Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Terjatuh


__ADS_3

****


Keesokan harinya, sepertinya banjir sudah mulai surut. Jalanan sudah bisa dilalui oleh kendaraan roda dua walau masih terdapat genangan air.


Nayla melihat grup chat sekolahnya. Sepertinya sekolah sudah tidak lagi diliburkan. Ia telah memakai seragam sekolahnya. Hari ini mereka diinstruksikan untuk memakai seragam olahraga. Mereka tidak akan belajar seperti biasa. Pihak sekolah meminta seluruh murid untuk melakukan pembersihan sekolah pasca banjir.


Nayla keluar dari kamar. Ia sudah siap untuk berangkat. Saat berbalik setelah menutup pintu kamar Ia terkejut. Reynand tiba-tiba ada didepannya. laki-laki itu tersenyum seperti memang sedang menunggu dirinya. Lagi-lagi Nayla tersipu melihat senyum Indah dari wajah Reynand. Tanpa sadar matanya memperhatikan tampilan Reynand dari atas sampai bawah. Sangat rapi dan juga, ganteng. Untuk beberapa saat Ia terpanah, termangu dan mematung. Suaminya itu benar-benar memiliki pesona yang kuat.


“Udah mau berangkat?” Reynand menundukkan wajahnya menatap Nayla. Gadis itu tersadar dan tiba-tiba salah tingkah. Wajah Reynand sangat dekat dan senyum itu kembali menghiasi wajahnya.


“Iya. Abang mau berangkat sekarang?” Ia menjawab kikuk.


Reynand mengangguk.


“Hari ini ada pertemuan untuk membahas film baru.”


Laki-laki itu akan syuting film terbaru lagi. Dia benar-benar artis terlaris beberapa tahun belakangan ini. Nayla tahu beberapa film yang diperankan Reynand karena teman-temannya sering memaksa dirinya untuk ikut menonton.


“Yuk bareng.”


“Ha?”


“Biar saya antar kamu kesekolah.”


Seperti ditarik magnet. Tanpa berbicara Nayla mengikuti Reynand dari belakang.


Saat itu didalm lift. Hanya mereka berdua disana. Suasana terasa sangat canggung bagi Nayla.


“Jam berapa masuk?” Reynand mencoba mencairkan suasana.


“Jam tujuh tepat.”


Reynand melirik jam ditangannya. Masih 35 menit lagi. Ia ingat waktu pertama kali gadis itu ikut dengannya pindah keapartemen Ia hampir terlambat kesekolah esok harinya.


“Kok pagi-pagi banget berangkat? Nggak biasanya.” Masih mencoba basa-basi.


“Nggak apa-apa cuma kangen aja sama sekolah.” Nayla menjawab asal.


Reynand tersenyum, entah kenapa gadis itu tiba-tiba terlihat sangat manis. Nayla saat itu menguncir tinggir rambutnya. Ia juga tidak banyak memakai aksesoris ditubuhnya. Hanya anting yang mengait di kedua telinga. Reynand memperhatikan bagian lain dari gadis itu. Tanpa sadar matanya menyusuri leher putih mulus gadis disampingnya itu. Beralih ketelinga, mata hidung, pipi. Bibirnya terlihat sangat mungil dan merah muda. Mengingat Nayla adalah istrinya yang sah tiba-tiba membuat jantungnya berdebar-debar.


Lift berhenti dan pintunya pun terbuka. Reynand tersadar, Ia menggelengkan kepalanya. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Ia tidak habis pikir dengan apa yang baru saja timbul dibenaknya.


Akhirnya Ia dan Nayla pun keluar dari dalam lift.

__ADS_1


Jalanan sudah mulai ramai. Beruntung mereka berangkat agak pagi. Beberapa saat kemudian Reynand menghentikan mobilnya di Mc.D****ds. Ia memesan paket breakfast untuk mereka berdua.


“Nih makan.” Menyerahkan sebungkus makanan dan sebotol air.


Nayla masih belum bergerak. Ia masih menatap makanan yang disodorkan Reynand.


“Ambil. Kamu pasti belum makan tadi.”


Dengan segera Nayla langsung mengambil makanan yang disodorkan Reynand. Ia mengintip Reynand sejenak. Laki-laki itu sudah melahap makanannya sembari menyetir mobil. Melihat Reynand makan membuatnya seperti dipengaruhi dan juga memakan makanan miliknya.


Sekitar lima belas menit kemudian mereka pun sampai disekolah Nayla. Suasana didepan gerbang sangat ramai. Banyak kendaraan yang berhenti didepan gerbang sekolah. Sebagian kendaraan juga masuk pintu melewati pagar.


“Jam berapa nanti pulang?”


“Jam satu sudah pulang. Soalnya hari ini nggak belajar hanya ada kegiatannya bersih-bersih.”


Reynand mangut. Ia terlihat berpikir sejenak.


“Mana nomor hp kamu? Simpan dihp saya.” Reynand menyerahkan ponselnya pada Nayla. Membuat gadis itu dengan segera mengetikkan nomor ponselnya diponsel Reynand.


“Kalau sempat nanti saya menghubungi dan akan jemput kamu.”


Nayla menoleh menatap Reynand. Beberapa saat ucapan Reynand membuatnya terpaku.


“Kalau begitu aku akan turun.”


Reynand mengangguk.


Nayla pun turun dari mobil. Sementara Reynand akan melanjutkan perjalanannya lagi. Tiba-tiba dari dalam mobil Reynand melihat Nayla terjatuh. Sepertinya cukup keras karena gadis itu terlihat meringis kesakitan. Dirinya sudah hendak turun saat itu. Namun Ia menarik diri kembali. Bahaya, kalau dia keluar saat itu. bisa-bisa heboh satu sekolahan. Seorang artis yang sedang naik daun tiba-tiba turun dari mobil hanya untuk menolong gadis SMA yang terjatuh dan membuat heboh satu sekolah. Bisa-bisa dia jadi pemberitaan diberbagai media. Jaman sekarang bermodalkan poto dan video sudah menjadi bukti untuk orang-orang. Tiba-tiba Ia melihat sosok lelaki menghampiri Nayla.


“Ya ampun Nay. Lo nggak apa-apa?” Riko yang memang menunggu kedatangan Nayla, bergegas membantunya berdiri. Kemudian memapah gadis itu. Namun Nayla sepertinya kesulitan berjalan. Kakinya seperti kesakitan Ia terlihat meringis. Dengan segera Riko menurunkan tangannya dan mengangkat gadis itu dalam gendongannya.


Sementara itu Reynand memperhatikan dari dalam mobil. Ia lega Nayla ada yang menolong. Tapi, melihat laki-laki itu baru saja menyentuh Nayla. Entah kenapa Ia merasa perasaan asing menyelinap pada dirinya. Ada sesuatu yang mengusiknya. Namun perasaan itu seketika lenyap, tat kala tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk. Ia harus pergi saat itu juga.


Di lain tempat dengan terburu-buru Riko membawa Nayla keruang UKS. Banyak mata tertuju pada mereka. Membuat Nayla hanya menunduk malu memejamkan mata. Ia melingkarkan tangannya dileher Riko dengan erat.


Sesampainya di ruang UKS Riko pun mendudukkan Nayla diatas kasur.


“Duh Rik, gue tu nggak apa-apa. Palingan cuma lecet dikit.” Tapi Ia meringis dan memegang lutunya.


“Lecet dikit apanya. Orang tadi jatuhnya keras gitu. Coba tadi kalau nggak gue gendong emang Lo bisa jalan” Mengambil kotak obat dan membawanya ketempat Nayla.


“Sini.” Riko menarik kaki Nayla. Kemudian melepas sepatunya. Ia tengah posisi jongkok saat itu.

__ADS_1


“Mau ngapain?”


“Mau lihat cuman lecet atau lebih parah dari itu.” Riko pun meletakkan telapak kaki Nayla dipahanya. Paha satunya lagi menopang tubunhya.


Perlahan riko menggulung celana panjang Nayla ketas. Dilihatnya lutut gadis itu lebam dan bengak berwarna merah kebiruan melingkari lutunya. Juga terdapat sedikit darah disana karena lecet. Kulitnya yang putih membuat luka tersebut terlihat semakin jelas. Benturannya ternyata lumayan keras.


Riko menekannya sedikit.


“Aduh sakit.” Berusaha menjauhkan tangan Riko dari lutunya.


“Diam dulu. Jangan bandel.” Riko mengambil kapas dan antiseptik kemudian perlahan dengan hati-hati mulai membersihkan luka gadis pujaannya itu.


“Makanya jangan disentuh.” Nayla masih meringis.


“Makanya lain kali jalan tuh hati-hati. Sekarang kan musim hujan. Jadi jangan banyak mikir yang aneh-aneh kalau jalan.”


“Duh, nggak usah cerewet deh. Tadi itu jalannya licin”


“Bukannya cerewet. Gue itu khawatir sama Lo. Kalau kaki Lo nggak bisa jalan gimana.” Terus mengoceh sambil mengobati luka Nayla.


“Makanya jangan didoain yang jelek-jelek.” Nayla bersungut-sungut.


“Udah diam. Entar nggak selesai-selesai ngobatinnya.”


Nayla cemberut. Namun akhirnya Ia memilih diam membiarkan Riko yang sedang mengobati lutunya nya. Kedua tangannya berpegangan dibahu Riko.


“Aduh pelan-pelan Rik. Perih-perih” Nayla meringis memejamkan kedua matanya. Tangannya meremas bahu Riko pelan.


“Tahan bentar kenapa.” Riko masih terus fokus mengobati luka Nayla.


Nayla akhirnya terdiam. Memperhatikan Riko yang dengan hati-hati mengobati lukanya. Memiliki sahabat seperti Riko membuat dirinya merasa sangat beruntung dan terlindungi.


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2