
****
Reynand langsung merasakan kekosongan saat satu persatu pakaian Nayla dikeluarkan dari lemari pakaian untuk dimasukkan kedalam koper. Hatinya tiba-tiba menjadi pilu. Dirinya tidak bisa memikirkan bagaimana jadinya jika Nayla benar-benar dibawa pergi.
Hampa, ia yakin hatinya akan hampa kembali seperti dulu lagi. Kembali seperti dulu saat ia sama sekali belum bersama Nayla. Perempuan itu adalah jantung hidupnya sekarang. Dan, keinginan Mami Miska untuk membawa Nayla pergi membuatnya merasa seperti kehilangan kehidupan.
"Mi aku mohon...." Ucap Reynand lirih.
Mami tetap tidak bergeming. Ia sedari tadi terus berusaha mengabaikan Reynand yang berusaha menahannya.
"Mami aku mohon jangan begini...." Kali ini Nayla yang berucap.
Mami spontan mengehentikan gerakan tangannya. "Mami melakukan ini demi kamu Nay. Mami nggak mau Reynand terus-terusan menyakiti kamu. Tadi kamu sudah ditampar lalu selanjutnya? Mami nggak bisa membayangkan apa yang selanjutnya terjadi.... Mami cuma nggak mau kehilangan kamu." Lirih Mami pelan sambil meneruskan kegiatannya untuk mengeluarkan pakaian-pakaian Nayla dari dalam lemari.
~
Begitulah, Reynand hanya bisa terduduk disofa saat Mami mulai membereskan dan membawa masuk barang-barang Nayla kedalam mobil untuk dibawa pulang.
Keadaan yang benar-benar membuatnya sulit untuk berpikir. Pikirannya sekelebat kembali pada awal saat ia dipaksa menikah oleh kakek. Pernikahan yang sempat ia tolak dan tidak diinginkan. Semuanya terasa begitu cepat. Mereka menikah lalu sekarang dibuat seperti ini.
Ia pikir pernikahannya dengan Nayla sudah cukup bahagia. Namun rupanya belum, bahkan mereka masih berada di antara bayang-bayang orang tua mereka.
Mama Adel mengerti kegundahan hati Reynand. "Tidak akan lama Reynand, mungkin Mami hanya sedang emosi saja sekarang." mengelus bahu putranya.
"Mama nggak ngerti perasaan aku." Sahutnya datar.
"Mama ngerti lebih dari ini Reynand." Sesungguhnya dia mengerti, sangat mengerti lebih dari yang Reynand tahu. Bagaimana pun dulu dia juga pernah mengalami yang namanya perpisahan.
"Del, aku mau bicara sama kamu sebentar." Begitulah Mami meminta waktu Mama Adel saat kembali memasuki rumah seusai memasukkan barang-barang kedalam mobil.
"Iya, ayo kita bicara." Sahut Mama serius.
Mami melirik Reynand seperti meminta waktu untuk membiarkan ia dan Mama untuk berdua saja.
"Aku akan temui Nayla sebentar." Reynand berucap tanpa menatap Mami.
"Jangan lama-lama. Sebentar lagi Mami akan segera bawa dia pulang, keputusan Mami tidak bisa diganggu gugat Reynand. Setelah ini tolong kamu jangan temui Nayla dulu sebelum kamu benar-benar memberikan pelajaran kepada perempuan itu. Tolong.... Mami minta tolong sama kamu."
"Terserah kamu mau membenci Mami karena ini. Mami tidak perduli." Begitulah, lontaran kata yang sedari tadi keluar untuk mematahkan hati menantunya.
Mendesah pasrah, dan Reynand bungkam. Dia menghormat, sangat-sangat menghormati Mami. Tidak ada rasa benci dihatinya hanya saja keadaan ini memang tidak bisa dia terima.
Sesaat kemudian, Nayla sedikit terkejut dengan pintu mobil yang dibuka secara tiba-tiba. Menoleh ia mendapati wajah tak asing menatapnya dengan senyuman menyejukkan.
Reynand masih memasang seyumnya saat memasuki mobil lalu duduk disebelah Nayla yang menyorotnya dengan tatapan sendu.
Mereka sesaat bertatapan lama, kemudian Nayla merasakan tangan itu terangkat untuk membelai rambutnya. Sementara tangan satunya lagi digunakan untuk mengelus pipinya yang masih terasa terbakar akibat tamparan tadi.
"Kamu pucat." Dua kata yang terlontar dari mulut Reynand untuk menggambarkan keadaan Nayla saat ini.
"Belum makan, kan?" Tanya Reynand kemudian sembari masih mengelus rambut halus itu pelan-pelan. "Nanti sampai rumah kamu makan ya, takutnya kamu mual lagi kayak tadi pagi."
"Masih mual?" Tanya Reynand lagi.
"Enggak, mualnya cuma tadi pagi aja."
Nayla mengigit bibirnya yang tiba-tiba bergetar. Dan, perlahan air matanya pun tumpah tanpa diduga.
__ADS_1
"Aku minta maaf...." Begitulah kata yang keluar dari gerakan bibir gemetar itu.
Reynand yang sedari tadi hanya tertuju menatap rambut Nayla tiba-tiba tersentak oleh ucapan itu. Ia kemudian berusaha menghadap wajah pilu yang memang sedari tadi tidak sanggup ia tatap.
"Aku salah...." Isak perempuan itu lagi.
"Nayla...." Sambar Reynand cepat.
"Aku nggak bisa jaga diri sendiri...." Nayla menunduk dengan tetesan-tetesan air mata yang menimpa pahanya.
"Nay...."
"Aku nggak bisa membela diri untuk ngelawan Airin...." Lalu tangis itu semakin pecah.
"Kamu nggak salah apa-apa Nay, itu bukan salah kamu." Ucap Reynand kemudian.
"Aku terlalu rapuh...."
"Kamu sempurna Nay...."
Nayla menggeleng seolah tidak menerima apa yang dikatakan Reynand.
"Aku juga udah bikin kamu dimarahin habis-habisan sama Mami." Lalu menjeda sejenak. "Mungkin lebih baik kita begini, aku harus ngejauh. Kalau aku selalu ada didekat kamu pastinya aku akan selalu membawa masalah."
"Nay, kamu kenapa ngomong begini?" Maksud Reynand kenapa jadi Nayla yang berpikir kalau dia pembawa masalah.
"Aku juga udah ngerusak masa depan kamu."
Astaga! Reynand semakin tidak habis pikir. Masa depan apa? Siapa yang sudah mempengaruhi Nayla seperti ini? Apa mungkin Airin? Apa saja yang sudah dikatakan wanita itu tadi.
Entahlah, sebenarnya Nayla tidak ingin mempercayainya. Akan tetap kata-kata yang diucapkan Airin saat mencercanya tadi terus terngiang-ngiang ditelinganya.
"Reynand itu punya cita-cita, gue tau. Dan, gue nggak percaya sih dia udah nikah di usia semuda itu. Karena gue yakin itu bakalan merusak masa depannya dia."
"Apa Airin yang bilang itu sama kamu?" Reynand menerka.
Terdiam, Nayla menunduk seolah menunjukkan tebakan itu adalah benar dimata Reynand.
Reynand memejamkan mata dan paham.
Astaga! Reynand mencelos, ia sangat sadar berbicara dengan Nayla harus berhati-hati. Kalau tidak beginilah jadinya.
"Aku pasti bikin abang gak bahagia menikah sama aku."
Reynand pun terdiam menatap Nayla dengan sorot mata nanar. Ya tuhan Naylaaaaa, apalagi ini. Reynand benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya.
Maka yang dilakukan Reynand selanjutnya adalah mencium bibir itu pelan. "Aku lebih bahagia setelah menikah sama kamu.... aku menemukan kebahagiaan saat bersama kamu Nay."
Nayla memulai lagi. "Tapi sejak menikah dengan aku...."
"Sejak menikah dengan kamu aku bahagia, tidak ada yang salah dengan pernikahan kita, sayang."
Nayla menunduk, tapi kenyataanya tidak seperti itu. Dia merasa dirinya memang membawa masalah besar dalam hidup Reynand. Jalan pikirannya menggiring dirinya untuk berpikir seperti itu.
"Jangan menyalahkan diri kamu lagi. Aku nggak mau dengar itu. Aku mencintai kamu, aku sayang kamu. Kamu hidupku sekarang. Jangan buat aku sengsara oleh kata-kata itu."
Ya tuhan.... Nayla tertunduk semakin dalam oleh ucapan itu. Ucapan tulus dari seorang yang dulu sangat ia takuti.
__ADS_1
Lalu Nayla berusaha menjawab. "Aku juga mencintai kamu tapi...."
Reynand dengan cepat mengecup bibir itu. "Aku tau dan jangan ada kata tapi...."
Nayla mengangkat kepalanya dengan mata membulat. "Aku juga sangat sayang kamu...." isaknya lagi.
"Aku tau Nay, aku tau semua yang kamu rasakan." Lalu Reynand memeluk tubuh itu dengan erat. "Besok cepat-cepat aku jemput kamu." Setelah ia menyelesaikan persoalan dengan Airin. "Anggap aja malam ini kamu lagi mau nginap."
"Em...." Sahutnya dipelukan erat itu.
Melepas pelukan mereka sejenak. "Ayo izin sama aku, aku suami kamu. Kalau nginap kerumah orang tua harus izin dulu sama suaminya." kemudian Reynand berusaha tersenyum.
Nayla menggeleng pelan, ia malah kembali memeluk Reynand semakin erat seolah tidak ingin melepaskan. Pelukan itu membuat Reynand terhenyak dan ia pun kembali membalas pelukan itu sama eratnya.
"Nanti malam berarti tidurnya sendirian." Nayla mulai mengenang sedih.
"Kan, ada guling buat nemenin." Reynand berusaha menenangkan diri.
"Tapi guling gak bisa gangguin aku tidur."
"Secepatnya aku bakalan ganggu kamu tidur lagi." Reynand mengecup puncak kepala itu pelan.
"Nanti kalau kakek pulang bilang aku minta maaf." Kemudian air mata itu membanjiri kaos Reynand.
"Saat kakek pulang kamu sudah ada dirumah ini lagi, Nay...." Sahut Reynand lirih.
Mereka terus berpelukan begitu lama, berusaha menyelami dan meresapi perasaan satu sama lain. Yang mereka tahu saat ini mereka masih bersama dan sebenarnya ingin selalu bersama.
Kepala Nayla tiba-tiba tergolek lemah dibahu Reynand. "Aku ngantuk." lirihnya pelan.
Menoleh untuk menatap wajah yang mengantuk itu. "Tidurlah dipangkuan aku, Nay."
"Tapi nanti Mami bawa aku pulang."
"Sebentar.... tidurlah sebentar sayang."
Nayla benar-benar merasakan kantuk luar biasa. Bahkan kelopak matanya pun mulai terkatup perlahan.
Maka Nayla pun langsung merebahkan diri dipangkuan Reynand. Perlahan ia mulai memejamkan mata sambil merasakan tangan Reynand mengelus kepalanya dengan lembut.
Nayla merasa sangat lelah. Jiwa dan hatinya lelah. Ia ingin tidur sebentar saja sekarang. Berharap semuanya dapat terlupakan.
Lama mereka diposisi itu, sepertinya sosok yang melihat dari kejauhan memang sengaja memberikan waktu yang cukup lama.
*
*
*
*
Ini hanyalah kisah dua anak manusia yang penuh kekurangan. Aku memang tidak menyajikan cerita makhluk luar biasa disini.
Jadi intinya memang tidak ada manusia yang sempurna gengs. Tidak ada yang bisa mengukur perasaan seseorang. Perasaan semua orang tidak bisa dipukul rata. (ngomong apa sih?)
Udah ah, Happy Reading pokok na!
__ADS_1