Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Kebetulan yang tak terduga


__ADS_3

Alex masih tercengang dengan sosok yang ada di hadapannya sekarang. "Yo! Sepertinya kau sangat terkejut saat melihatku. Padahal ini bukan pertama kalinya kita bertemu," ujar Kaa.


"Kau bukanlah Alesse! Dia jelas tampak lebih tua saat terakhir kali aku melihatnya!" ujar Alex. "Ada apa, Alex? Kau mengenal Kaa?" tanya Ray.


"Mengerikan! Dia sangat mirip dengan kakakku!" jawab Alex. "Hmm? Kakakmu? mana mungkin! Wajah yang tampak seperti anak kecil ini mirip dengan kakakmu?" tanya Ray. Mendengar perkataannya, Kaa langsung menatapnya dengan tatapan sinis.


"Kaa! Dari mana saja kau, aku sibuk mencarimu ke mana-mana!" ujar Sandy, ia pun terkejut karena melihat Alex datang bersama Ray.


"Da... Dark Warden? Tu... tunggu dulu! Alex? Kenapa kau di sini?" tanya Sandy keheranan. "Hmm? Alex, kalian berdua saling kenal?" tanya Ray. Alex mencoba berpikir sejenak. Setelah mengingat kembali wajah Sandy, ekspresi tiba-tiba berubah menjadi sangat tidak mengenakkan.


"Apa yang kau lakukan di sini? K3napa kau datang bersama orang yang mirip dengan kakakku? Sebenarnya apa yang kalian rencanakan?" tanya Alex. "Tunggu dulu, Alex! Kau ini kenapa?" tanya Ray, ia heran karena Alex tampak penuh emosi.


"Orang itu.... dia adalah orang yang selalu mengusik kakakku di sekolah! Kenapa kita datang ke sini Ray? Untuk bertemu mereka berdua? Melihat seseorang dengan wajah yang sangat mirip kakakku membuatku merasa jijik! Aku lebih baik pergi dari sini!" ujar Alex kemudian berbalik badan untuk pergi, namun Ray mencegahnya.


"Kaa! Jelaskanlah! Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pria yang kau bawa itu?" tanya Ray. "Hei, Alex! Sepertinya kau salah paham! Aku tidak pernah mengusik Alesse sama sekali! Kami hanya berteman!" ujar Sandy.


"Teman? Omong kosong apa yang kau bicarakan? Yang kutahu adalah kalian menindas orang yang lemah! Kalian yakin selama ini menganggapnya teman? Atau jangan-jangan kalian hanya memanfaatkan kepintarannya untuk kepentingan kalian sendiri?" tanya Alex.


Sandy merasa bahwa yang Alex katakan ada benarnya, selama ini ia dan teman-temannya selalu mengandalkan Alesse untuk mempermudah urusan mereka.


"Kenapa? Kenapa kau diam saja? Hanya pengecut saja yang berani menindas orang-orang lemah!" ujar Alex.


Meskipun sedang diliputi rasa bersalah, Sandy merasa muak karena Alex terus menuduh dirinya menindas seseorang.


"Lemah? Menindas? Kalian berdua kakak beradik ternyata benar-benar sama persis! Kau sudah selesai bicara? Apakah ini kebiasaan keluarga kalian? Tidak ingin mendengarkan penjelasan orang lain, namun perkataan kalian ingin didengar? Beri aku kesempatan untuk berbicara! Itu baru adil," bentak Sandy, seketika kedua tanduknya mencuat dari kepalanya, membuat Ray terkejut.


"Alesse lemah? Kau yakin dengan apa yang kau katakan? Atau kau hanya membandingkannya dengan dirimu sendiri? Hanya karena kau sangat kuat, jangan sombong dulu! Mungkin bagimu Alesse sangatlah lemah, tapi bagi kami, bagi kebanyakan orang dia adalah orang yang tangguh! Menindas? Kupikir kau sendiri yang menindas kakakmu! Kau yang meyepelekannya dan menganggapnya lemah tanpa alasan!" ujar Sandy, ia membalikkan perkataan Alex, membuatnya tak bisa membantah lagi.


"Ops! Sudahlah, kita datang ke sini bukan untuk beradu mulut. Ayolah, kalian semua adalah pria! Kita menyelesaikan masalah dengan kekuatan kita, bukan perkataan kita," ujar Ray memecah suasana tegang di antara mereka berdua.

__ADS_1


Sandy merasa aneh mendengar perkataan Ray, Alex hanya bisa menepuk dahi menahan malu. "Baiklah, sepertinya kalian sudah melupakan pertengkaran kalian! Inilah yang aku suka saat bekerja sama dengan pria, kita ini sederhana dan tidak banyak mengungkit-ungkit perkara lampau," ujar Ray.


"Apakah kau yakin pria ini adalah Dark Warden? Raya Stephen yang terkenal itu? Kupikir kita salah orang!" bisik sandy.


"Hei, jangan begitu! Aku bisa mendengar semua perkataanmu loh, itu membuatku sakit hati! Ngomong-ngomong ini mengejutkan sekali! Ada ras Dracal yang mau bergabung dengan misi kita," ujar Ray.


"Dracal?" Sandy menengok ke sana kemari, namun tidak mendapati seorang lagi di antara mereka. "Yang dia maksud itu kau, Sandy!" ujar Kaa.


"Aku?" Sandy kebingungan. "Yeah, benar sekali! Jarang ada Dracal yang mau diajak bekerja sama dengan Warden," ujar Ray.


"Kenapa begitu? Ada apa dengan Dracal? Itu apa?" tqnya Alex penasaran. "Itu adalah nama sebuah ras, seperti kau yang merupakan ras setengah binatang, pemuda ini adalah ras Dracal. Ciri-cirinya adalah tanduk di atas kepalanya itu," jawab Ray.


"Lalu kenapa mereka tidak mau bekerja sama dengan Warden?" tanya Alex. "Kebanyakan mereka semua memihak iblis, bahkan saat ini tahta raja iblis dipegang oleh ras Dracal terkuat, ia bisa mengendalikan berbagai manusia iblis," ujar Ray.


"Manusia iblis? Apa itu? Aku belum pernah mendengarnya," ujar Alex. "Jika kau menanyakan semuanya saat ia bercerita, itu tidak akan pernah selesai. Intinya manusia iblis itu adalah kita semua, yang sering kehilangan kendali saat emosi kita tidak stabil," ujar Sandy.


"Kenapa kalian berdua tidak bisa akur? Perlukah kami menyiapkan lapangan untuk kalian berdua agar saling baku hantam? Kupikir setelah semua itu selesai, kalian akan merasa lega," ujar Ray.


"Seharusnya kau melerai dua anak itu! Kenapa kau menambah masalah baru?" tanya Kaa. "Biarkan seperti itu! Bukankah seru melihat pertandingan seperti ini? Mari kita lihat lebih kuat mana antara muridku dengan pemuda yang kau bawa itu. Yeah, meskipun aku sudah tahu siapa yang akan menang," ujar Ray.


"Kau terlalu berlebihan! Kenapa membiarkan anak polos itu bertengkar hanya untuk hiburanmu?" tanya Kaa. "Barang kali ada potensi lain yang ia miliki. Ras setengah binatang mengalahkan Dracal.... bukankah itu terdengar menarik?" tanya Ray.


"Terserahlah! Bila anak itu tiba-tiba murung dan patah semangat, itu jadi tanggung jawabmu!" ujar Kaa. "Tenang saja, ia tidak selemah itu. Meskipun masih remaja, kuyakin ia bisa bersikap dewasa," ujar Ray.


Tanpa aba-aba pun kedua anak itu langsung baku hantam mulai dari saling pukul hingga mencabik-cabik, mereka tidak peduli lagi meskipun baju yang mereka kenakan menjadi koyak dan tak layak pakai.


"Hmm! Aku merasa sangat tidak asing dengan gerakan itu! Apakah Alesse yang mengajarimu melakukannya?" tanya Sandy.


Alex sempat tidak sadar dengan reflek gerakannya, ia juga ingat beberapa hal saat berlatih dengan Alesse. Meskipun begitu, ia enggan mengakuinya.

__ADS_1


"Cih! Jangan senang dulu, ini baru permulaan!" ujar Alex. Ia pun terus berlari kencang ke arah Sandy hingga bulu-bulu di tubuhnya mulai tumbuh lebat.


Sandy sempat kewalahan karenanya, namun ia memiliki tenaga yang lebih kuat dibandingkan Alex sehingga dapat menahan serangan Alex meskipun ia harus merelakan pakaiannya yang koyak.


"Hei! Lihat-lihat kalau menyerang! Kau hendak melucuti semua pakaianku? Aku tidak tahu kau punya hobi seperti itu, tapi mohon maaf! Aku tidak tertarik!" ujar Sandy.


"Justru karena itu! Kita harus memanfaatkan semua kelemahan lawan untuk mengalahkannya," ujar Alex tersenyum, ia merasa bangga karena tidak ragu-ragu meskipun diolok oleh Sandy.


"Pemikiran seperti itu... tidak salah lagi! Itu semua adalah hal yang Alesse lakukan, otak berotot sepertimu tidak akan memikirkan hal licik untuk menang. Secara tidak sadar kau mengakui bahwa kakakmu itu sebenarnya orang yang kuat, bukankah begitu? Kau baik-baik saja menelan ludahmu sendiri?" tanya Sandy.


"Diam kau!" ujar Alex kesal, ia terus berusaha mencakar tubuh Sandy. Meskipun sempat menghindarinya beberapa kali, pada akhirnya Sandy mendapatkan banyak luka di tubuhnya.


"Hei, ini tidak bisa dibiarkan saja! Aku tidak khawatir dengan Sandy, tapi Alex bisa menggila jika dibiarkan begitu, ia akan kehilangan kendali!" ujar Kaa.


"Justru sekaranglah bagian menariknya! Mari kita lihat sejauh mana dia akan bertahan!" seru Ray.


"Hei! Apakah kau serius? Jika kau berlebihan menggunakan kekuatanmu, kau bisa berubah menjadi iblis, kau akan kesulitan untuk kembali normal," ujar Sandy, akan tetapi Alex mengabaikannya. Ia terus meraung keras sambil mengayunkan cakarnya untuk mengoyak tubuh Sandy.


"Sepertinya tidak ada pilihan lain, maaf karena aku harus melakukan ini," ujar Sandy kemudian mengayunkan kakinya tepat di antara kedua kaki Alex. Saat itu juga Alex terbujur kaku.


"Ouch! Itu pasti sangat menyakitkan!" ujar Ray. "Bagi pengendali alam itu bukanlah masalah, bisa pulih dengan cepat dan tidak membekas luka," ujar Kaa.


"Mudah sekali kau bicara! Meskipun secara fisik tidak terluka, itu bisa melukai mentalnya," ujar Ray.


"Alex? Alex! Kau baik-baik saja?" tanya Sandy. Alex tetap diam dan mengisyaratkan agar Sandy tidak mendekatinya, ia benar-benar kesakitan.


"Bukan berarti aku tidak punya etika, tapi kau tidak mau mendengarkanku jadi aku terpaksa melakukannya," ujar Sandy, ia sendiri hampir ketawa karena melihat ekspresi Alex yang terus berusaha terlihat baik-baik saja.


"Tidak usah disembunyikan, aku tahu itu pasti sangat sakit," ujar Sandy. Ia langsung mengangkat lengan Alex dan membantunya berdiri kemudian menuntunnya ke tempat Ray.

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa kalah begitu saja?" tanya Ray, ia juga terus tertawa melihat ekspresi Alex. Kaa hanya bisa menepuk dahi melihat tingkah Ray yang kekanak-kanakan.


__ADS_2