
****
Hari itu Nayla dan teman-teman sekolahnya banyak melakukan kegiatan. Mereka pergi kebanyak tempat-tempat bersejarah lainnya dibali. Dan saat ini kegiatan terakhir mereka yakni mengunjungi museum.
Sedari pagi tadi ponselnya tak luput dari pesan-pesan masuk dari Reynand. Laki-laki itu agak protektif padanya hari ini. Sampai-sampai tadi tanpa sengaja dia mengangkat video call dari Reynand didepan teman-temannya. Untung saja suci langsung mengingatkannya. Kalau tidak bisa heboh satu Angkatan sekolahnya kalau mereka tahu seorang Nayla mengankat telepon dari aktor terkenal Reynand Anugrah.
“Sudah selesai kegiatannya?” pesan masuk dari Reynand.
Nayla tidak segera membalas pesan dari Reynand. Sedari tadi dia tidak bisa fokus dalam kegiatannya karena terus melihat kelayar ponsel membalasi pesan-pesan dari suaminya itu.
“Nay.” Pesan masuk lagi dan lagi-lagi dari Reynand.
Lagi-lagi Nayla mengabaikan pesan itu. Dia sudah bosan terus-terusan dikirimi pesan oleh Reynand.
Drrt…. Drrt… panggilan masuk. Dari Reynand. Nayla segera meng-cancelnya. Laki-laki itu benar-benar menganggunya. Setiap dicancel Reynand selalu meneleponya lagi. Akhirnya karena kesal Nayla mematikan ponselnya.
Dugh! Tanpa sengaja Nayla bertabrakan dengan Riko.
“Rik, Lo kemarin mau ngomong apa?”
Riko tidak menjawab. Ia malah kabur menghindari Nayla. Membuat gadis itu mengernyit tidak mengerti.
“Tu anak kenapa ya?” Gumam Nayla.
“Nay, hape lo nggak lo aktifin ya?” Suci menghampiri Nayla secara tiba-tiba.
“Iya. Emang kenapa?”
Suci tolah-toleh kanan kiri sebelum membisikkan sesuat ditelinga Nayla.
“Duh biarin aja. Gue kesel. Masak dari tadi gue dikirimin pesan sama ditelepon terus.”
“Nih baca.” Suci menyerah ponselnya kepada Nayla.
Pesan dari Reynand.
“Tolong tanyain Nayla. Hapenya habis batre atau nggak ada sinyal. Soalnya tiba-tiba nomornya tidak aktif.” Isi dari pesan tersebut.
Nayla memandang pesan itu dengan kesal. Dengan segera dia mematikan ponsel Suci. Dia ingin melakukan kegiatan study tour ini dengan tenang. Memang dia anak kecil apa, dikit-dikit ditanyakan ini itu.
“Kenapa hape gue lo matiin.” Protes Suci.
“Biarin. Awas kalau lo nyalain lagi.” Ancam Nayla.
__ADS_1
“Lo aneh banget deh. Diperhatiin laki malah nggak mau.”
“Perhatian si perhatian tapi nggak gitu juga.” Sungut Nayla.
Suci memandang Nayla tidak mengerti. Diperhatikan suami ganteng plus terkenal kok nggak mau. Mending kasih kedia aja deh tuh si Reynand. Ups, dengan segera Suci menepis pikiran laknatnya.
“Diperhatiin laki siapa?” Tiba-tiba Tia hadir diantara mereka.
Nayla dan Suci terdiam tiba-tiba. Membuat Tia heran.
“Eh kok diam sih gue datang. Atau jangan-jangan lo lagi yang udah kebelet nikah.” Tia menunjuk suci spontan.
“Enggak ya, gue belum mau punya laki. Gue mau kuliah, mau mengejar cita-cita gue, gue mau jadi orang sukses. Jadi apa nanti kalau gue udah nikah diumur segini.” Deg! Dengan segera Suci menutup mulutnya yang benar-benar asal jeplak. Arah pandangnya beralih pada Nayla yang raut wajahnya langsung berubah terdiam. Sepertinya kata-kata Suci benar-benar mengenai perasaannya tepat sasaran.
“Gue pergi dulu.” Nayla langsung berlalu meninggalkan Suci dan Tia dengan raut wajah yang tidak terbaca.
“Tuh anak kenapa?” Tanya Tia heran. Sementara itu Suci benar-benar bersalah atas ucapannya. Tanpa sadar dia telah mengeluarkan kalimat yang membuat Nayla tersinggung.
Nayla segera menepi dari keramaian. Dia jadi terpikir kata-kata suci barusan. Tanpa sadar air matanya mengalir. Sialan, dengan cepat Nayla segera mengusap air matanya yang tidak dia inginkan jatuh disaat seperti ini. tapi, perkataan Suci ada benarnya. Akan jadi apa dirinya nanti? Diumur sekarang dia sudah menikah. Ah, kenapa dia jadi begini. Nayla segera menggelengkan kepalanya. Tidak, dia tidak boleh terlalu banyak pikiran sekarang.
“Nayla.”
Sadar ada yang memanggilnya dengan cepat Nayla mengahapus air matanya.
“Nggak apa-apa buk.” Nayla tersenyum sok tegar.
“Benar kamu tidak apa-apa?” Bu Tami memastikan.
“Iya buk. Kalau begitu saya akan kembali bergabung dengan teman-teman. Permisi buk.” Nayla segera meninggalkan Bu Tami.
Setelah Nayla lumayan jauh. Dengan cepat Bu Tami mengeluarkan ponselnya dan mengetikan sesuatu disana.
“Nay.” Suci mengejar Nayla.
“Nay gue minta maaf kalau kata-kata gue tadi menyinggung lo.”
Nayla menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Suci.
“Lo nggak salah. Apa yang Lo bilang tadi benar kok.” Nayla kembali berucap sok tegar.
“Nay. Gue bener-bener minta maaf.” Suci masih merasa bersalah.
“Udah lupain aja. Sekarang kita balik gabung kesana.” Ajak Nayla. Smentara itu Suci dengan masih merasa bersalah mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Saat itu ketika langit mulai gelap Nayla dan teman-temannya baru tiba dibandara. Ternyata kegiatan yang mereka laksanakan selesai dengan cepat.
Sebuah mobil berwarna hitam menghampiri dirinya. Seperti kenal. Dengan segera Nayla mengangkat panggilan masuk dari ponselnya. Padahal saat itu dia sedang mengorder taksi online.
“Ayo masuk.” Suara dari ponselnya.
Dengan segera Nayla membuka pintu mobil dan masuk kedalam sana duduk dikursi depan. Reynand tersenyum kearahnya dikursi kemudi.
“Abang tau dari mana aku udah sampai?” Setelah meletakkan ranselnya dibangku belakang.
“Kamu nggak perlu tau abang tau darimana?” Reynand segera melajukan mobil perlahan.
Dalam perjalanan Nayla terlihat bingung karena Reynand membawanya kejalan yang berbeda dari apartemen. Ini mereka akan kemana?
“Abang kita mau kemana?”
“Nanti kita kamu akan tau.”
“Kasih tau kita mau kemana?” Nayla cemberut.
Reynand tidak menjawabnya. Laki-laki it uterus fokus menyetir mobil.
“Abang!” suara Nayla meninggi.
“Emmm.” Masih fokus menyetir.
“Kita mau kemana?” mencubit lengan Reynand. Merengek.
“Aduh sakit Nayla. Kok abang dicubit.” Reynand meringis. Ini anak kenapa si? Reynand memandangnya dengan heran. Nayla mulai berani mencubitnya.
“Kita mau kemana? Jawab dulu.”
Reynand menghela nafas panjang.
“Kita mau kerumah kakek.” Ucapnya pelan. Sampai akhirnya Nayla melepaskan cubitannya.
“Kakek?”
*
*
*
__ADS_1
*