
****
Ingatan itu akan tetap ada, semuanya. Segala hal yang ia lalui hingga hari ini. Semuanya memberikan ia pelajaran. Ternyata memiliki kenangan manis bersama seseorang rupanya semenyiksa ini.
Hatinya retak.
Samar-samar ia pun perlahan mengenang itu kembali.
“Nay, nanti malam ada yang mau datang kerumah.
Kamu siap-siap ya. Dandan yang cantik. Ingat kamu harus bersikap baik didepan tamu kita nanti. Sebelumnya Mami udah kasih tau kan, ada yang mau melamar kamu.”
“Memang kenapa kalau Nayla masih sekolah. Kalian akan dinikahkan secara diam-diam. Tidak akan ada yang tau. Pernikahan akan dilakukan secara rahasia. Nanti setelah Nayla lulus SMA baru kita adakan resepsinya.”
“Nay, yuk keluar sayang. Reynand sudah nunggu kamu. Kita akan segera melakukan ijab Kabul.”
“Bagaimana kalau untuk selanjutnya Lo tinggal diapartemen gue.”
“Jangan salah paham dulu. Maksud gue disana kita bakal tidur dikamar yang terpisah. Gue yakin kalau masih tinggal dirumah ini Kakek nggak bakal ngasih kebebasan untuk Lo dan gue juga.”
“Em, Lo boleh panggil gue apa pun senyaman Lo.”
“Gu-e, em maksudnya. Aku boleh panggil, abang?”
“Soalnya Mami bilang kalau, em Abang lebih tua lima tahun dari gu- em aku. Jadinya nggak enak kalau panggil nama.”
“Kamu lebih bagus galak daripada pendiam gini.”
"Abang sayang kamu Nay...."
"I love you...."
"I love you too...."
Nayla ingat ia dulu pernah harus melepas orang paling penting dalam hidupnya untuk pergi selama-lamanya tanpa ia inginkan sedikit pun. Namun bedanya saat itu mereka bertemu karena dia didatangkan melalui sebuah proses kelahiran yang membawa kebahagiaan untuk sosok itu.
Ia kini sadar saat sesorang hadir didalam hidupnya lalu memberi kebahagiaan maka tidak ada rasa penyesalan yang ia rasakan karena telah mengenal orang tersebut.
Sama seperti saat ini, ia tidak pernah menyesal karena telah pertemukan dengan Reynand. Sosok laki-laki yang dulunya tidak pernah ia sangka akan menjadi kebahagiaannya.
Hampa, kesal dan amarah yang ia rasakan beberapa hari ini. Ia kecewa, karena Reynand tidak segera mendatanginya. Saat itu ia benar-benar kecewa. Nayla sangat sadar kalau sebenarnya ia sangat membutuhkan Reynand. Ia membutuhkannya setiap waktu, seolah itu adalah sebagian dari hidupnya, separuh nafas dan jiwanya. Reynand mampu melengkapi kekurangannya. Memenuhi ruang hatinya dengan cinta.
Dan, yang pasti dari setiap hal itu adalah bahwa hatinya telah benar-benar jatuh untuk mencintainya. Cinta yang tidak pernah puas ia ucapkan dengan kata, cinta yang tidak bisa ia jelaskan dari getar jiwanya. Semua itu tidak akan pernah sampai untuk menunjukkan apa yang ia rasa.
Sekarang, mampukah ia jika cinta itu pergi darinya....
Sesak, ia sangat benci membohongi hatinya seperti ini. Ia benci dirinya sendiri. Dirinya yang begitu rapuh akan perasaan, dirinya yang kesulitan mengungkap apa yang ia rasa. Ia benci semuanya.
Kenapa sesulit itu menjadi dirinya. Kenapa? Padahal seharusnya ia bisa mengendalikan dirinya sendiri. Hati, kenapa hati ini selalu menyetir dirinya. Tolong dia tidak sekuat itu.... dimana sesorang yang telah menguatkannya selama ini?
Pergi, dialah yang meminta sosok itu untuk pergi. Tidak sadarkah ia. Bahwa sebenarnya hati ini butuh akan sosoknya.
Nayla membutuhkannya, sangat. Sangat membutuhkannya lebih dari apa pun.
Tolong jangan pergi....
__ADS_1
Greb!
Tubuhnya hampir terjatuh kalau saja pelukan erat dari belakang itu tidak menahannya.
"Nggak nyangka ya, jauh-jauh dateng pas lagi hujan-hujan, pas sampai malah diusir."
Ya tuhan, hampir saja Nayla merasakan jantungnya akan jatuh saat itu juga.
Reynand pun membalik tubuh itu perlahan menghadapnya. Tangannya pun tergerak untuk mengelap sisa-sisa air matanya di wajah mulus itu.
Reynand lalu mengintip wajah itu. "Jadi, boleh abang tidur disini?"
Nayla memalingkan wajahnya dari pandangan itu
Reynand kembali tersenyum. Ia cium kening itu pelan. Namun sesaat kemudian Nayla menunduk.
"Kenapa balik lagi?"
Hening sejenak. Hanya tarikan nafas yang terdengar saat itu.
"Bukannya tadi udah mau pulang.... bukannya tadi udah mau ninggalin pergi."
"Terus kalau abang tinggalin pulang, kamu gimana?"
"Nggak apa-apa."
"Bener?"
"Iya, pulang aja...." ucap Nayla tanpa ingin menatap wajah itu.
"Sini peluk...." Reynand lalu kembali memeluk tubuh itu erat. Kali ini tidak ada penolakan. Bahkan Reynand dapat merasakan debar jantung yang begitu kencang saat itu. "Maaf ya udah bikin kamu jadi semarah ini." Reynand kemudian melepas pelukan itu sejenak untuk memberi jarak. "Maaf ya, Nay kecewa berat pastinya sama abang...."
Perempuan itu kembali mencebik nangis saat Reynand memeluknya kembali. "Aku nggak cinta sama abang...."
"Em.... iya." Reynand mencium puncak kepala itu pelan.
"Aku nggak sayang...." Memukul pinggang laki-laki itu kuat.
Reynand merasakan sakit luar biasa dibagian sana dan lagi-lagi ia tahan. "Iya nggak apa-apa."
"Aku nggak rindu...." Lalu isakannya kembali terdengar.
Reynand kemudian menyusupkan wajahnya diceruk leher itu dalam-dalam. "Em...."
"Aku benci kamu, benci, sebenci bencinya...."
"He em...." Lalu Reynand menoleh dan mencium pipi disebelahnya pelan. "Jangan nangis lagi...." Usapnya pada tetesan air mata itu. "Nay kecapean kan?"
Nayla mendengus, bukan lagi. Dia sendiri baru tahu kalau menahan perasaan itu ternyata bisa semelelahkan ini.
Reynand tau puncak dari kemarahan ini adalah dirinya. Dia benar-benar merasa bersalah.
"Jangan nangis lagi ya, sayang. Em, kalau kamu sedih...." Reynand lalu memandang perut rata itu sejenak. Apa mungkin? Dia masih belum yakin sebenarnya.
"Maaf, abang minta maaf. Maaf karena telah membuat kamu seperti ini."
__ADS_1
"Aku sayang kamu, aku akan selalu jagain kamu, aku nggak akan lepasin kamu."
Kini balik Nayla yang memeluk tubuh itu dengan erat. Ia benar-benar merasakan rindu yang tiada terkira.
Reynand lalu terkekeh. "Kamu kalau lagi nahan kangen serem juga ya."
Bugh!!!! Reynand kembali meringis dipinggangnya karena pukulan ringan itu. Rasanya sangat sakit, namun ia berusaha menahan itu.
Berusaha untuk tetap tersenyum, ia kemudian menurunkan wajahnya perlahan. "Nay...."
Perempuan itu lalu mendongak dan memejamkan saat Reynand menyatukan bibir mereka lembut. Mereka saling berbalas, memeluk, mencium dengan penuh perasaan. Beberapa hari ini mereka sudah saling merindukan. Dan, saat ini keduanya ingin melepaskan itu.
Ternyata benar, perasaan mereka benar-benar tidak berujung. Rasanya tidak puas hanya dengan seperti ini. Perasaan yang terus tumbuh membumbung tinggi.
Mereka ingin terus saling menyayangi dan mencintai dengan sepenuh hati.
Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Saling mengharapkan, mendamba dan tidak ingin melepaskan.
Deru nafas yang sama saat ciuman itu terlepas. Reynand menyatukan kening mereka.
"Aku cinta kamu...." lirih Nayla kemudian.
"Aku lebih mencintai kamu.... lebih dari apa pun."
"Aku butuh kamu...."
"Aku pun sama.... aku lebih butuh kamu."
"Jangan pergi...."
"Nggak akan...."
"Aku nggak mau pisah lagi...."
"Nggak akan sayang...."
Entahlah, rasanya mereka benar-benar tidak puas dengan semua ungkapan itu. Mungkin mereka tidak menyadari kalau sekarang mereka adalah satu kesatuan, jiwa dan raga mereka tidak bisa di pisahkan karena hati mereka telah menyatu sepenuhnya dalam cinta yang tidak ada habisnya.
Lalu di sisi lain....
Sementara Romeo telah kembali kedalam kamar karena ia di larang untuk menonton adegan tidak terduga itu.
Diluar rumah, Mami yang telah lama pulang kerja menunggu didepan pintu. Sembari menghapus air matanya, wanita itu sedari tadi terus memandagi tetesan darah yang bercampur dengan air hujan di sepanjang jalan menuju rumah.
*
*
*
*
Kekurangannya nanti aku perbaiki.
Happy Reading!!!!
__ADS_1