
****
Reynand mengatur suhu AC mobilnya. Entah kenapa rasanya suasana semakin panas. Dia menatap Nayla yang masih memalingkan wajah darinya. Koyo itu, ingin sekali dia melepasnya dari leher mulus Nayla. Rasanya sangat mengganggu mata.
Sementara itu Nayla masih menunggu apa yang akan dilakukan Reynand selanjutnya. Suasana mobil yang semakin dingin tidak menurunkan rona pipinya yang semakin panas. Bisa-bisanya dia menawarkan diri untuk dicium oleh Reynand. Kemana dia membawa urat malunya. Eh, tapi kan laki-laki itu yang meminta duluan. Dia hanya mengiyakan saja.
Sret! Reynand melepas koyo yang masih menempel dileher Nayla dengan Gerakan cepat.
“Abang sakit.” Gadis itu refleks menoleh kearahnya dan meringis.
“Maaf, sakit ya.” Mengelus leher Nayla pelan.
Cup! Reynand mencium dibekas tempelan koyo itu, membuat Nayla merasa kegelian. Reynand tersenyum. Bekas tanda yang dia buat semalam masih ada. Sekarang warnanya malah semakin hitam pekat. Sepertinya masih butuh waktu beberapa hari untuk menghilangkan bekasnya. Koyo itu mungkin masih akan melekat dileher Nayla selama beberapa hari. Ah, Reynand benar-benar tidak mewanti-wanti akan terjadi seperti ini.
“Abang mau ngapain?” Gadis itu merengek lagi saat Reynand mengangkat tubuhnya kemudian beralih duduk dikursi Nayla. Dalam sekejap gadis itu kini sudah ada dalam pangkuannya.
“Nayla, kamu cantik.” Reynand memandangi wajah Nayla dengan seksama. Membuat gadis itu mendadak salah tingkah dan segera memalingkan wajah darinya.
Nayla terpejam saat Reynand mulai menciumi seluruh bagian wajahnya. Mulai dari kening, pipi dan bibir. Dia mencoba untuk mengatur nafasnya yang tertahan.
Bagaimana ini tangan Reynand sudah mulai tidak bisa dikondisikan. Tadi kan cuma mau cium. Tapi kenapa tangannya malah bergriliya kemana-mana begini.
Reynand kembali mengecup bibir Nayla. Dia ingin membuat ciuman itu lebih dalam. Sampai akhirnya dia dapat merasakan sesuatu yang lembut didalam sana. Dia terus bergerak dengan lihai menggiring Nayla untuk melakukan hal yang sama sepertinya. Awalnya gadis itu masih kaku, namun semakin lama sepertinya dia mulai paham dan ikut dalam permainan Reynand.
Nayla membuka matanya perlahan saat Reynand melepas ciuman mereka. Reynand tersenyum kearahnya dengan nafas yang masih memburu cepat, sama seperti dirinya.
Nayla pikir ini sudah selesai, namun ternyata belum. Dia mulai tidak nyaman dengan duduknya. Sesuatu yang dibawah sana dia dapat merasakannya, semakin mengeras.
Reynand menyingkirkan rambut Nayla yang menutupi sebagian lehernya. Kemudian perlahan dia mulai menciumi leher Nayla dengan sangat lembut.
“Jangan.” Nayla mendorong Reynand dengan cepat.
“Kenapa?” Reynand menatap Nayla dengan sorot mata protes.
__ADS_1
“Nanti berbekas lagi.” Jawabnya malu.
Reynand tersenyum.
“Tenang saja. Abang nggak akan ninggalin bekas disana.” Jawabnya singkat yang membuat wajah Nayla semakin panas dan memerah. Lalu dia akan meninggalkan bekas dimana? Nayla mengigit bibir bawahnya menerka.
Reynand kembali mencumbu disekitar telinga Nayla dengan memberikan gigitan-gitan kecil disana. Dia terus menyusuri kulit sensitif dibagian situ.
Nayla mengigit bibir bawahnya kuat-kuat. Nafasnya memburu makin tak tertahan kan. Akhirnya lenguhan itu keluar tat kala tangan Reynand mulai bermain diatas dadanya. Reynand memijat pelan disana. Membuat Nayla semakin menggigit bibirnya kuat-kuat.
Nayla menutup mulutnya rapat-rapat. Suara lenguhannya benar-baner terdengar jelas.
Nayla mencoba menahan tangan Reynand yang mencoba melepas kancing seragamnya. Bagaimana ini? Ini mereka didalam mobil. Apa mungkin disini? Pikirannya masih bisa berjalan namun….
Reynand tak bergeming. Tangannya terus berusaha membuka kancing baju itu satu persatu meskipun tangan Nayla mencoba menahannya. Dia kembali mencium bibir Nayla agar gadis itu terus terbuai olehnya. Dia sudah tidak tahan sekarang. Keinginnya untuk melihat benjolan yang masih terbungkus kain itu semakin kuat. Hasratnya sudah tidak bisa tertahan lagi.
Semua kancing baju Nayla sudah terlepas tanpa sisa. Dan entah sejak kapan seragam putih itu sudah terlepas dari tubuhnya. Meninggalkan thanktop berwarna hitam masih melekat disitu. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih mulus.
Lenguhnya kembali tak tertahan tatkala Reynand menyingkap kain yang menutupi dadanya sampai keatas sambil menyusuri kulit tubuhnya. Dengan sekali tarikan Reynand melepasnya dengan sempurna meninggalkan bra berwarna coklat tua yang masih membungkus disana. Tak sampai disitu dengan perlahan Reynand menurunkan penutup berwarna coklat tua tersebut.
Drrt…. Drrt….
Panggilan masuk dari ponsel Reynand. Dia tidak menghiraukan. Aktivitasnya sekarang sedang berada dititik puncak. Dia ingin menyelesaikannya sampai tuntas.
Drrt…. Drrt….
Reynand mulai gusar membuat dia menghentikan aktivitasnya sejenak. Mengganggu saja. Tanpa melihat nama yang tertera dilayar ponselnya, dia segera mengcancel panggilan tersebut.
Dipandangnya wajah Nayla yang sudah lemas akibat ulahnya. Gadis itu melingkarkan tangan dilehernya. Merasakan nafas Nayla hangat dikulit lehernya.
Namun tat kala dia ingin mengulangi aktivitasnya lagi….
Drrt…. Drrt….
__ADS_1
Panggilan dari Dion rupanya. Dasar!
Reynand pun dengan cepat mengangkat panggilan tersebut.
“Iya halo!” suaranya sedikit membentak.
“Galak amat si lo.” sahut suara dari seberang tak mau kalah.
“Lagian lo ganggu aja.”
“Idih emang lo lagi ngapain?”
“Bukan urusan lo! udah cepatan mau ngomong apa?!”
“Iya sabar kenapa. Lo dipanggil tu sama pihak manajemen. Mereka mau ketemu lo sekarang katanya ada hal penting.”
“Nggak bisa lain waktu?” bertanya gusar.
“Duh, mereka maunya sekarang.”
“Lo usahain dong.” Reynand makin kesal.
“Nggak bisa! lo harus kesana sekarang.” sarkas terakhir Dion.
Sial, Reynand mengumpat. Gagal sudah rencananya siang ini. Padahal sudah diujung tanduk.
“Ya udah gue kesana.” Menutup sambungan dengan kesal.
*
*
*
__ADS_1
*
Part ini udah direvisi ya....