Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
S2 - Ternyata!


__ADS_3

•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°


Reynand masih menatap wajah Nayla yang diam dihadapannya. Laki-laki itu kini juga telah memakai kimono sama sepetri yang dipakai oleh istrinya. Ia ingin sekali menganggap perkataan Nayla tadi sebagai candaan, akan tetapi hatinya tidak bisa membohongi kalau ia sakit mendengar itu.


Bosan?!


Sementara itu wajah Nayla terus menampakkan raut datarnya. Ia enggan menatap bola mata Reynand yang terus menununtut jawaban.


Reynand masih menggenggam telapak tangan Nayla dengan erat. Ia terus menerka dan menelisik adakah gerangan yang mengusik istrinya sehingga tiba-tiba jadi seperti ini. Ia rasa Nayla begini karena hal yang baru saja diceritakan tadi. Semoga saja hal tersebut tidak mempengaruhi janin mereka.


"Aku mau mandi."


"Ayo, mandi berdua sama aku." Ajak Reynand.


Nayla melepas genggaman erat tangan Reynand pelan. lagi-lagi perempuan itu enggan untuk menatap suaminya.


"Aku udah bilang kan, kalau lagi gak srek sama kamu."


Ya tuhan, Reynand menyusuri helai rambut dengan jari-jari tangannya. Apa salahnya? Apa yang sudah dia perbuat sampai-sampai Nayla mengacuhkannya seperti ini?


"Aku salah apa sih, Nay?" tatapnya pada sosok yang mulai memasuki kamar mandi.


Mulut Reynand kembali terkunci oleh pintu kamar mandi yang tertutup. Lihat, bahkan mandi pun sekarang Nayla menutup pintu.


Sekarang Reynand semakin yakin kalau penyebabnya adalah wanita yang Nayla lihat didekat kampus tadi. Kenapa juga Nayla harus melihat perempuan itu berkeliaran. Membuat hubungan mereka mendadak rumit saja.


Beberapa saat kemudian, setelah Nayla selesai mandi. Reynand masih kesulitan untuk membujuk istrinya itu.


"Sumpah aku bener-bener gak ngerti kamu kenapa?"


"Apa jangan-jangan tadi aku terlalu kasar sama kamu? Makanya kamu mendadak bilang bosan?"


"Nay, jangan jahat gini plis. Aku bukan Joy Kinosi yang bisa menebak-nebak hal-hal rumit begini."


Dan, dengan sederet pertanyaan itu Reynand pun masih tetap diabaikan.


"Ya, udah kalau gitu. Mungkin kamu butuh waktu. Aku mandi dulu ya." Ujarnya pada Nayla yang tengah menyisir rambut didepan meja rias.


Dan, disaat itu Reynand telah selesai mandi. Nayla tidak ada didalam kamar. Sepertinya sang istri keluar selagi ia masih mandi.


Tubuh laki-laki itu kini hanya ditutupi oleh celana diatas lutut dan kaos lengan pendek. Biasanya Nayla akan menyiapkan baju ganti untuknya, namun seketika istrinya itu mengabaikan dan mengacuhkannya.


"Arghhh.... Ada apa sih sebenarnya? Bosan?!" Reynand menggaruk rambut basahnya kasar sembari melihat dirinya dicermin. Apa mungkin tingkah bumil salah satunya begitu, bisa tiba-tiba bosan terhadap suami?


Yang ia tahu dari beberapa karyawannya, ibu hamil memang terkadang bertingkah manja dan terkadang manjanya bisa berlebihan kepada sang suami. Tapi kalau bosan? Ayolah? Dia benar-benar jadi penasaran apa yang membuat Nayla tiba-tiba bosan padanya.

__ADS_1


Entahlah dia benar-benar tidak mengerti. Semoga nanti saat melahirkan istrinya itu tidak seperti istri salah satu temannya yang diceritakan menjadi bringasan dengan menarik-narik dan memukul suaminya. He, seram juga.


Saat itu menjelang tidur, lagi-lagi Reynand berusaha membujuk Nayla kembali.


"Ih, nggak usah peluk-peluk." Nayla mendorong tubuh Reynand hingga menjauh darinya.


"Rutinitas sebelum tidur Nay, aku mau elus-elus perut kamu." jelas Reynand sembari memegang pergelang tangan Nayla yang mendorongnya.


"Aku lagi gak mau dielus-elus...."


"Anak kita?"


"Sama, dia juga lagi gak mau dielus-elus sama kamu. Udah deh, jauhan dikit tidurnya."


Reynand menghela nafas berat. Kecewa, namun dia berusaha menahan diri oleh sikap aneh yang tidak dimengerti itu. Baiklah, lebih baik dia mengalah sekarang. Akhirnya dengan terpaksa laki-laki itu pun berbalik dan tidur dengan memunggungi tubuh istrinya.


Nasib! Nasib! Gini amat nasib malam ini!


Merasa hal ini sangat mengganjal, Reynand menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Ia memperhatikan sejenak tubuh Nayla yang memunggunginya. Istrinya ini sebenarnya kenapa ya tuhan?


"Nay, aku bener-bener bingung sebenarnya kamu itu kenapa? Kasih tau aku kalau ada hal yang emang mengganggu." Reynand menghela nafas berat. "Bosan? Jujur aku gak ngerti maksud perkataan kamu yang satu itu. Sekarang aku tanya, yang bikin kamu bosan mendadak sama aku itu apa?"


Melihat Nayla yang tidak menggubris dan masih berbaring memunggunginya Reynand pun bertambah frustasi.


"Ya udah, mungkin kamu lagi butuh waktu." Ia berbisik ditelinga Nayla dan mengecup puncak kepalanya pelan. "Selamat tidur, semoga mimpi indah." Reynand kembali membaringkan dirinya, kali ia memeluk guling dengan erat. Mendingan dari pada tidak sama sekali, istri tak mau dipeluk guling pun jadi.


Reynand menoleh kebelakang sejenak, apa mungkin Nayla sudah tertidur? Ia ingin berbalik, namun segera mengurungkan niatnya. Takut, sang istri terbangun dan menolaknya kembali.


Akhirnya laki-laki yang tengah dilanda kebingungan itu pun kembali pada posisi semula, sehingga mereka saling memunggungi.


Dan, disaat matanya mulai terpejam. Ia merasakan sebuah pergerakan dari arah belakang tiba-tiba yang membuat matanya perlahan terbuka kembali.


"Belum tidur Nay?" ujarnya kaget saat menoleh.


Bukannya menjawab perempuan itu malah menurunkan wajahnya dan mengecup bibir Reynand dengan pelan.


Reynand membelalak. Kenapa tiba-tiba? Tadi dia ditolak habis-habisan, sekarang?? Ia pun memutar tubuhnya.


"Kamu udah sembuh? eh maksud...."


Nayla seketika menurunkan bibirnya kambali, kali ini lebih lama. "Gimana rasanya...." setelah kecupan itu selesai.


"Enak!" sahutnya cepat.


Nayla lantas menyungginggkan senyumnya. "Gimana rasanya balik dikerjain?"

__ADS_1


Apa?


"Enak, kan rasanya dikerjain. Kamu sekarang tau kan gimana perasaan aku tadi pagi "


Dikerjai? Jadi ini balas dendam? Ya ampun, lucu ya bumilnya ini.


"Udah mulai berani ngerjain suaminya sekarang, ya." ujar Reynand sembari mendongak menatap Nayla yang berada diatasnya.


Perempuan itu tak menggubris ucapan Reynand. Ia malah menurunkan tubuhnya untuk bersandar didada suaminya.


"Niatnya mau ngerjain sampai besok pagi, tapi nyatanya malah gak bisa tidur, gak tega sama kamu." ia mengelus-elus dada Reynand dengan telapak tangannya.


"Bukan gak tega, nanti kamu malah kualat sama suami." tambah Reynand.


Nayla kemudian mengangkat kepala untuk mempertemukan wajahnya dengan wajah Reynand. "Kamu juga, tadi pagi ngerjain aku. Sakit hati aku tau gak."


Reynand benar-benar menahan senyum dibibirnya. Saling mengunci tatapan beberapa saat. "Iya deh, maaf. Aku gak akan ngulangin lagi. Sumpah dikerjai sama kamu kayak tadi gak enak banget Nay." Reynand mengangkat kedua jarinya.


Melihat hal tersebut Nayla terkekeh pelan. Kasihan yang baru saja dikerjai. Dengan bibir tersenyum ia pun mengelus kepala Reynand yang ada dibawahnya.


"Aku juga minta maaf, karena udah bikin kamu kebingungan." ujar Nayla.


"Jadi, kamu nggak bosan kan, sama aku?" tanya Reynand menelisik. Dasar, bumilnya ternyata jahil juga. Bisa-bisanya ia tidak sadar kalau sedang dikerjai.


Nayla mengangguk pelan. Keduan tangannya kini menangkup kedua sisi wajah Reynand.


"Padahal aku udah takut banget kalau...." Maka belum selesai Reynand menyelesaikan ucapannya kecupan bibir mungil itu kembali mengunci.


Reynand menerima kecupan itu hingga kemudian mereka saling memaut, dan menyusupkan indera perasa masing-masing. Menerima pelukan Nayla pada kepalanya dengan mesra.


Selesai oleh ciuman itu mereka pun kembali saling menatap. Lagi-lagi Reynand memejamkan mata karena Nayla mengecup seluruh sisi wajahnya, kening mata, hidung, pipi dan dagu tak luput dari sentuhan bibir mungil itu.


Kalau dipikir-pikir lucu juga mereka hari ini. Saling mengerjai satu sama lain. Sudah seperti ABG yang baru bertumbuh.


•°


•°


•°


•°



Mari sama-sama menunggu kelahiran dedek bayinya Reynand dan Nayla.

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2