
****
Sementara itu dilokasi, setelah break syuting. Laki-laki yang nampak sangat lelah itu tengah melangkah berjalan menuju ke mobilnya.
“Rey, habis ini kita jalan yuk.” Airin tanpa ragu menggelayuti lengan Reynand. Gadis tinggi semampai itu terlihat memasang senyum indah diwajahnya.
Sementara itu walau Reynand sedang merasa tidak nyaman saat ini oleh tingkah Airin, laki-laki itu masih berusaha untuk memasang senyum diwajahnya.
“Nggak bisa, habis ini gue mau langsung pulang.” Reynand melepaskan tangan cewek cantik itu dengan pelan agar Ia tidak tersinggung.
“Kok pulang sih Rey, kita seneng-seneng dulu ya. Ini udah kesekian kali loh, kamu nolak aku.” Arin kembali menggelayuti Reynand, ia benar-benar tidak menyerah. Tubuh langsing dan seksinya semakin menempel pada Reynand.
“Rin, plis gue mau pulang. Gue udah capek banget.” Reynand kembali melepaskan dirinya dari Airin kemudian mempercepat langkahnya. Menurutnya meladeni cewek semacam Airin hanya akan menghabiskan waktu saja.
“Rey, Rey.” Airin masih memanggil Reynand dengan suara manja. Langkahnya terhenti saat Reynand sudah menutup pintu mobil.
Airin mendengus kesal. Sudah berkali-kali Ia berusaha mengajak Reynand untuk pergi dengannya. Namun berkali-kali pula Ia harus mendapatkan penolakan yang menyakitkan dari Reynand.
Didalam mobil Reynand terdiam. Dion, managernya yang secara tidak langsung kini telah menjadi sahabatnya. Selama enam tahun mereka bersama rupanya membuat Reynand telah menyisipkan banyak cerita tentang hidupnya kepada Dion.
“Rey, gimana cewek yang dijodohin Kakek sama Lo.” Dion akhirnya mencoba memecah keheningan sambil menyetir mobil
“Sesuai yang Kakek bilang. Dia masih SMA.”
“Lo nggak kesusahan ngadepin dia. Maksud gue biasalah kan anak SMA jaman sekarang.”
“Dia orangnya masih kaku. Polos banget.”
“Wajar namanya juga masih baru, nanti lama-lama dia juga berani sama lo.” Dion tersenyum penuh arti.
Reynand hanya menanggapi dengan senyum tipis. Ia semakin menyenderkan badannya dikursi mobil, memposisikan tubuh lelahnya agar terasa lebih nyaman.
****
Sesampainya diapartemen. Reynand dapat melihat dari celah pintu kamar Nayla lampu terlihat masih menyala. Gadis itu belum tidur rupanya.
“Sori ya lo nggak bisa tidur disini lagi. Mobil Lo bawa aja” ujar Reynand pada Dion yang berdiri dibelakanganya.
“Gapapa. Ya kali gue masih tidur disini. Entar penganten baru keganggu lagi.” Dion menjawab santai dengan candaan.
Ngomong-ngomong soal pengantin baru. Reynand jadi penasaran seharusnya pengantin baru itu sekamar bukan? Ini mereka malah tidur pisah kamar.
Tak lama kedua laki-laki itu pun berjalan menuju dapur.
“Rey bini lo masak ya? Gue makan, ok? Laper banget soalnya.” Mata Dion berbinar menatap hidangan yang ada didepannya. Sepotong ayam goreng Ia masukkan kedalam mulut.
__ADS_1
“Em, enak banget.”
Reynand menatap makanan yang ada diatas meja dengan sorot penuh tanda tanya. Apa benar gadis itu yang memasak? Tunggu, ia membuka kulkas dan benar-benar saja. Isi kulkas yang tadi cuma seadanya, kini telah penuh dengan berbagai macam sayuran dan kebutuhan masak yang lainnya.
Ngomong-ngomong gadis itu dapat uang dari mana?
“Istri lo cantik juga bro.” Bisikan Dion yanh tiba-tiba ditelinga Reynand membuat laki-laki yang tengah terperangah menatap isi kulkas itu seketika menoleh.
“Ha, mana?"
“Itu.” Pandangan Dion menunjuk kearah Nayla yang sedang mengambil air minum.
Reynand menutup pintu kulkas. Matanya bertemu dengan tatapan Nayla yang juga terlihat memasang sedang memasang senyum diwajahnya.
“Ini Lo yang belanja?” Tanya Reynand.
Nayla mengangguk.
“Terus yang masak Lo juga?”
Nayla mengangguk lagi.
“Lo belum tidur?” Reynand melihat jam ditangannya, hampir tengah malam.
“Belum, masih ngerjain tugas dari sekolah. Aku permisi dulu ya bang mau balik kekamar.” Gadis itu berlalu dengan segelas air minum ditangannya.
Sementar itu mata Dion tak berkedip menatap Nayla sampai gadis itu menutup pintu kamarnya.
“Ya ampun Rey, Kakek lo nggak salah milihin jodoh. Cantik banget sumpah, kayak bidadari.”
Reynand menautkan alisnya. “Lebay lo.”
“Gue serius, nih ya si Airin aja lawan main lo di film kalah sama dia. Bedanya badan bini lo lebih mungil, lebih imut, lebih muda juga. Kalau si Airin kan gede, tinggi.”
Reynand duduk dikursi meja makan sambil mendengarkan ocehan-ocehan Dion tentang kekagumannya pada Nayla.
“Gila kulitnya mulus banget nggak ada noda sama sekali. Kalau Dia jadi artis mah nggak usah tebel-tebel pakai foundation.” Dion masih bersemangat membahas kekagumaannya pada Nayla.
Reynand masih tidak menggubris, Ia juga mencomot ayam goreng yang ada diatas piring.
"Enak." Gumam Reynand.
“Nih ya kalau gue jadi elo gue bakal betah banget men.” Mulut Dion yang tersumpal ayam goreng itu rupanya masih bisa mengoceh.
“Dia itu masih SMA.”
__ADS_1
“Lah apa urusannya. Dia sekarang kan udah jadi bini lo. Otomatis dari ujung rambut sampai ujung kaki elo berhak atas dia seutuhnya. Ngerti.” Dion berbicara sedikit ngegas.
Seketika Reynand terdiam dengan perkataan Dion. Memang apa yang bisa dia harapkan dari gadis yang hobinya hanya berkutat dengan buku saja.
“Gue pisah kamar sama dia.”
“Ha, wah gila lo. Punya bini cantik kok dianggurin?"
“Lo bisa kecilin suara Lo nggak. Nanti tuh anak denger!” Mata Reynand sudah hampir keluar menatap Dion.
“Lagian lo bikin emosi.”
“Lo yang bikin emosi setan!” Reynand berteriak walaupun dengan suara kecil.
“Emang lo sedikit pun gak ada rasa tertarik gitu sama si Nayla. Yaaaa.... gue tau lah lo berdua dijodohin. Tapi ya kan manusiawi bro. cewek sama cowok tinggal berdua, apa lo nggak tegang….”
“Gue udah sering ya ngadepin cewek-cewek cantik.” Reynand menjawab ketus.
“Itukan cuma buat kebutuhan film. Gue itu kenal lo banget ya. Yang gue inget cuma sekali lo itu bener-bener deket sama cewek. Selebihnya cewek-cewek yang ngedeketin lo, lo anggurin semua.”
“Lo bisa diem nggak! Udah gue bilang dia masih sekolah." Reynand berdecih.
Dion mengehentikan ucapannya. Namun mulutnya tak berhenti mengunyah.
Emang kenapa kalau kita tinggal berdua? Gue juga nggak ada niatan buat ngapa-ngapin dia kan. Kenapa pikiran semua orang tentang gue sama aja. Nggak mama, nggak Kakek, sekarang satu lagi nih.
"Gue sumpahin jatuh cinta lo sama Nayla."
"Duh, terserah lo deh." sahut Reynand santai. Mencintai gadis SMA? Bagaimana bisa?
"Gak percaya, lo buktiin omongan gue. Gak lama lagi lo dan dia bakal...."
Dion benar-benar terdiam saat Reynand tiba-tiba menyumpal mulutnya dengan ayam goreng.
"Diam kan lo...." ujar Reynand. "Makanya jangan banyak omong."
“Kenapa? Gue udah diem kan.” ujar Dion saat Reynand masih melotot tajam kearahnya. Tapi, lihat saja, Dion yakin tidak akan lama laki-laki dihadapannya ini jatuh cinta pada Nayla. Bukan masalah SMA-nya. Yang jelas cinta itu tidak memandang usia.
•
°
•
°
__ADS_1
Happy Reading!