Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Gara-gara Syok


__ADS_3

****


Saat itu disore hari Nayla dan juga bersama teman-temannya telah kembali kehotel. Mereka mendapatkan arahanya dari guru untuk bersiap-siap karena nanti malam mereka akan mengadakan acara api unggun ditepi pantai.


Anak-anak terlihat begitu antusias untuk menyambut kegiatan api unggun. Saat itu mereka pun telah berkumpul ditepi pantai. Namun sayangnya cuaca sedang mendung. Sehingga tidak ada bulan atau satu pun bintang yang terlihat.


Lampu api unggun pun mulai menyala. Semuanya bekumpul dan bersenda gurau. Mereka semua tertawa riang gembira. Sambil merenung karena sebentar lagi mereka akan berpisah setelah lulus SMA.


“Kok gue jadi sedih ya.” Tia terlihat mellow.


“Iya gue juga nih. Sebentar lagi kita akan berpisah. Ada yang kuliah, kerja.” Sahut Suci.


Sementara itu Nayla memandangi api unggun yang terus membara dengan tatapan kosong. Saat itu ia merenung. Teman-temannya sebentar lagi pasti akan kuliah. Sementara dirinya sampai sekarang belum ada kejelasan. Entah kenapa suasana sekarang? Disaat mereka merenung bersama membuat Nayla merasa sedih, sekaligus iri. Dirinya merasa iri karena teman-temannya masih bebas. Tidak seperti dirinya yang sudah ada ikatan. Ikatan dengan seseorang yang entah ia tidak tau orang itu menganggap ia apa.


Perlahan air mata Nayla menetes. Ia begitu sedih. Terlalu menyelami apa yang ada didalam pikirannya.


“Nay, Lo nangis.” Suci memperhatikan raut wajah Nayla.


“Nggak, gue kena debu.” Nayla berpura-pura mengerjap-ngerjapkan matanya. Seolah-olah memang ada debu yang masuk.


“Lo sedih ya, karena sebentar lagi kita bakalan pisah.” Riko menghapus air mata yang mengalir dipipi Nayla. Nayla dapat melihat wajah Riko sangat terang karena api unggun yang memancar.


Nayla menatap Riko dengan dalam. Dalam ingatan Nayla Riko adalah laki-laki yang paling dekat dengannya selama ini.


Tak berapa terdengar suara nuntur menggelegar. Langit terasa semakin mendung. Angin bertiup. Dan tiba-tiba hujan pun turun dengan deras. Semua anak-anak berlarian meninggalkan tepi pantai. Berusaha untuk melindungi diri dari derasnya hujan.


Sementara itu Riko menarik tangan Nayla. Ia mengajak Nayla berlari ketempat terpisah. Membuat Nayla kebingungan dibuatnya.


“Riko Lo mau bawa gue kemana?”


Riko tdak menghiraukan pertanyaan Nayla. Ia terus membawa gadis itu berlari.


“Riko!”


Mereka berhenti ditengah derasnya hujan yang mengguyur.


“Lo mau bawa gue kemana?!”


Riko terdiam, matanya sedikit menyipit karena guyuran air.


“Gue mau balik kehotel.” Nayla berusaha melepaskan pegangan Riko darinya. Lalu berusaha meninggalkan Riko dengan perasan kesal.


“Nay.” Riko mengerjar Nayla. Dan menggapai tangannya.


“Apaa sih? Lepasin gue! Ini tu lagi hujan deras.”


“Gue. Mau ngomong sesuatu.”


“Nanti aja ngomongnya. Jangan disini.” Nayla kembali berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Riko.


“Nay, gue suk….”


Cetar!! Petir kembali menggelegar. Kilatannya terlihat sangat jelas. Riko terkejut dan menunduk dan memejamkan matanya. Ia lumayan kaget. Namun saat ia membuka mata Nayla sudah tidak ada didepannya.


Sementara itu Nayla berlari dengan sangat kencang. Ia ingin segera kembali kehotel. Apa-apaan disaat hujan seperti ini Riko malah membawanya kabur. Sudah dua kali dirinya hari ini dibawa kabur oleh laki-laki yang berbeda.


Bugh! Nayla menabrak seseorang.

__ADS_1


“Abang.” Wajah menggigil Nayla terkejut. Sementara itu Reynand memandangnya dengan sorot mata yang dingin, lebih dingin dari air hujan yang sedang mengguyurnya sekarang. Namun tak berapa lama pandangan mata Nayla menjadi buram dan gelap.


~


Saat itu Nayla terbangun. Ia sedikit terkejut dengan keadaannya sekarang. dimana ini? tempat ini berbeda dengan hotel tempatnya nginap.


Nayla mencoba mengingat-ingat. Terkhir ia tiba-tiba bertemu dengan Reynand dan tiba-tiba ia pingsan. Tunggu tadi ia pingsan? Kenapa bisa begitu? Apa dia terlalu syok?


Tak henti-hentinya Nayla mengutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia pingsan ditengah hujan deras.


Nayla pun berusaha bangun. Tiba-tiba ia terkejut. Pakaiannya? Kenapa ia hanya memakai jubah mandi? Apa yang terjadi? Kemana baju yang ia pakai tadi? Siapa? Siapa yang telah mengganti pakaiannya dengan jubah mandi ini? dan, ha? Nayla semakin terkejut. Ia tidak memakai dalaman.


“Sudah bangun.” Tiba-tiba Reynand datang dengan membawa teh hangat. Rambut laki-laki itu juga terlihat basah.


Nayla menatap Reynand penuh tanya. Pandangnya terus mengikuti langkah Reynand yang kemudian duduk disisi ranjang.


“Kenapa? Apa yang aneh?”


Nayla tidak menjawab ia malah memundurkan tubuhnya sambil menyilangkan kedua tangan didadanya.


“Kamu kenapa?”


Nayla masih terdiam terpaku.


“Nayla.”


“Siapa yang gantiin baju aku. Kenapa aku nggak pakai baju. Kenapa aku nggak pakai semuanya.” Nayla berbicara dengan segenap pandangan mata yang menuduh.


“Nayla tadi baju kamu basah. Jadi diganti.”


“Siapa yang gantiin?”


“Abang ya yang ganti baju aku?” Sorot mata menuduh terpancar dari sana.


Reynand terdiam.


“Abang!”


“Kalau iya memang kenapa?”


Nayla melempar Reynand dengan bantal.


“Kenapa?” menangkis bantal yang terlempar.


“Apanya yang kenapa?” kembali melempar Reynand dengan bantal.


“Kenapa abang gantiin baju aku?" Nayla merengek malu. Ia benar-benar tidak habis pikir Reynand akan mengganti pakaiannya.


“Terus abang harus biarkan kamu pakai baju basah terus. Supaya kamu sakit begitu?”


Nayla menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Entah kenapa ia merasa malu kalau Reynand telah melihat seluruh tubuhnya. Ia tidak ingin memandang laki-laki itu sekarang.


“Nay. Ini abang udah buatin kamu teh hangat.”


Nayla tidak bergeming. Ia masih bersembunyi dibalik selimut.


“Abang tadi nggak lihat apa-apa.”

__ADS_1


“Bohong!” Menjawab dibalik selimut.


“Tadi abang tutup mata.”


“Nggak percaya!”


“Serius, abang nggak bohong.”


“Terserah!”


Reynand membuka selimut yang menutupi wajah Nayla dengan perlahan.


“Abang apaan si.” Kembali menutup wajahnya.


“Kamu marah?”


“Menurut abang!”


“Abang serius Nay, abang nggak lihat apa-apa.” Reynand berbicara dengan penuh keyakinan.


Nayla pun perlahan membuka selimutnya. Kemudian berusaha duduk sambil terus membenahi jubah mandinya..


“Terus aku pakai baju apa nanti balik kehotel.”


“Sekarang kita kan lagi dihotel.”


“Maksudnya hotel tempat aku sama teman-teman menginap aku abang.”


“Tadi abang sudah minta sama pelayan hotel untuk cuci baju kamu.”


“Ya udah, sekarang aku mau abang antar balik.”


“Sekarang masih hujan Nayla.”


“Kan abang bisa antar pakai mobil.”


“Abang nggak bisa Nayla.”


“Ya udah, aku pesan tadi online aja.”


“Nayla kok keras kepala si, memang mau balik masih pakai piyama gitu. Nggak kahwatir teman-temannya curiga.”


“Ya udah, mana bajunya?”


“Nanti diantar kalau sudah siap. Sekarang minum teh dulu.”


Dengan wajah yang masih cemberut Nayla pun mengambil teh yang disodorkan oleh Reynand. Kemudian perlahan meminumnya.


Pikiran Nayla kembali menerawang sesaat sebelum ia pingsan. Saat itu ia melihat sorot mata Reynand sangat menyeramkan. Bisa jadi dia pingsan gara-gara itu. Hari ini juga dirinya terlalu banyak berpikir, lalu saat hujan turun tiba-tiba ia ditarik oleh Riko yang membawanya belari entah kemana. Setelah itu ia bisa melarikan diri saat tiba-tiba petir menggelergar dengan keras. Kemudian disaat berlari kencang ia menabrak Reynand dan laki-laki itu memandanginya dengan menakutkan. Jadi benar ia syok rupanya.


*


*


*


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2