
****
Nayla tidak pernah melihat Reynand seperti ini. Sorot mata itu tidak pernah dia lihat sebelumnya. Ia mendadak gemetar dan terus mundur kebelakang. Tiba-tiba langkahnya pun terhenti saat kakinya tidak bisa lagi berjalan mundur karena tertahan oleh meja rias yang terletak dibelakangnya.
Nayla tertahan dan terkunci saat tangan Reynand berada dikedua sisi meja membuatnya terkurung.
Jujur dia belum pernah setakut ini sebelumnya menghadapi Reynand.
Ia memejamkan mata dan mengepal tangannya dengan kuat, memalingkan wajahnya kesamping saat wajah Reynand semakin mendekat. Nayla tidak ingin menatapnya, dia tidak ingin.
Bagaimana ini? dia sudah membuat masalah rupanya.
Dengan jantung yang berdebar-debar dia menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kenapa sih, dia tadi harus membahas kehidupan pribadi laki-laki itu. Seharusnya, biarkan saja semua yang dilakukannya.
Lancang!
Nayla merasa dirinya sudah benar-benar lancang. Ya sudah, sekarang tinggal terima nasib saja, hiks.
Lama Nayla memejamkan mata namun belum juga terjadi apa-apa. Ayo dong, dia mau apa?
Perlahan Nayla membuka mata, saat dia menoleh seketika itu juga matanya bertubrukan dengan sorot mata Reynand yang menatapnya tajam. Spontan Nayla kembali memalingkan wajahnya, namun disaat itu juga perlahan dagunya ditarik oleh Reynand membuat mata mereka kembali berhadapan.
“Abang mau apa?” Ucapnya takut-takut.
Reynand menatap raut wajah itu sejenak. Kemana keberanian yang dimilikinya tadi. Hanya sampai disini saja.
“Kenapa diam?”
Nayla kembali gelagapan. Apa Reynand akan marah? Tuh, kan, dia tidak menyangka Reynand akan seperti ini. Tahu begitu, dia akan diam saja tadi.
"Nggak mau dilanjutin lagi...."
Ini lebih kepada pertanyaan atau tantangan, sih. Memangnya dia berani apa berkata-kata setelah melihat sorot mata itu.
“Eng-gak itu tadi aku....” Gadis itu hampir kembali terisak. Kepalanya pun tertunduk dalam.
Pikirannya semakin kemana-mana. Isak tangisnya pun mulai terdengar kembali.
Namun, tiba-tiba ia terkesiap dan memekik saat Reynand mengangkat tubuhnya dan terduduk diatas meja rias. Air matanya pun mulai merembes kembali. Entah kenapa dia jadi semakin ketakutan sekarang. Apa yang akan dilakukan Reynand padanya. Menyesal dia telah menantang laki-laki itu tadi.
Reynand mengelus pipi mulus itu dengan jarinya, menghapus jejak-jejak air mata disana. Membuat gadis itu semakin gugup dan kebingungan dibuatnya.
Ia kembali menatap gadis itu dalam-dalam setelah akhirnya perlahan ia mendekatkan bibir mereka dan kemudian menggapai bibir mungil yang sudah menjadi candu baginya itu. Reynand mulai mengecupnya lembut, mengigitnya kecil kemudian mengecupnya lagi begitu seterusnya. Tangannya perlahan menyusuri tangan gadis itu, menyusurinya hingga menuju lengan beralih ke punggung kemudian menarik tubuh itu dan memeluknya.
Nayla pun mematung tidak mengerti. Dia pikir Reynand akan melakukan hal yang buruk, tapi laki-laki ini malah mencium dan memeluknya. Bukan dia menolak, hanya saja dia merasa bingung dengan semua ini. Reynand menjadi sulit ditebak.
__ADS_1
Tapi, lebih daripada itu ia malah membuka mulutnya memberi jalan agar Reynand bisa memperdalam ciuman mereka. Membiarkan laki-laki itu memagutnya mesra. Tangannya yang berada dikedua sisi pinggang Reynand semakin mengenggam baju kaos itu dengan erat.
Bagi Reynand ciuman ini sudah menjadi candu baginya. Dia merasa tidak ingin melepaskannya saat itu juga. Merasa melakukan ini hanya untuk menenangkan Nayla, ia yakin dia salah. Walaupun gadis itu menerimanya, Reynand yakin Nayla masih butuh penjelasan. Membuat gadis itu bersedih dan menangis karenanya Reynand benar-benar tidak tega.
Untuk itu, saat ciuman itu pun terlepas, ia mengeluarkan sebuah kalimat yang langsung membuat Nayla mengerjap saat itu juga.
“Abang sayang kamu, Nay.”
Deg!
Sayang...
Satu kata itu, sayang.... mampu membuat Nayla menjadi berbunga-bunga. Lebay, kah? Tidak, kan, dia tidak lebay. Hanya saja ini pertama kali Reynand bilang sayang kepadanya.
"Airin, dia bukan sispa-siapa."
"Kamu, nggak usah cemburu, ok."
"Aku nggak cembu...."
Mulutnya tiba-tiba dibungkam kembali, Reynand tidak memberinya waktu untuk berbicara. Membuatnya kembali mengulangi aktifitas mereka. Menuntun mereka untuk kembali saling bertukar oksigen didalam sana.
Nayla tidak mengerti kenapa perasaanya bida seperti ini. Perasaannya lebih kuat dari sebelumnya. Dia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Reynand.
~
"Jadi, lo beneran nemuin Airin malam itu?" Terdengar suara Dion mendesah dari kursi kemudi. Ia menatap Reynad berulang-ulang. Jujur dia tidak habis pikir dengan laki-laki yang ada disampingnya itu.
"Rey...."
"Yon, lo ngerti kan, kenapa gue ngelakuin itu?" Ucap Reynand akhirnya. Namun sepertinya ucapan itu lebih kepada dia ingin mendengar pendapat Dion untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Lo salah Rey, lo itu terlalu ambisi."
Reynand sontak menoleh kearah Dion. Mencoba memahami maksud perkataan yang dilontarkan barusan.
"Mending lo pikirin lagi, kenapa lo ngelakuin ini semua."
Hening! Reynand kembali, memikirkan apa yang diucapkan oleh Dion. Apa mungkin yang dilakukannya selama ini hanya karena ambisi semata?
"Gue yakin Airin nggak akan berhenti untuk ngejar-ngejar lo setelah ini."
"Yon, gue udah...."
"Gue bisa lihat Rey, tuh cewek nekat." Dion menghela nafas sebelum ia melanjutkan ucapannya kembali. "Lo, harus hati-hati."
__ADS_1
Hening kembali.
"Dia nggak akan ngelepasin lo semudah itu."
"Maksudnya?"
"Lo udah lihat sosial media lo?" Tanya Dion akhirnya membuat Reynand semakin penasaran.
Reynand semakin tidak mengerti. Ada apa dengan sosial medianya?
"Coba lo lihat." Ucap Dion jengah.
Buru-buru Reynand mengeluarkan ponsel dari sakunya. Kemudian melihat isi sosial media yang sudah penuh dengan notifikasi itu. Untuk sesaat keningnya mengkerut mencari tahu setelah akhirnya dia membelalak terkejut. Reynand memejamkan mata dan menggeram kesal. Ia menghela nafas kasar.
Rahangnya menegang saat itu juga, apa-apa ini.
Airin! Dia memposting poto malam itu, sekitar satu jam yang lalu. Sialan, perempuan itu benar-benar nekat rupanya. Tunggu! Apa dia diam-diam menyuruh orang untuk memotret semua kegiatan mereka malam itu? Jadi, jangan-jangan si Airin ini sudah merencanakan semuanya.
Astaga, dia terjebak.
Wajahnya terpampang dengan jelas disana dan terlihat Airin sedang mengenggam tangannya diatas meja. Orang-orang pasti akan mengira mereka benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang menikmati makan malam berdua.
Ditambah dengan caption yang tertulis disana. orang-orang pasti akan semakin salah paham.
"Senang bisa makan malam berdua sama kamu. Kamu udah bikin aku seneng banget malam itu. Nggak apa-apa ya aku post poto ini @reynand_anugerah"
Diakhir kalimat itu Airin memberikan satu emot hati.Lantas saja, poto itu pun ramai dikomentari oleh publik tak terkecuali teman-temannya sesama artis.
Sial kenapa dia begitu bodoh. Bagaimana ini? Dia benar-benar tidak berpikir sampai kesana.
"Yon...." Reynand mulai frustasi.
"Kakek lo Rey, bukan, yang lebih penting istri lo...."
Nayla....
*
*
*
*
Happy Reading!
__ADS_1