Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Mode Galak


__ADS_3

****


Matanya mengerjap beberapa kali saat merasa ada yang mengganggu tidurnya. Merasa terganggu ia pun semakin menyusup kedalam selimut tebal yang menutupi seluruh bagian tubuh mungil itu. Bukan dia tidak menyadari adanya cahaya yang masuk dicelah-celah gorden. Tapi dia masih betah dibalik selimut itu, dia benar-benar masih sangat ngantuk sekarang.


“Bangu-un….”


Dengan mata yang masih terpejam, dia mencoba menjauhkan tangan yang ia rasa mencubit hidungnya.


Bergumam-gumam kesal dia pun berbalik dari posisi tidurnya yang semula.


“Nay, bangun….”


Setelah pemilik suara berat mirip penyanyi Afgan itu terus berbisik ditelinga untuk membangunkannya, dia pun menoleh kearah sumber suara. Samar-samar pandangannya bertemu dengan mata elang itu.


“Kenapa si ganggu? Aku masih ngantuk.” Lirihnya setengah sadar. Kemudian kembali menjatuhkan kepalanya dibantalnya yang empuk.


“Bangun gak, Nay.”


Tubuh Nayla sedikit berguncang oleh tangan hangat itu.


“Nay, kita mau berangkat hari ini. kamu nggak mau ikut?”


Gadis itu masih bergeming. Dia benar-benar menikmati tidur dihari libur. Kegiatan favoritnya.


“Hm.. cepetan bangun. Nanti kamu ditinggal.” Reynand menyibak selimut itu dengan cepat. Membuat tubuh yang masih meringkuk itu terlihat dengan jelas olehnya.


Nayla terkesiap dan seketika terduduk. Menggerutu kepada sosok yang telah membangunkan tidurnya.


Reynand terkekeh, Ia pun tersenyum. Kembali memangku kedua wajahnya dan berbaring telungkup diatas kasur. Rupanya laki-laki itu sedari tadi memandangi Nayla ketika gadis itu masih tertidur. Hal tersebut menjadi keasikan sendiri baginya beberapa waktu ini.


Apaan si senyam-senyum?


Nayla menatapnya dengan jengkel.


Melihat wajah Nayla yang kesal, wajah tampan itu kembali senyum-senyum menyeringai penuh arti.


Ya ampun, Nayla tidak sanggup menatapnya. Ia tiba-tiba ingan kejadian semalam. Kejadian yang menurutnya memalukan. Kejadian yang terjadi begitu saja.


“Tadi, aku…. nungguin abang pulang.”


Aaaa…. Nayla ingin berteriak rasanya. Kata-kata itu terus terngiang-ngiang ditelinga. Juga, tingkahnya semalam. Dia ingat betul, kala dia menangis-nangis meratapi perasaannya dengan laki-laki itu.


Kenapa si, sekarang dia baru sadar? Ia rasa semalam dia benar-benar konslet. Kalau tidak, apa coba? Kenapa sekarang dia merasa sangat-sangat malu mengingatnya.


“Nay, masih ngantuk ya?”


“Hm….” Sahutnya. Kemudian sok sibuk menyusun bantal.


“Kasihan, yang masih ngantuk karena nungguin suaminya pulang semalan….” Ucap Reynand mendramatisir. Sengaja menggoda wajah cemberut itu.


Tuh kan, perkataannya semalam jadi bahan Reynand untuk membuatnya malu.


“Kamu beneran nungguin abang semalam?”

__ADS_1


“Hm….” Ia tertunduk malu. Kemudian beralih melipat selimut, pokoknya dia ingin terlihat sibuk.


“Nay, lihat sini dong.” Ucapnya mengikuti arah pandang Nayla.


Nayla terus berusaha lari dari pandangan Reynand. Jujur dirinya ingin sekali lupa ingatan dan tidak mengingat kilasan semalam.


Seketika itu, dirinya benar-benar dibuat terpaku saat Reynand menarik dagunya dan membuat tatapan mereka bertemu. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Reynand. Dalam keadaan dia masih mematung Reynand mendekatkan wajah mereka hingga tanpa jarak sedikit pun. Kemudian perlahan, Nayla terpejam saat Reynand mengecup bibirnya lembut.


Morning kiss! Entah apa namanya, jujur Nayla sangat menyukainya.


Kecupan yang lama.


Setelah beberapa saat, Reynand melepasnya. Ia dapat merasakan deru nafas Nayla tak kalah beda dengannya. Wajah gadis itu memerah. Hembusan nafas mereka saling menerpa, panas.


Nayla tahu sepertinya Reynand menginginkan lebih. Saat wajah itu mendekat kembali, dia tersadar, Nayla langsung memalingkan wajah kemudian bergegas turun dari ranjang. Wajahnya benar-benar panas saat ini. Belum melakukan kegiatan apa-apa, hanya melakukan ciuman, rembesan keringat mulai mengalir ditubuhnya.


“Aku mau mandi dulu.” Ucapnya salah tingkah. Kemudian mengambil kimononya lalu bergegas masuk kekamar mandi.


Hh, Reynand menghela nafas. Ia pun menyandarkan tubuhnya disisi ranjang. Godaan dipagi hari, godaan selalu sama setiap hari saat mereka bersama.


Sampai kapan mereka akan terus-terusan seperti ini? Akankah dia terus menahan diri?


Nayla….


Namun, seketika dering ponsel menyadarkannya. Ini sudah kesekian kalinya ponsel Reynand berdering dipagi ini.


Airin.


“Rey, Kita perlu bicara.”


“Rey, plis! Jangan kamu abaikan aku seperti ini.”


Ah sial, Reynand menggeram. Apakah dia harus memblokir nomor ini? Sungguh, dia menyesal karena telah memberikan Airin sebuah harapan tadi malam.


~


Nayla telah siap dengan gaya ala remaja pada umunya. Tidak terlalu ribet dan simple. Ia memakai kaos lengan pendek, celana jeans dan sneakers. Ia berpakaian seperti itu karena tadi Reynand mengatakan mereka akan pergi kepuncak. Akhirnya dia akan melihat pemandangan alam juga. Dia rasa otaknya memang perlu di refresh.


Yang membuat dia lebih senang adalah karena hari ini katanya Mami dan Romeo akan ikut mereka. Huhu, senangnya.


“Udah siap?” Reynand memandangi penampilan Nayla dari atas sampai bawah.


Manis!


“Abang kenapa?” Nayla menaikkan kedua alisnya tersenyum bingung.


“Nggak apa-apa ayo berangkat!”


Hening. Tidak ada obrolan saat itu. Nayla tidak menyangka, hanya ada dia dan Reynand dimobil saat itu. Sementara Mama Adel, Mami dan Romeo berada dimobil yang berbeda.


Reynand, laki-laki itu fokus menyetir mobil disampingnya. Mereka sempat berdebat tadi, saat Nayla bersikeras ingin ikut satu mobil dengan Mami. Pada akhirnya dia pun harus mengalah, karena semua orang setuju dia berada satu mobil dengan Reynand. Dengan alasan istri itu harus mendampingi suaminya.


Huh! Menyebalkan. Lihat sekarang, dia harus melakukan perjalanan ini dengan penuh kebosanan. Ia melirik Reynand, tumben terlihat serius begini. Namun tampang serius itu ternyata mampu menarik perhatiannya. Ternyata kalu dasarnya memang sudah ganteng, lagi apapun pasti tetap ganteng.

__ADS_1


“Kenapa?” Reynand menoleh dan tersenyum. Sepertinya dia sadar kalau Nayla terus meliriknya sedari tadi.


“Nggak apa-apa.” Sahutnya salah tingkah, membuat Reynand terkekeh.


“Masih ngambek, gara-gara nggak satu mobil sama Mami dan Romeo?”


Tau ah, Nayla mendelik acuh.


“Oh gitu. Padahal siapa semalam yang nungguin suaminya pulang, sampai-sampai matanya bengkak karena nangis.”


Nayla termangu. He? Reynand tahu?


“Nggak! Siapa juga yang nangis. Abang jangan ngarang deh.” Elaknya.


Tapi…. demi apa?


Apa iya, Reynand tahu kalau semalam Nayla menangis karena menunggunya pulang? Ya tuhan, Nayla benar-benar tidak tahu harus kemana menaruh wajahnya sekarang. dia benar-benar tidak ada keberanian untuk menatap wajah Reynand.


Reynand lagi-lagi tersenyum.


“Maafin abang ya, udah bikin kamu nangis. Lain kali janji deh nggak, bakalan bikin kamu cemas.”


“Udah dibilangin aku nggak nangis.” Ah, Nayla benar-benar sebal.


“Beneran nangis juga nggak apa-apa.” Sahut Reynand sengaja menggoda. Karena jujur saja dia sangat suka melihat Nayla malu-malu begitu.


“Kamu pasti kangen banget kan, sama abang?” tambahnya lagi, sengaja.


“Kepedean!” sahutnya.


Aaaa…. Reynand memang menyebalkan.


Tapi, dia kan memang kangen semalam, kangen berat malahan.


Ciye yang kangen berat.


Iiih, mata Nayla terpejam saking malunya. Kok bisa si Reynand tahu kalau semalam dia menangis. Bukan apa-apa, malunya itu, loh.


Tapi…. kalau dipikir-pikir semalam dia memang menangis lumayan lama. Ya, pastinya berbekas , kan. Reynand pasti tahu itu.


“Emang semalam nangisnya berapa lama?” Reynand memulai lagi. Dia rupanya tidak jera membuat pipi gadis itu memerah.


Duh, tega banget si Reynand. Itu wajahnya Nayla sudah seperti udang rebus saking malunya.


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


Yang nunggu mp sabar.


__ADS_2