
****
"Jangan, ngomong begitu lagi. Kita akan lakuin itu, sekarang...."
Efek minuman ternyata benar-benar membuat orang bisa kehilangan rasa canggung. Itu terlihat dari Nayla yang lebih berani mendekati dirinya.
Gadis ini benar-benar sudah kehilangan rasa malu. Beruntung mereka adalah suami istri yang sah. Jadi dia rasa tidak akan salah kalau mereka melakukannya saat ini. Walau didalam keadaan seperti ini sekali pun.
Tidak pernah Reynand duga sebelumnya. Gadis itu kini tersenyum lebar setelah mendengar keputusannya. Seharusnya dia merasa beruntung, bukan. Nayla akhirnya mau menyerahkan diri dengan suka rela untuknya.
Perlahan masih dalam posisi duduk diatas ranjang, Reynand menarik pinggang Nayla dengan erat menempel pada tubuhnya. Tangan panas itu melai mengelus punggung gadis itu dengan lembut, memberikan rangsangan gairah pada sang istri. Bibir mereka mulai menyatu. Saling mengecup satu sama lain.
Reynand mulai menurunkan kecupannya mengikuti tulang rahang Nayla, membuat gadis itu semakin memejamkan mata. Tangan mulus itu pun semakin melingkar erat dilehernya.
Suara decapan semakin terdengar seiring dengan ia terus menciumi kulit bening yang sudah membuatnya menjadi buta itu. Rasanya sangat memabukkan. Hembusan nafas panasnya terus menerpa dikulit yang ia telusuri.
Reynand menghentikan aktivitas itu sebentar. Mencoba menatap mata sayu itu, mencari kepastian.
"Setelah ini terjadi, abang harap kamu tidak akan menyesali apapun." Lirihnya pelan, berharap gadis ini mengerti akan ucapannya.
Gadis itu memejamkan matanya kemudian membukanya lagi, seolah mengiyakan apa yang Reynand katakan barusan. Lantas tangan lembutnya itu dengan agresif semakin mengeratkan lingkaran tanganya dileher Reynand. Berharap laki-laki itu terus meneruskan aktivitas ini.
Akan tetapi tangan yang sedang melingkar itu tiba-tiba terangkat keatas saat Reynand berusaha melepas baju kaosnya perlahan.
Tubuh indah itu pun terpampang dengan jelas dihadapannya. Hanya meninggalkan kain berwarna hitam yang menutupi benda kenyal nan mulus itu. Lantas dengan cepat ia pun membuang baju kaos itu sembarang kelantai.
"Abang...."
Reynand tersenyum, gadis ini masih bisa gugup rupanya sekarang.
"Mau lanjut?"
Gadis itu mengangguk pelan.
Lagi-lagi Reynand tersenyum. Seandainya setiap hari Nayla seperti ini. Dia tentu tidak perlu bersusah payah membujuknya.
Tapi, ini yang pertama, kan untuk Nayla?!
Dia harus memperlakukan Nayla dengan lembut. Ini adalah hal pertama untuk gadis ini, jadi dia tidak boleh gegabah.
Dengan hati-hati dia mulai membaringkan Nayla dikasur. Tubuhnya ia topang dengan satu siku. Sementara ia juga menjauhkan anak rambut dikening gadis itu dengan tangan satunya lagi. Dia mulai mengecupi kening yang sudah berkeringat itu sembari tangannya terus menyusuri kulit perut yang tanpa penghalang itu dengan lembut, kembali memberikan rangsangan.
Setelahnya ia pun turun mengecup leher jenjang itu, menyesapnya pelan dan memberikan gigitan-gigitan kecil dan meninggalkan bekas kemerahan disana.
Tanganya pun perlahan naik menangkup benda kenyal itu didalam genggamannya. Memberikan pijatan pelan sampai ia dapat mendengar suara gadis itu melenguh oleh perbuatannya.
Rasanya ia akan menggila. Nayla benar-benar menerima segala macam perlakuannya. Mereka bedua benar-benar sudah hilang kendali.
__ADS_1
Lantas Reynand pun berdiri bertumpu pada kedua lututnya, setelah kemudian ia melepas baju kaos yang ia pakai dengan gerakan cepat.
Setelah baju kaos itu terlepas dari tubuhnya, ia kembali membungkuk. Menangkup kembali bibir mungil itu, menciuminya dan memagut mesra. Gadis itu pun membuka mulutnya seiring dengan gerakan Reynand yang semakin menuntut.
Tangan Reynand semakin bergerak tidak karuan, mengelus dan memijat setiap bagian tubuh Nayla. Membuat gadis itu mulai mengeluarkan suara-suara yang semakin menaikkan gairahnya.
Tak lama setelah ciuman mereka terlepas, mata Reynand beralih tertuju pada gundukan indah yang ada dihadapannya.
Ia melirik Nayla yang sudah tidak berdaya dibawah kungkungannya. Tubuhnya benar-benar pasrah menerima setiap perlakuan yang ia berikan untuknya.
"Nay...." Ucapnya pada gadis yang sudah tidak berdaya itu.
"Kamu nggak apa-apa..."
Gadis itu hanya bisa memejam dan membuka mata menanggapi pertanyaan Reynand. Tubuhnya sedikit menekuk keatas saat Reynand menyusupkan tangan dibawahnya, berusaha membuka pengait yang menutupi bagian tubuhnya yang tertutup itu.
Reynand semakin tidak bisa menahan diri, tubuhnya tiba-tiba gemetar melihat penampakan indah yang ada dihadapannya itu.
Huh! Padahal ini kali kedua dia melihatnya, akan tetapi kenapa dia jadi gugup begini.
Tok! tok!
"Reyyyyy, keluar woy!"
Siapa?
Aldi!!
Astaga! Sialan, Reynand menggeram kesal. Kenapa sih laki-laki sialan itu harus menganggu disaat seperti ini.
Ah, dia ingat. Laki-laki itu pasti ingin mengambil minuman yang dititipkan kepadanya tadi.
Reynand memejamkan matanya secara paksa. Mengusap rambutnya kasar.
Ia melirik Nayla sebentar. Bergegas ia tutupi tubuh yang sudah setengah tanpa busana itu dengan selimut.
"Tunggu sebentar ya." Ia mengecup kening gadis itu pelan, setelah akhirnya ia pun turun dari ranjang dan dengan cepat memakai bajunya kembali.
"Reynand, woi! a elah lo. Ngapain si didalam?"
Ck, berdecak sebal dia pun keluar kamar sembari membawa botol minuman yang sudah berkurang isinya itu.
Cklek!
Reynand hanya membuka pintu itu sebagian.
"Ganggu banget sih, bang!" Ucapnya kesal.
__ADS_1
Aldi sedikit tersentak saat itu.
"Lagian si lo, buka pintunya aja lama banget. Sini." Mengambil bungkusan minuman itu.
"Lo kenapa?" Tanya Aldi akhirnya.
"Kepo lo!" Reynand menjawab ketus.
"Idih, emang, gue ganggu banget ya?"
"Tuh, nyadar!"
"Aduh, sori banget deh Rey. Gue nggak tau kalau lo lagi...." Aldi berusaha melirik kedalam kamar, tapi Reynand dengan cepat menghalangi dengan tubuhnya. Aldi menyunginggkan senyum aneh penuh curiga yang membuat Reynand semakin kesal.
"Ya, udah! lo pergi deh bang!"
Aldi mengernyit, sebelum akhirnya dia kembali melempar senyuman yang aneh.
"Sori banget ya, gue udah ganggu. Kasian gue sama adek lo." Ujarnya melirik kebawah. "Lanjut deh sana." Kemudian dengan santainya ia berlalu sembari melambaikan tangan.
Reynand kembali masuk kedalam kamar, kemudian menutup pintu tak lupa ia juga menguncinya. Aldi benar-benar sialan, laki-laki itu datang disaat yang tidak tepat.
Ia pun berniat melanjutkan kegiatannya yang tertunda.
Namun, saat tubuhnya berbalik, seketika ia menjadi lesu. Nayla, gadis itu telah tertidur rupanya.
Apa-apaaan ini. Setelah apa yang gadis itu lakukan padanya tadi, sekarang dia malah tertidur lelap.
Dengan langkah gontai ia mendekatinya, kemudian duduk disisi ranjang. Dipandangainya wajah gadis itu dengan seksama.
Reynand menghela nafas.
Ia tersenyum, mungkin saat ini belum waktunya. Setidaknya tadi dia telah melihat sendiri bagaimana gadis itu mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini.
Jadi, Nayla cemburu?!
Apa dia harus menggoda gadis itu saat bangun besok pagi?
*
*
*
*
Happy Reading!
__ADS_1