
****
Selama pelajaran disekolah Nayla tak henti-hentinya berdebar-debar. Dia jadi tidak fokus mengikuti pelajaran. Sejak kapan dia mulai begini. Apa karena dia tidak pernah diperlakukan seperti ni oleh laki-laki maka sekalinya dia jadi berdebar-debar. Bahkan kedua sahabatnya, Tia dan suci sampai mengira kalau dirinya sedang sakit.
Saat itu dikantin.
“Nay Lo kenapa si?” Tia bertanya memperhatikan raut wajah Nayla sembari duduk mendekat .
“Iya, Lo kenapa Nay? Kita lihatin dari tadi lo nggak fokus, terus muka lo juga merah banget.” Timpal Suci.
“Gue nggak apa-apa.” Mengeluarkan kotak bekal yang tadi pagi disiapkan oleh Reynand untuknya. Dia semakin berdebar-debar mengingat itu. untuk pertama kalinya sejak mereka menikah Reynand melihatnya bersiap-siap berangkat sekolah. Sampai-sampai menyiapkan bekal untuknya. Bahkan Mbok Yana yang hendak mengambil alih saat Reynand menyiapkan bekal tidak diperbolehkan oleh laki-laki itu. Membuat Mama Adel yang memperhatikan hanya bisa senyum-senyum melihatnya.
“Bagi bekal lo dong.” Tia langsung mencomot makanan yang ada dikotak bekal Nayla.
“Eh, lihat itu si cecunguk. Tumben dia nggak gabung sama kita.” Suci menunjuk Riko yang sedang makan bersama teman-teman sekelasnya.
“Udah bosan kali ngintilin kita terus. Kali aja dia cari suasana baru.” Timpal Tia.
Lain halnya dengan Nayla sedari tadi dia mencoba menangkap tatapan Riko. Namun cowok itu selalu mengalihkan pandangan tatkala beradu pandang dengannya. Sebenarnya ada apa dengan Riko? Apa benar laki-laki itu marah karena kejadian malam itu, waktu mereka masih dibali. Benar-benar aneh. Kalau pun iya, alangkah kenak-kanakan sikapnya itu.
Drrt…. Drrt…. Lamunan Nayla buyar saat mendengar getaran dari ponselnya.
Pesan masuk dari Reynand.
“Sudah dimakan bekalnya?”
“Iya. Ini lagi makan dikantin.” Send.
“Sama siapa saja?”
“Temen.” Send.
“Kirim poto.”
“Apanya?” Send.
“Kamu. Potonya Nayla.”
__ADS_1
Nayla membaca pesan tersebut kembali dengan hati berdebar-debar. Kenapa semakin lama Reynand semakin berperilaku manis begini?
“Nggak ah bang. Malu.” Send.
“Cie chat dari siapa si?” Tia melihat ponsel Nayla kepo. Dengan buru-buru Nayla mematikan ponselnya. Iya, lebih baik dia matikan. Ingatkan waktu dia masih dibali. Reynand tak henti-henti mengiriminya pesan.
“Pelit ah lo Nay.” Tia bersungut sebelum akhirnya mencomot ayam goreng dari tempat bekal Nayla.
“Lagian lo kepo banget.” Suci menimpali Tia.
“Bukannya gitu biasanya kita bertiga kan nggak pernah ada yang namanya rahasia-rahasiaan.” Tia merunduk. Merasa ada ada yang disembunyikan darinya.
“Ya emang nggak ada. Iya kan Nay. Lo tau sendiri kan kalau persahabatan kita itu nggak pernah ada….” Suci menyahut sok santai. Padahal memang ada yang mereka sembunyikan.
Nayla langsung menyenggol lengan Suci. Dia tidak ingin sahabatnya itu banyak bicara dan nantinya malah membuat Tia semakin curiga.
~
Dilain sisi Reynand duduk dikursi sofa sembari senyam senyum menatap layar ponselnya. Membuat Dion semakin lama dan jenuh menunggunya. Sudah dua jam dia disini. Dion menghela nafas, sikap Reynand yang seperti ini belum pernah dia lihat sebelumnya.
Baik, dia tau sekarang orang yang ada dihadapannya itu sedang sangat menikmati bertukar pesan dengan seseorang yang juga dia kenal. Dion mengerling mengejek, baru tahu ya rasanya hati berbunga-bunga karena seorang wanita.
Dion melempar tatapan sebal. Kenapa? Ayolah, siapa tadi yang menyuruhnya untuk buru-buru datang sepagi mungkin kerumah megah dan mewah ini.
“Oke, oke. Sebentar gue mau balas satu pesan lagi.”
“Udah dulu ya. Nanti abang hubungi kamu lagi.” Send. Ceklist satu.
Reynand segera meletak ponsel disamping duduknya. Kemudian mulai fokus menatap Dion yang hampir dua jam menunggu.
“Pihak manajemen meminta kita untuk membayar denda yang cukup besar, jika lo serius melakukan pembatalan kontrak terhadap film ini.” Menyerahkan sebuah surat penting kepada Reynand.
“Kenapa? Bukannya syutingnya belum jalan? Mereka bisa kan mengganti pemeran utamanya.”
“Mereka maunya cuma lo yang jadi pemeran utamanya. Dengan lo jadi pemeran utamanya, meraka yakin akan memenuhi target pasaran. Mereka menggadang-gadang film ini akan jadi film besar.”
Reynand mengumpat kesal.
__ADS_1
“Ya lo tau lah pihak manajemen nggk mau rugi. Apalagi dengan eksistensi lo yang sekarang.”
Reynand mengusap rambutnya kasar. Bagaimana ini? Padahal dia sedang memulai sesuatu yang sudah dia rencanakan sejak lama.
“Jadi gimana Rey?”
Reynand belum menjawab. Dahinya berkerut memikirkan sesuatu.
“Gue bakal mikirin ini lagi.” Ucapannya disela helaan nafas.
“Untuk rencana lo, apa nggak bisa diundur dulu. Ya, maksud gue lo masih bisa ngelakuin hal itu setelah film ini selesai.”
“Nggak bisa. Gue nggak bisa nunda itu semua. Gue udah merencanakan semuanya sejak lama.”
“Dasar lo! Kalau gue jadi lo, gue bakal terima tawaran kakek lo buat gantiin jadi pemimpin perusahaan.”
Pikiran Reynandn terusik. Tidak bukan itu yang dia mau. Maksudnya bukan berarti dia tidak mau menggantikan posisi kakeknya. Tapi untuk sekarang ini terlalu cepat. Dia ingin membangun perusahaannya sendiri. Dari uang hasil keringatnya sendiri. Ia tahu ini susah. Tapi, niatnya sudah bulat.
Seketika tangannya mengepal kuat. Terpancar tekad yang kuat dari sorot matanya. Hingga beberapa saat mereka hening sejenak.
“Ngomong-ngomong.” Dion menatap Reynand serius.
“Apaan?”
“Lo udah jatuh cinta sama Nayla? Ya, maksud gue dari tadi lo senyum-senyum sendiri macam orang habis obat. Apa mungkin yang bikin lo begitu si Nayla.”
Pertanyaan Dion mengalirkan tanda tanya dihati Reynand. Jatuh cinta? Apa dia sudah jatuh cinta kepada gadis itu? Reynand mencoba berpikir. Entahlah, Reynand hanya saja ia merasa beberapa hari ini sangat suka menganggu Nayla. Dan juga, berada didekat gadis memuncul gairah sendiri baginya. Sudah beberapa kali tanpa sadar dia menyentuh Nayla. Untungnya gadis itu masih sangat polos. Setiap sentuhan yang diberikan Reynand selalu dianggap aneh dan asing olehnya.
*
*
*
*
*
__ADS_1
*