
****
Tubuh Nayla rasanya benar-benar lelah. Sangat nyeri dan otot-otonya terasa kaku. Tadi selama dua jam dia menemani Mama Adel latihan yoga ditempat biasa Mama berlatih bersama teman-temannya. Mama Adel pun juga memintanya untuk ikut latihan. Jujur saja baru kali ini dia mencoba gerakan-gerakan seperti itu. Tubuhnya dipaksa untuk melingkuk liuk mengikuti gerakan sang pelatih.
Huh! Padahal tubuhnya tidak selastis itu. Dia memang tidak hobi dan sangat jarang berolahraga. Mungkin karena itulah sekalinya dia melakukannya tubuhnya terasa sakit.
“Halo….” Nayla berusaha berbicara dengan seseorang diseberang sana dengan nafas masih tersengal.
“Lagi dimana?” Tanya suara dari seberang terdengar rindu. Membuat dia yang mendengar merasakan itu.
Deg!
Deg!
Jantung Nayla berdebar-debar. Suara itu terdengar sangat indah ditelinganya. Rasanya dia ingin memeluk dan menghambur saat ini juga.
Tapi, apa?
Menghambur?
Ya tuhan, mungkin saja dia sudah gila. Sempat-sempatnya dia berkhayal. Rupanya otaknya sudah ketularan kotor.
“L-lagi ikut Mama latihan yoga.” Timpalnya lagi sembari mengatur nafas senormal mungkin. Karena jujur tarikan nafasnya terdengar jelas saat itu. Dia benar-benar gugup.
“Gimana suka ikut yoganya?”
Lagi-lagi suara ini membuat hati Nayla bergetar. Astaga, dia benar-benar sudah tidak waras.
Ya, ampun Nayla kamu kenapa si?
“Nay.” Suara itu terdengar menunggu jawaban.
Nayla tersadar.
“Eh-e Iya. Abang tadi nanya apa?”
“Kamu ngelamun ya. Tadi abang nanya, kamu suka nggak ikut yoganya?”
“Itu… aku nggak suka, soalnya capek. Badan aku rasanya sakit semua.” Tanpa sadar dia mengadu, seperti anak yang mengadu pada ibunya.
Suara diseberang pun terkekeh.
“Nayla.”
Mama memanggil ditengah percakapan mereka.
“Abang udah dulu ya.”
Tut!
Menutup telpon secara sepihak.
Sementara yang disana belum puas mendengar suara lembut nan merdu itu.
Buru-buru Nayla mengalihkan pandangan kearah Mama.
Gugup!
__ADS_1
Ini dia lebay atau apa? Apa mungkin dia salah tingkah didepan Mama karena baru saja ditelpon oleh, suaminya sendiri.
Ciye, suami.
Rasanya Nayla ingin berteriak. Kenapa bagian lain darinya selalu membuatnya malu sendiri begini.
“Siapa yang telpon? Reynand ya?” tanya Mama.
Nayla mengangguk pelan.
Mama tersenyum. Duh, manisnya. Mama jadi rindu masa-masa muda dulu.
“Kenapa Reynand telpon?” Mama mulai kepo.
“Cuma nanyain, sekarang lagi dimana.” Jawabnya pelan. Karena jujur saja sekarang jantungnya masih berdebar-debar tidak karuan.
Mama kembali tersenyum. Ah, indah sekali rupanya.
Mama beruntung memiliki menantu seperti Nayla. Polos dan lugu, sangat tidak membosankan melihat anak ini. Walaupun sebelumnya Mama agak ragu waktu tahu kakek ingin segera menikahkan Reynand dan Nayla diusia yang masih sangat terbilang muda. Jangakan Nayla yang masih 18 tahun, Reynand yang usianya sudah 24 tahun saja masih Mama anggap terlalu muda untuk menikah. Dengan status Nayla yang masih bersekolah dan Reynand yang masih menitih karir untuk masa depannya.
Mama menghela nafas panjang. Dia hanya berharap semoga semuanya baik-baik saja untuk kedepannya. Sebenarnya ada sesuatu yang terus mengganggu pikiran Mama sudah sejak lama. Kenapa sampai sekarang belum ada tanda-tanda Nayla hamil? Ini mereka memang menunda atau belum sama sekali melakukan itu. Kalau benar memang belum melakukannya, berarti pertahanan Reynand kuat juga rupanya. Mama jadi kasihan kepada anak laki-lakinya itu. Apa mungkin dia menahannya demi Nayla. Kalau memang benar, Mama jadi terharu. Rupanya Reynand tidak egois.
Mama melihat Nayla dengan seksama. Ingin sekali Mama menanyakan soal itu. Tapi, Mama takut terlalu mencampuri urusan mereka. Sudahlah, biarlah mereka menjalani semua apa adanya seperti air mengalir. Seperti pesan yang selalu Mama ingat dari Kakek.
“Gimana badan kamu rasanya enakan?” Tanya Mama setelah menghabiskan satu botol air minumnya.
“I-ya Ma, enak banget.” Ucapnya bohong, padahal sekarang dia sedang menahan nyeri dan pegal.
“Kamu harus sering-sering ikut Mama latihan yoga. Lusa mau ikut lagi?”
Nayla terkekeh menanggapi. Ini saja dia merasa tubuhnya remuk redam. Ia menggeleng dalam hati, dia tidak mau lagi.
Nayla bergeming. Jujur dia ingin menolak.
"Kamu nggak mau ya?"
Iya tebakan Mama tepat sasaran. Nayla memang ingin menolak. Tapi juga tidak ingin membuat Mama tersinggung. Ia memutar otak mencari alasan yang tepat.
“I-itu Ma, soalnya lusa aku…. eh, banyak tugas. Iya, akhir-akhir ini aku banyak tugas. Jadi mungkin selanjutnya aku nggak bisa ikut Mama.” Ucapnya beralasan.
Mama menghela nafas ringan sedikit kecewa.
“Padahal Mama seneng lo ditemani sama kamu. Ternyata punya anak perempuan itu menyenangkan, bisa klop sama Mamanya. Kalau anak laki-laki susahnya minta ampuuun kalau diajak kemana-mana.” Ucap Mama mendramatisir.
“Iya, Nayla minta maaf ya Ma.” Ujarnya tidak enak.
“Nggak apa-apa, Mama ngerti kok sayang. Kamu kan sebentar lagi harus ujian. Mama juga nggak mau sekolah kamu terganggu.” Membelai rambut Nayla pelan.
Nayla tersenyum, Mama rupanya pengertian. Dia bersyukur Mama tidak memaksa. Jujur saja dia memang tidak suka berpergian seperti ini. Dari dulu dia adalah orang yang lebih memilih untuk dirumah jika ada waktu luang.
“Habis ini kita kesalon ya. Mama udah lama ni nggak manjain diri disalon.”
Ha?Pergi lagi?
Ya, padahal Nayla sangat berharap segera sampai kerumah dan segera berbaring dikasur empuk yang sangat dia rindukan saat ini. Tubuhnya benar-benar butuh rebahan sekarang.
“Kamu ikut Mama perawatan ya.”
__ADS_1
Oh perawatan, sepertinya Nayla tertarik. Itu berarti dia tidak harus capek bergerak-gerak seperti latihan yoga tadi.
“Iya Ma. Aku mau.” Ucapnya berbinar. Sepertinya mendapatkan beberapa perawatan tubuh akan sangat menyenangkan.
Sebentar, Mama memandangi Nayla dari ujung kepala sampai ujung kaki. Menantunya itu sebenarnya sudah sangat cantik. Tapi, Mama mulai bosan melihat penampilan Nayla yang begitu-begitu saja. Anak ini terlalu cuek, tampilan rambutnya hanya dipotong lurus dengan poni tipis. Kalau tidak dikuncir atas ya rambutnya digerai. Kulit badannya bagus terlihat sehat dan bersih. Wajahnya pun sudah mulus, tapi dia ingin Nayla terlihat lebih cantik dan bersinar. Khususnya didepan sang anak, Reynand.
“Udah yuk sayang. Mama udah nggak sabar melihat kamu berubah.”
Eh? Berubah apa?
“Mama mau melihat kamu jadi lebih cantik.” Tambah Mama lagi.
Lebih cantik.
Nayla suka kata-kata itu.
Mama memasuki mobil dengan semangat. Ah, ternyata sesenang ini ya punya anak perempuan.
Nayla kembali tersenyum. Kenapa malah Mama yang lebih bersemangat soal perawatan tubuhnya. Diam-diam dia terkekeh geli. Mama benar-benar membuat suasana selalu hidup. Dia jadi rindu Mami.
~
Reynand baru saja masuk kedalam ruangan itu, sebelum akhirnya Haritano berbalik memutar kursi duduknya.
Laki-laki paruh baya itu terlihat tenang namun tegas. Sorot matanya tajam, tapi masih sempat menyunggingkan senyum tipis padanya.
“Silahkan duduk!” Perintahnya.
Reynand melangkah, ia pun duduk. Mereka berdua saling berhadapan dan saling menatap. Ini kali kedua mereka bertemu dalam keadaan yang sama. Bedanya sekarang dia tidak melihat Airin diruangan itu.
“Jadi, apa keputusanmu tentang tawaran waktu itu?” Haritano berusaha tenang menghadapi anak muda dihadapannya ini. Dia sepertinya tahu kalau laki-laki yang sedang menghadapnya itu bukan orang sembarangan.
“Apa persyaratannya tidak bisa diganti saja?” Ucapnya tanpa basa-basi.
Haritano menghela nafas. Matanya bersitatap tegang dengan mata tajam nan tegas itu.
“Jadi, kamu tidak mau menerima tawaran itu?” Ujarnya dengan suara berat. Rahangnya menegang seperti menahan amarah. Anak dihadapannya ini, benar-benar tidak punya rasa takut. Berani-beraninya dia menolak tawaran yang menjadi jadi incaran setiap orang.
Reynand bergeming. Dia menatap Haritano dengan sorot penuh perlawanan.
“Kamu tahu apa yang akan terjadi jika kamu berani menolak.” Ucapnya penuh penekanan dengan wajah menyeringai.
Sial, Reynand tidak bisa menerima ini. Dia tidak suka jika ada orang yang menekannya. Siapa pun itu dia tidak suka. Bahkan kakeknya pun dia tentang. kecuali untuk satu hal, tentang perjodohannya.
Tapi, dia harus menimbang semuanya. Dia tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan. Ia ingat soal rencananya. Rencana yang sudah sangat lama ingin dia lakukan.
Mengingat soal perjodohan, dia jadi rindu seseorang sekarang.
*
*
*
*
*
__ADS_1
*