
Tampak sebuah kawah yang sangat besar di bawah sana. Bahkan Levy pun mulai bergetar hebat karena suhu yang bisa ditahan olehnya hampir melampaui batas.
"Apakah kendaraan ini akan baik-baik saja?" tanya Kaa. "Cih! Kenapa kau membawa kami ke tempat seperti ini? Jelas-jelas tempat ini tidak bisa dilalui oleh manusia!" ujar Salsha kesal, ia tidak suka dengan pemandangan bara api.
"Tempat ini memang hanya bisa dicapai oleh ras Vey, kupikir kendaraan terbang ini juga bisa mencapainya. Sebaiknya kita kembali saja, Alesse," ujar Kaa.
Sayangnya Alesse tidak mendengarkan, ia terus melanjutkan kemudinya, membuat Levy terus melesat ke dalam kawah panas itu.
Salsha tampak semakin ketakutan, ia pun bersembunyi di balik punggung Sandy dengan rasa gelisah karena warna bara api yang menyala-nyala.
Akhirnya Alesse mengatur agar dinding Levy tidak lagi transparan, sayangnya Salsha terlanjur panik.
"Woi! Alesse! Hentikan sekarang juga! Apakah kau gila? Benda ini sudah mengeluarkan bunyi aneh sejak tadi!" ujar Sandy kesal.
Alesse tidak mendengarkan, ia terus meluncur ke bawah hingga menyelami lautan magma. Saat itulah Levy berhenti bergetar, dan mulai dalam proses pendinginan.
"Sekarang sudah baik-baik, " ujar Alesse, ia pun mengatur kembali dinding Levy agar menjadi transparan. Akan tetapi kini dindingnya menunjukkan warna yang agak buram, telah terjadi sedikit kerusakan karena harus menghadapi suhu panas itu.
"Ini di mana? Kenapa langitnya redup? Ini tidak seperti Abyss yang dipenuhi awan hitam, ini seperti langit yang bersih dari awan, namun warnanya tetap redup!" ujar Sandy.
"Kita tidak bisa keluar dari tempat ini atau kulit kalian akan melepuh seketika," ujar Alesse. "Apa maksudmu? Kenapa bisa begitu?" tanya Sandy.
"Radiasi matahari di sini sangatlah tinggi. Yang membuat warna langit tampak redup adalah lapisan atmosfer yang sangat tipis. Menatap langit juga bukanlah hal baik, warnanya pun hampir sama seperti saat terjadinya gerhana," ujar Alesse.
Akhirnya mereka pun terus berada di dalam Levy dan melanjutkan perjalanan. "Kau sudah pernah ke sini sebelumnya?" tanya Kaa.
__ADS_1
"Tentu saja tidak. Aku tidak tahu ada bumi modern lain selain Nov....." Alesse tercengang saat melihat bangunan menjulang tinggi. Tidak ada lagi kendaraan yang berada di darat, semua orang tampak melayang di udara dengan piringan perak.
"Apa itu? UFO?" Sandy terkejut. "Ini adalah bumi dengan teknologi mutakhir, bumi Zapp," ujar Kaa.
"Pakaian orang-orang itu tampak aneh sekali! Kenapa harus berwarna perak?" tanya Salsha. "Agar memantulkan sinar matahari. Menggunakan warna lain, sinar matahari akan terserap ke dalam bahan pakaian dan menimbulkan efek radiasi. Sebaiknya kalian tidak pergi keluar jika masih menginginkan keturunan. Tapi menurutku Sandy akan baik-baik saja di sana dengan regenerasinya yang tak masuk akal," ujar Alesse.
Sandy tampak kesal karena Alesse selalu menyebutnya. "Sampai kapan kalian akan terus saling membenci seperti ini?" tanya Kaa kesal.
"Sampai dia mengakui kesalahannya dan menebusnya. Membantai orang-orang yang tidak bersalah tidak bisa dibenarkan!" ujar Sandy.
"Aku tidak akan mengakui dan tidak akan menebus sesuatu yang tidak pernah kulakukan. Kenapa kalian tidak menebusnya sendiri? Bukankah kalian elementalist? Kalian punya kemampuan yang lebih dari manusia biasa untuk menemukan dan mencegah hal seperti ini terjadi. Menyalahkan manusia biasa yang bukan elementalist adalah hal konyol! Kulitmu setebal badak kah sampai tidak tahu malu begitu? Kalau aku memiliki sedikit saja kemampuan seperti kalian, aku tidak akan diam saja dan menghabiskan waktu untuk asal menuduh seseorang. Aku akan terus mencari pelakunya bahkan keujung dunia sekalipun," ujar Alesse.
"A... apa? Kulit badak? Kulit badak katamu?" Sandy tampak tidak terima. "Apakah aku salah? Kupikir elementalist Alam sepertimu bisa saja membuat kulitmu sendiri menjadi setebal badak kan? Atau mungkin tidak? Maaf saja, aku tidak begitu mengerti tentang Elementalist," ujar Alesse.
"Si... siapa yang kau sebut badak? Jangan samakan Sandy dengan badak!" ujar Salsha. "Benar sekali! Aku juga tidak ingin menyamakannya dengan badak, kasihan badak yang tidak salah apa-apa disamakan dengan orang aneh ini, tapi mau gimana lagi? Kulitnya memang setebal badak sampai tidak punya rasa malu. Kalau saja dia telanjang di jalanan mungkin juga tidak akan malu," ujar Alesse, ia terus memanas-manasi Sandy, ia hendak membalikkan keadaan seolah Sandy yang bersalah jika ia memulai perkelahian.
"Whoa, manusia memang susah diprediksi. Baiklah, aku akan diam. Selanjutnya kalian akan tahu siapa yang sebenarnya memulai kegaduhan," ujar Alesse sambil angkat tangan, ia pun kembali memegang kemudi.
"Sandy juga, tidak usah menambah masalah di sini!" ujar Sanay. "Biar kuralat sedikit, yang memulai keributan ini bukanlah dia, tapi kakek tua itu. Kalau saja dia tidak bertanya, hal seperti ini tidak akan terjadi. Sekarang lihatlah, orang-orang telah menyadari keberadaan kita dan mengepung kita semua," ujar Alesse kesal, ia tidak menyangka Levy akan terdeteksi dengan begitu mudah.
"Apa yang harus kita lakukan Kaa?" tanya Salsha. "Keluarlah dan beri mereka penjelasan! Kalau saja aku fokus memegang kemudi dan tidak diusik, hal seperti ini tidak akan terjadi," ujar Alesse.
Pada akhirnya Kaa yang merasa bersalah pun memilih untuk melangkah keluar. Sayangnya Sandy langsung mencegatnya. "Kita keluar bersama, aku juga merasa bersalah karena membuat kegaduhan," ujar Sandy.
"Aku juga ikut!" ujar Salsha kemudian menggandeng tangan Sandy. "A... aku juga," ujar Sanay. Pada akhirnya Alesse tetap berada di dalam Levy.
__ADS_1
Saat mereka sudah berada di luar, orang-orang mulai menembakkan sesuatu pada mereka. Sandy pun mulai melindungi Salsha.
"Tenang saja, itu bukan hal yang berbahaya. Kami hanya ingin melapisi tubuh kalian dengan tabir agar tidak tersengat cahaya matahari," ujar salah seorang.
Setelah orang-orang itu melangkah mendekat, empat orang itu menyadari betapa kecilnya mereka.
"Eh? Dwarf?" Sanay merasa gemas dengan tubuh mungil mereka. "Tapi bukankah seharusnya mereka kekar dan tampak berwajah seperti berusia paruh baya?" tanya Sandy.
Salah seorang dari manusia kerdil itu pun tertawa. "Benar sekali! Kami berbeda dengan ras Dwarf yang kalian kenal! Kami adalah ras Z-Dwarf!" ujar manusia kerdil itu yang ternyata adalah seorang wanita.
"Z-Dwarf?" Sanay tidak mengerti dengan nama itu. "Walah! Ternyata kalian bisa mengeja nama ras kami! Pasti kalian adalah manusia dari zaman modern! Perkenalkan, namaku Zwan! Aku adalah pemimpin di bumi Zapp, ini," ujar wanita itu.
"Pemimpin bumi? Eh? Maksudmu memimpin satu bumi ini?" tanya Sandy tidak percaya. "Ada apa? Kenapa hal itu tampak aneh menurutmu?" tanya Zwan.
"Memimpin satu bumi itu adalah hal yang mustahil. Bahkan dalam sejarah bumi kami saja, hanya ada satu orang yang berhasil menyatukan semua bahasa satu bumi, tapi belum pernah ada yang menyatukan kepemimpinan," ujar Sanay.
"Oh, biar kuberitahu alasannya! Bumi ini hanya ditinggali oleh Z-Dwarf, dan kami tidak mengenal yang namanya tindakan kriminal seperti ekspansi dan pembunuhan. Kami telah mencapai kata sepakat untuk satu sistem pemerintahan," ujar Zwan.
"Whoa! Luar biasa sekali!" ujar Kaa terkesan. "Kalau begitu mari masuk terlebih dahulu! Berada di luar sini sangatlah tidak sehat! Kalian bisa menjadi steril jika berlama-lama di sini," ujar Zwan.
"Apa? Steril?" Salsha tampak terkejut dan takut, ia langsung memeluk lengan Sandy erat-erat. Wajah Sandy pun langsung memerah melihat tingkahnya itu dan mulai menggaruk-garuk kepala karena tersipu malu.
"Pasangan yang sangat bahagia ya! Apakah kalian berdua juga?" tanya Zwan pada Sanay dan Kaa.
Kaa pun tertawa. "Aku ratusan tahun lebih tua darinya," ujarnya. "Wah! Kau pasti seorang Chron! Kebetulan sekali karena aku juga! Aku dipilih sebagai pemimpin di sini karena usiaku lebih panjang dibandingkan dengan Z-Dwarf lainnya," ujar Zwan.
__ADS_1
"Berapa rata-rata usia orang di sini?" tanya Kaa. "Lima tahun," ujar Zwan sambil tersenyum ramah, meskipun begitu, terlihat bahwa kesedihan menyelimuti dirinya. Pada akhirnya Kaa tidak bertanya lebih lanjut, ia mengerti perasaan yang dimiliki oleh wanita itu.