Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Bahagia


__ADS_3

****


Saat itu, sesuai kesepakatan keluarga. Dimana mereka telah memiliki janji dengan dokter cantik yang tengah memeriksa pasien spesialnya disiang hari ini.


Saat itu Nayla tidak hanya sendiri. Semuanya telah berkumpul untuk mendukungnya dan memberikan semangat.


Entah kenapa Nayla merasa semua ini agak berlebihan. Maksudnya tidak perlu seluruh keluarga untuk datang menemaninya saat ini. Dirinya bersama Reynand saja seharusnya sudah cukup bukan.


Sejujurnya kehadiran Kakek, Mama Adel dan bahkan Maminya sendiri malah membuatnya semakin gugup selama melakukan pemeriksaan.


"Mis, udah siap kan sekarang jadi nenek." Tanya Mama Adel yang duduk tepat disamping Mami. "Kalau Nayla beneran hamil, kamu harus terima loh."


"Ya terima dong Del, masak aku tolak kalau udah ada didalam perut."


"Lah, kamu nggak inget ya, awalnya kamu bukannya sempat nggak mau kalau Nayla hamil."


Mami menghela nafas. Dia bukannya tidak menerima saat itu, hanya saja keadaan Nayla yang masih terlalu muda membuat ia sedikit ragu. Akan tetapi melihat tingkah putri yang menunjukkan tanda-tanda itu beberapa hari ini, entah kenapa malah membuat Mami tambah bersemangat.


Perasaan baru kemarin ia mengasuh kemudian membesarkan Nayla hingga sekarang, tapi sekarang putrinya itu malah akan memiliki bayi.


Sementara itu Beta menyimak keluhan dan juga penjelasan Nayla dengan baik sesuai dengan apa yang ia tanyakan. Perempuan menggemaskan dihadapannya ini rupanya lucu juga saat menjelaskan semuanya.


Mulai dari keluhan mual-mual, menolak untuk aroma-aroma tertentu dan juga tanda-tanda lainnya.


Berikut setelah serangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan oleh Beta. Maka dokter kandungan itu pun mulai menjelaskan semuanya.


Beta tersenyum sumringah demi menjaga suasana hati perempuan yang sudah cukup tegang dihadapannya ini. Kalau ia lihat, tidak hanya Nayla yang terlihat tegang, kakek, Mama Adel, Mami Miska dan juga sosok yang masih terlihat pucat itu. Orang yang telah menggemparkan seluruh keluarga karena ulah nekatnya. Siapa lagi kalau bukan Reynand dengan selang infus yang masih tersambung ditangan.


"Cepetan mbak, gimana hasilnya." Ujar Reynand tidak sabaran sementara Nayla yang duduk disampingnya masih menunggu dengan hati yang bergejolak.


Beta masih tersenyum dan berusaha duduk setenang mungkin sebelum memberitahukan kabar yang entah bagaimana orang akan bereaksi saat mendengar apa yang akan sampaikan.


"Iya Bet, gimana hasilnya." Mama Adel yang juga tak kalah berdebar seketika berdiri dari duduk.


Beta menarik nafas sejenak. "Jadi, kalau mbak lihat dari tanggal terakhir kamu menstruasi, sekarang ini usia kandungan kamu sudah berusia enam minggu. Selamat ya, sebentar lagi kamu akan jadi seorang ibu."


Nayla mengangkat kepalanya beradu pandang dengan dokter cantik yang menatapnya penuh haru itu.


"Mbak?" Reynand membelalak. "Jadi, Nayla serius, dia...."


Beta yang sedari tadi lebih dulu terharu mengetahui kabar ini langsung mengangguk mantap.


"Jadi Nayla beneran hamil, Bet?" Mama Adel langsung mendekat heboh. "Beneran!? Nayla hamil?!" Mama Adel menatap Nayla seolah tak percaya.


Beta mengangguk lagi. "Iya tante, selamat ya. Bentar lagi jadi nenek."

__ADS_1


Seketika itu juga Mama Adel sudah tidak bisa lagi membendung harunya. "Pa...." Ia memanggil lembut sang ayah yang duduk menunggu dikursi sendirian. "Bentar lagi Reynand jadi ayah...."


Kakek langsung tertunduk dengan menarik nafas dalam seolah itu adalah gambaran rasa syukurnya atas berita yang ia dengar saat ini.


Sementara itu mami Miska beranjak dan ia pun ikut mendekat dengan perasaan yang campur aduk. Bahagia, haru, hatinya bergetar semuanya bercampur menjadi satu dan sangat sulit dijelaskan.


Sedangkan Nayla tak henti-hentinya menarik nafas dalam-dalam. Jadi, benar dia sudah ada didalam sini. Kepalanya lalu menengadah keatas. Jadi, begini rasanya mengetahui jika dirinya tengah mengandung. Seketika tangan yang tengah mengelus-elus perut rata itu tertimpa oleh tetesan air mata bahagianya. Saat ini ada sosok hidup didalam perutnya itu, anaknya. Anaknya dengan Reynand sudah ada didalam sana.


"Nay...."


Nayla yang mendengar panggilan suaminya langsung menoleh.


"Selamat ya...." Ucap Reynand gugup, entah kenapa tiba-tiba ia merasa tubuhnya menjadi kaku. "Kamu bener-bener bakalan jadi...." nafasnya tiba-tiba tersengal. "Maksudnya kita...." tiba-tiba ucapan Reynand tertelan kembali, sungguh suasana ini sangat mengharukan baginya. "Sayang...."


Nayla menerima pandangan haru Reynand dan membalasnya dengan cara yang sama.


Dan, ditengah keharuan itu tiba-tiba Mama Adel menyentuh bahu Nayla pelan. "Sayang...." Ia pun langsung menginterupsi lalu membungkuk dan memeluk Nayla dengan erat. "Selamat ya, sebentar lagi kamu jadi ibu. Mama senang dan, kamu...." Mama Adel melepas pelukan itu sejenak. "Kamu bahagia, kan?"


Mata bening yang tengah berkaca-kaca itu pun mengangguk.


"Terima kasih ya, kamu sudah memberikan cucu untuk Mama...." ujar Mama Adel kembali.


"Iya, Ma...."


Tak kuat untuk memeluk putrinya, setelah Mama Adel melepas pelukan itu, Mami Miska lalu merengkuh tubuh putrinya dengan erat. Sangat erat dan lama. Mami sudah lama tidak meneteskan air mata dihadapan putrinya. Namun, kali ini ia benar-benar sangat terharu.


"Iya, Mi." Sahut suara sengau itu sembari membala erat pelukan ibunya.


"Mami akan selalu doain kamu...." Mami melepas pelukannya sejenak. "Rey, jagain Nayla denger."


Reynand yang sedari tadi bungkam langsung menyahuti. "Iya Mi...."


"Dia lagi hamil, jadi kalau sikapnya agak berlebihan kamu harus maklum, namanya juga pengaruh hormon."


"Iya Mi, aku akan berusaha untuk jagain istri sama calon anak aku...."


Deheman Beta tiba-tiba mengehentikan ucapan Reynand. "Anak ku...." Ledeknya kemudian.


"Apaan sih mbak, emang anakku kan. Terus nyebutnya apa?"


"Mbak cuman becanda Rey, idih kok tersinggung."


"Siapa yang tersinggung, mbak sih aku lagi terharu diledekin." ucap Reynand lebay.


"Udah-udah kok malah ribut, ini kita lagi bahagia loh." ujar Mama Adel.

__ADS_1


Lalu tiba-tiba suasana seketika hening saat kakek tiba-tiba berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat.


"Kakek...."


"Kakek turut bahagia...."


Hanya tiga kata sederhana namun itu mampu membuat Nayla tak kuasa untuk memeluk kakek secara perlahan. Bahkan kakek yang super sibuk sampai rela meluangkan waktu untuknya.


Nayla tidak menyangka bahwa kehamilannya akan disambut seperti ini. Semua orang menyambutnya dengan rasa bahagia. Ia melihat raut wajah orang-orang disana satu persatu. Semuanya terlihat benar-benar bahagia. Janin yang ada didalam perutnya mampu merubah susana yang ada diruangan ini.


Melepas pelukan dari kakek, Nayla kemudian memandang sosok berperan besar yang telah membuatnya jadi seperti ini.


Reynand yang masih merasakan nyeri itubuhnya lantas berdiri untuk memeluk tubuh istrinya. "Ehem, hamil...." ledek Reynand.


"Jangan diledekin...." ujar Nayla dalam pelukan itu.


"Aku nggak ngeledek, tapi kamu memang hamil.... kamu hamil anak aku. Anak aku ada didalam perut kamu...."


"Nanti perut aku gendut...."


"Nggak apa-apa aku tetap suka...."


Nayla memeluk Reynand semakin erat, tangis haru terus mengalir dipipinya.


"Kamu bahagia, kan?"


Nayla mengangguk.


"Aku juga bahagia...." Huuu, Reynand benar-benar terharu. "Aku beneran bakalan jadi ayah, Nay...."


"Emh...."


"Terimakasih buat semuanya...."


Lagi-lagi Nayla hanya bisa mengangguk didalam keharuan itu, ia lantas menyembunyikan wajahnya dalam-dalam didada Reynand


Semuanya yang ada disana juga masih tak kalah terharu melihat pemandangan bahagia kedua insan dihadapan mereka.


*


*


*


*

__ADS_1


Maaf ya akhir-akhir ini banyak part yang nangis-nangis. Mau aku buat lawak takutnya nanti malah gak nyambung.


Happy Reading!


__ADS_2