
"Alesse, kau tahu? Kau lahir bagaikan keajaiban bagi kami! Kau lahir tepat saat dunia gempar akan kemunculan para Elementalist yang terdengar memiliki kekuatan tidak masuk akal," ujar Andin.
Alesse tampak tidak tertarik dengan perkataan ibunya, bukan karena ia masih berusia dua tahun, meskipun ia sudah bisa memahami perkataan orang tuanya, namun ada hal lain yang membuatnya penasaran. Ia mencoba mengguncang lengan Andin.
"Ada apa Alesse? Kau lapar?" tanya Hendra. Alesse terdiam sejenak lalu mengangguk, ia berusaha mengulang perkataan Hendra. "La... par! Ma.... kan," ujarnya dengan suara patah-patah. Mulutnya yang mungil tidak bisa mengeluarkan suara terlalu panjang.
"Baiklah, ayah akan membuatkan bubur," ujar Hendra. Alesse menggeleng sambil menunjuk Andin.
"Kenapa? Ibu tidak bisa bergerak, ada adikmu di perut ibu," ujar Andin. "Nanti kalau adikmu sudah lahir, ibu akan memasakkan makanan yang enak," ujar Andin. Alesse pun mengangguk.
"Alesse benar-benar pintar yah! Kau adalah anak yang baik!" ujar Andin sambil mengusap-usap kepala Alesse.
Sebenarnya Alesse tidak terlalu ingin makan,ia hanya mencoba beberapa hal untuk berinteraksi dengan mereka. Karena ia belum lancar berbicara, ia hanya bisa melakukan berbagai tingkah agar orang tuanya memahaminya.
Di usianya yang baru dua tahun, ia sudah bisa berjalan ke segala ruangan yang ada di rumah, ia bahkan sudah dapat membedakan benda mana yang boleh ia sentuh dan mana yang tidak.
Beberapa pekan kemudian adiknya pun lahir dengan kehebohan. Alesse yang masih kecil tampak penasaran dan memeriksa kerumunan orang-orang.
"Sepertinya seluruh tubuh bayi itu ditumbuhi bulu," ujar salah seorang. "Heh? Yang benar saja! Aku tidak melihat ada bulu, hanya bayi yang tampak berwarna merah dengan noda hitam, mungkin itu darah yang sudah mengering," ujar salah seorang lainnya.
"Bukan noda darah! Itu bulu-bulu halus yang basah! Sepertinya anak itu kelainan! Lihat bibirnya tampak sumbing! Astaga! Itu bukan bayi manusia! Itu seperti kucing! Lihat telinganya!" ujar salah seorang.
Ruangan itu pun segera ditutup rapat, sedangkan Hendra segera membawa Alesse masuk ke dalam.
"Alesse, lihatlah! Ini adikmu," ujar Andin sambil menunjukkan bayi itu dengan senyuman pucat. Sepertinya ia tampak sedih, takut, dan beberapa perasaan lain yang membuat raut wajahnya demikian.
Alesse juga tidak berani melihatnya, ia langsung menempelkan wajahnya di dada Hendra.
"Kenapa Alesse?" tanya Hendra keheranan. Alesse tidak menjawab, ia menarik baju Hendra kuat-kuat untuk menutupi wajahnya.
Karena merasa tidak nyaman dengan tetangga yang terus membicarakan anaknya, Hendra pun mempersilahkan mereka semua keluar rumah.
Beberapa jam kemudian, Alesse pun penasaran dengan rupa adiknya. Ia mencoba menghampiri Andin dengan ragu-ragu.
"Ada apa Alesse? Kau mau melihat adikmu? Lihatlah! Dia sangat menggemaskan!" ujar Andin sambil menunjukkan wajah bayi itu.
__ADS_1
Bayi itu tampak seperti kucing dengan bulu yang lebat, karena agak besar dan bercorak, ia lebih terlihat seperti bayi harimau putih.
"Wah!" Alesse semakin tertarik untuk mendekatinya. Melihat wajah yang terbalut dengan bulu lembut itu, Alesse sangat ingin mengusap-usapnya. Sayangnya ia masih takut akan hal itu.
"Kenapa? Ayo coba pegang!" ujar Hendra sambil mengangkat tubuh Alesse agar bis menggapai bayi itu.
Belum sempat Alesse menyentuh, bayi itu tiba-tiba membuka mata. Tentu hal itu membuat Alesse terkejut.
Saat itu juga tubuh bayi itu berubah, bulu-bulu lebat yang menyelimuti tubuhnya menghilang. Bibir sumbing dan telinga runcingnya juga ikut berubah. Bayi itu berubah menjadi bayi normal seutuhnya.
"A... apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa anak kita....." Andin tampak panik. "Itu pasti adalah hal itu! Elementalist! Sepertinya anak kita adalah seorang Elementalist!" seru Hendra, ia tampak bahagia.
"Elementalist? Benarkah?" Andin tidak percaya. "Lalu apalagi? Keajaiban seperti ini sudah pasti ciri-ciri Elementalist! Tidak kusangka bisa melihatnya secara langsung!" ujar Hendra.
Alesse masih menatap bayi itu dengan perasaan tidak mengerti. Ia tampak kecewa karena bulu-bulu halus dari bayi itu menghilang, bahkan wajahnya berubah.
"Karena ia berwujud menyerupai binatang, sepertinya ia adalah Elementalist Alam!" seru Hendra. "Dari mana kau tahu hal itu?" tanya Andin.
"Tentu saja aku tahu! Aku adalah penggemar mereka! Tidak kusangka malah anakku sendiri yang terlahir sebagai Elementalist!" ujar Hendra.
"Ma... maaf, aku tidak bermaksud begitu! Aku hanya terkesan dengan keajaiban yang mereka buat," ujar Hendra.
"Kalau begitu, mulai hari ini sebaiknya kau berhenti menggemari mereka! Kau harus menjadi penggemar anak-anakmu," ujar Andin.
"Tentu saja aku adalah penggemar mereka berdua! Anak-anakku adalah yang terbaik!" ujar Hendra sambil mengangkat tubuh Alesse.
Alesse menatap ayahnya dengan wajah datar, ia tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
"Alesse, kenapa kau tidak tersenyum? Kau sedang sakit?" tanya Hendra keheranan. "Oh iya, akhir-akhir ini dia jarang tersenyum! Kira-kira kenapa yah?" Andin juga sepemikiran dengan Hendra.
"Alesse? Ada yang sakit? Atau kau sedang lapar?" tanya Hendra sambil memeriksa tubuhnya. Alesse hanya menggeleng saja.
Melihat anak berusia dua tahun bisa merespon perkataan orang lain, sepasang suami istri itu merasa lega.
"Ternyata Alesse memang terbaik! Sepertinya dia sudah bisa memahami semua perkataan kita!" ujar Hendra.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Empat tahun berlalu, kini Alesse sudah memasuki usia 6 tahun dan mulai bersekolah. Ia tumbuh menjadi anak yang pendiam dan penuh misteri.
Suatu hari setelah pulang sekolah, Alesse pergi ke perpustakaan yang ada di seberang sekolah. Tempat itu sangat kusam sehingga tidak banyak orang yang mendekatinya.
"Ada apa nak? Tempat ini bukan untuk bermain! Kalau kau berbuat gaduh, lebih baik pulang saja sana!" ujar penjaga perpustakaan yang sangat tidak ramah itu.
Alesse tidak peduli padanya, ia terus berjalan masuk dan mengambil buku secara acak. Sayangnya dari buku-buku yang ia periksa itu tidak ada yang membuatnya tertarik.
Melihat Alesse yang sangat antusias mencari buku, penjaga perpustakaan pun penasaran dan menghampirinya.
"Di bagian ini hanya berisi buku ensiklopedia, tidak ada yang menarik kecuali jika kau penggila ilmu pengetahuan. Kalau untuk anak-anak, sebaiknya kau cari buku di bagian pojok ruangan. Di sana juga ada banyak majalah tidur yang berisi cerita-cerita," ujar penjaga.
Alesse pun tersenyum, ia hanya mengangguk sambil merendahkan sedikit tubuhnya sebagai rasa terima kasihnya. Iapun langsung pergi kebagian ujung ruangan.
Perhatiannya tertuju pada sebuah buku kusam yang terbuat dari kertas model lama berwarna kecoklatan. Ia pun langsung mengambilnya karena tertarik dengan gambar sketsa yang ada di bagian dalamnya.
"Sudah kuduga, anak-anak suka mencari gambar pada buku saja, mereka tidak benar-benar membacanya!" Penjaga perpustakaan menyimpulkan.
"Boleh kupinjam buku ini?" tanya Alesse. Penjaga perpustakaan itu terkejut setelah mendengar Alesse berbicara.
"Walah! Kukira tidak bisa bicara. Boleh kok! Mari, biar kulihat nomor bukunya," ujar penjaga perpustakaan. Alesse pun menyerahkan buku itu.
"Loh? Sepertinya tidak ada penandanya! Apakah itu terjatuh di sana?" tanya penjaga itu, ia mencoba memeriksa rak buku dan lantai, namun tidak menemukan penanda apapun.
"Kau tadi ambil buku ini di bagian mana?" tanya penjaga itu. Alesse menggeleng kepala, ia bahkan lupa bagaimana ceritanya ia memegang buku tersebut.
"Aduh sepertinya kita sama-sama lupa! Padahal aku juga melihatmu mengambil buku itu tadi, tapi aku malah melupakannya!" ujar penjaga. Ia pun mulai berpikir sejenak sedangkan Alesse mencoba mengingatnya.
"Ya sudahlah, buku ini kau bawa pulang saja, sepertinya hanya terselip di bagian rak. Kau beruntung, buku ini milikmu sekarang!" ujar penjaga itu sambil mencoba membuka lembarannya. Ia terkejut karena tulisan yang ada di buku sangatlah asing.
"Hmm! Ini.... aksara apa? Ini tidak seperti tulisan China, ataupun jepang! Aku tidak pernah melihat yang seperti ini. Okelah! Lagian kau juga tidak akan membacanya kan?" ujar penjaga itu sambil menyerahkan buku kepada Alesse.
Alesse pun mengucapkan terima kasih dan segera pulang ke rumah.
__ADS_1