
****
Reynand merasakan segar setelah mengguyur tubuhnya dengan air. Pikirannya pun menjadi tenang. Hari ini kepalanya tidak berhenti berdenyat-denyut dan merasa pusing. Apalagi saat tadi dia melihat Nayla duduk berdua dengan laki-laki.
Padahal dia sudah memperingatkan untuk menjauh. Akan tetapi laki-laki sepertinya nekat.
Ia ingat betapa darahnya mengalir cepat melihat pemandangan itu tadi.
Reynand mengambil handuknya setelah menghentikan kucuran air yang mengalir dari shower.
Sekeluar dari kamar mandi ia lihat Nayla belum masuk. Kemana dia? Padahal tadi katanya akan mengantar Maminya sampai ke mobil sebentar.
Merasa bingung samar-samar ia mulai mndengar suara dari luar kamar.
Bergegas Reynand segera membuka pintu.
"Sayang...." Mama Adel menepuk-nepuk pelan gadis yang tengah sesenggukkan itu.
Cklek!
Terkejut melihat keadaan itu ia menghampiri Nayla. "Ada apa?" Reynand menatap Mama bingung.
Mama Adel menghela nafas panjang. "Kamu, lebih baik tenangin Nayla dulu. Dia, terbawa perasaan soal Maminya."
Reynand kembali menatap Mama Adel bingung.
Mami? Ada apa soal Mami?
Setelah mengantar Nayla masuk lalu Mama Adel mengelus bahu itu pelan lalu ia pun bergegas.
Namun saat sebelum melangkah keluar Mama Adel berbalik. "Reynand, Mama tahu pekerjaan kamu membuat kamu akhirnya selalu jadi sorotan publik." Lalu Mama menghela nafas sebentar. "Tapi, jangan sampai hal itu membuat perasaan orang-orang disekeliling kamu jadi tersakiti."
Menatap Mami dengan seksama, mengerti akan maksud ucapan itu Reynand lalu menunduk.
Dan, setelah pintu kamar itu kembali tertutup Reynand berbalik lalu menghampiri Nayla yang terduduk diam sesekali terdengar ia masih sesenggukkan mungkin karena terlalu lama menangis.
"Nay...." Reynand pun ikut mendudukan diri disebelah Nayla.
Gadis itu menoleh dan Reynand dapat melihat dengan jelas mata yang mulai memerah itu.
Reynad tersengal, Nayla menangis sakit hati karenanya. "Maaf...." Hanya itu yang bisa ucapkan.
Mendengar pernyataan tulus itu Nayla menggeleng. Bukan, bukan itu masalahnya. Dia tidak menangis karena itu.
"Maaf karena telah membuat kamu seperti ini...." Reynand benar-benar merasa bersalah. Apalagi setelah ia mendengar ucapan Mama Adel tadi. Iya semakin yakin kalau Nayla menangis karena itu.
Reynand mengerjap, seketika kata-katanya tertahan. Lalu ia semakin menatap gadis itu dalam-dalam saat Nayla tiba-tiba meraih telapak tangannya. Matanya mengerling kesana kemari, Reynand memperhatikan itu.
__ADS_1
Dan, saat Nayla mulai membuka mulutnya untuk bersuara tiba-tiba gadis itu tersendat, ucapannya seolah tertahan.
"Nay...." Reynand paham itu. "Maaf diawal pernikahan kita, aku sempat mengabaikan kamu."
Lalu telaga bening itu kembali menggenang. Nayla kembali menggeleng. Ia benar-benar tidak bisa berkata-kata sekarang. Kenapa Reynand tiba-tiba harus meminta maaf?
Bukan, Reynand tidak salah apa-apa.
Lalu gadis itu pun terisak.
"Kamu pasti menderita kan, saat itu." Lagi-lagi ucapan itu ditanggapi gelengan oleh Nayla. Dan, itu mampu membuat gadis itu kembali sesenggukan keras.
Nayla benar-benar tidak menyangka pembahasannya akan sampai kesini.
"Aku minta maaf kalau akhirnya tidak membuat kamu bahagia."
Astaga!
Nayla sudah tidak tahan lagi, kenapa hari ini banyak sekali hal yang membuat perasaannya campur aduk. Mendongak sebentar lalu dengan cepat ia lalu bergegas masuk kedalam kamar mandi.
Dan, Reynand hanya bisa terdiam. Dia pun menunduk semakin merasa berasalah.
Terduduk disana melampiaskan apa yang ia rasa. Gadis itu kembali sesenggukkan keras.
Ada apa sih, dengan Reynand? Kenapa laki-laki itu harus membuatnya merasa bersalah begini. Maksudnya, kenapa dia harus mengungkit masa itu. Bukankah itu adalah sikap yang wajar untuk dua orang yang menikah karena terpaksa. Iya, kan. Mereka menikah karena terpaksa.
Menangis lebih keras hingga hatinya puas.
Mungkin hampir setengah jam, ia pun lalu keluar dengan melilitkan handuk ditubuhnya.
Matanya sembab dan bengkak. Dan, Nayla dapat merasakan itu.
Mendapati Reynand tidak ada didalam kamar, ia jadi semakin merasa bersalah. Dia, kembali bersedih, mungkin kalau air matanya belum terkuras habis mungkin dia akan menangis lagi.
Selesai mengenakan pakaiannya ia terduduk didepan cermin. Bengkak, matanya benar-benar bengkak. Bahkan ia dapat merasakan kalau pandangannya sedikit buram.
Tok! Tok!
Suara ketukan dari luar kamar menyadarkannya. Dan, tidak mungkin itu Reynand, untuk apa laki-laki itu mengetuk pintu dikamar mereka sendiri.
Dan, saat ia membuka pintu yang ia lihat adalah mbok Yana membawa nampan berisikan makanan dan air minum.
Mbok Yana termangu melihat keadaan Nayla, mata yang sangat bengkak, namun gadis itu masih sempat tersenyum kepadanya.
Tersadar lalu Mbok Yana menyerahkan nampan itu. "Tadi saya disuruh mas Reynand nganter makan malam untuk mbak Nayla."
Nayla memandangi makanan itu. Jadi Reynand yang menyuruh Mbok Yana. Kenapa tidak dia sendiri yang mengantarnya?
__ADS_1
"Mbak?"
Tersadar dari bengongnya Nayla meraih nampan itu dan ia lagi-lagi menyunggingkan senyum tipis dibibirnya. "Terimakasih ya bi." Jadi Nayla memanggil Mbok Yana dengan sebutan Bibi. Tidak tahu kenapa dia hanya lebih suka memakai panggilan itu.
"Sama-sama mbak Nayla, makan yang banyak ya." Tak ingin dikira ingin tahu terlalu jauh kenapa Nayla bisa seperti itu. Lalu wanita paruh baya itu pergi sesaat gadis itu mengangguk setelah ia permisi.
Nayla melahap makanannya dengan pelan. Dia sedikit bernafsu makan, mungkin karena dia belum makan malam dan kelelahan sehabis menangis.
Membiarkan piring bekas makannya diatas meja riasnya. Ia banyak menyisakan makanan dipiring itu, Reynand yang belum juga kembali kedalam kamar membuat nafsu makannya itu mendadak hilang.
Menaikki ranjang ia lalu merebahkan diri disana. Dengan erat ia peluk guling dan membenamkan dirinya.
Merenung dan merenung, ingatan kejadian hari ini. Dia melihat video itu lalu memaksa Reynand untuk menjemputnya. Kemudian Reynand melihatnya duduk berdua bersama Riko, dan Ia mulai mengerti sekarang kalau Riko menyimpan perasaan untuknya lebih dari seorang teman.
Ah, kenapa semuanya jadi seperti ini.
Lalu kemudian ia kembali ingat Mami. Nayla sangat berharap Mami baik-baik saja dan tidak memikirkan banyak hal tentangnya.
Lama ia menunggu. Nayla berkali-kali melirik pintu kamar.
Kenapa Reynand belum juga datang? Ada apa sih dengan suaminya itu? Penasaran dimanakah gerangan berada. Nayla lalu perlahan turun dari ranjang, ia dapat merasakan kepalanya berat dan pusing. Namun, ia terus melangkah untuk keluar dari kamar.
Menuju balkon, lalu kecewa karena seseorang yang dicari tidak ada. Melihat dari atas sana, ia lihat mobil Reynand nuga tidak ada. Apa jangan-jangan Reynand pergi?
Nayla tahu pada jam ini Pak Tio pasti belum membawa mobil-mobil masuk kedalam garasi. Ia jadi semakin yakin kalau Reynand sedang pergi.
Kepalanya pun semakin pusing. Bergegas kembali ke kamar, berniat untuk menghubungi Reynand. Namun niat tersebut segera ia urungkan karena melihat ponsel Reynand yang sedang tersambung dengan chargeran.
Reynand tidak membawa ponselnya.
Kenapa, sih?
Ini pertama kalinya Reynand seperti ini. Membuat kepalanya semakin pusing saja. Mendudukan dirinya disisi ranjang, kemudian berbaring.
Biasanya dia butuh obat agar bisa terlelap disaat seperti ini, Namun entah kenapa tubuh dan pikiran yang sudah lelah itu pun akhirnya tiba-tiba terlelap seketika.
•
•
•
•
Terkadang memang ada orang yang gampang menangis geng, itu karena hatinya memang lembut dan gampang tersentuh.
So don't bully-bully kalau ada orang yang seperti itu, hati orang siapa yang tahu😌
__ADS_1