
****
Hari ini, sesuai dengan apa yang telah disepakati keluarga. Pasangan yang telah lama menikah itu kini akan mengadakan resepsi digedung hotel nan mewah. Sebenarnya Nayla dan Reynand ingin pesta resepsi mereka digelar secara sederhana saja. Terlebih lagi Nayla yang memikirkan dirinya sendiri tengah hamil muda.
Akan tetapi, karena semua yang mengurus adalah kakek beserta orang tua mereka, maka akhirnya pesta resepsi pun dibuat dengan nuansa glamour nan elegan. Hal ini dimaklumi karena Reynand sendiri adalah cucu dan anak tunggal, jadi pernikahan diadakan dengan besar-besaran namun tetap khitmat.
Kakek menyambut hari ini dengan suka cita ia mengundang rekan-rekan bisnisnya beserta pejabat-pejabat penting.
Tak luput Nayla pun akhirnya juga mengundang teman-teman sekolahnya, tentunya dia tidak mau nantinya malah didemo kalau tidak mengundang mereka. Keinginan itu terkabul setelah ia meminta izin kepada kakek, dan kakek pun memperbolehkan. Bahkan kakek tidak membatasi siapa pun yang akan Nayla undang, asalkan Nayla senang maka kakek juga akan ikut senang.
Suasana begitu haru saat itu meriah saat. Semua tamu telah hadir dan tengah menunggu kedua mempelai.
Sesaat kemudian para tamu berdiri membentuk pagar disisi karpet merah saat sepasang sosok yang sedang berbahagia itu berjalan diatas karpet merah diiringi lantunan musik yang merdu.
Nayla terlihat begitu cantik dengan gaun biru muda yang berat karena diselimuti motif kupu-kupu yang tersusun dari rangkaian detail mutiara berkilauan. Begandengan dengan Reynand yang ada disampingnya, maka mereka berdua pun mampu membuat orang-orang yang ada disana terpukau.
Mama Adel berjalan bersama kakek. Sementara itu Mami dia bersama Romeo. Sebagaimana saat ia menjadi wali untuk pernikahan kakaknya waktu itu, sekarang Romeo pun berjalan disamping Mami untuk kakaknya. Semuanya merasa sangat bahagia dan haru. Akhirnya, hari ini benar-benar telah tiba.
Alunan musik pun terus mengalir mengiringi kedua mempelai menuju pelaminan.
Karena Nayla tengah hamil muda, maka saat berada dipelaminan ia tidak berhenti uring-uringan. Ia banyak mengeluh seperti mendadak mual, merasa lelah, kepanasan, intinya moodnya sangat tidak stabil. Untuk itulah Reynand yang berada disampingnya terus berusaha untuk menenangkan sampai acara benar-benar selesai.
****
Beberapa hari kemudian.
Reynand tengah duduk bersender diatas ranjang karena terlalu lelah dengan pekerjaannya hari ini. Menjadi pemimpin dan mengelola perusahaan benar-benar menguras tenaga dan pikirannya. Biar bagaimana pun ia benar-benar masih belajar dalam hal ini.
Dan, saat ia tengah serius berkutat dengan laptop dihadapannya, tak berapa lama, sosok yang baru selesai berganti pakaian itu mendekat dan duduk disampingnya.
Reynand menoleh. "Wangi...." Ia mengendus rambut Nayla pelan.
"Masih banyak kerjaan?" Nayla sedikit mengintip laptop suaminya.
"Sedikit."
Nayla mangut, ia kemudian menunggui suaminya sembari sesekali bersender dibahu lelaki itu sampai akhirnya Reynand pun menyelesaikan pekerjannya, menutup laptop dan meletakannya diatas nakas samping tempat tidur mereka. Ia pun kemudian meraih tubuh wangi itu dan memeluknya erat sembari masih bersender disisi ranjang.
"Untungnya kamu kalau malam nggak mual-mual." Ujar Reynand sembari mengelus rambut sang istri.
Nayla kemudian bersender didada suaminya. "He em, tapi, sekarang aku lagi mau sesuatu."
Reynand menurunkan sedikit wajahnya menatap mata bening itu penuh tanya. "Kamu mau apa?"
"Mangga muda yang masih ada diatas pohon. Tadi aku lihat banyak dibelakang rumah."
Kening Reynand mengkerut. "Mangga muda!? Asem Nay, minta beliin aja Ya sama Pak Tio mangga yang udah masak."
__ADS_1
Nayla kemudian menggeleng.
"Tapi maunya yang masih muda, ambilin ya." Tatap Nayla dengan mata memelas.
Menghela sejenak. "Abang suruh Pak Tio aja ya buat manjat."
"Jangan suruh Pak Tio? Harus abang yang manjat."
"Kenapa? Kan, sama aja."
"Pokonya jangan...."
"Nay?!"
Gadis itu lalu ngambek. "Tapi aku mau ayahnya yang manjat. Ini kan anaknya abang masak Pak Tio yang manjat."
Ha? Reynand terperangah. Memang bisa ya, masak sih anak mereka yang minta. Ini Nayla sedang tidak mengerjainnya bukan?
"Tapi Nay, aku nggak bisa...."
"Ya udah kalau nggak mau, berarti nggak sayang sama anak yang diperut. Minta mangga aja ngga diturutin. Awas aja kalau malem-malem gangguin tidur."
Eh,
"Nay, bukan gitu...." Sebenarnya Reynand sangat malas saat ini. Lagi pula ia tidak pernah memanjat pohon mangga
Melihat keraguan dimata Reynand, Nayla pun bergegas hendak turun dari ranjang. "Ih, abang pelit, anaknya cuma minta mangga aja nggak mau."
Melihat itu Reynand dengan cepat menarik tangan mulus istrinya. "I-iya, abang bakalan manjat...."
Dan, seketika wajah yang cemberut itu langsung sumringah. "Bener?"
Teynand mengangguk. "Iya Nay, demi kamu dan si buah hati." Asalkan jangan ngambek, ringis Reynand dalam hati. Duh, bagaimana caranya dia memanjat pohon mangga setinggi itu. "Ya, udah kamu tunggu disini ya." saran Reynand.
"Aku ikut."
"Nggak usah Nay...."
"Aku cuma mau mastiin, nanti yang ngambilin beneran ayahnya atau Pak Tio."
Reynand mengusap tengkuknya pelan. Gagal rencananya untuk memanipulasi kejadian. Kejadian kalau ia akan berpura-pura memanjat pohon dan meminta tolong kepada pak Tio.
Nayla masih memperhatikan gelagat mencurigakan itu. "Emang abang mau, nanti waktu udah lahir dan pas gede anak kita lebih sayang sama pak Tio daripada ayahnya sendiri."
Reynand menyahut cepat. "Nggak Nay! Aku bakalan ambilin mangga buat kamu sekarang." Haha, enak saja yang bikin siapa nanti sayang-nya ke siapa.
"Makanya ambilin."
__ADS_1
Reynand menghela nafas dan tersenyum, ia kemudian membungkung dan mencium perut istrinya pelan. "Bentar ya sayang, ayah akan ambilin apa maunya kamu." Entahlah lebih baik dituruti saja, ingat dia harus jadi suami yang siaga.
"Semangat ayah...." Nayla menyemangati.
Reynand yang mulai memapah Nayla melangkah keluar menoleh sebentar. "Terimakasih sayang...."
"Nggak terpaksa, kan?"
Berhenti lagi sembari menghela nafas. "Nggak kok, ikhlas."
"Bener, kalau bohong nanti jatuh loh dari pohon."
"Kok gitu sih, Nay. Jahat banget abang disumpahin jatuh dari pohon. Mau, jadi janda muda?"
Seketika mata Nayla membulat dan menggeleng. Ia lalu memeluk Reynand erat. "Nggak mau, maaf, nggak ada niatan buat nyumpahin, serius. Udah deh, suruh Pak Tio aja yang manjat. Takut...." Sumpah demi apa pun jantung Nayla berdegub kencang saat ini, ia begitu kaget saat mendengar ucapan Reynand barusan.
Melihat tingkah Nayla seperti itu Reynand kemudian tertawa geli. "Nggak apa-apa, aku bakalan tetep manjat, soalnya banyak yang bilang kalau istri lagi ngidam harus dikabulin."
Nayla melepas pelukannya. "Nggak boleh!" Menggeleng cepat. Takut yang ia katakan tadi benar-benar terjadi. Ingatkan saja kejadian Reynand yang terluka berat akibat melompat dari jendela beberapa waktu lalu terngiang kembali.
"Aku tadi cuma nakutin kamu, nggak nyangka ngerjain kamu begini ternyata lucu juga ya."
Nayla kemudian melepas pelukan eratnya. "Ngerjainnya nggak lucu." Matanya melotot.
"Iya sih nggak lucu, tapi muka takut kamu itu bikin aku gemes." Mencubit pipi mulus Nayla dengan kedua tangannya. "Uluh-uluh yang takut kehilangan suaminya."
Nayla melepas cubitan itu cepat. "Udah ah, katanya mau manjat."
"Jadi, udah dibolehin nih." Reynand mengintip wajah itu sejenak.
Nayla mengangguk pelan. "Tapi, hati-hati ya...."
Sang suami yang masih merasa lucu atas sikap istrinya itu mengangguk. "Cium dulu tapi." Reynand menunjuk sebelah pipinya.
Cup!
Setelah mendapat dua kecupan dikedua sisi wajahnya dari sang istri senyum Reynand pun mengembang sumringah. "Makasih ya, jadi semangat nih buat manjat pohon mangganya."
*
*
*
*
Sampai Jumpa!
__ADS_1
Hiatus - Nantikan Season 2-nya ya! ^_^