
****
Reynand dan Nayla akhirnya benar-benar menuruti Mama Adel untuk ikut ke tempat Beta. Mereka akan berangkat menuju rumah sakit umum di kota itu.
Sementara Reynand dan Nayla duduk dibelakang, maka Mami duduk menemani Pak Tio menyetir didepan. Jadi ini dia maksud Mami menyuruh Pak Tio untuk ikut mereka. Benar saja Mami akan duduk sendirian dibelakang, jika Reynand yang menyetir. Karena tentu putra semata wayangnya itu akan duduk bersama sang istri didepan.
Beberapa saat kemudian mereka pun sampai. Memasuki rumah sakit tersebut, maka mereka langsung menuju instalasi kebidanan dan kandungan.
Selama berjalan menuju ruangan tersebut entah kenapa Nayla tiba-tiba merasa gugup. Takut-takut ia mulai memikirkan sesuatu yang tidak ia duga. Bagaimana kalau tiba-tiba ia.... Ah, Nayla merasa sesak memikirkannya. Nayla merasakan peluhnya tiba-tiba bercucuran. Ia benar-benar gugup seperti mau pingsan.
Menarik tangannya kuat dari genggaman Reynand dan ia pun berhasil membuat suaminya itu terkejut menatapnya.
“Nay, kamu? Nggak apa-apa?” Walau wajahnya tertutupi untuk menyamarkan diri, tapi mata Reynand dapat melihat dengan jelas raut wajah gelisah itu.
Tidak menjawab, maka Reynand langsung menggenggam tangan dingin yang berkeringat itu dengan erat.
“A-aku....” Nayla semakin gugup. Apa lagi tiba-tiba Mama Adel memanggil mereka dari kejauhan.
“Kita pulang saja?” Tawar Reynand khawatir.
Suara sepatu itu semakin mendekat, sementara Nayla masih ragu-ragu akan tawaran Reynand. Haruskah mereka pulang sekarang. Nayla benar-benar takut, ia benar-benar belum siap untuk ini.
“Duh, kalian berdua itu kenapa, sih? Ayo cepetan.”
Dan, seruan Mama tersebut berhasil membuat Nayla tergerak mengikuti.
Reynand berucap kembali. “Nay, kalau kamu nggak mau, kita pulang aja oke.”
“Nggak enak sama Mama.” Sahutnya pelan.
“Tapi, kamu kelihatan nggak nyaman.”
Nayla meneguk ludahnya pelan. “Nggak apa-apa.” Ucapnya meyakinkan diri.
Reynand kebingungan. Bagaimana pun mereka memang belum mempersiapkan untuk ini, jangankan itu, bahkan berencana saja mereka belum. Jadi wajar hal ini membuat mereka merasa sangat risau.
“Tanteee....” Beta langsung berdiri dari kursi duduknya. Menghampiri sang tante yang baru memasuki ruangan pribadi miliknya.
“Kamu kecapean ya?” Tanya Mama Adel melihat guratan lelah itu sehabis melepas pelukan mereka.
“Iya, nih lagi banyak pasien.” Sahut Beta masih tersenyum.
“Hai, Nayla. Kangen loh." Beta memeluk gadis yang terlihat menggemaskan baginya itu dengan erat. Ah, sepertinya dia memang sangat butuh pelukan.
"Iya, aku juga kangen mbak." Sahut Nayla membalas pelukan itu dengan erat.
“Kamu tambah cantik, deh.” Beta memang tidak segan memuji kalau hal itu memang sesuai kenyataan. Melepas pelukan itu sejenak, maka ia masih berusaha mengembangkan senyumnya saat melihat guratan takut dari gadis itu. Kenapa ya? Beta benar-benar dapat melihat kalau Nayla sedang gelisah dan memasang senyum dipaksa.
Setelah memperhatikan gadis itu beberapa saat. Maka Beta kembali berusaha tersenyum secerah mungkin.
“Rey....” Lagi-lagi raut yang sama. Ada apa dengan mereka berdua? Sembari memeluk sang adik, timbul banyak pertanyaan dikepala Beta. “Kamu sehat?”
“Sehat mbak.”
Melepas pelukan erat itu. Lagi-lagi Beta berusaha membaca arti guratan gelisah disana.
__ADS_1
“Ya udah, ayo duduk.” Perempuan energik itu berjalan cepat kembali ketempat duduknya.
Sementara Reynand duduk di dekat pintu masuk. Nayla dan Mama duduk berhadapn dengan Beta di meja kerja dokter muda itu. Jadi memang yang paling bersemangat itu adalah Mama Adel bukan Nayla atau pun Reynand.
“Ini Bet, tante mau kamu periksa Nayla dulu.” Mama Adel to the point sembari mengusap bahu menantunya itu pelan.
Deg! Jantung Nayla langsung berdegup kencang. Jadi dia benar-benar akan diperiksa.
Beta tersenyum. Tantenya ini benar-benar tidak sabaran. Dia tidak lihat apa gadis yang akan dieperiksanya sudah memucat. Mungkin Mama Adel terlalu bersemangat jadi tidak melihat situasi dan suasana hati sang menantu.
Maka sebelum memulai Beta mencoba tersenyum secerah dan sebersahabat mungkin. Ia hanya tidak ingin nantinya Nayla bertambah gugup.
“Nayla, kamu tau, mau diperiksa apa?” Mungkin itu pertanyaan bodoh. Namun Beta merasa ia harus memastikannya sendiri, kalau gadis didepannya ini tau apa alasan ia dibawa kesini.
“Iya, tau mbak.” Jawabnya singkat.
Lagi-lagi Beta mencoba tersenyum. “Baiklah kalau kamu sudah tau, jadi tadi tante Adel telpon mbak. Katanya tante mau kamu periksa kandungan.”
Nayla mengangguk dan tersenyum.
Maka beberapa saat kemudian setelah banyak berbasa-basi dengan gadis yang masih gugup itu, Beta pun memulai pertanyaan dengan hati-hati. “Apa kamu akhir-akhir ini ada keluhan seperti, keram diperut?”
"Nggak ada mbak." Nayla menggeleng. Dan, Beta pun mangut.
“Kamu sudah datang bulan periode ini?”
“Harusnya sih, beberapa hari lagi mbak.” Sahutnya lagi.
Pemeriksaan itu terus berlangsung sembari Beta terus menanyakan tanda-tanda seputar kehamilan lainnya. Dan, lagi-lagi pertanyaan itu dijawab gelengan oleh Nayla.
“Mbak boleh tau, kapan pertama kali kalian berhubungan?”
“Apa mbak?” Nayla tidak begitu yakin dengan tanggapannya tentang pertanyaan itu. Berhubungan?
“Berhubungan suami istri, kapan pertama kali dilakukan?" Beta mempertegas pertanyaannya.
Berhubungan Badan?
Ah, Nayla langsung menunduk malu. Memangnya pertanyaan itu penting ya, dijawab?
“Nay, jawab aja.” Paksa Mama Adel. Nayla tidak tahu saja tadi Mama Adel hampir keceplosan menceritakan semua yang ia lihat pada hari itu. Tapi untung saja mulutnya masih bisa di rem.
Ragu-ragu Nayla pun menjawab itu. “Sekitar.... Satu minggu yang lalu.”
“Ha?!” Beta membelalak kaget. Sudah menikah selama itu dan mereka baru melakukannya. Beta beralih pandang memandang Reynand yang kebetulan sedang menoleh menatapnya.
Seriuskah? Wah, benar-benar diluar dugaan. Jadi maksud Reynand menduga secara alami waktu itu adalah menunda yang sebenar-benarnya menunda. Menahan diri selama itu, bagi seorang lelaki? Itu benar-benar hal luar biasa.
Sementara Nayla semakin menunduk malu. Beta mulai mengkondisikan rasa terkejutnya itu, walaupun ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Te....”
“Iya....” Mama Adel menyahut.
“Beta belum bisa memastikan apa-apa, karena Nayla juga belum merasakan tanda-tanda kehamilan, apalagi mereka baru....” Beta berdehem sejenak. “Mereka baru melakukannya sekitar beberapa hari yang lalu. Mungkin sekitar dua minggu lagi tante bisa bawa Nayla lagi.”
__ADS_1
Terlihat Mama Adel sedikit kecewa dan Nayla dapat merasakan itu. Ia pun tertunduk karena merasa terenyuh telah membuat Mama Adel seperti itu.
“Em, bagaimana kalau periksa kesehatan terlebih dahulu. Maksudnya kamu harus tahu kesiapan tubuh dan rahim kamu. Apalagi kamu masih sangat muda, pemeriksaan menyeluruh itu penting.” Jelas Beta lagi. “Kamu belum pernah kan, memeriksakan diri?”
“Belum pernah mbak.” Jawab Nayla kaku.
Menuruti saran Beta untuk memeriksa dirinya, maka ia pun berbaring diranjang pasien. Nayla tidak tahu Pasti apa yang Beta lakukan terhadap tubuhnya. Namun, yang jelas ia menuruti prosedur itu.
Beberapa saat kemudian mereka kembali duduk ke tempat semula setelah pemeriksaan itu selesai. Dan Beta pun mulai menjelaskan semuanya.
“Kondisi kesehatan kamu cukup bagus. Walaupun kamu masih muda, tapi rahim kamu sudah cukup siap untuk dibuahi. Terus jaga kesehatan ya. Pola makan......" Beta terus menjelaskan semuanya tentang kehamilan.
Entah karena Beta orangnya sangat ramah atau karena penjelasan Beta yang menenangkan. Nayla jadi tidak setakut tadi. Sedikit demi sedikit ia paham apa yang dijelaskan oleh dokter cantik itu.
Beberapa saat kemudian. Mereka pun selesai. Namun sebelum itu Beta meminta waktu untuk berbicara sebentar dengan Mama Adel sementara Reynand dan Nayla terlebih dulu keluar.
“Ada apa Bet?” Mama Adel masih terduduk berhadapan dengan sang keponakan.
Menghelas nafas Beta pun berusaha berucap. “Beta ngerti, tante sangat berharap Nayla bisa hamil secepat mungkin. Namun melihat raut wajah keduanya tadi, bahkan Beta merasa belum yakin tante. Mereka terlihat belum siap untuk ini.”
“Mereka? Reynand juga?"
"Iya tante."
"Kenapa?"
“Tentunya jika Nayla hamil maka Reynand akan menjadi ayah." Beta rasa ucapannya memang harus diperjelas.
"Apa lagi tadi Beta mendengar kalau mereka belum lama melakukan itu. Maksudnya itu berarti mereka baru saja menerima satu sama lain. Mereka menikah karena dijodohkan tante. Dan, pastinya butuh waktu sehingga mereka bisa sampai pada tahap itu sekarang. Bagaimana mereka memikirkan soal anak sementara hubungan mereka saja sepertinya baru dimulai.”
Mama Adel tertunduk, mau bagaimana lagi apa yang dikatakan oleh Beta memang benar.
“Tubuh dan rahim Nayla memang sudah siap untuk itu, akan tetapi yang pastinya memiliki kesiapan mental menjadi orang tua itu yang lebih penting.”
Mama Adel termangu. Ia benar-benar lupa soal itu. Benar apa yang di katakan oleh Beta, mental kesiapan menjadi orang tua itu lebih penting. Dalam hati ia pun memutuskan untuk menyerahkan semuanya pada Nayla dan Reynand. Bagaimana pun, itu adalah urusan mereka berdua.
Tapi mau bagaimana lagi, Mama Adel masih sangat berharap soal ini.
Tertunduk saat Mama Adel memasuki mobil. Melihat raut wajah itu Nayla merasa bersalah.
Reynand melihat semburat penuh kegundahan itu. "Nggak apa-apa. Jangan terlalu dipikirin." ia mengelus pundak itu menenangkan, dirinya sangat paham bahwa hati Nayla sangat sensitif. Sedari selesai pemeriksaan gadi sang istri seperti ditekan pikiran.
Harusnya, Nayla ingin sekali tidak memikirkan itu. Tapi, melihat Mama Adel kecewa, ia seperti melihat Maminya sendiri. Jantungnya berdenyut karena ini.
Jadi dia harus bagaimana?
Lagi-lagi gadis itu tertunduk dalam gumulan rasa bersalahnya.
*
*
*
*
__ADS_1
Like, vote, komen.
Happy Reading!