
****
Reynand terus mengejar Nayla yang berjalan cepat didepannya. Ya ampun, mau kemana istrinya ini. Ia terus mengejar sementara Nayla sudah hampir tiba dipinggir jalan. Ya tuhan, jalanan sedang ramai-ramainya. Maka dengan segera Reynand pun mempercepat langkahnya.
"Nay...." Reynand berhasil meraih tangan Nayla yang ada dihadapannya dengan terengah-engah.
"Lepasin!"
Melihat itu Reynand pun langsung memeluknya erat sehingga membuat Nayla seketika terdiam dipelukannya. "Maaf, aku nggak bermaksud." ia menelan ludah kelu karena telah merasa bersalah. "Kita masuk kedalam mobil, ya." Menggiring Nayla menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.
"Kamu kenapa kayak gitu tadi?" Pertanyaan pertama yang Reynand lontarkan saat mereka baru memasuki mobil.
Nayla masih enggang menjawab, ia bungkam dengan nafas yang masih menderu tidak teratur.
Melihat itu Reynand paham, maka sembari menunggu emosi Nayla mereda ia membenahi anak rambut istrinya yang masih berantakan. Benar-benar luar biasa, tidak pernah sekali pun ia melihat Nayla seganas tadi.
"Nay...."
Reynand mengehela nafas karena Nayla masih tidak ingin berbicara. "Kenapa kamu kayak gitu tadi? Hem?"
Nayla yang sadar emosinya sudah terlalu berlebihan kemudian berusaha untuk mengendalikannya. Ia lalu berbalik menatap Reynand. "Aku begitu karena alasannya." ujar Nayla masih dengan berusaha mengendalikan diri.
"Kenapa sayang?" Reynand mengusap kepala Nayla pelan. "Kamu biasanya nggak pernah begini? Aneh tau gak. Kamu jadi orang yang Beda."
Akhirnya dengan perlahan Nayla pun menceritakan asal muasal kenapa ia bisa menjadi bar bar seperti tadi. Sementara Reynand menyimak dengan seksama ia pun berusaha memahami apa yang diceritakan oleh istrinya itu.
"Memang dia pikir aku nggak punya hati apa?! Memang aku bisa nahan diri kalau dikata-katain terus begitu?! Aku udah coba diam selama ini. Tapi mau gimana lagi, tadi itu aku udah emosi. Aku gak bisa ngendaliin diri lagi." Begitulah rentetan aduan Nayla kepada suaminya.
Reynand paham, dengan serta merta dia lalu mencium kening istrinya dengan pelan tapi cukup lama. "Ya udah, sabar, aku takut banget Nay lihat kamu seperti tadi."
Nayla terdiam sejenak. Sebenarny dia adalah orang yang masa bodoh dengan cibiran orang. Terserahlah orang mau mengatainya apa asalkan ia tidak mendengarnya seperti tadi. Intinya dalam garis besar ia adalah orang yang tidak suka memperbesar masalah dan lebih ingin memendamnya sendiri.
"Ya udah kalau begitu kamu tunggu disini dulu, biar aku yang bicara sama dia."
Nayla menggeleng pelan. "Nggak usah. Nanti masalahnya tambah panjang lagi." ujarnya cemas. Cukup dia saja yang sudah berperilaku memalukan seperti tadi. Kalau boleh memilih ia sebenarnya tidak ingin melakukannya, namun apa daya ia saja tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Reynand kemudian menatap Nayla dalam-dalam. "Kamu tenang aja, oke. Aku gak akan memperpanjang masalah ini. Tunggu disini ya."
Nayla menarik tangan Reynand tidak yakin. "Bener." ucap Nayla cemas.
__ADS_1
Reynand mengangguk pasti dengan senyum meyakinkan.
"Janji...." tambah perempuan itu.
"Iya sayang...."
Setelah melihat raut wajah, gestur tubuh dan juga ucapan yang meyakinkan itu maka Nayla pun membiarkan Reynand untuk bergegas keluar dari mobil.
Dari jauh Nayla melihat Reynand seperti sedang menghampiri kedua sahabatnya, Riko dan juga Tia yang masih berada menunggu diluar mobil mereka. Entah apa yang Reynand tanyakan kepada keduanya yang jelas suaminya itu terlihat serius. Sejurus kemudian ia melihat Reynand berjalan cepat dengan tubuh tegapnya menghampiri Bianka yang berdiri disisi taman.
Tapi, kalau dipikir-pikir kenapa dia terlihat seperti mengadu suaminya begini, ya? Tapi, kan memang seperti itu. Tadi ia mengadu kepada suaminya. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, semoga saja setelah ini Bianka tidak mengatainya tukang mengadu kepada suami.
Tak berapa lama suara ketukan kaca mobil menyadarkannya. Ia lihat dari balik kaca. Riko dan juga Tia!
"Nay, laki lo gak bakalan ngapa-ngapain si Bianka, kan?" Tanya Tia cemas setelah pintu mobil terbuka.
Riko yang ada disampingnya mendesah. "Paling cuma dinasehatin dikit." sahutnya santai sembari kudua tangan berada didalam saku celana.
Sejurus kemudian Nayla dan Tia menoleh kearah Riko secara bersamaan.
"Tau dari mana?" Tanya Nayla heran.
"Bisa diem gak?" ujar Riko pada Tia hanya menggunakan gerakan bibir.
Lagi-lagi Tia terkekeh. "Ceritain dong ke Nayla gimana perasaan lo dikasih tau sama Reynand kalau dia sama Nayla udah nikah waktu itu."
Lagi-lagi Riko bungkam. Ia menyentuh tengkuknya kaku lalu mengajak Tia untuk segera pulang. "Nay, kita berdua pulang dulu, ya." ucap Riko kemudian.
"Gue belum mau pulang.... cerita dulu dong sama kita gimana perasaan hmffft...." Tia tidak bisa melanjutkan ucapannya karena sejurus kemudian Riko membekap mulutnya lalu menggiringnya pelan.
"Kita pulang Nay. Sampai jumpa besok." ujar Riko buru-buru.
Nayla tersenyum memandang kedua sahabatnya itu. Ah, entah kenapa ia jadi rindu saat masa-sama SMA. Dulu mereka selalu bersama dan sekarang juga. Terkecuali Suci, Nayla jadi sangat rindu dengan sahabatnya yang satu itu.
Seketika lamunannya tiba-tiba buyar oleh pintu mobil bagian kemudi yang tiba-tiba terbuka. Reynand ia lihat sangat tenang masuk kedalam mobil dan langsung menatapnya penuh senyuman setelah pintu mobil tertutup.
Melihat raut wajah Nayla yang harap-harap cemas, Reynand kemudian mengusap kepala istrinya itu pelan.
Nayla sepertinya tidak perlu banyak bertanya lagi. Ia yakin suaminya hanya memberi petuah kepada Bianka seperti yang ia dengar dari Riko tadi. Karena yang ia tahu sebenarnya suaminya itu adalah orang yang sangat jarang terbawa amarah.
__ADS_1
"Jangan kayak tadi lagi ya."
"Tergantung." Jawab Nayla manyun. "Kalau gak lagi dikendaliin hormon...."
Reynand tersenyum paham. Ia memang tidak mengerti bagaimana perasaan seorang wanita yang dikendalikan oleh hormon datang bulan atau pun hormon kehamilan. Namun, yang pastinya menurut yang ia dengar dari beberapa karyawannya dikantor peraturannya adalah agar selalu menjaga perasaan wanita yang sedang datang bulan dan terlebih juga yang sedang hamil seperti istrinya saat ini.
Nayla itu pada dasarnya orang yang sangat sensitif, ditambah lagi sekarang ia sedang hamil. Jadilah sifat sensitifnya itu bertumbuh berkali lipat.
"Kamu udah tenang, kan?" Reynand mengelus kepala Nayla pelan. Lagi-lagi hal itu ia lakukan demi ketenangan istrinya. "Jangan begitu lagi, ya." Ia kemudian mengelus-elus perut Nayla pelan. "Kasihan nanti anak kita...." Kasihan kalau nanti waktu lahir anak mereka sikapnya jadi bar bar. Eh,
Nayla mengangguk pelan.
Reynand tersenyum, dan lagi-lagi ia memberi kecupan dikening sang istri. Memang harus begitu karena ia teramat menyanyangi istrinya. "Kita pulang, oke."
"Nggak mau minta maaf dulu...." ucap Nayla tiba-tiba.
"Soal?"
"Tadi udah ngebentak." bibirnya mencebik dengan wajah memerah. Jujur saja dibentak seperti tadi oleh Reynand entah kenapa membuat hatinya sakit jika mengingatnya.
Reynand menghela nafas panjang. Menahan senyum geli diwajahnya ia pun menoleh. "Maaf ya, Nay. Aku bener-bener gak ngerti lagi gimana caranya menghentikan kamu yang tiba-tiba se-...." -buas, Reynand sebenarnya hampir keceplosan ingin mengatakan Nayla buas. Tapi, sepertinya ia harus mengganti kata itu, takut nantinya sang istri tersinggung. "Pokoknya aku minta maaf, aku ngelakuin itu karena refleks dengan tingkah tidak terduga kamu tadi." Reynand menjeda ucapannya sejenak denga tatapan masih mengarah pada istrinya penuh harap. "Jadi? Dimaafin kan?"
Nayla menggeleng dan bungkam sejenak membuat Reynand tiba-tiba kebingungan. "Nay, aku tadi serius cuma refleks...."
Melihat hal tersebut Nayla terkekeh. "Iya aku maafin...." ujarnya geli.
Reynand pun nyengir kuda. Dasar bumilnya ini ada-ada saja, tadi bersikap ganas sekarang malah sempat-sempat mengerjainya. Tapi kembali lagi, ia harus sabar. Ingat rumusnya perempuan itu selalu benar, apalagi sekarang ini dihadapannya adalah sang istri yang sedang mengandung anak mereka. Maka kebenarannya sebagai perempuan pun bertambah berkali-kali lipat.
*
*
*
*
Oh, iya pastinya penjelasan dipart ini terlalu panjang. Itu aku lakukan karena agar kalian tidak salah paham kenapa sikapnya Nayla berubah jadi begitu.
Jika berkenan mampir kerumah "Alfiya", juga. Soalnya Alfiya masih belum ramai nih. Baru 10 eps aku up-nya. Belum lancar soalnya masih lanjutin cerita Rey sama Nay juga.
__ADS_1
Happy Reading!