
Andin sibuk merapikan ruang keluarga. Selagi Hendra tidak ada di rumah, ia bisa menikmati pekerjaan rumahnya.
Ia merasa heran karena meskipun ia berada di rumah bersama Alesse, ia tidak pernah mendengar satu pun suara dari anak itu. Rumah itu benar-benar senyap, tidak seperti saat Alex di rumah, biasanya anak keduanya itu akan bersenandung ketika beraktivitas, atau paling tidak mengeluarkan suara beratnya seperti harimau.
Akan tetapi Alesse sangat berbeda, meskipun berada di rumah, keberadaannya sangat tidak terasa.
Oleh karena itu Andin menjadi penasaran dengan apa yang dilakukan oleh anak pertamanya itu. Kebetulan sekali pintu kamar anaknya itu berlubang karena beberapa hari yang Hendra jatuh terpeleset lalu membentur daun pintu yang sudah rapuh itu.
Andin pun mencoba mengintip dari sela-sela lubang.
Awalnya ia hanya melihat Alesse yang berpakaian serba biru itu sedang menatap jendela.
"Apa yang sebenarnya dia lakukan? Tidak mungkin kan menatap jendela itu seharian!" gumam Andin. Ia mencoba memeriksa lebih dekat dan mendapati setengah wajah Alesse mulai terlihat.
Tak lama kemudian Alesse menolehkan wajahnya ke cermin, membuat Andin dapat melihat wajahnya dengan sempurna.
Saat itu juga Andin terkejut hingga menjatuhkan sapu yang ia pegang. Ia tidak percaya dengan apa yang barusan ia lihat.
Sosok yang ada di balik pintu kamar itu memang Alesse, namun ia merasakan kesan yang berbeda darinya.
Parasnya begitu cantik hingga ia tidak sadar kalau sosok berpakaian serba biru itu adalah anaknya.
Andin merasa tidak puas hanya melihat sekali, akhirnya ia mencoba memerhatikan sekali lagi. Akhirnya ia pun melihat kulit putih dari wajah anaknya beserta merah bibir yang begitu menyala.
Siapapun yang pertama kali melihatnya pasti akan mengira kalau dia adalah seorang gadis.
Andin langsung mengalihkan pandangan darinya, entah kenapa paras Alesse membuatnya tidak bisa berhenti melihat dan itu membuatnya ketakutan.
Karena mendengar suara sapu yang terjatuh, akhirnya Alesse pun membuka pintu kamar. "Ibu? Ada apa?" tanya Alesse.
Andin langsung menolehkan wajah. "Bu.. bukan apa-apa kok! Kau sedang apa di dalam?" tanya Andin.
"Tidak ada yang istimewa, aku hanya sedikit bosan hari ini," ujar Alesse. Sekali lagi Andin tertarik untuk melihat wajah Alesse, apalagi warna rambut dan mata birunya yang khas itu membuatnya penasaran untuk terus melihat.
"Apakah kau selalu begini, Alesse? Kenapa rambut dan matamu seperti itu?" tanya Andin. "Aku juga tidak tahu kenapa, lalu untuk wajah ini... benar-benar menakutkan, aku tidak pergi ke sekolah karena wajah ini! Pokoknya ibu jangan sampai bilang sesuatu pada ayah, ia tidak boleh melihatnya," ujar Alesse.
__ADS_1
"Separah itukah?" tanya Andin. "Bukankah ibu juga merasakannya sendiri?" tanya Alesse. "Be.. benar sekali, sebaiknya tunggu sampai tubuhmu kembali seperti semula," ujar Andin.
Akhirnya Alesse Kembali masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya, ia bahkan menyumbat celah yang ada pada daun pintunya. Andin merasa iba melihat anaknya mengisolasi diri.
"Kecantikan Aqua benar-benar mengerikan! Aku jadi semakin penasaran seperti apa dia sebenarnya," ujar Geni.
"Wajahnya memang bisa memikat banyak orang, entah pria maupun wanita," ujar Gord. "Kata siapa? Aku juga tidak terlalu tertarik dengan wajahnya itu kok, hanya penasaran seperti apa dia itu, apakah gemulai seperti wajahnya atau mungkin lebih maskulin daripada Gord," ujar Geni.
"Untuk masalah wajahnya, menurutku kita memang tidak akan tertarik dengannya, ini seolah kita semua memang saling terhubung, mungkin bisa disebut satu kesatuan," ujar Gord.
"Daripada itu semua, aku penasaran dengan apa saja yang Aqua lakukan untuk menghadapi orang-orang ketika melihat wajahnya ini," ujar Alesse.
Selagi tertegun memikirkan Aqua, akhirnya ia pun tenggelam ke alam bawah sadar. "Hei, Alesse! Akhirnya kita bertemu lagi," ujar Baraq, ia tampak asyik membaca buku.
"Apakah kalian berdua selalu menjaga jarak seperti ini?" tanya Alesse keheranan, ia mendapati Aqua sedang menatap jendela kamar sedangkan Baraq berada di tempat belajar seolah mereka berdua memang tidak tertarik untuk saling berbicara.
"Hei, Alesse! Buku-bukumu ini sangat luar biasa! Aku tidak tahu bagaimana ceritanya bisa membaca semua ini, tapi isinya benar-benar menarik!" seru Baraq mengganti topik pembicaraan. Aqua masih terdiam di depan jendela, ia tidak berusaha mengalihkan topik seperti yang dilakukan Baraq.
"Aku tidak tahu kalau kau gemar membaca, sepertinya tempat ini tidak terlalu menjenuhkan bagimu," ujar Alesse.
"Lalu, kenapa kalian berdua saling menjaga jarak?" tanya Alesse keheranan. "Aku agak merinding lihat wajah anak itu," ujar Baraq.
"Aneh sekali! Kenapa hari ini tiba-tiba semua orang membicarakan wajah Aqua? Sebelum-sebelumnya bahkan mereka tidak pernah menghiraukan hal itu," ujar Alesse.
"Asal kau tahu saja, sebenarnya meskipun kami terjebak dalam alam bawah sadarmu, kami masih hidup dan tumbuh. Seiring bertambahnya usiamu, maka kami juga ikut menua," ujar Baraq.
"Oh, begitu kah? Kau tahu dari mana? Seolah memang pernah mengalami seperti ini sebelumnya," ujar Alesse.
"Bukan karena aku pernah mengalaminya! Aku selalu mengamati wajahku setiap hari! Setelah beberapa bulan, perbedaan mulai muncul! Begitu pula anak itu, entah kenapa bibirnya semakin memerah seperti seorang gadis. Aku tidak terima kalau wajahku diubah menyerupai wanita!" ujar Baraq.
"Hmm! Kalau dipikir-pikir, perubahan wajahnya memang sedikit menambah masalah. Ini bisa lebih parah dari sebelumnya! Jika sebelumnya ia hanya terlihat seperti anak kecil biasa, sekarang ia terlihat seperti seorang gadis," ujar Alesse.
"Kalau kau memang keberatan dengan wajahku, kau bisa menggunakan penutup kepala dari jubah ini," ujar Aqua, akhirnya ia berbicara.
"Kau pikir aku ke sekolah mengenakan pakaian lusuh itu?" tanya Alesse sambil menepuk dahi. Aqua terdiam kembali, tidak ada saran lagi yang bisa ia berikan.
__ADS_1
"Mungkin kau harus melakukan sesuatu dengan wajahnya itu. Kalau sampai ayahmu lihat, itu berbahaya," ujar Baraq.
"Aku tahu! Itu persis seperti yang dialami oleh, Aqua..... ayahnya begitu tergoda dengan wajahnya hingga mengurungnya didasar laut agar tidak membuatnya terlena.
"Dia bukan ayah kandungku kok, wajar saja kalau dia tertarik dengan wajah ini," ujar Aqua. "Menurutku hukum keluarga itu tidak berlaku bagi wajah mengerikanmu! Entah keluarga kandung atau bukan. Benar-benar hina sekali!" ujar Baraq.
"Bukankah sikapmu sangat arogan? Dia punya wajah begitu bukan karena keinginannya loh," ujar Alesse.
"Aku bisa beri toleransi kalau wajahnya sangat berbeda denganku. Tapi kalau diperhatikan baik-baik, itu terlihat seperti wajahku yang dipakaikan riasan wanita," ujar Baraq.
"Huh, ada-ada saja! Sepertinya aku harus menggunakan Jawara untuk berangkat ke sekolah," ujar Alesse.
Akhirnya setelah keluar dari alam bawah sadar, ia pun menarik tuas yang ada di samping meja belajarnya. Seketika sebagian lantai kamarnya menurun ke bawah hingga terlihat rubanah yang ia buat itu.
"Mau apa kau, Alesse?" tanya Geni. "Benda yang berdiri itu benar-benar mengerikan!" ujar Gord sambil menunjuk tubuh Jawara yang tampak usang dan berdebu.
Alesse pun membersihkannya lalu menyalakan kembali mesinnya. Seketika mata layu Jawara kembali menjadi terang. Ia mencoba memindai sekelilingnya lalu memasang wajah keheranan di depan Alesse.
"Kau kenapa? Ada apa dengan wajahku?" tanya Alesse keheranan pula. "Ada perlu apa kau menyalakanku?" tanya Jawara.
"Gantikan aku berangkat sekolah, a
tau mungkin kau bisa gantikan aku tinggal di rumah ini sebagai Alesse. Aku hendak keluar dengan identitas lain," ujar Alesse kemudian menguraikan rambutnya yang sepanjang bahu.
"Baiklah," ujar Jawara singkat, ia segera naik ke atas untuk mengenakan pakaian Alesse lalu keluar dari kamar.
"Oh Alesse? Sepertinya tubuhmu sudah kembali seperti sem...... loh? Apakah ibu salah lihat? Sepertinya tubuhmu jadi semakin kecil," ujar Andin keheranan.
"Gawat, aku lupa memodifikasi bentuk tubuh dan suku cadangnya," ujar Alesse. "Biarkan saja begitu. Lagian orang tuamu sekarang sudah tidak terlalu mempermasalahkan perubahan bentuk tubuhmu itu," ujar Geni.
"Hmm! Benar juga! Mungkin saatnya aku keluar hari ini. Ada tempat yang harus kukunjungi, namun tidak bisa sebagai laki-laki," ujar Alesse.
"Wah, kau punya hobi yang seperti itu? Tidak bisa kupercaya!" ujar Geni menggelengkan kepala.
"Aku tidak pergi ke tempat aneh seperti yang kau pikirkan!" ujar Alesse kesal. "Hmm! Kupikir satu-satunya tempat yang tidak bisa dikunjungi laki-laki adalah pemandian para wanita," ujar Gord. "Pria bodoh harap diam," ujar Alesse.
__ADS_1