
Alesse sudah bisa mengendalikan pendengarannya. Ia dapat memilih pikiran siapa yang hendak ia dengar. Ia juga bisa mendengar suara pikiran orang-orang pada radius yang ditentukan juga.
Semakin lama, ia pun semakin tertarik dengan apa yang dipikirkan oleh teman-teman sekelasnya. Akhirnya ia pun mendengarkan hal yang berbeda sejak Alex tidak ada di sekolah itu.
"Bukankah itu Alesse Jawara? Adiknya Alex? Ia tampak manis seperti biasanya. Semoga saja aku bisa melihat senyumannya hari ini seperti waktu itu,"
"Alesse Jawara, pendiam tapi wajah mungilnya sangat menggemaskan! Dijamin tidak ada wanita yang tidak tertarik dengan wajah anak-anak! Sayangnya ia tidak mudah didekati! Beruntung sekali Sanay bisa berbincang-bincang dengannya! Lain kali aku minta saran ah!"
"Buset Alesse Jawara hari ini imut banget! Aku sudah minta Citra sama Lala buat cegat anak itu dan membawanya ke belakang sekolah! Sepertinya mereka tidak berani. Haruskah aku ikut mencegat juga?"
Semakin ia dengarkan suara itu, semakin banyak yang sedang memikirkan dirinya. Entah perempuan atau laki-laki, sama-sama memperhatikannya. Hal itu karena penampilannya sangat mencolok dibandingkan anak-anak lainnya, apalagi setelah Alex pergi. Penampilannya yang berbeda pun akhirnya ketahuan juga.
"Sepertinya pemikiran mereka terlalu mengerikan, apakah aku perlu mencukur rambutku? Ini sangat tidak nyaman sekali!" gumam Alesse.
"Alesse Jawara, apakah ia juga Elementalist? Jika tidak, maka kini aku adalah satu-satunya Elementalist di kelas ini! Hahahaha! Tidak akan ada yang bisa mengalahkanku!" Sebuah suara aneh terngiang di telinga Alesse.
"Pikiran siapa lagi ini? Elementalist? Apakah ada Elementalist lagi selain Sanay?" Alesse tampak penasaran dan mencoba memeriksa siapa yang sedang memikirkan hal itu.
Ia pun mendapati seorang anak yang sedang tidur di pojok ruangan. "Ternyata hanya Sandy si bocah ingusan! Mungkin ia sedang berkhayal," pikir Alesse.
"Loh? Kenapa Alesse Jawara mendekati bangkuku? Apakah ia hendak mengajakku berbicara? Kasihan sekali,mungkin karena aku sedang tidur jadi ia tidak berani menggangguku." Pikiran Sandy yang satu ini membuat Alesse tertarik. Ia padahal sangat yakin anak itu sedang menutup matanya di atas meja, namun bisa menyadari keberadaannya.
"Hei, Alesse! Kenapa kau ke pojok sini? Ada apa?" tanya Sanay tiba-tiba. Tentu saja hal itu membuat Alesse terkejut.
"Kenapa kau selalu terkejut saat aku bicara? Aneh sekali!" ujar Sanay. "Tentu sajalah! Biasanya aku bisa memprediksi apa yang akan dilakukan orang-orang, tapi tidak untukmu!" ujar Alesse dalam hati.
Akhirnya Alesse mengajak Sanay ke bangkunya. Sanay tampak terdiam sejenak karena Alesse menarik lengannya dan membawanya ke bangkunya.
"Lihatlah itu! Menggemaskan sekali! Caranya menarik lengan Sanay bak anak kecil yang sedang memaksa ibunya untuk membelikan sesuatu di minimarket!"
Alesse pun akhirnya pasrah dengan pandangan orang-orang saat melihatnya. "Ada apa Alesse kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Sanay keheranan.
"Sepertinya Sandy juga seorang Elementalist!" ujar Alesse. "Hah? Sandy?" Sanay merasa konyol dengan perkataan Alesse.
Saat itu juga tiba-tiba Sandy terbangun dari tidurnya lalu melompat ke atas meja. "Hai teman-teman semuanya! Karena Alex tidak ada, sekarang aku adalah satu-satunya Elementalist di kelas ini! Hahahaha!" ujar Sandy dengan lantang.
__ADS_1
"Hah? Ngomong apaan dia?" tanya salah seorang anak. "Bahasa alien? Aku tidak paham!" ujar salah seorang lalu mengabaikannya.
"Ngomong kok kayak berak di celana," ujar anak lainnya. Mereka terlalu cepat tidak tertarik dengan omongan Sandy karena ia hanyalah bocah ingusan di kelas itu.
"Kalian tidak percaya? Mari, biar aku tunjukkan sebuah sihir yang menarik!" ujar Sandy. "Sekali mereka menatapku, mereka akan terhipnotis! Dengan begitu aku bisa mengatur apa yang akan mereka lihat!" Suara Sandy terdengar jelas hingga Alesse pun mewaspadainya.
"Jawara, kacamata!" ujar Alesse. Seketika tongkat yang ada di punggungnya berubah menjadi sebuah kacamata.
Alesse pun memakai kacamata itu dan menunggu apa yang hendak Sandy lakukan. Sayangnya ia tidak mendapatkan sesuatu yang istimewa. Sandy hanya mengayunkan tangan kosongnya.
"Wah hebat! Gimana caranya? Kenapa bisa begitu?" seru beberapa anak. Yang lainnya ikut tertarik.
"Heh? Ada apa? Ada apa? Apa yang kalian lihat?" tanya Sanay penasaran, sayangnya ia tidak melihat apapun selain tangan Sandy yang terus berayun tidak menentu.
"Mereka semua terhipnotis! Lihatlah tatapan datar mereka!" bisik Alesse. Ia pun merasa tidak asing dengan aura gelap yang muncul di sekeliling Sandy.
"Aneh sekali! Kau ini sedang apa?" tanya Sanay keheranan. Sandy mencoba melambaikan tangan di wajah Sanay. "Apaan sih?" Sanay merasa aneh dengan tingkah anak itu.
"Ada apa ini? Kenapa hipnotisku tidak berlaku untuknya?" Sandy keheranan dan terus mencoba melambaikan tangan.
"Sepertinya sama seperti kemampuan membaca pikiranku! Hal itu tidak berlaku untuk Sanay! Gadis ini.... sepertinya ada yang aneh!" pikir Alesse dalam hati.
Seketika darah mengalir deras, membuat anak-anak yang ada di dalam kelas panik. "Darah! Ada darah! Sandy berdarah!" teriak salah seorang gadis. Anak-anak yang lain tampak ketakutan ketika Sandy membuka kelopak matanya yang penuh darah.
"Sepertinya bola matanya pecah," ujar Alesse dengan ekspresi datarnya. "Kita harus panggil guru!" ujar Sanay.
"Ti... tidak perlu! Aku bisa sembuh dengan cepat hanya dengan istirahat di UKS," ujar Sandy. "Benarkah? Itu benar-benar parah loh! Kata Alesse matamu pecah!" ujar Sanay.
"Luar biasa sekali! Kau langsung percaya!" ujar Alesse terkesan. "Ini bukan waktunya bercanda! Kita harus memanggil ambulan!" ujar Sanay panik.
"Kubilang tidak perlu! Aku adalah Elementalist! Aku bisa sembuh dengan cepat!" ujar Sandy kesal. "Benarkah?" Salah seorang anak ragu. "Mungkin sebaiknya kita percaya saja," ujar salah seorang lainnya.
"Kalau begitu suruh bagian kesehatan mengantarnya ke UKS," ujar salah seorang anak."Woi! Bagian kesehatan siapa? Jangan jadi pengangguran! Woi Salsha!" teriak seorang anak.
Tampaknya kebanyakan anak di kelas itu sangat menjauhi Salsha, seorang gadis dengan mata berwarna biru.
__ADS_1
"Eh? Di kelas kita ada anak bermata seperti itu? Blasteran kah?" tanya Alesse. "Entahlah, kudengar ayah dan ibunya asli Asia, tidak ada di antara kerabatnya yang berasal dari orang barat," ujar Sanay.
"Mungkin itu adalah kelainan?" tanya Alesse. "Mungkin saja, tapi anak-anak di kelas kita terlalu berlebihan ketika berprasangka buruk," ujar Sanay.
"Merepotkan sekali! Kenapa ia harus terluka parah di dalam kelas? Meskipun ia Elementalist, setidaknya jangan seenak jidat menciderai tubuh sendiri! Aku jadi pusat perhatian lagi di kelas! Sepertinya aku harus segera menyembuhkannya agar terbebas dari urusan yang merepotkan ini!" Isi pikiran Salsha terdengar jelas oleh Alesse.
"Menyembuhkan?" Alesse pun tertarik untuk mengikutinya. Akhirnya ia pun sampai di UKS dan bersembunyi di balik tirai.
Salsha tampak mengambil air dari wastafel. "Kau mau apa dengan air itu? Jangan bilang kau akan menyiramkannya pada mataku!" Sandy tampak ketakutan.
"Diam saja kau bocah pembawa masalah!" ujar Salsha dengan wajah dinginnya. Air yang ada di baskom itu tiba-tiba melayang mengikuti gerakan tangan Salsha.
"Whoa! Kau juga seorang Elementalist? Pengendali air? Elementalist air itu sangat menakjubkan sekali!" ujar Sandy. "Diamlah jika tidak ingin merasakan sakit!" ujar Salsha.
Air yang melayang itu langsung menghampiri mata Sandy yang berdarah. Seketika Sandy berteriak kesakitan. Beberapa detik kemudian air itu mulai bercahaya, Sandy pun mulai berhenti berteriak.
"Whoa! Apa-apaan itu? Aku tidak merasakan sakit lagi! Oh! Oh! Luar biasa! Lukaku sudah sembuh! Bahkan tanpa bekas!" seru Sandy.
"Elementalist air memang hebat! Sepertinya kau memiliki firasat yang bagus untuk menemukan Elementalist, Alesse!" ujar Sanay yang berada di belakang Alesse.
"Kenapa kau malah kau ikut ke sini?" Alesse merasa kesal. Salsha tampak waspada setelah mengetahui mereka berdua menyaksikan pengendalian airnya.
"Tenang saja Salsha! Kami semua adalah Elementalist," ujar Sanay. "Kau juga?" Salsha tidak percaya. Akhirnya Sanay menunjukkan kilatan listrik di tangannya.
"Wah! Elementalist listrik! Adaptasi dari Elementalist api! Sangat keren! Kudengar hanya orang cerdas yang dapat berevolusi menjadi Elementalist listrik," ujar Sandy.
"Jadi, kau adalah Elementalist Alam?" tanya Sanay. "Benar sekali! Sayangnya dia mengganggu pertunjukan regenerasi super cepatku!" ujar Sandy.
"Omong kosong! Penyembuhanku lebih cepat," ujar Salsha. "Jadi, kau Elementalist apa?" tanya Salsha kepada Alesse.
"Maaf saja, aku bukan Elementalist," ujar Alesse singkat. "Bohong, kupikir kau adalah Elementalist air, sama sepertiku," ujar Salsha.
"Kenapa kau menyimpulkannya begitu?" tanya Alesse. "Tatapanmu itu, entahlah.... terkadang aku dapat merasakannya. Tapi sekarang aku agak ragu," ujar Salsha.
"Hei! Kau ini ada-ada saja! Kupikir Alesse itu Elementalist listrik! Dia adalah anak yang jenius, ia dapat mengontruksi energi panas menjadi energi listrik," ujar Sanay.
__ADS_1
"Tidak-tidak! Rata-rata Elementalist itu berhubungan dengan kekerabatan juga! Karena Alex adalah Elementalist Alam, kupikir Alesse juga sama. Jika Alex dapat tumbuh dengan cepat, Alesse dapat menghambat pertumbuhan dan membuatnya awet muda," ujar Sandy.
"Kenapa kalian menyimpulkan seenak jidat kalian? Aku bukanlah Elementalist!" ujar Alesse kemudian pergi meninggalkan mereka karena muak. "Aduh, suasana hatinya berubah lagi!" Sanay langsung mengejar Alesse.