Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Terharu


__ADS_3

****


Reynand rasa mencoba mengabaikan Airin memang melelahkan. Bagaimana tidak, ia pusing sendiri menghadapi wanita keras kepala itu tadi.


Ia memejamkan dalam-dalam, bagaimana ia akan menghadapi wanita itu seterusnya. Airin pasti akan terus membuat ulah. Ia rasa wanita itu benar-benar mempunyai masalah dalam hidupnya sehingga menjadi seperti itu.


Tak ingin terlalu lama memusingkan hal itu, maka ia segera bergegas membuka pintu kamar.


Ia agak terkejut ketika mata yang mengantuk itu menyambutnya dengan penuh binar. Sosok itu sedikit menunduk tersipu dengan senyum tertahan. Rambut panjanganya yang sedikit berantakkan dibiarkan tergerai dampai pinggang.


Mendekat perlahan, Reynand lalu menggapai tubuh itu lalu mendekapnya erat. Sementara tangan mulus itu perlahan membalas pelukannya.


Nyaman!


Berpelukan lama, beberapa saat kemudian Reynand lalu melepas pelukan mereka sejenak untuk memberi jarak.


"Lama nunggunya?"


"Nggak juga."


Tersenyum, Reynand lalu berbalik dan menutup pintu kamar dan menguncinya


"Kasian istri aku, nunggunya lama." Mengelus kepala itu pelan.


Istri aku. Baru dengar ia Reynand menyebutnya seperti itu.


"Aku mau mandi dulu ya." Ucap Reynand sembari menaikkan bajunya berusaha melepas.


"Mau dibantuin nggak?"


Tangan yang terangkat hendak melepas baju itu lalu urung. "Apanya? Bantuin apa?" Tanya Reynand heran.


Berjalan lebih mendekat Nayla. "Buka bajunya mau aku bantuin." ucapnya sedikit nyengir.


Reynand pun lalu tersenyum. "Ih, modus ya?" Mencapit dagu itu pelan.


Nayla lalu manyun.


"Nggak, siapa juga yang modus? Lagian kata Mami aku harus berusaha jadi istri yang baik buat suami aku." Nayla kemudian mengusap-usap kedua lengan baju Reynand.


Lagi-lagi Reynand tersenyum. Ia benar-benar menjadi laki-laki yang murah senyum jika berada di hadapan Nayla. "Emang siapa sih suami kamu itu?"


"Tau ah."


Dan jawaban itu berhasil membuat Reynand terkekeh.


Nayla menatap lengan baju itu heran. "Kok kusut banget?" mengangkat kepala kemudian menatap Reynand penuh tanya.


Ah, lengan bajunya yang diremas oleh Airin. "Oh, iya. Kapan Mami bilang kalau kamu harus jadi istri yang baik?" Reynand berusaha mengalihkan topik pertanyaan Nayla barusan.


Nayla tidak menjawab pertanyaan itu, ia masih sibuk memperhatikan lengan baju Reynand dengan seksama penuh kecurigaan. Kok bisa lengan baju bisa sekusut ini?


Reynand kemudian berucap kembali berusaha membuat Nayla untuk mendengarkan perkatannya. "Sayang...."


Lalu pertanyaan yang tidak ingin dijawab itu terlontar kembali. "Kok lengannya kusut begini?" Nayla kemudian semakin mengusap-usap lengan baju itu dengan kuat mencoba menghilangkan kusutnya.


"Em, tadi ada fans yang narik-narik." Akhirnya ucap Reynand beralasan. Karena tidak mungkin ia menjawab jujur kalau tadi Airin yang melakukan itu saat mengemis cinta padanya.


Lalu Nayla memperhatiakan lengan baju itu lagi menelisik. "Fansnya brutal banget sampai sekusut ini."


"Iya brutal banget sampai aku kewalahan ngadepinnya." Reynand ingat betapa kuat Airin meremas bajunya tadi.


"Fansnya cewek apa cowok?"


"Em?" Reynand membelalak.


Tatapan Nayla masih pada objek yang sama. "Kalau cewek cantik nggak? Dia peluk-peluk atau pegang sana sini juga nggak?" Ucapan itu terdengar santai namun mampu membuat Reynand mengerti akan maksudnya.


Ih, Reynand lalu kembali tersenyum geli mendengar deretan pertanyaan itu. Istrinya kenapa tiba-tiba menggemaskan begini ya? Ia kemudian mengintip wajah cantik itu dengan seksama.


"Kenapa cemburu ya?"


Kepala Nayla lalu terangkat. Seterusnya menatap wajah itu dengan sorot tajam. "Kenapa!? Nggak boleh kalau cemburu?" Ketusnya kemudian.


Reynand mencubit pipi itu gemas. "Jangan galak-galak gitu dong sayang. Kalau aku makin cinta gimana? Kamu mau tanggung jawab kalau debaran jantung aku makin hari makin kencang tak menentu." Ia lalu terkekeh.


Ish, lalu Nayla mengernyit geli.


"Terus kalau harus ke dokter jantung gimana?" Perkataan Reynand barusan seolah menyindir Nayla beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


Nayla kemudian mencubit lengan itu kencang. Kenapa lengan? Karena jari-jarinya memang didekat sana.


Reynand kemudian meringis. "Sakit sayang...."


"Makanya jangan gombal terus."


Tersenyum. "Tapi bisa bikin kamu berdebar-debar, iya kan?" Mengedipkan mata.


Berpaling malu. "Udah ah, mandi sana." Nayla lalu mendorong tubuh itu pelan.


"Tunggu." Menarik pergelangan tangan itu pelan. "Katanya mau jadi istri yang baik." Dan, Nayla pun berhasil mendarat dihadapannya.


"Kapan Mami bilang begitu?" ujarnya saat Nayla mulai melepas satu persatu busana bagian atas tubuhnya.


"Em, waktu kita masih awal-awal tinggal di apartemen."


"Kok, baru praktek sekarang?"


"Kan, waktu itu masih pisah kamar." Lalu pakaian itu berhasil melewati kepala Reynand. Nayla waktu itu mana berani memperlakukan Reynand seperti ini. Untuk mengajak berbicara saja ia masih takut-takut dan malu.


"Udah...." Ucapnya setelah pakaian itu terlepas.


"Celananya?"


"Lepas sendiri." Lalu membawa baju itu ke keranjang pakaian kotor.


"Tanggung Nay...."


"Biarin." Jawab sang istri antara malu atau cuek.


Reynand kembali tersenyum, arah pandangnya mengukuti langkah Nayla yang kembali kearahnya.


"Mata kamu udah ngantuk banget. Duluan tidur nggak apa-apa."


Nayla menggeleng tidak setuju. "Tidurnya barengan." Rengeknya sembari memeluk tubuh Reynand erat. Melepas pelukan itu sejenak kemudian mereka saling bersitatap dan tersenyum.


"Ya udah, kalau gitu aku mandi dulu." Tersenyum dan mengecup puncak kepala itu pelan.


Dan, Nayla pun mengangguk.


Maka, beberapa saat kemudian....


"Sayang...." Reynand mengecup punggung yang membelakanginya itu berkali-kali.


Perlahan gadis itu berbalik. Dan, disaat Reynand mendekatkan wajahnya, Nayla berusaha menghentikan itu.


Lalu Reynand protes. "Kenapa?"


"Aku boleh tanya sesuatu."


Tatapan serius Nayla mampu membuat Reynand termangu. "Tanya soal apa?"


Menatap mata itu lama, seolah menyiratkan sesuatu disana lalu Nayla berucap. "Waktu dibali, abang ketemu Riko kenapa nggak cerita." Lalu dia menunggu jawaban itu ragu-ragu.


Reynand kemudian tersenyum. "Oh, soal itu." Menyelipkan anak rambut Nayla. "Abang pikir itu bukan hal penting." ucapnya santai.


"Tapi...."


"Nayla, dia ngedeketin kamu lagi?" Reynand bertanya sembari masih fokus memainkan rambut gadis itu.


"Kenapa?"


"Kenapa kamu tanya?" Reynand bertanya balik.


"Ih...." Mencubit pinggang laki-laki itu kesal.


Meringis lagi, sepertinya Reynand akan sering mendapat cubitan seperti untuk seterusnya.


"Makanya...." Nayla protes.


"Makanya apa?"


"Jawab...."


"Jawab apa sayang?"


Kesal Nayla pun kembali membelakangi Reynand. Percuma juga dia banyak bertanya. Toh, Reynand malah akan bertanya balik lagi.


"Nay...."

__ADS_1


Ck, Nayla berdecak saat tangan itu menyusup menyentuh perut ratanya.


Kemudian membujuk. "Sayang...." Reynand menciumi rambut panjang Nayla pelan-pelan. "Masalah itu nggak usah kita bahas, oke. Kamu masak nggak ngerti kalau dia itu sebenarnya ada rasa sama kamu."


"Em...." Nayla menjawab pelan.


"Aku paham, kamu sama dia udah deket lama. Tapi kelihatan Nay, mana ada perempuan sama laki-laki yang sudah dekat selama itu, salah satunya nggak menyimpan perasaan."


"Ini demi kebaikan kamu, hem. Jadi biarin dia menjauh seperti apa maunya."


Lalu Nayla berbalik kembali menatap sosok itu.


"Tolong jangan di pikirin lagi Nay, sekarang ada aku yang akan selalu ada di samping kamu. Mungkin dia sudah menjadi sosok yang selalu ada buat kamu sebelum ini, di mana kamu selalu menganggap dia sebagai seorang teman."


Nayla membiarkan Reynand memeluknya semakin erat sementara suaminya itu terus melanjutkan ucapannya.


"Untuk seterusnya aku akan selalu ada di sisi kamu sayang, waktu menikah bukannya kita sudah berjanji satu sama lain."


"Kenapa kamu masih memikirkan orang lain disaat sudah ada aku di sisi kamu."


Mingkin karena kalimat kali ini diucapkan terlalu mendramatisir, sehingga membuat Nayla mngernyit geli.


"Ini lagi serius nggak sih?"


"Serius Nay, apa pun yang aku lakukan untuk kamu itu selalu serius?"


"Bahkan waktu abang datang melamar aku?"


Reynand terdiam sesaat, memberi jeda untuk dirinya menatap wajah polos itu "Iya."


Mata Nayla terlihat berkaca-kaca, tiba-tiba ia merasa terharu sekaligus ragu. " Tapi, bukannya waktu itu kita...."


Reynand paham maksud Nayla, menatap gadis itu sejenak dalam diam, selanjutnya ia pun mulai berucap. "Nayla yang terjadi pada hari itu biarlah berlalu, yang penting itu sekarang." Reynand kembali mengelus rambut Nayla pelan sembari merapatkan pelukan mereka. "Yang terpenting itu sekarang Nay, sekarang aku mencintai kamu, aku menyayangi kamu. Dan, ingin selalu bersama kamu."


Mata Nayla pun semakin berkaca-kaca.


"Kamu tidak perlu melakukan banyak hal supaya menjadi istri yang baik untuk aku Nay, cukup kamu yang sekarang itu sudah membuat aku bahagia. Jangan terlalu keras untuk merubah diri, perlakukanlah aku sebisa kamu. Aku nggak mau kamu terlalu memaksakan diri untuk hal-hal yang memang mungkin belum kamu pahami. Aku sangat sadar dengan posis kamu sekarang." Iya Reynand sangat sadar siapa istrinya, seorang perempuan polos dan lugu yang tidak mungkin bisa dipaksa mendewasakan diri secepat itu. Maksudnya Reynand sangat paham apa yang dipikirkan remaja seusia Nayla.


Terharu. Nayla mengigit bibir kuat-kuat, jadi ingin menangis mendengarnya.


"Aku tau Nay, kita belum sedewasa itu untuk menjalani pernikahan ini, bahkan kamu pun masih membiasakan diri dengan pernikahan kita. Aku sadar kita masih belum siap untuk banyak hal. Jadi, seperti yang aku katakan tadi. Jangan terlalu memaksakan diri untuk semua yang belum bisa kita lakukan. Aku hanya ingin kamu tetap menjadi diri kamu sendiri Nay."


Ya, tuhan. Jarang-jarang loh Reynand berkata seperti ini padanya.


"Aku ingin kamu tetap bahagia, aku tidak ingin egois dengan memaksakan kehendak terhadap kamu." Mau bagaimana pun Reynand masih takut dengan apa yang akan dipikirkan Nayla saat ini. Tentang impiannya, tentang cita-citanya yang mungkin tidak akan sampai lagi karena pernikahan mereka. Reynand tahu itu, karena ia pernah merasakannya di saat seusia Nayla.


Mengangkat kepalanya saat ucapan itu terhenti, maka Nayla langsung mengecup bibir itu cepat, karena saking terharunya.


Mata Reynand yang terpejam sejenak lalu terbuka. "Sayang...."


Nayla tersenyum. "Aku cinta kamu...." Mengecup bibir itu lagi.


"Aku juga sangat cinta...." Mulut Reynand kembali bungkam oleh kecupan itu.


"Yang lama dong...." Akhirnya protes Reynand.


Nayla mengernyit kemudian tersenyum, namun setelah itu ia kemudian menyelipkan rambutnya ke telinga agar tidak mengganggu saat menurunkan wajah. perlahan ia pun menuruti apa yang diingkan suaminya.


Dan, begitulah mereka pun melakukannya. Sebuah ciuman mesra sebelum tidur.


Mungkin masih banyak hal yang ingin Reynand katakan malam itu, begitukan juga Nayla. Rasanya semua yang mereka rasa benar-benar tidak cukup hanya di ungkapkan dengan kata-kata.


Mereka menyelami dan memahami perasaan satu sama lain.


Dengan perasaan tiada menentu, tanpa disadari, maka mereka pun berdua akhirnya tertidur dalam pelukan mesra.


*


*


*


*


Dua hari aku nggak up, karena di kejar kerjaan akhir semester.


Up-nya 2 episode dulu. Kalau kerjaan cepat kelar nanti malam aku up lagi, ok!


Like, vote, komen!

__ADS_1


Happy Reading!


__ADS_2