
****
Malam hari itu, sudah satu hari sejak kepergian Reynand keluar kota. Entah sudah berapa kali Nayla menghubungi suaminya setiap saat. Setiap Nayla menelepon Reynand tentu saja langsung menjawabnya. Tidak sekali pun ia mengabaikan telepon dari istrinya.
Nayla memandangi wajah suaminya dari balik layar. Ia terus saja protes karena Reynand tidak bisa pulanh cepat. Entah kenapa ia sangat ingin agar Reynand pulang secepatnya.
"Janji ya, besok pulang."
"Iya Nay, aku janji. Sudah makan.... jangan lupa makan, jaga kesehatan. Sebentar lagi melahirkan." Tanya Reynand yang melihat pantulan wajah istrinya melalui pantulan layar ponsel.
"Iya, abang juga jangan lupa jaga kesehatan. Sebentar lagi anaknya lahir, nanti siapa yang jagain anaknya kalau ayahnya sakit." Nayla berbalik menasehati.
"Iya sayang, aku pasti akan jagain kalian. Anak kita mana**?" tanya Reynand.
Nayla mengarahkan ponsel kearah perutnya. Seperti biasa Reynand mengajak sang anak bercanda mengobrol.
"Sayang.... tunggu ayah pulang ya. Ingat jangan keluar sebelum ayah pulang.
"Iya, ayah." Nayla menyahuti layaknya anak kecil. "Makanya ayah cepat pulang dong, aku kangen."
Begitulah, beberapa saat kemudian akhirnya obrolan kedua pasutri itu pun selesai.
Nayla kembali bersender disisi ranjang sembari mengelus-elus perutnya pelan. Sebenarnya sedari kemarin entah kenapa ia merasakan perut terus bergejolak ringan. Malam ini pun juga seperti itu. Namun, ia berusaha untuk mengabaikan hal tersebut karena merasa hanya sakit perut biasa dan berusaha untuk tidur.
Akan tetapi, karena rasa kontraksi yang ia anggap kontraksi palsu itu terus-terusan datang itu. Nayla pada akhirnya terbangun beberapa kali pada malam itu.
****
Keesokan harinya, dipagi hari. Nayla kembali merasakan perutnya bergejolak dan sakit semakin terasa. Ia yang tengah menyusun baju-baju dilemari kemudian mendudukan tubuhnya disisi ranjang.
"Kenapa sih dek, perut Mama kok sakit terus ya." Nayla meringis memegangi perutnya. Ia jadi berpikir apa jangan-jangan ia mau melahirkan. Tapi, bukannya Beta bilang ia melahirkan sekitar satu minggu lagi.
"Aw, jangan-jangan kamu beneran mau keluar ya dek." ringis Nayla kembali saat rasa sakit itu datang. "Duh..... huh..." ya ampun Nayla rasa dia benar-benar akan segera melahirkan. Akhirnya perempuan yang tengah dilanda sakit diperutnya itu pun berniat keluar kamar untuk menemui Mama Adel.
Belum sampai Nayla menuju kamar Mama, tiba-tiba ia terduduk saat kembali merasakan kontraksi yang menyerang.
__ADS_1
"Mbak Nayla...." mbok Yana yang kebetulan baru saja membersihkan kamar kakek pun menghampiri. "Kenapa, mbak Nayla mau melahirkan."
"Perut aku sakit bi...." Nayla terus meringis.
"Ya ampun Nayla." Mama Adel yang baru keluar kamar pun ikut menghampiri. "Kamu mau melahirkan sayang?" Mama Adel mengusap kening dan juga mengelus kepala Nayla sekaligus.
Nayla tersengal sembari memegangi perutnya. "Maaa.... sakit." terlihat keringat mengalir dari pelipisnya.
"Ya, sudah. Kita kerumah sakit sekarang."
****
Akhirnya saat itu Nayla pun sudah sampai dirumah sakit. Semua orang benar-benar tidak menyangka kalau Nayla akan akan melahirkan hari ini. Sementara kakek dan Romeo menunggu diluar. Mama Adel dan mami Miska masuk keruangan berasalin.
Mama Adel terus-terusan berusaha menghubungi Reynand. Memberitahukan kepada sang anak yang tengah mengurusi proyek jembatan yang hampir saja ambruk di bali akibat kesalahan teknis pada pembangunan.
Sementara itu mama Miska terus berusaha menenangkan putrinya yang saat itu tengah bolak-balik melangkah sambil sesekali terduduk karena kontraksi yang tiba-tiba datang. "Kenapa kamu nggak bilang Nay kalau semalam sudah ngerasa sakit."
"Aku nggak tau Mi kalau udah waktunya.... aaghh... kan mbak Beta bilang satu minggu lagi. Aku kira cuma sakit perut biasa." Nayla terus merasakan sakit yang tak tertahankan. Ia berjalan kesana kemari mengelilingi ruangan bersalin. Ia melakukan itu karena tadi Beta memang menyarankan dia untuk berjalan-jalan agar rasa sakitnya tidak terlalu terasa.
"Sakit Mi...." ujar Nayla sembari memegang tangan Mami keringatnya bercucuran dari pelipisnya.
"Sebentar, Reynand dan Aldi sedang dihubungi. Kayaknya mereka masih sibuk." sahut Mama Adel.
"Anak kamu itu gimana sih?!" Dengus mami Miska. "Seharusnya kalau istri mau melahirkan itunya siaga."
"Iya, aku akan berusaha menghubungi Reynand." jujur saja mama Adel sudah merasa tidak enak saat itu.
"Mami sakit...." Nayla mendekati dan memeluk sang ibu terus memegangi tangan Maminya dengan kuat. Nayla ingat kalau semalam suaminya itu mengatakan dia akan melakukan rapat berasama menteri pembangunan hari ini dan kemungkinan tidak bisa dihubungi.
Merasa sang anak belum bisa dihubungi mama Adel semakin gelisah. "Duh, ya ampun kemana sih Reynand?!" Mama Adel mondar mandir sembari berusaha menghubungi sang anak.
Tak berapa lama Beta pun datang dan memeriksa Nayla. "Nay, sabar ya ini penyumbatnya sudah mau keluar."
Nayla tidak mengerti penyumbat yang Beta maksud. Yang dia fokus sekarang perutnya yang terus serasa dikeruk. "Mbak aku nggak kuat, aku mau operasi aja." pinta Nayla tak tertahankan. "Sakit banget..."
__ADS_1
"Sabar ya Nay, memang begitu kalau melahirkan. Yang kuat ya, kamu sebenarnya bisa kok untuk melahirkan normal. Tubuh kami itu kuat dan denyut jantung kamu juga bagus." jelas Beta.
Nayla menggeleng, ia benar-benar sudah tidak sanggup lagi. Ia rasa perutnya serasa digiling, rasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Ya Tuhan, Nayla benar-benar tidak tahan lagi. Suaminya ini kemana sih? Rasanya ia ingin menjambak Reynand saat ini juga. Rasanya sangat menyebalkan tat kala Reynand tidak ada disampingnya saat ini.
"Reynand aku benci kamu." pekiknya yang membuat semua orang yang ada diruangn itu menoleh. "Kamu kemana sih? Anak kamu mau lahir."
"Nayla sabar, jangan teriak-teriak begitu." Mami Miska mencoba menenangkan. "Lagian suami kamu ini kemana sih?" ujarnya kasihan pada sang anak.
"Mami aku gak kuat...." sahut Nayla yang terlihat uring-uringan.
Mami Miska mendesah. "Sabar ya Nay, sabar...."
Beberapa saat kemudian Nayla merasakan ia ingin buang air. "Huh, aku mau kekamar mandi."
"Ya sudah, ayo Mami temani." Mami menggandeng Nayla.
Nayla benar-benar tidak menyangka buang air disaat kontraksi bisa sesakit ini. Sangat-sangat luar biasa. Huh, ternyata begini perjuangan menjadi seorang ibu ternyata.
Tak berapa lama Mama Adel mendatangi Nayla yang baru keluar dari kamar mandi dengan ponsel ditangannya.
"Rey, cepat lihat istri kamu sudah mau melahirkan, dia lagi kesakitan." ujar Mama Adel sembari memperlihatkan Nayla dari layar ponselnya.
"Nay, sayang. Kamu benar-benar sudah mau melahirkan? Kamu serius?" Reynand yang melihat Nayla dari layar ponsel nampak terkejut.
Nayla yang menahan sakit ditubuhnya kemudian menatap wajah sanga suami dari layar ponsel dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan. "Kamu kesini sekarang, ini anak kamu sudah mau lahir. Tanggung jawab kamu."
Melihat raut wajah istrinya yang terlihat sangat kesakitan Reynand langsung terhenyak."Iya aku akan berangkat sekarang..."
*
*
*
__ADS_1
*
Happy Reading.