Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Pengadu Domba II


__ADS_3

"Jadi, bagaimana caranya kau membuat pria ini menjadi manusia iblis?" tanya Ray. "Mudah saja, apakah kau tidak mengenal siapa diriku?" tanya Aqhva.


Ray mencoba berpikir meskipun ia tidak mungkin bisa menebaknya dengan mudah. Aqhva pun menepuk dahi. "Warden dan Dark Warden sekarang sangatlah lamban dan tidak tanggap," ujar Aqhva.


"Tidak mungkin! Kau.... Argh, apa yang sebenarnya kupikirkan? Kau tidak mungkin raja iblis kan?" tanya Ray. Aqhva pun menyeringai lebar. "Sepertinya aku tidak perlu repot-repot menjelaskan," ujarnya.


"Apa maumu datang ke sini? Bukankah seharusnya kau tidur di istanamu? Kenapa kau tiba-tiba bangun dan membuat kekacauan?" tanya Ray.


"Aku tidak keberatan jika yang mengatakan hal itu adalah orang lain. Tapi kau? Apakah kau tidak sadar diri? Kau pikir hidupku hanya untuk tidur semata? Memangnya kau tidak lebih buruk dariku? Kudengar kau gemar meniduri banyak wanita, selain itu.... apakah kau bisa menjelaskan hal ini?" Aqhva berubah wujud menjadi sosok lain, kemudian menggunakan kemampuannya untuk menampilkan layar pada dinding. Seketika terlihat kondisi mengerikan dari sebuah benua yang semuanya rata dipenuhi warna hitam.


"Bukankah itu adalah ulahmu? Jadi, siapa yang menimbulkan kekacauan di sini? Tidak mungkin kau akan menyalahkanku atas hal itu bukan? Kecuali jika kau tidak tahu malu," ujar Aqhva. Ray pun terdiam dan berpikir untuk membuat alasan.


"Itu tidak terelakkan! Tempat itu dipenuhi orang-orang yang membuat kerusuhan dan keributan! Tidak lama lagi hingga mereka menyebar ke seluruh dunia!" ujar Ray.


"Kau yakin tempat itu hanya ditinggali oleh orang-orang seperti itu? Bagaimana dengan wanita dan anak-anak yang tidak tahu apapun? Sempatkah kau memikirkannya?" tanya Aqhva. Lagi-lagi Ray terdiam tak bisa menjawab.


"Sekarang di dunia luar sana pasti banyak orang yang membicarakanmu dan mulai membencimu. Lalu kau menetap di bumi ini untuk menghindari kebencian mereka. Bukankah aku benar?" tanya Aqhva.


"Ti... tidak! Kau salah! Semua manusia iblis mendukungku! Mereka pasti memaklumi hal itu!" ujar Ray.


"Wahai anak muda! Kau pikir sekarang ada yang memihakmu? Tidak lama lagi hingga orang-orang di bumi ini juga tahu hal mengerikan apa yang kau lakukan," ujar Aqhva.


"Kau bohong! Masih banyak orang yang mendukungku! Aku tidak percaya denganmu!" ujar Ray. Aqhva makin tersenyum karena mengetahui betapa lugunya pria yang ada di hadapannya itu.


"Apakah ini adalah orang yang kau maksud?" Aqhva berubah wujud menjadi Kaa, membuat Ray terkejut, bahkan ketakutan.


Pria yang tak sadarkan diri itu pun terbangun. Karena melihat perubahan wujud Aqhva, ia pun berlari ketakutan hingga Ray tidak sempat mengejarnya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi pada Kaa? Apa yang baru saja kau lakukan padanya?" tanya Ray sambil menarik kerah baju Aqhva.


"Jika kau berbuat macam-macam padanya, aku tidak akan tinggal diam!" ujar Ray. "Whoa! Menakutkan sekali,! Tenang saja, aku tidak berbuat apapun. Hanya menyalin kemampuannya. Seperti ini," ujar Aqhva sambil memperagakan bagaimana ia menyalin kemampuan Ray lalu berubah wujud menjadi dirinya.


"Apakah wajahku sama tampannya seperti dirimu? Tubuh ini sangat bugar, sepertinya aku tidak perlu khawatir akan terkena penyakit meskipun berkali-kali meniduri wanita yang berbeda," sindir Aqhva.


"Jika kau hanya ingin bermain-main, sebaiknya tinggalkan aku!" ujar Ray. "Kau tak paham juga seperti apa keadaanmu sekarang? Aku datang ke sini menawarkan diri untuk mendukungmu," ujar Aqhva.


"Raja iblis mendukungku? Kau bercanda? Tidak mungkin raja iblis akan membuat keputusan sebaik itu! Aku yakin banyak niatan tersembunyi yang kau inginkan," ujar Ray.


"Raja iblis hanyalah sebuah julukan yang diberikan oleh orang-orang. Pada dasarnya kita sama-sama manusia. Apa salahnya jika aku memiliki niat baik membantu orang yang malang? Aku sedang membicarakan hakku sebagai manusia, bukan raja iblis. Apa salahnya aku berbuat baik?" tanya Aqhva. Ray terdiam sejenak untuk berpikir.


"Aku tidak bisa memercayaimu," ujarnya singkat setelah beberapa menit termenung lalu pergi meninggalkan Aqhva.


"Kau serius dengan keputusanmu? Mungkin saja aku akan melakukan hal yang sama pada Warden. Jika aku memihaknya, maka kau benar-benar tidak memiliki siapapun di sisimu," ujar Aqhva.


Ia pun teringat pada Alex, namun anak itu juga merasa kecewa setelah menyaksikan ledakan yang begitu mengerikan di Adraksh. Saat ia teringat pada Kaa, bahkan saat ini ia sendiri tidak berani menghadap wajahnya. Akhirnya ia merasa benar-benar sendirian, seolah Aqhva baru menyadarkannya.


"Ada apa? Kau tidak akan pergi? Bukankah kau menolak tawaranku?" tanya Aqhva. Ray masih terdiam untuk berpikir. Beberapa menit kemudian ia kembali mengangkat wajahnya dan membulatkan tekad.


"Baiklah, aku akan terima tawaranmu! Dengan satu syarat!" ujar Ray. "Aku tidak sabar untuk mendengar syarat apa yang akan kau ajukan, kuharap aku bisa menyanggupinya," ujar Aqhva.


Ray pun menunjukkan sebuah batu lentera mungil dari sakunya. Tentu saja benda itu tampak tidak asing bagi Aqhva. "Bagaimana kau bisa mendapatkan itu?" tanya Aqhva.


"Sepertinya kau tahu sesuatu tentang benda ini! Jadi, apa pendapatmu setelah melihat ini?" tanya Ray.


"Cahayanya tampak redup, orang biasa tidak akan menyadarinya. Apakah orang itu sedang sakit atau sekarat?" tanya Aqhva.

__ADS_1


"Sepertinya kau tahu lebih banyak tentang benda ini daripada aku," Ray menyimpulkan. "Boleh kulihat dari dekat?" tanya Aqhva, ia mencoba membandingkan batu lentera yang ia miliki.


"Kau juga memiliki benda yang sama, apakah kau juga termasuk dari klan itu?" tanya Ray. "Tidak, ini milik sahabatku, ia telah meninggal belum lama ini," ujar Aqhva.


"Aku turut berduka cita," ujar Ray. "Tidak perlu, lagi pula kami sudah saling bermusuhan sejak ratusan tahun yang lalu. Ngomong-ngomong, ini sangat menarik! Bagaimana kau mendapatkan benda ini? Apakah ini sahabatmu? Atau salah satu wanita yang pernah kau tiduri?" tanya Aqhva.


"Jangan bercanda! Ini milik sahabat seperjuanganku!" ujar Ray, ia mulai emosi. "Hmm! Menyedihkan sekali! Pasti tidak lama lagi ia akan mati, cahaya di lentera ini tidak tertolong lagi," ujar Aqhva.


"Tidak! Ia tidak akan mati! Aku akan bertemu dengannya suatu hari nanti! Mungkin kau tidak percaya, tapi cahaya redup itu terus bertahan selama 20 tahun lebih!" ujar Ray.


Aqhva pun tersenyum di saat Ray tidak menyadarinya. Pada akhirnya ia tahu sebuah celah besar dari pria yang ada di hadapannya itu.


"20 tahun lebih? Bukankah itu sangat lama? Sepertinya ia tetap berjuang demi bertemu denganmu kembali! Sebaiknya kau tidak sia-siakan usahanya hingga saat ini! Pastikan kau benar-benar bertemu dengannya!" seru Aqhva.


"Benar sekali! Aku akan melakukan apapun hingga bisa bertemu dengannya!" ujar Ray dengan penuh semangat, ia sampai kegirangan karena terbawa suasana.


"Sepertinya walaupun kau adalah raja iblis, kau tidak terlalu buruk juga," ujar Ray. Aqhva pun tertawa. "Tentu saja, kita sama-sama manusia, tidak ada bedanya," ujar Aqhva sambil tersenyum ramah, namun di balik senyuman hangatnya itu, terdapat monster yang sedang cekikikan karena berhasil mengelabui sosok yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan di dunia ini.


"Baiklah, karena sudah seperti ini, aku bisa melakukan banyak hal untuk mengatasi kekacauan yang ditimbulkan oleh pengikut Warden! Lalu, siapa namamu?" tanya Ray.


"Oh, benar juga! Karena sekarang kita di pihak yang sama, seharusnya kita saling mengenal. Baiklah, namaku Aqhva," jawab Aqhva.


"Apakah itu nama aslimu? Kau tidak keberatan jika aku memanggilmu dengan nama itu? Mungkin saja orang-orang akan mendengar dan mengetahui siapa kau sebenarnya," ujar Ray mengingatkan.


"Tenang saja! Bahkan pengikutku sendiri tidak tahu siapa namaku, apalagi orang luar," ujar Aqhva tertawa. Ray pun ikut tertawa bersamanya. "Begitukah? Sepertinya aku tidak perlu mengkhawatirkan hal itu," ujarnya.


"Benar sekali, khawatirkan saja dirimu! Kau harus baik-baik saja sebelum bertemu dengan temanmu itu," ujar Aqhva.

__ADS_1


__ADS_2