Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Bumi yang lain


__ADS_3

Alesse langsung menggunakan sepatu rodanya sambil meluncur di padang rumput. Ia sangat menikmatinya.


"Sepertinya kadar polusi udara di tempat ini hampir tidak ada, rata-rata karena aktivitas vulkanik dan kebakaran hutan. Kadar asam di langit juga tampak rendah," ujar Jawara.


"Bumi kita tidak mungkin memiliki kondisi sesempurna itu," ujar Alesse. Ia masih menikmati angin segar sambil terus berjalan dengan sepatu rodanya.


Jawara pun akhirnya memutuskan untuk berubah bentuk menjadi manusia yang sama persis seperti Alesse.


Mereka berdua terus melangkah tanpa tujuan hingga menemukan sebuah pagar kayu.


"Sepertinya ada manusia di sini!" seru Alesse. Ia pun berjalan lebih jauh lagi hingga menemukan pemukiman.


Tanpa berpikir panjang, ia langsung masuk ke dalam pemukiman sederhana itu. Orang-orang pun menatapnya penuh keheranan, pakaian Alesse sangat berbeda jauh dengan mereka.


Alesse pun terhenti sejenak karena merasa ada yang ganjal. "Kenapa Alesse?" tanya Jawara. "Tidak bisa didengar!" ujar Alesse terkejut. "Apanya yang tidak bisa didengar?" tanya Jawara penasaran. "Isi pikiran mereka! Aku tidak mendengar isi pikiran mereka!" ujar Alesse.


"Hei kalian yang ada di sana!" teriak salah seorang. Alesse pun langsung menoleh ke sumber suara. Seorang pria tua menghampirinya. Ia tampak diiringi oleh para pria berbadan besar.


"Siapa kalian sebenarnya? Pakaian kalian sangat aneh! Kalian pasti bukan berasal dari sini!" ujar pria tua itu.


"Alesse, aku tidak mendeteksi bahasa manapun dalam program terjemah otomatis. Aku tidak mengerti apa yang mereka katakan," ujar Jawara.


"Benarkah? Padahal aku bisa memahami perkataan mereka dengan jelas," ujar Alesse. Ia pun akhirnya mendekati pria tua itu, namun beberapa orang berbadan kekar menahannya. Jawara langsung bersikap waspada karena orang asing menyentuh tubuh Alesse.


"Santai Jawara, jangan bertindak dulu," ujar Alesse. Ia pun langsung berhadapan dengan pria tua itu.


"Maaf karena kami datang tanpa seizin kalian. Kami sedang tersesat, apakah tuan berkenan menerima kami singgah sebentar?" tanya Alesse. Akhirnya mereka pun dipersilahkan istirahat di rumah pria tua itu.


"Rumahnya paling besar di antara rumah-rumah lainnya! Sepertinya ia memiliki pangkat yang tinggi di sini," ujar Jawara. "Tentu saja, pria tua itu adalah kepala desa ini. Itulah mengapa ia dikelilingi oleh pria berbadan besar!" Alesse menimpali. Ia pun mencoba memakan apa yang disuguhi oleh pembantu milik kepala desa itu.


"Hmm? Apa ini enak sekali!" seru Alesse. "Baru kali ini aku melihatmu antusias saat merasakan makanan yang enak. Biasanya kau tidak peduli," ujar Jawara.

__ADS_1


"Kau tidak akan mengerti jika tidak mencobanya sendiri," ujar Alesse. "Karena aku ini bukanlah makhluk hidup, aku tidak bisa merasakan hal seperti itu," ujar Jawara.


"Bagaimana dengan makanannya? Apakah sesuai dengan lidah kalian? Loh? Wajah kalian tampak sama? Aneh sekali!" ujar kepala desa.


"Oh? Kami ini anak kembar," ujar Alesse. "Kembar? Apa itu?" tanya kepala desa keheranan. "Buset! Tidak tahu kembar? Apakah desa ini sangat terpencil?" Alesse keheranan.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Jawara. "Kembar adalah dua anak atau lebih yang dilahirkan oleh satu ibu secara bersamaan," ujar Alesse.


"Hmm? Satu ibu melahirkan dua anak? Aku belum pernah dengar yang seperti itu," ujar kepala desa.


"Alesse! Aku tidak mengerti apa yang kalian ucapkan!" ujar Jawara sekali lagi. "Argh! Kau ini berisik sekali! Aku juga tidak tahu solusinya!" ujar Alesse kesal.


"Sepertinya kalian berdua berbicara dengan bahasa asing! Apakah kalian dari kerajaan seberang?" tanya kepala desa.


"Yeah begitulah," jawab Alesse. "Melihat pakaian kalian yang berbahan bagus ini, pasti kalian adalah utusan kerajaan! Apakah ada yang perlu kami bantu?" tanya kepala desa.


"Hmm! Sebenarnya kami tersesat, apakah tuan berkenan memberitahu lokasi kota terdekat?" tanya Alesse.


"Tidak perlu, kami hanya ingin tahu arah kota terdekat," ujar Alesse. "Benarkah? Kota sangatlah jauh dari sini, apakah kalian hendak jalan kaki ke sana? Itu sangat melelahkan! Aku tidak bisa menjamin kalian akan selamat sampai di sana," ujar kepala desa.


"Tidak apa-apa, kami baik-baik saja. Kami tidak ingin membuat kesusahan penduduk desa," ujar Alesse.


Akhirnya kepala desa memberikan perkamen yang berisi peta. Alesse tetap menolaknya, ia hanya mengambil gambar peta itu dengan ponselnya.


"Kau seharian ini sangat rewel! Apa yang menjadikan robot sepertimu penasaran dengan pembicaraan kami?" tanya Alesse keheranan.


"Pada dasarnya aku meniru segala bentuk fisikmu, jadi aku bisa dikatakan mendekati makhluk hidup," ujar Jawara. Ia tiba-tiba mengambil batu dan memukuli tangannya hingga hancur. Darah pun mengalir darinya.


"Ke... kenapa kau berdarah?" Alesse terkejut. "Santai saja, ini bukan darah sungguhan, ini hanya tiruan dari fisik biologimu," ujar Jawara.


"Kau seperti mayat hidup saja, mengerikan!" ujar Alesse. "Alesse sepertinya lebih baik aku berubah menjadi Levy sekarang, suhu lingkungan tiba-tiba menurun dengan cepat," ujar Jawara.

__ADS_1


"Benarkah? Kalau begitu cepat lakukan!" ujar Alesse. Akhirnya Jawara pun berubah menjadi ruang kubus. Alesse segera masuk k dalamnya dan mengemudikan kubus itu ke kota terdekat.


"Setelah melayang di udara, penampilan daratan ini tampak berwarna biru dan putih. Sepertinya kebanyakan daratan di tutupi oleh es," ujar Jawara.


"Oh lihat! Itu rumah-rumah berjajar! Sepertinya ini sudah masuk kota!" seru Alesse. "Ini tampak seperti pelabuhan abad ketiga belas," ujar Jawara.


Alesse terus menatap susunan rumah pada pelabuhan itu. Ia merasa tidak asing. "Jawara, sepertinya.... tempat ini mengingatkanku pada sesuatu!" ujar Alesse.


"Sesuatu apa?" tanya Jawara. "Seharusnya mustahil! Ini adalah pelabuhan yang kubayangkan saat membaca cerita tentang Gadis Berjubah Biru dari Dasar Lautan! Kenap imajinasiku sampai ke sini? Ini tidak mungkin!" ujar Alesse.


"Kurasa bukan imajinasimu, mungkin mata kanan dan kirimu tidak merespon dengan serentak, salah satunya melihat lebih cepat seolah kau melihat pelabuhan itu dua kali, lalu kau merasa tidak asing saat melihatnya untuk kedua kalinya," ujar Jawara.


"Tidak! Tidak! Aku ingat persis kalau ini sesuai dengan imajinasiku! Lihatlah, persiapan festival yang diadakan nelayan itu! Ini benar-benar sama persis!" ujar Alesse.


"Terserah kau saja, aku semakin tidak mengerti apa yang kau katakan. Jadi, setelah tahu hal itu, kau mau apa?" tanya Jawara.


"Jika ini sesuai dengan cerita dongeng itu, seharusnya si gadis sedang kabur dari rombongannya! Mari kita lihat-lihat sekitar dulu!" seru Alesse. Pikirnya keadaan ini semakin menarik.


Ia pun mencoba turun di dek kapal, agar orang-orang tidak curiga dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Ia pun mengambil dua kain lusuh untuk menutupi kepalanya dan kepala Jawara.


"Kenapa kita harus memakai ini?" tanya Jawara. "Pakaian kita terlalu mencolok! Kita harus menutupinya!" ujar Alesse. Mereka pun akhirnya turun dari kapal dan berlari ke ke jembatan.


Alesse terhenti sejenak saat melihat matahari senja yang mewarnai langit jingga. Ia sangat terpukau dengan pemandangan itu. Pemandangan yang sama sekali belum dirusak oleh teknologi modern.


"Ada apa Alesse?" tanya Jawara. "Sepertinya, aku ingin tinggal di sini selamanya," ujar Alesse. "Jangan mengigau! Kau harus pulang sebelum 24 jam selesai! Bukankah kau bilang seperti itu pada Probe? Kau akan pulang dalam sehari," ujar Jawara.


"Eh? Benar juga! Gimana caranya kita pulang?" tanya Alesse, ia tidak kepikiran dengan hal itu karena terlalu penasaran.


"Kupikir kau sudah memiliki solusinya," ujar Jawara. "Tidak, aku tidak memikirkan hal itu. Kita langsung pergi dari tempat asal tanpa menandainya terlebih dahulu," ujar Alesse, ia juga tidak tertarik untuk pulang cepat.


"Berarti kita akan terjebak di dunia ini untuk waktu yang lama? Lalu bagaimana dengan Probe?" tanya Jawara.

__ADS_1


"Entahlah," ujar Alesse singkat seolah tidak peduli dengan kehidupan di rumahnya itu.


__ADS_2