami aku emang baik, tapi lain kali kalau sebelum berangkat kerja bangunin aku dulu. Biar pas bangunnya aku gak kecewa." Nayla mulai melepas kancing baju Reynand satu persatu.
"Kan, tadi udah izin lewat chat." Jelas Reynand.
Mulai melepas kemeja Reynand. “Tapi kan beda, pokoknya aku harus lihat kamu sebelum berangkat kerja.”
Nayla menghampiri. “Terserah kamu deh....”
Reynand terkekeh. “Iya deh, besok-besok sebelum berangkat kerja aku bakalan bangunin kamu, oke?” Memegang kedua sisi wajah Nayla.
Nayla mengangguk.
“Senyum dong....” pinta Reynand.
“Ah, iya, udah sana cepetan mandi.” Dorongnya pada tubuh Reynand pelan.
Laki-laki itu lagi-lagi terkekeh konyol. “Tunggu ya, aku mandi dulu.”
Beberapa saat kemudian yang Nayla dengar adalah suara kucuran air dari dalam kamar mandi.
****
"Tadi udah makan belum?" Tanya Nayla sesaat setelah membantu Reynand mengeringkan rambut dengan hydryer. "Aku siapin makan malam, ya." Melihat raut wajah Reynand yang terlihat sayu sepertinya Nayla paham kalau suaminya itu belum mendapatkan malamnya.
Wajah yang kelelahan dan sudah mengantuk itu mengangguk.
__ADS_1
Mereka berdua pun turun kebawah menuju dapur. Nayla menyiapkan makan malam untuk Reynand sementara laki-laki itu terus berdiri disamping mengekori sedari tadi.
"Abang nunggu aja duduk dikursi." pinta Nayla pada Reynand yang terus penasaran pada apa yang ia lakukan.
Reynand mengangguk dengan artian hanya menjawab karena refleks tanpa menuruti permintaan sang istri.
Makanan telah dihidangkan diatas meja dan saat itu mereka berdua pun telah duduk disana.
"Oh iya, tadi makan apa dikantor? Nggak bawa bekal, kan. Soalnya tadi aku nggak dibangunin buat nyiapin sarapan sama bekal. Pasti tadi siang juga nggak dempat makan?" Bertubi-tubi pertanyaan Nayla lontarkan.
"Makan kok, Nay. Dari kantor aku kan disiapin terus." Reynand tahu saat ini Nayla sedang mengungkapkan rasa kesalnya.
"Tapi katanya nggak suka makanan dari sana." Nayla mencibir.
Nayla meletakkan sepiring makanan keatas meja tepat dihadapan sang suami. "Kamu sekarang makin kurus, maunya sih bisa ngontrol makan kamu tiap saat. Tapi mau gimana, tadi siang aja aku telepon gak diangkat, pesan aku juga nggak dibales."
"Tadi aku ada meeting Nay, jadi nggak sempat lihat hp." Jawab Reynand pelan.
Apa karena hormon kehamilan atau apa, yang jelas istrinya ini sekarang semakin hari bertambah cerewet. Cerewet tapi yang selalu membuat dirinya rindu setiap saat.
Jadi begitulah, Reynand dan Nayla memang memiliki kesibukan yang berbeda. Tak jarang terkadang mereka tidak bertemu dalam satu hari. Untuk itu waktu yang sedikit dimalam hari seperti ini benar-benar mereka manfaatkan dengan baik.
"Tadi aku dikasih tau Mama, katanya abang juga nggak sempat buat sarapan. Terus waktu Mama mau ngasih kotak bekal abang udah keburu pergi.”
"Besok-besok kalau lupa bawa bekal, aku minta tolong Pak Tio ya buat nganter."
Reynand mengangguk. "Kalau kamu mau, kamu aja yang nganter sekalian makan bareng." Reynand mengedipkan kedua matanya, karena baru saja mendapatkan ide yang bagus. "Kamu belum pernah, kan, kekantor. Sekali-kali nggak apa-apa Nay, biar aku nggak bosen."
Nayla mendelik. "Yang ada abang malah gak fokus kerja kalau kekantor."
Reynand pun mulai menyuap makanannya. Yah, ketahuan maksud hati menyuruh sang istri untuk datang kekantor.
*
*
*
*
Happy Reading!
Oh iya, aku juga mau promosiin novel terbaru aku yang berjudul "Alfiya". Kalau berkenan silahkan mampir.
__ADS_1
Untuk novel yang awalnya berjudul "Kamu Cinta Pertamaku" dan aku telah merubah judulnya menjadi "Oh Adindaku" itu masih akan aku lanjutkan. Akan tetapi belum tahu kapan.