Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Pengawas


__ADS_3

"Ma.... maafkan aku tuan! Aku terlalu gegabah!" ujar Gord sambil bertekuk lutut di sebuah singgasana kosong.


"Benar sekali! Kau benar-benar bodoh dan gegabah! Kenapa kau memutuskan untuk menahannya? Kenapa? Kenapa kau bawa kedua anak itu ke sel tahanan?" Sebuah suara terdengar menggema di ruangan itu.


"Aku sangat terkejut karena melihat dua anak dengan wajah yang sama persis sepertimu! Aku merasakan firasat buruk dari mereka berdua," ujar Gord.


Saat itulah kilatan petir tiba-tiba menerangi ruangan yang tampak redup itu, sepersekian detik kemudian singgasana di hadapan Gord sudah diduduki oleh seorang anak. Wajahnya tampak sama persis seperti Alesse, namun rambut dan matanya berwarna jingga.


"Firasat buruk jidatmu! Kenapa kau tidak langsung melaporkan kedua anak itu padaku? Sebenarnya siapa yang berkuasa di sini? Aku atau kau?" tanya anak itu, ia masih duduk santai di singgasana dengan wajah dinginnya.


"Te... tentu saja engkau, wahai tuanku," ujar Gord. Anak itu pun langsung muncul di hadapan Gord secepat kilat.


Gord bahkan tidak sempat melihat bagaimana anak itu bisa berada di hadapannya dalam sepersekian detik.


Anak itu pun mendongakkan kepala Gord agar bisa menatap wajahnya. "Benar sekali! Aku yang berkuasa di sini! Aku yang mengatur semua jalannya perang! Semua strategi yang ada! Yang perlu kau lakukan hanyalah menjadi bonekaku saja! Jangan berlagak seperti binatang yang sedang mengkhianati tuannya! Aku tidak suka hal itu!" ujar anak itu.


"Ba... baiklah tuanku, akan kuingat baik-baik," ujar Gord, ia tidak berani menatap ekspresi dingin anak itu.


"Santai saja! Aku sama sekali tidak membencimu. Kau cukup bodoh dan mudah diatur, sangat cocok sebagai bonekaku. Jadi jangan sekali-kali membuatku kecewa. Aku bisa membuat tombak menembus dari ***** sampai kepalamu, seperti yang telah terjadi pada rekan-rekanmu sebelumnya," ujar anak itu sambil menyeringai lebar, wajah Gord pun tampak semakin pucat.


"Ba.. baiklah! Lain kali aku akan berhati-hati," ujar Gord kemudian pergi meninggalkan ruangan itu. Ia langsung menghela nafas lega setelah pergi dari hadapan anak itu.


Ia pun langsung pergi ke jalanan sambil memperhatikan penduduk sekitar. Ia teringat dengan perkataan Alesse yang mengeluhkan tentang betapa baunya kerajaan itu.


"Hmm? Menurutku biasa saja! Apanya yang bau?" Gord keheranan, namun setelah ia ingat baik-baik, ia mencium aroma wangi dari rombongan yang mengaku sebagai petualang itu.


Kebetulan sekali ia menemukan mereka sedang berjalan-jalan di pasar. Akhirnya ia pun membuntuti mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Alesse! Sepertinya kita sedang diikuti!" ujar Sandy. "Aku juga merasakannya dari tadi! Ini bukan diikuti! Kita memang sedang diawasi dari berbagai arah!" ujar Kaa.

__ADS_1


"Eh! Aku baru sadar!" teriak Sanay, menarik perhatian orang-orang. Gord yang sedang mengendap-endap ikut terkejut karena teriakannya.


"Sialan! Kukira ia menyadari keberadaanku! Dasar gadis aneh!" ujar Gord sambil mengelus dada, ia pun kembali bersembunyi, kali ini ia memutuskan untuk menghampiri mereka lebih dekat.


"Ini bukan seperti seseorang sedang mengawasi kita! Aku menemukan sebuah gelombang sinyal memenuhi kerajaan ini," ujar Sanay.


"Gelombang sinyal?" Sandy mengecek ponselnya. "Bukan sinyal telekomunikasi, bodoh! Mana ada alat komunikasi seperti itu di sini!" ujar Salsha.


"Ya benar sekali! Ini seperti sensor gerakan! Memang kita sedang diawasi di sini, tapi yang jelas berpusat pada satu arah!" ujar Sanay sambil melangkah ke sembarang arah.


Ia pun berhenti di sebuah kios pasar dan mendapati Gord sedang jatuh terduduk dengan wajah terkejut.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sanay keheranan. "Ah... Yeah.. eh.. aku... aku tidak sedang melakukan apa-apa," ujar Gord dengan wajah gagapnya. Sanay langsung berkacak pinggang melihat tingkahnya itu.


"Apanya yang tidak melakukan apa-apa? Jelas-jelas kau sedang duduk di tempat tertutup seperti ini! Mencurigakan sekali!" ujar Sanay.


"Hei, Sanay! Kau sedang apa ?" tanya Sandy. Sebelum anak-anak yang lainnya menghampiri, Gord langsung menarik lengan Sanay lalu membawanya pergi.


"Ma... maaf," ujar Gord kemudian mengangkat tubuh Sanay lalu berlari menjauh dari anak-anak lainnya.


Setelah merasa jauh akhirnya Gord menurunkan Sanay. "Apa-apaan kau ini! Kenapa membawaku sampai ke sini? Lalu tiba-tiba menggendongku seperti itu...." Sanay merasa malu.


"Oh, maaf! Aku tidak boleh terlihat oleh orang lain. Aku hanya ingin menjelaskan itu padamu. Pokoknya jangan beritahu mereka kalau kau baru saja bertemu denganku!" ujar Gord sambil memegang pundak Sanay, tanpa alasan yang jelas ia mulai mengendus-endus.


"Hei! Kau orang mesum? Kenapa mengendus-endus seperti anjing?" Sanay merasa tidak nyaman, namun ia tidak bisa melepaskan diri dari tangan kekar pria itu.


"Aku tidak melakukan apapun kok, aromamu seperti ladang bunga. Aku jadi tersadar betapa baunya pemukiman ini," ujar Gord, ia pun langsung pergi begitu saja setelah melihat teman-teman Sanay dari kejauhan.


"Dasar pria aneh!" ujar Sanay, ia sempat tersenyum karena perkataan Gord. Ia pun langsung kembali pada teman-temannya dengan suasana hati yang baik itu.


"Dari mana kau Sanay? Sepertinya aku lihat seseorang menarik lenganmu tadi," ujar Sandy.

__ADS_1


"Bukan apa-apa kok," ujar Sanay, ia langsung menghampiri Alesse dengan wajah merahnya. "Ada apa?" tanya Alesse keheranan.


"Apakah parfumku harum?" tanya Sanay. "Tidak kok, biasa saja. Aku malah lebih merasakan aroma tidak sedap dari pemukiman ini! Baunya seperti ikan asin yang sedang dijemur," ujar Alesse dengan ekspresi datarnya, ia langsung menghancurkan suasana hati Sanay yang sedang baik itu.


"Duh! Anak yang satu ini memang tidak peka!" ujar Sandy. "Loh? Apa salahku? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," ujar Alesse.


"Yeah, terserah kau lah. Lama-kelamaan aku jadi teringat Probe saat melihatmu," ujar Kaa. Alesse hanya bisa menatap penuh heran dengan respon teman-temannya terhadapnya.


"Sanay, bolehkah aku minta tolong padamu?" tanya Alesse tiba-tiba, hal itu membuat suasana hati Sanay membaik lagi.


"Iya! Kenapa?" tanya Sanay penasaran. "Gelombang sinyal ini..... kau bisa mendeteksi dari mana arah datangnya?" tanya Alesse. Sandy dan Kaa langsung menepuk jidat. "Dia hanya memanfaatkannya!" ujar Sandy. "Benar sekali! Dia hanya menganggapnya sebagai alat," bisik Kaa pada Sandy.


"Kalian berdua ini sedang bicara apa sih? Kalau aku salah bilang saja!" ujar Alesse kesal, sekilas mata dan rambutnya berubah jingga lalu kembali seperti semula dalam sekejap.


Melihat penampakan itu Sandy dan Kaa langsung terdiam karena takut. "Tuh kan Alesse marah! Sandy tanggung jawab!" ujar Salsha.


"Loh? Kok aku?" tanya Sandy keheranan. "Makanya, jangan suka menanggapi tindakan Alesse dengan mulut besarmu itu!" ujar Salsha.


"A... apa? Mulut besar? Kuakui kalau badanku memang besar, tapi ukuran mulutku sangatlah wajar! Tidak terlalu besar!" ujar Sandy mencoba menyangkal.


"Argh! Bodoh! Ini bukan masalah ukuran!" ujar Salsha kesal. "Kau memang pandai membuat orang kesal kawan," ujar Kaa sambil menepuk bahu Sandy. "Loh? Apa salahku?" Sandy benar-benar tidak mengerti. "Kau ini memang serba salah! Jadi diam saja!" ujar Salsha. Akhirnya Sandy pun mengalah dan terdiam.


"Hei! Aku barusan mendapatkan gelombang sinyal yang kuat!" seru Sanay. "Wah! Gimana caranya?" tanya Alesse, kali ini rambut dan matanya berubah merah, wajahnya tampak bersemangat.


"Aku juga tidak tahu, tepat sekali saat kau marah, aliran listrik di sekitarmu terhubung pada suatu tempat!" ujar Sanay.


"Aliran listrik di tubuh Alesse?" Sandy keheranan. "Mungkin saja berasal dari tongkat ini, ia juga barang elektronik," ujar Alesse.


"Jadi dari mana sinyal apalah itu berasal?" tanya Kaa. "Dari istana kerajaan," jawab Sanay. "Eh? Istana? Jadi kita akan pergi ke sana untuk memastikannya?" tanya Sandy.


"Tentu saja! Menerapkan sensor gerak di dunia tanpa peradaban modern adalah hal yang tabu, kita harus memeriksanya," ujar Alesse. Ia pun merubah tongkat di punggungnya menjadi Levy, sayangnya ia hanya masuk seorang diri dan meninggalkan teman-temannya.

__ADS_1


"Hei! Kenapa Alesse malah pergi meninggalkan kita?" tanya Sandy keheranan. "Ini semua salahmu, kalau saja kau tidak banyak membicarakannya, ia tidak akan berbuat seperti itu," ujar Salsha. "Eh? Serius? Salahku lagi dong?" tanya Sandy dengan wajah terpuruk.


__ADS_2