Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Tega


__ADS_3

****


Sekitar pukul sepuluh malam itu, Reynand menuju basement tempat mobil terparkir setelah menyelesaikan beberapa permasalahan yang memang dibuat oleh dirinya sendiri dengan manajemen keartisannya. Kepalanya benar-benar pusing.


Satu yang Reynand rasakan saat ini adalah dia mulai bosen mengurus dan berhubungan dengan semua ini.


Membuka pintu mobilnya dengan cepat maka Reynand langsung mendudukan diri di kursi kemudi.


Namun seketika dia terperanjat kage saat pintu penumpang dibuka paksa secara tiba-tiba oleh seseorang.


"Reynand, akhirnya bisa juga ketemu kamu." Wajah cantik itu menatapnya dengan penuh binar.


Menyelipkan anak rambutnya ketelinga Airin terus menatap sosok yang masih terkejut itu dengan senyum yang terus merekah.


Tersadar, kemudian menghela nafas Reynand pun berucap kaku. "Tolong keluar...." ucapnya datar tanpa memandang sosok itu.


Airin sadar perilaku Reynand menyakitinya, namun perempuan itu terus berusaha untuk mengambil hati sang pujaan hati. "Rey, aku kangen sama kamu." Airin menjeda ucapannya sejenak sambil sesekali terus membaca raut wajah sosok yang duduk disampingnya itu. "Setiap kita berpapasan kamu selalu menghindar, terus nomor aku juga kamu blokir."


Reynand masih bergeming. Dirinya terlalu lelah untuk meladeni Airin saat ini.


Airin sepertinya juga sangat sadar kalau Reynand sedang berusaha mengabaikannya, namun lagi-lagi dia terus berusaha menebalkan muka hanya untuk menarik perhatian sosok lelaki yang terus ia harapkan ini.


"Reynand aku cuma mau kamu dengerin aku...." Airin melepas kegundahan hatinya saat ini.


"Kamu berubah Rey, kenapa kamu sedingin ini sama aku sekarang. Dulu kamu nggak kayak gini, kamu perduli sama aku."


Reynand merunduk. Dia hanya ingin Airin untuk cepat pergi dan keluar dari mobilnya sekarang.


"Kamu dengerin aku...."


Diam. Sebenarnya Reynand diam karena tidak ingin mendengarkan, dia hanya berusaha ingin mengusir perempuan ini secara halus.


Airin menunduk sejenak. "Aku sayang kamu Reynand, aku punya perasaan sama kamu. Dan aku nggak bisa cegah itu...." Airin lalu menatap Reynand, namun laki-laki itu masih bergeming enggan menatapnya.


"Aku rindu kamu yang dulu Rey, dulu kamu selalu baik sama aku. Kenapa sekarang kamu berubah? Apa ada sesuatu yang salah dari aku?"


Baiklah Reynand mulai pusing mendengarnya. Dia akhirnya berbalik menatap sorot mata yang sedang memohon itu. "Plis Rin, gue capek. Gue mau pulang. Tolong!"


"Reynand...." Suara itu terdengar penuh harap.


Menghela nafas Reynand lalu berucap. "Airiiiin... mending lo keluar sekarang. Lo pulang, entar Daddy lo nyariin." Sarkasnya.


Mendengar nama Daddy-nya disebut Airin sontak mengangkat kepalanya. "Apaan sih, Rey. Aku bukan anak kecil. Kamu itu...." Seketika suara Airin tertahan. Ia menatap Reynand dengan gurat kekecewaan.

__ADS_1


"Gue gak bilang lo anak kecil Rin, Gue cuma mikir kalau sekarang lo lagi dicariin sama Daddy lo itu." Reynand kembali menegaskan. Ia sangat ingat kala ayah gadis itu meminta dirinya untuk melakukan hal-hal yang tidak masuk akal untuknya.


"Reynand!"


"Kenapa? Lo mau ngadu lagi sama Daddy lo?"


Ish, Airin benar-benar kesal kala Reynand mengucapkan itu. Bisa-bisanya laki-laki ini membuatnya malu.


Lalu Airin memalingkan wajah. "Jangan bahas itu." tentunya ia malu jika hal itu dibahas. Menoleh kearah Reynand lagi. "Seharusnya kamu ngerti kalau aku ngelakuin itu demi kamu."


"Demi gue? Atau demi ego lo?!" Tegasnya lagi.


"Rey!" Wajah Airin menegang sembari menahan sesak didadanya. "Kamu nyakitin aku."


"Bukan gue yang nyakitin lo, tapi diri lo sendiri."


Airin terdiam dengan wajah yang semakin menegang. Reynand memang berkata pelan tapi menusuk. Airin pun mencebik hampir menangis.


Dan, raut itu berhasil menyunggingkan senyum tipis diwajah Reynand.


"Kamu nggak ngerti apa yang aku rasain, karena.... kamu bukan aku. Kamu jahat Rey." Dan, Airin mulai terisak.


Iya, iya, Reynand tahu kalau dirinya bukan Airin.


Reynand bergeming untuk sesaat, menatap gadis yang mulai mengeluarkan telaga bening itu.


Akhirnya Reynand tidak sanggup melihat itu maka Reynand kembali menatap lurus kedepan. " Tolong keluar dari mobil gue...." Ucapnya datar.


"Reynand!" Airin kembali menyentak. "Tega banget sih." Airin menundukkan kepala dalam-dalam. Dadanya benar-benar sesak saat ini. Ah, benar-benar menyakitkan. Kenapa sih cintanya tak kunjung berbalas? Sebegitu sulitnya Reynand membuka diri untuknya? Kenapa? Apa yang kurang darinya? Bahkan dia sudah berubah, dia sudah berubah demi mendapatkan cintanya.


Tak selang berapa lama. Reynand mendengar dering dari ponselnya yang terletak di atas dashboard mobil tak jauh berhadapan dengan Airin, maka Reynand pun langsung menyambar ponsel itu.


Rupanya Airin mengintip layar ponselnya.


"Siapa itu? Aku nggak salah baca namanya kan?" Tanya Airin penasaran. Rupanya dia tidak sengaja terbaca dengan nama yang tertera disana.


"Nggak!" Sahut Reynand cepat. Airin tidak salah baca soal nama pengirim pesan barusan. Dan ia rasa dirinya tidak perlu memberi banyak alasan untuk ini. Toh, paling juga Airin tidak akan percaya.


Bahu Airin terangkat geli. "Jangan ngelawak Rey, nggak mungkin kamu udah punya istri." Ucapnya di sela isakan tangis yang belum berhenti. "Kapan nikahnya coba?"


Tuh, mana mungkin Airin akan percaya.


"Tolong keluar sekarang, gue buru-buru." Ucap Reynand sembari terus menatap fokus layar ponselnya. Ya, apa yang sedang terjadi di ponselnya saat ini lebih menarik perhatiannya.

__ADS_1


Pesan yang ia kirim rupanya baru dibalas.


Reynand: Yang....


Nayla: Apa? Bentar lagi pulang, kan?


Reynand: Iya sayang.


Nayla: Kirain udah lupa sama istrinya.


Reynand: Gimana mau lupa, Isi kepala aku itu cuma kamu tau.


Nayla: Gombal terus.


Reynand: Tapi kamu sayang, iya kan?


Nayla: Ih, nyebelin tau.


Reynand: Bilangnya nyebelin, padahal udah kangen setengah mati tuh kamu sama aku.


Reynand terus berbalas pesan dengan sang istri bagaikan ABG yang tengah dimabuk asmara. Sementara Airin yang mengharap perhatiannya terus ia abaikan, seolah tidak perduli dengan isak tangis gadis yang ada dibadapannya itu.


Hati Airin semakin sakit serasa tertusuk sembilu. Apa Reynand sedikit pun tidak punya rasa iba untuknya. "Reynand...." Gadis itu semakin terisak kuat.


Reynand mengangkat kepalanya jengah setelah membalas satu pesan terakhir di ponselnya itu, dia memang harus terpaksa bersikap seperti ini. Dia tidak bisa memberikan harapan barang sedikit pun untuk Airin. Tega, iya memang. Namun hal itu terpaksa harus dia lakukan.


"Rin plis! Gue mohon sama lo. Gue lagi buru-buru sekarang. Gue mau pulang, tolong dong lo ngerti."


Kali ini Reynand benar-benar memohon dengan sangat. Menyeret Airin keluar dari mobilnya itu tidak mungkin, dia tidak ingin ada berita menghebohkan lagi nantinya.


Membentak dan mungkin juga berbicara kasar, bisa jadi. Tapi, melihat Airin yang sudah berlinang air mata Reynand tidak mungkin melakukannya. Lagi pula dia bukan seorang laki-laki yang dengan gampangnya melakukan itu kepada wanita yang tengah lemah


Maka ditengah kebingungannya itu tiba-tiba sebuah permintaan ajaib keluar dari suara serak Airin.


"Aku bakalan keluar, tapi mau cium kamu dulu."


*


*


*


*

__ADS_1


Like, vote, komen!!


Happy Readingđź’‹


__ADS_2