Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Untuk Apa Marah?


__ADS_3

****


Sudah pukul 11 malam. Nayla baru saja menyelesaikan tugas sekolahnya. Matanya pun sudah sangat berat. Sepertinya dia akan segera tidur sekarang.


Tapi, kenapa Reynand belum kembali kekamar. Lama juga dia diluar. Apa jangan-jangan laki-laki itu marah padanya. Gara-gara dia membentaknya tadi? Hah? Apa mungkin?


Setelah membereskan peralatan sekolahnya Nayla bergegas keluar kamar. Dia ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh Reynand diluar sana. Sedari tadi drinya terus-terusan merasa bersalah. Tuh kan selesai membentak dan memarahi Reynand pasti selalu begini. Padahal kan yang salah siapa, yang mengganggu orang belajar siapa.


Huh! Sebal sekali rasanya.


“Sayang belum tidur?”


“Eh, Mama.” Nayla tersentak kaget.


“Kamu lagi mengintip siapa?”


Jelas saja Mama dapat melihat sedari tadi Nayla mengintip kearah balkon.


“Oh, Reynand.” Mama tersenyum.


Terlihat disana Reynand sedang berdiri disisi balkon. Sepertinya dia juga sedang berbicara serius dengan seseorang melalui sambungan telepon.


“Samperin gih.” Saran Mama.


“Tapi….” Nayla terlihat ragu-ragu.


“Kenapa?”


“Nggak apa-apa Ma, nanti Nayla samperin. Nggak enak ganggu abang lagi telponan.” Nayla terkekeh.


“Ya sudah kalau begitu Mama duluan tidur ya. Sudah ngantuk.” Mengelus kepala Nayla pelan kemudian berlalu.


“Iya Ma.”


Nayla sebenarnya ingin menghampiri Reynand. Tetapi mendadak dia menjadi gugup. Jantungnya berdebar-debar tak menentu. Sebenarnya apa si yang membuatnya jadi seperti ini? Kenapa saat melihat Reynand debaran jantungnya tidak bisa dikondisikan.


Reynand masih berdiri disana. Melenggang-lenggang sembari berkacak pinggang, masih sambil berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.


“Serius amat. Telponan sama siapa si?” Nayla mendadak kepo. Sepertinya dia mulai ketularan sifat Suci sekarang.


Nayla berdiri tepat dibelakanng Reynand. Namun sepertinya laki-laki itu tidak menyadari keberadaannya. Terlihat dari gerak-geriknya sepertinya sedang frustasi.

__ADS_1


“Entahlah gue pusing dengan masalah ini. Tolong deh lo urus.” Reynand mengusap kepalanya gusar, sepertinya pembicaraan itu sangat serius.


“Duh Rey, pilihan itu ada di lo. Mending lo ngaku aja deh kesemua orang tentang diri lo yang sebenarnya. Lo tinggal bilang kalau lo itu cucunya Soeseno Prasaja semuanya beres.” Dion yang berbicara diseberang sepertinya juga tak kalah pusing meladeni Reynand yang keras kepala.


“Gue nggak mau bawa-bawa nama kakek dalam karir gue.” Tegasnya lagi. Tentu saja dia tidak nyaman dengan wajah sumringah orang-orang jika tau siapa dia sebenarnya. Wajah yang ditunjukkan dengan ramah hanya karena mereka tahu bahwa dia adalah cucu kakeknya. Dia tidak ingin orang-orang mengenalnya karena bantuan nama itu.


“Udah deh terserah, masalahnya ini rumit Rey. Lo mau keluar duit gede untuk masalah ini.” tandas Dion lagi.


“Duit tabungan gue bisa berkurang kalau harus membayar denda sebesar itu. terus gimana coba dengan rencana gue.” Reynand semakin frustasi.


“Kan gue sudah bilang Rey. Mending lo iyain permintaan kakek lo buat jadi pemimpin perusahaan. Jadi lo nggak usah pusing-pusing dengan rencana lo. Kakek lo udah tua, dia butuh pengganti. Lo tinggal lanjutin usaha kakek lo!" Saran Dion akhirnya. Saran yang selalu Dion ucapkan berulang-ulang, sampai dia sudah sangat bosan mengatakan itu.


“Lagi-lagi itu yang lo omongin. Udahlah yon, gue pusing. Gue mau tidur.” Reynand langsung memutus sambungan telepon sepihak. Sial, ternyata sangat susah menggapai sesuatu yang dia inginkan.


Sedari tadi Reynand tidak sadar rupanya ada sosok yang mendengar pembicaraannya dari belakang. Dia terus saja mengumpat berulang-ulang. Menunjukkan bahwa dirinya memang sedang banyak masalah.


Nayla terus memandangi punggung yang sedang mengumpat itu. Terlihat laki-laki itu sedang sangat gusar dan frustasi..


Tubuh Reynand sangat jangkung, dia sampai harus mendongak tinggi untuk menatapnya.


Baru kali ini Nayla melihat Reynand sefrustasi ini. Dia jadi semakin merasa bersalah karena telah membentak laki-laki itu tadi. Perlahan akhrinya dengan ragu-ragu tangannya menyusup ketubuh tegap itu dari belakang. Membuat tubuh itu tiba-tiba terdiam kaku seketika.


“Nayla.” Reynand memutar tubuhnya.


“Abang kenapa?” Tanya Nayla lembut. Mata bening itu menatapnya penuh tanya.


“Nggak apa-apa.” Reynand tersenyum. Sosok Nayla tiba-tiba saja menenangkannya. Membuatnya lupa akan masalah yang diperbincangkan ditelepon tadi. Sepertinya dia butuh pelukan sekarang.


Saat hendak memeluk…. Tunggu, nanti Nayla ngambek lagi. Bisa-bisa tambah pusing kepalanya, kalau gadis itu tiba-tiba marah-marah. Dia ingat betapa mengerikannya gadis itu saat dia menyentuhnya tadi.


“Abang maaf ya, tadi aku udah marah-marah lagi.” Memeluk tubuh Reynand dengan erat.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, tidak perlu bersusah payah meminta. Nayla malah memeluknya dengan erat. Tak ingin melewatkan kesempatan, dia menerima pelukan itu dan membalasnya dengan erat. Sangat nyaman.


“Abang nggak marah kan.” Nayla bertanya lagi.


“Nggak.” Mana bisa dia marah kalau sudah dipeluk begini. Perlahan Reynand menyusupkan wajahnya diceruk leher Nayla. Tubuh Nayla sangat lembut dan wangi. Reynand menyukainya. Andaikan Nayla mau dipeluk seperti ini setiap saat tanpa susah payah.


“Beneran?” Nayla melepas pelukannya.


“Iya.” Menarik kepala Nayla lagi kedalam pelukannya. Membuat kepala itu bersandar didadanya. Diciuminya puncak kepala itu, mengihisap wangi yang ada disana. Tuh kan, dia memang tidak bisa menahan diri kalau berada disisi Nayla. Rasanya dia selalu ingin menyentuh setiap inci tubuh itu.

__ADS_1


Lagian kenapa dia harus marah coba? Dia hanya menghindari kemungkinan yang akan terjadi. Berada didekat Nayla terlalu lama membuat dia menjadi tidak waras. Untungnya tadi dia sudah melakukan sesuatu dikamar mandi. Jadi sekarang perasaannya tidak terlalu menggebu-gebu lagi didekat Nayla. Huh! Sampai kapan dia harus melakukan cara itu untuk mengendalikan diri. Cara yang sangat memalukan. Padahal kan dia punya 'istri' untuk melampiaskannya.


“Abang tidur yuk. Aku udah ngantuk.” Ajak Nayla.


“Hmmm…” melepaskan pelukan eratnya. Kemudian mengusap-usap kepala Nayla dengan lembut.


“Abang gendong kekamar mau?” Tawar Reynand.


He? Gendong? Nayla membelalak kaget.


“Nggak usah aku bisa jal…. Aaa abang.” Tubuhnya langsung diangkat oleh Reynand. Dia ingin marah, tapi langsung menahan diri. Baru tadi dia minta maaf tapi sudah mau marah-marah lagi. Ingat Nayla jangan jadi istri durhaka ( Begitu kata malaikat dalam tubuhnya).


“Tapi gendong aja, jangan yang lain.” Rengeknya digendongan Reynand.


Yang lain gimana maksudnya? Reynand terkekeh geli.


“Iya. Abang nggak bakal ngapa-ngapain kok. Paling cuma….”


“Cuma apa?!” Matanya mendadak menusuk tajam. Benar! Kalimat-kalimat menjengkelkan yang selalu keluar dari mulut Reynand selalu membuatnya gampang tersulut emosi.


“Tuh kan jadi galak lagi.” Reynand pura-pura cemberut takut.


“I-iya maaf.” Mengeratkan pelukannya pada leher Reynand. Nayla merasa bersalah lagi.


Reynand menahan tawa geli. Duh, sangat menggemaskan. Ingin sekali rasanya dia menerkam. Tapi, tahan….


“Cium bolehkan?”


Bugh! Mengarahkan kepalan tangannya kebahu Reynand. “Dasar!”


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2