
****
Kandungan Nayla sudah memasuki usia sembilan bulan. Saat ia pergi kerumah sakit menemui Beta tempo lalu, dokter sebut mengatakan kemungkinan satu minggu lagi Nayla akan segera melahirkan.
Perasaan senang serta gugup bercampur menjadi satu. Akhirnya setelah penantian penjang, sosok yang berada didalam perut yang semakin membesar itu akan segera bertemu dengannya.
"Bentar lagi lahir anak Mama, senang nggak mau ketemu ayah sama mama?" ujarnya pada janin didalam perut.
Saat itu ia tengah menunggu kepulangan Reynand dari bekerja sembari berkutat didepan laptop mengecek pengumuman dari kampusnya. Jadi satu minggu yang lalu Nayla baru saja selesai melaksanakan ujian pada semester pertama kuliahnya.
Akhirnya dia merasa lega dapat melewati semester ini dengan baik walau ada sedikit kendala. Menjalani kuliah dengan mengandung anak diperutnya rupanya dapat Nayla laksanakan dengan baik.
Tiba-tiba perhatian Nayla teralihkan oleh pintu kamar yang tiba-tiba dibuka oleh Reynand. Reynand terlihat panik segera buru-buru masuk kedalam kamar dan laki-laki itu bergegas menghampirinya.
"Nay!" Reynand mengcup puncak kepala Nayla pelan. "Siapin pakaian sama keperluan aku ya, malam ini aku mau berangkat keluar kota?"
"Keluar kota? Kok mendadak?"
Reynand yang tengah tergesa-gesa membuka kancing bajunya kemudian menghentikan gerakan tangannya. Melihat raut wajah kaget istrinya ia menunduk sejenak kemudian kembali menatap Nayla.
"Proyek yang berjalan di bali ada masalah, dan aku harus bergegas kesana malam ini." jelas Reynand.
Nayla kemudian turun dari ranjang dan mendekati Reynand. "Kok mendadak? Emang berangkatnya nggak bisa besok aja? Ini udah malam dan kamu juga baru pulang. Nggak capek apa?"
Reynand tahu Nayla tidak menerima maksudnya. Ia kemudian berbalik dan menatap istrinya itu.
"Ini penting Nay."
"Yaaa, emang gak bisa suruh orang lain atau bang Aldi gitu yang pergi."
"Nggak bisa Nay, ini proyek yang sangat besar. Aku harus turun langsung, ini demi perusahaan." Reynand berusaha memberikan pengertian. "Dan juga, ini berbahaya, karna itu aku akan melakukan penerbangan malam ini juga."
"Kalau bahaya kenapa harus pergi?" Sambar Nayla cepat. Ia kemudian memejamkan mata tidak terima karena akan ditinggal suaminya malam ini. "Anak kita sebentar lagi lahir, bisa kan ditunda dulu perginya? Emang harus banget kamu yang pergi."
"Nay...." Reynand memberikan tatapan penuh pengertian kepada Nayla. "Aku perginya nggak lama, paling dua hari. Ini urusannya benar-benar mendadak, ini bahaya karena nimbulin masalah bagi banyak orang. Aku gak bisa jelasin detailnya, tapi intinya aku pergi mendadak karena benar-benar terdesak. Pokoknya aku punya tanggung jawab besar dalam hal ini."
"Tapi, kenapa harus malam ini? Kenapa nggak besok?" ujarnya dengan wajah memerah.
"Nay, aku juga mau nunda. Tapi, ini keadaannya...." Reynand berhenti berucap sejenak. "Ini keadaannya benar-benar genting."
__ADS_1
Nayla akhirnya hanya bisa menunduk dan mendedah pasrah. Mau bagaimana lagi, ia sepertinya tidak bisa banyak bicara kalau begitu penjelasan dari suaminya. Ia kemudian mengelus-elus perutnya pelan. Biar bagaimana pun ditinggalkan saat hamil tua begini dia benar-benar tidak rela.
"Janji kamu bakal pulang dalam dua hari, mbak Beta bilang anak kita lahirnya nggak lama lagi." ujar Nayla berharap dengan masih menyimpan ketidak relaan dalam hatinya karena akan ditinggal pergi.
Reynand mengangguk meyakinkan. "Aku akan usahain, kalau urusan disana sudah selesai aku akan segera pulang."
Nayla mengangguk, kemudian tubuhnya tertarik saat Reynand merengkuhnya erat dalam pelukan.
"Jangan cemas, jangan khawatir. Doain aku semoga urusannya cepat selesai."
"Tapi aku khawatir, aku cemas." ujar Nayla sembari memeluk sama eratnya.
"Doain Nay...."
"Aku doain, semoga apa yang kamu lakuin lancar. Dan cepat pulang kerumah."
Tok!
Tok!
Sebuah ketukan dari luar kamar tiba-tiba menginterupsi kegiatan mereka.
"Rey, sudah siap belum?"
Nayla kemudian mengangguk pelan, paham akan maksud suaminya. Ia kemudian mengambil pakaian Reynand dari lemari dan memasukkannya kedalam koper sementara Reynand tengah tergesa-gesa membersihkan tubuhnya didalam kamar mandi.
Tak berapa lama laki-laki yang sudah terlihat segar itu kembali terlihat buru-buru. "Baju aku mana?"
Nayla menyerahkan baju yang sudah ia siapkan untuk Reynand. "Badannya dikeringin dulu." Ujar Nayla yang kemudian dituruti oleh Reynand. "Semua kebutuhan kamu udah aku masukkin semua dalam koper."
Reynand tersenyum. "Makasih ya sayang."
Nayla mengangguk. Memang semakin hari Nayla tanpa sadar semakin menikmati perannya sebagai seorang istri. Perempuan itu semakin cekatan mempersiapkan apa pun keperluan suaminya.
Beberapa saat kemudian Reynand benar-benar sudah siap untuk berangkat. Ia telah rapi dengan pakaiannya.
Nayla mengantar Reynand sampai kebawah. Sementara koper milik Reynand dibawakan oleh pak Tio.
••••
__ADS_1
Barang-barang sudah siap dan dimasukkan kedalam mobil. Malam itu benar-benar suatu yang mendadak bagi Nayla. Jadi, dia benar-benar akan ditinggal secara mendadak.
"Rey, jangan lama-lama perginya." Mama Adel menasehati. "Sebenarnya nggak baik suami ninggalin istri lagi hamil tua."
"Aku tau Ma, aku Nggak akan lama, paling cuma dua hari." Jelas Reynand.
Ia kemudian mendekati Nayla. "Aku pergi dulu ya, Maaf harus ninggalin kamu dan calon anak kita mendadak begini."
Nayla mengangguk pelan. "Kamu nanti jaga kesehatan, kamu bilang disana itu masih pelosok. Pokonya aku bakal hubungi setiap saat."
Reynand mengangguk.
"Bukannya aku posesif, aku lagi hamil tua dan ini anak kamu." Nayla menatap perut buncitnya. "Sebenarnya aku gak masalah ditinggal mendadak begini, aku juga sering kan, kamu tinggal sebelumnya. Kadang bisa sampai dua minggu."
Reynand paham dan dia langsung memeluk istrinya erat. "Kamu kok ngomel-ngomel sih, Nay."
"Aku bukannya ngomel-ngomel, aku cuma ngingetin. Jangan sampai kamu lupa, kalau kewajiban kamu yang ini lebih penting. Pokonya kalau kamu tiba-tiba ngerasa betah disana ingat aja kalau kamu punya anak dan istri."
Reynand melepas pelukan erat mereka sejenak. "Aku cuma pergi sebentar Nay, nggak lama. Jelas aku bakal selalu ingat kalian berdua." Reynand benar-benar tidak menyangka kalau Nayla secemas ini, padahal nyatanya dia hanya akan pergi sebentar. Jujur saja ia merasa tidak enak saat ini.
Sebenarnya Nayla berkata begitu karena dia cuma takut. Bagaimana kakau saat dia melahirkan Reynand tiba-tiba tidak ada disampingnya. Apalagi ini waktunya sudah dekat.
"Ayah pergi dulu ya." izinnya pada anak yang masih didalam perut. "Jangan keluar dulu sebelum ayah pulang." sebuah kecupan ia daratkan.
"Kamu yang seharusnya harus sudah pulang sebelum dia keluar." Nayla menyahuti ucapan konyol suaminya itu.
Reynand mengelus wajah Nayla pelan. "Aku tau, aku berangkat dulu ya sayang. Jagain anak kita, hem. Aku sayang kalian berdua." lagi, ia mengecup kening Nayla lama, sehingga mengalirkan ketenangan pada perempuan yang akan ditinggal pergi itu.
Hingga akhirnya beberapa saat kemudian. Nayla melambaikan tangannya seiring dengan berjalannya mobil yang keluar dari pekarangan rumah.
•
•
•
•
Akhirnya Nayla ditinggal mendadak sama Reynand. 😌
__ADS_1
Selamat membaca! Maafkeun kemarin nggak up. Nanti malam aku usahain up lagi.
Happy Reading!