Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Korban Suasana Hati


__ADS_3

****


Nayla semakin menerima kehidupannya sekarang. Menjadi istri seorang Reynand Anugrah yang dikenal banyak orang. Menjadi seorang istri di usia muda yang masih dirahasiakan, bahkan semua banyak orang tidak tahu kalau dia sekarang sudah mempunyai suami.


Reynand juga semakin berhati-hati bersikap kepada Nayla. Sadar sang istri adalah seorang pelajar yang masih terbilang sangat remaja maka dia pun tidak banyak meminta dan menuntut. Kecuali untuk satu hal, ya itu. Apalagi kalau bukan ritual suami istri. Ingat, dia itu laki-laki normal. Ya, tentu saja memiliki istri membuat salah satu kebutuhan alaminya itu terpenuhi. Berbeda dengan saat dia masih membujang dahulu, ehe.


Maka pada malam hari itu....


"Kamu kenapa?" Begitulah Reynand menanyai istrinya saat perempuan itu sedikit mengeluh.


"Nggak tau, nyeri banget." Nayla sedikit menggesek dada dengan bagian dalam lengannya. "Shhh...." Puncak dadanya benar-benar sensitif.


"Apanya?" Tanya Reynand heran.


"Itu." Nayla kembali menggesek disana.


"Em?" Reynand semakin heran. "Nay, itu apanya?"


Sudah 2 hari ini Nayla merasakan nyeri dan bengkak dibagian dadanya Ia pikir itu wajar sebagai tanda awal datang bulan. Namun entah kenapa sampai sekarang ia belum juga datang bulan dan rasa nyeri itu semakin hari malah semakin terasa. Bahkan Nayla merasa bagian sana terasa sangat kencang.


"Nggak apa-apa" Ujarnya mengelak. Dia tidak ingin menceritakan tentang itu kepada Reynand. Entah kenapa rasanya memalukan.


Berjalan menuju meja rias maka gadis itu pun duduk di sana untuk menyisir dan mengeringkan rambutnya yang masih basah.


"Kamu kenapa sih dari tadi megangin itu terus?" Iya itu, Reynand rupanya sadar sedari tadi dengan tingkah Nayla yang terus menyentuh dadanya.


"Nyeri." Jawab Nayla keceplosan.


Kemudian Reynand menghampiri "Nyeri? Coba lihat."


Menggeleng Nayla menolak. "Nggak usah."


"Habisnya, aku khawatir Nay. Perasaan ngapa-ngapainnya pelan terus nggak pernah kasar-kasar." Sahutnya konyol.


Lalu Nayla menoleh kesal. "Apaan sih."


Reynand lalu terkekeh geli.


Entahlah Nayla akhir-akhir ini merasa kurang suka jika tiba-tiba Reynand mengeluarkan kata-kata yang sejenis itu.


"Kok handuknya nggak di gantung?" Protesnya saat melihat handuk Reynand yang berada disisi ranjang mereka.


"Lupa sayang...." Jawab Reynand sembari mengambil handuk itu untuk meletakkan di tempat sebagaimana mestinya.


Lalu Nayla mendelik. "Kebiasaan deh."


Reynand nyengir kuda, cerewet, hari ini Nayla benar-benat cerewet. Bahkan dia tidak boleh kelihatan melakukan kesalah sekecil pun di depan sang istri. Jika tidak sedikit saja dia akan kena semprot.


"Kamu bentar lagi ujian, kan?"

__ADS_1


"Em...." Jawab Nayla tanpa menoleh.


"Kamu fokus aja ya ke ujian kamu. Jangan banyak pikiran terus juga jangan terlalu lelah."


Kali ini Nayla berhasil menoleh oleh ucapan itu. "Yang sering bikin lelah itu siapa sih, sebenarnya?" Sarkasnya kemudian.


Owh, Reynand sangat sadar maksud ucapan itu. "Ya, tapi kan kamu juga suka." Reynand sangat ingin kala mereka sedang bergelut di ranjang Nayla mulai tidak malu-malu lagi padanya.


Ish, Nayla mendelik tajam. Suka? Digangguin malam-malam, bahkan terkadang di saat dia sudah tidur nyenyak. Terus memintanya untuk jangan kelelahan. Hah?


"Udah, dong sayang gak usah galak-galak gitu. Kalau akau gemesh gimana?" Reynand lalu berpaling sejenak, sensitif amat. Biasanya juga tersipu-sipu kalau lagi digodain.


"Makan yuk." Ajak Reynand akhirnya.


Mendengar ajakan itu Nayla lantas beranjak dari kursi meja rias. Melangkah mendekati Reynand kemudian dia memiringkan tubuhnya dan duduk di pangkuan suaminya dengan manja.


Reynand sih senang-senang saja Nayla bertingkah seperti ini, memang itu maunya. Tersenyum ia pun menarik pinggang sang istri dengan semakin erat. Tumben bersikap seperti ini?


Menggelayuti leher sang suami maka Nayla mulai mengutarakan apa maunya. "Makan soto yuk."


"Soto?" Reynand membelalak.


"He em."


Reynand menelisik. "Tumben."


"Aku pesenin online ya?" Tawar Reynand.


Menggeleng pelan Nayla tidak setuju. "Nggak mau." Rengeknya manja.


"Terus?"


"Maunya makan soto di tempat Pak Mamat di jalan yang sering kita lewatin itu."


"Tapi sayang, ini udah malam."


Nayla pun manyun.


Dan, Reynand kembali membujuk. "Lagian di situ rame Nay, kamu kan tahu kalau abang nggak bisa di tempat rame." Kalau mereka makan di tempat seramai itu bukannya malah makan dengan tenang, tapi mungkin akan jadi perhatian. Nayla sadar tidak sih, suaminya itu siapa?


Turun dari pangkuan itu dengan cepat. Nayla pun mulai merajuk. "Aku nggak mau makan, kalau nggak makan di situ." Kemudian menghempas dan duduk di sofa. "Ashhh...." Nayla tiba-tiba meringis memegangi perutnya.


Lalu dengan cepat Reynand menghampiri. "Kamu kenapa?"


Nayla menggeleng. Kenapa tiba-tiba perut sebelah kirinya jadi keram begini, ya? Serasa di cubit.


"Makanya hati-hati dong sayang." Mendudukan diri di sebelah Nayla lalu ikut memegangi perut perempuan itu khawatir.


Nayla berpikir sembari Reynand ikut mengelus-elus perutnya pelan. Ini serius dia akan datang bulan? Tapi, biasanya kram di perutnya akan terasa saat datang bulan itu tiba. Bukannya terasa saat sebelum datang bulan seperti ini. Ini dia kenapa sih sebenarnya?

__ADS_1


"Ya udah nggak jadi aja ya beli sotonya? Hem?"


Lagi-lagi Nayla menggeleng, dia sangat ingin soto itu sekarang.


Reynand mendesah pelan. "Tapi kamu lagi sakit perut sayang...." ujarnya pelan memberi pengertian sembari masih mengelus perut rata itu pelan-pelan.


"Udah nggak sakit lagi kok." Ujar Nayla. Karena memang rasa sakit yang ia rasakan tidak sesakit saat kram menstruasi.


"Kenapa sih, pengen banget makan disana? Kan, Abang bisa minta tolong Mbok Yana untuk bikinin kamu soto." Saran Reynand akhirnya.


"Bosan di rumah suntuk. Kan, jarang-jarang kita makan di luar." Iya benar, sedari tadi entah kenapa Nayla merasa gusar sendiri. Mood-nya menjadi tidak menentu. Kasihan Reynand yang sedari tadi menjadi korban oleh suasana hatinya ini. Mungkin saja kalau mereka pergi keluar sebentar mood-nya ini akan menjadi lebih baik.


Memejamkan mata pasrah, lalu Reynand pun mengangguk. "Iya udah, kita kesana sekarang. Dari pada nantinya kamu nggak makan. Terus sakit, kan kasihan nanti istri aku yang gemesh ini." Mencubit pipi mulus itu pelan.


Maka senyum perempuan itu pun mengembang lebar, seperti anak kecil yang akan di belikan mainan.


"Tapi makannya di dalam mobil ya biar aman." Reynand mewanti-wanti akan ada kerumunan masal nantinya.


Dan, Nayla pun mengangguk setuju.


Beranjak dari duduknya, maka Reynand pun beriap-siap membawa keluar Nayla menuju tempat yang diinginkan. Mengabulkan permintaan sang istri yang memang jarang meminta hal-hal seperti ini. Sang istri yang sangat menginginkan makan soto di malam hari.


Seperti orang mengidam saja, eh.


*


*


*


*


Hai Readers!


Apa kabar nih????


Baru nongol karena emang lagi sibuk.


Jadi, cerita ini mungkin masih agak panjang. Cerita ini akan tetap jalan sebagaimana mestinya sesuai dengan alur yang sudah ada di kepala aku. Intinya aku juga melakukannya untuk kesenangan dan kepuasan diri.


Jadi yang merasa cerita ini membosankan....🙁😌


Cari aja cerita yang selalu memacu adrenalin sana.


Q : Ngedumel terus tor


A : Maklumin ya😙


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2