
Liburan panjang telah usai, kini Alesse bersekolah di SMA. Hari ini adalah hari pertama ia datang ke sekolah. Hari-hari yang masih tenang sebelum penentuan jurusan.
Selama liburan panjang itu ia banyak beraktivitas hingga membuatnya bertambah tinggi meskipun tidak seberapa. Sayangnya hal itu membuatnya terlihat sangat feminim karena wajahnya tidak banyak berubah.
Ia pun duduk di kelasnya setelah melihat denah. Tidak lama kemudian Sanay dan Salsha datang. Mereka berdua juga sekelas dengan Alesse.
Alesse tampak tidak peduli. Memang sudah lama ia tidak pernah mengobrol dengan mereka lagi. Mereka juga tidak bisa mendekatinya karena Alesse terus berdiam diri di perpustakaan.
Beberapa menit kemudian pria berbadan besar masuk ke dalam kelas. Alesse hanya menatapnya sekilas karena merasa tidak asing. Ia pun kembali membaca buku miliknya.
Sayangnya pria itu malah menghampirinya dengan yakin, membuatnya terkejut. "Alesse! Sudah lama sekali yah!" seru pria itu.
Saat membaca isi pikirannya, Alesse pun akhirnya mengetahui bahwa pria itu sebenarnya adalah Sandy.
"Kau, banyak berubah yah, Sandy!" ujar Alesse dengan wajah datarnya kemudian kembali membaca buku.
"Ekspresi macam apa itu? Kau tidak terkejut? Membosankan sekali! Aku ini Sandy loh! Kenapa responmu biasa saja?" tanya Sandy.
"Heh? Kau Sandy?" Sanay dan Salsha berteriak serentak. "Oh? Kalian berdua juga sekolah di sini? Tidak kusangka kita bertemu lagi!" seru Sandy.
"Seriusan? Kau Sandy yang dekil itu kan?" tanya Salsha memastikan. "Kejam sekali! Aku tidak dekil! Aku biasa saja kok!" ujar Sandy. "Whoa! Ini mengejutkan sekali! Si Sandy ini.... kau benar-benar mirip seperti Alex! Sepertinya di kelas ini pun hanya kau yang paling besar!" ujar Sanay.
"Hmm, ngomong-ngomong perkara Alex, sepertinya ia akan pulang besok, dan akan mulai bersekolah di sini juga," ujar Alesse.
"Heh? Begitu kah? Terus kenapa?" Sanay dan Salsha tampak tidak tertarik. "Seriusan? Alex? Adikmu itu? Akan bersekolah di sini?" tanya Sandy bersemangat.
"Suaramu keras sekali, Sandy! Sangat menggangu!" keluh Alesse. "Oh, maaf! Aku bahkan tidak tahu kenapa suaraku semakin berat dan keras," ujar Sandy.
"Tentu saja karena tubuhmu besar! Sepertinya pita suaramu pun dipenuhi otot juga," ujar Salsha.
"Eh, kalian sudah memutuskan masuk ke jurusan mana?" tanya Sanay. "Aku akan masuk di jurusan IPA yang sederhana, aku tidak terlalu mengerti jurusan IPS, terlalu rumit," ujar Alesse.
"Yeah, kalau itu memang sesuai kepribadianmu. Lagian kau juga tidak butuh sekolah, mau jurusan mana saja tidak masalah bagimu. Tapi mungkin Salsha juga memilih IPA," ujar Sanay.
"Benar sekali! Dari dulu ia memang suka bersaing melawan Alesse dalam akademi, namun tidak pernah bisa mengalahkannya," ujar Sandy.
"Kenapa jadi melawanku? Aku tidak pernah ingin bersaing loh! Siapa yang mengizinkannya melawanku?" tanya Alesse keheranan.
"Lalu kau, pilih jurusan apa, Sandy?" tanya Salsha. "Hmm? Mungkin IPA saja lah! Biar kita berempat bisa bersama lagi!" ujar Sandy.
"Kau ini pilih jurusan bak pilih jajanan di kantin saja," ujar Salsha prihatin. Sandy hanya tertawa sambil menggaruk-garuk kepala.
"Wih! Tumben kau tidak menyangkal perkataan Salsha! Ada apa ini? Biasanya kalian akan langsung bertengkar," ujar Sanay keheranan.
__ADS_1
"Tidak! Tidak! Aku tidak akan melakukan hal itu lagi, melelahkan. Suaraku sudah semakin berat jadi susah berbicara banyak," ujar Sandy.
"Oh, sepertinya Sandy kita sudah semakin dewasa! Gimana Salsha? Apakah kau menyukainya sekarang? Bukankah dulu kau pernah menantikannya berubah? Sekarang dia sudah berubah total loh!" ujar Sanay.
"Sudahlah Sanay, tidak perlu mengungkit masa lalu. Aku jadi malu karena berlagak sombong seperti itu," ujar Sandy. Salsha tetap berwajah sebal sambil memalingkan wajahnya dari Sandy.
"Loh? Apa salahku?" Sandy keheranan. "Ayo duduk di tempat masing-masing! pelajaran akan dimulai!" seru Sanay. Akhirnya mereka pun duduk dengan tenang setelah seorang guru masuk dalam ruangan.
"Loh, kau! Kenapa duduk sendirian?" tanya guru keheranan kepada Alesse. Hanya ia yang satunya duduk sendirian di barisan tengah.
"Kelas pertama baru dimulai tapi kalian semua sudah mengucilkan seorang anak yah? Benar-benar mengecewakan!" ujar guru itu. Salah seorang anak pun mengangkat tangan.
"Bukan begitu bu! Kami tidak tahu dia ini laki-laki atau perempuan, jadi kami tidak bisa asal duduk di sampingnya," ujar anak itu.
Memang peraturan di sekolah melarang duduk sebangku dengan lawan jenis, hal itu membuat permasalahan yang rumit bagi Alesse.
Sebelum masalah itu menjadi besar, akhirnya Sandy pun pindah ke samping Alesse. "Biar aku saja yang duduk di sini bu!" seru Sandy. "Alesse, kau tidak keberatan kan?" tanya Sandy. Alesse hanya mengangguk tidak peduli.
"Loh? Jangan-jangan kau berniat merundungnya? Meskipun tubuhnya kecil, jangan melakukan diskriminasi!" Guru itu langsung berprasangka buruk. Tentu saja hal itu membuat Sandy terpuruk.
"Maaf bu, dia memang teman dekatnya, bukan berniat merundungnya!" Salsha angkat bicara. "Oh? Begitu kah?" Guru itu tampak ragu-ragu.
"Benar kok bu!" ujar Sandy. "Hei, Alesse! Katakan sesuatu dong!" desaknya. Alesse menutup bukunya dengan keras. "Sebenarnya aku tidak mau melakukan ini! Maaf jika tidak sopan bu, tapi apakah yang sedang kita bicarakan ini penting? Ibu membuat anak yang sedang diam menjadi pusat perhatian di kelas," ujar Alesse kesal. Suasana kelas hari itupun menjadi senyap dan canggung.
"Alesse kau manis sekali!" seru siswi. "Alesse, kau ini laki-laki atau perempuan? Mau berkencan denganku? Jangan bermain dengan anak berbadan besar itu! Bahaya!" ujar salah seorang anak lainnya.
"Sepertinya hari ini kau menjadi sangat terkenal di kelas," ujar Sanay. "Semua ini adalah salah si guru sialan itu!" ujar Alesse.
Setelah berpisah di persimpangan jalan, Alesse merubah sepatunya menjadi sepatu roda. Ia pun meluncur dengan cepat di jalanan menuju ke rumah.
Saat itulah tiba-tiba ia dikejutkan dengan pria besar dengan bulu di sekujur tubuhnya. Alesse pun tidak siap menghadapinya dan terpeleset menabraknya.
"Hei! Kalau jalan lihat-lihat!" tegur Alesse. "Oh? Alesse? Rupanya kau! Maaf aku tidak lihat, aku sedang bingung ke mna arah jalan rumah," ujar pria itu yang ternyata adalah Alex.
"Loh? Kau sudah sampai? Kukira kau akan datang besok," ujar Alesse. "Tentu saja aku pulang lebih awal karena ingin bertemu denganmu!" seru Alex sambil memeluk Alesse erat-erat.
"Hei! Hei! Aku tidak bisa bernafas!" ujar Alesse. "Oh, maaf aku tidak sengaja," ujar Alex. "Kebetulan sekali, aku juga hendak pulang ke rumah," ujar Alesse. Tiba-tiba Alex merendahkan tubuhnya.
"Naiklah ke punggungku, biar kau yang tunjukkan jalan pulang," ujar Alex. "Kau ini apa-apaan? Aku bisa berjalan sendiri ke rumah, bodoh!" ujar Alesse kemudian melaju dengan sepatu rodanya.
"Ayo ikuti aku! Jangan sampai tersesat!" teriaknya. Alex pun langsung berlari sambil mengangkat kopernya. Ia dapat menyusul Alesse dengan mudah.
"Aku tidak tahu kau mempunyai hobi yang menyenangkan ini! Dari mana kau mempelajari cara memakai sepatu roda? Padahal kupikir kau tidak tertarik," ujar Alex.
__ADS_1
"Huh, yang namanya keterampilan, aku harus menguasainya! Mulai dari melukis, memasak, bermain musik atau bahkan beladiri juga. Meskipun tidak tertarik, aku harus bisa melakukan itu semua," ujar Alesse.
"Kedengarannya seperti mata-mata saja, harus bisa berbagai hal," ujar Alex. "Yeah, memang banyak yang harus kulakukan untuk mengikuti penelitian atau seminar universitas. Salah satunya adalah membuat identitas palsu," ujar Alesse.
"Whoa, berat sekali! Aku merasa seperti membaca cerita novel," ujar Alex. "Pada akhirnya semua yang diceritakan itu bisa menjadi nyata," ujar Alesse kemudian menambah kecepatannya. Bahkan tanpa mengayuh pun roda sepatu itu akan terus berputar.
Mereka berdua pun sampai di depan rumah. "Ya ampun! Siapa ini? Anakku sudah besar sekali!" ujar Andin sambil memeluk Alex. "Kedatanganmu sangat mencolok sekali!" ujar Hendra, ia berlagak dingin di depan anaknya.
"Seperti biasa, ayah selalu seperti ini. Kenapa ayah terlihat sangat membenciku?" tanya Alex keheranan.
"Dia hanya berlagak saja, sebenarnya ia juga sangat merindukanmu, bahkan hingga wajahnya pucat pasi," ujar Alesse. "Kenapa ku memberitahukannya, Alesse? Kau membuat ayah malu saja," ujar Hendra.
Akhirnya mereka pun makan bersama setelah sekian lama. Momen bahagia saat keluarga lengkap memang tak tertandingi.
Saat itulah tiba-tiba ponsel Alesse berdering. "Ada apa Alesse? Sepertinya ada sesuatu di ponselmu," ujar Alex.
Alesse pun memeriksanya, ternyata sebuah pesan pada buku kusam. Ada lembaran baru yang belum ia baca.
Setelah makan selesai, ia pun segera menuju ke kamar dan membaca isi lembaran yang baru itu.
Mitos tentang tujuh orang yang sama denganmu hidup di dunia ini. Jika kau telusuri ke berbagai dunia, kau akan menemukan mereka semua. Enam diantaranya adalah jiwamu, sedangkan yang satunya lagi adalah orang asing. Kau akan menemukannya di balik gerbang yang tak mengenal waktu.
"Kau bisa membaca tulisan itu?" tanya Jawara. "Tentu saja, kalau tidak... untuk apa kulihat?" Alesse keheranan. "Aneh sekali! Aku tidak pernah melihat tulisan seperti itu sebelumnya," ujar Jawara.
Alesse tidak peduli, ia langsung membuka lembaran berikutnya dan melihat sebuah peta. "Titik hitam! Akhirnya ada yang muncul satu!" seru Alesse.
"Sayangnya itu adalah zona mati! Titik itu berada di pusat kebocoran lumpur hitam yang menelan beberapa kecamatan. Apakah kau tetap akan ke sana?" tanya Jawara.
"Tentu saja! Aku harus ke sana sebelum titik hitam itu menghilang lagi!" ujar Alesse. Ia tampak terburu-buru mempersiapkan barang-barang. Ia langsung pergi ke bawah tanah dan membuka laci yang ada di dalam perut Probe.
"Mau kau apakan kotak kosong itu?" tanya Probe. Alesse memasukkan sebuah pot berisi tanaman ke dalam perut Probe.
"Aku tahu ini tidak masuk akal, pokoknya kalau Alex memanggilku dari luar, kau yang jawab! Jangan melakukan hal-hal yang mencurigakan! Kau hanya perlu berpura-pura menjadi diriku untuk hari ini saja, oke! Sebisa mungkin jangan berhadapan langsung dengan Alex!" ujar Alesse.
Akhirnya ia pun pergi lewat jendela. Meskipun begitu, ia tetap khawatir. "Pokoknya jangan sampai Alex menyadari kalau kau bukan diriku!" pesan Alesse sekali lagi. Akhirnya ia pun pergi ke lokasi titik hitam itu dan mendapati kawah lumpur yang terus mengeluarkan asap.
"Jawara, Levy bisa menembus suhu itu kan?" tanya Alesse. "Tentu saja, dengan kerapatan dan kepadatan tinggi, suhu seperti ini tidak akan menembusnya," ujar Jawara. Akhirnya Levy pun terjun ke dalam kawah itu.
Sayangnya setelah beberapa menit lamanya, tidak ada tanda-tanda hamparan tanah, mereka terus meluncur ke bawah tak henti-henti hingga secara tidak sadar, Levy mulai meluncur ke bawah lebih pelan. Semaki pelan pergerakan Levy, akhirnya ia terhenti juga.
"Loh? Sepertinya langit-langit masih tampak terang! Apakah benar kita sedang terjun ke dalam kawah?" Alesse keheranan.
Ia pun mencoba membuka pintu Levy dan mendapati hamparan tanah berumput. Ia langsung turun dan memijakkan kaki di sana.
__ADS_1
"Kita ada di mana Jawara?" tanya Alesse. "Entahlah, yang jelas bukan di bumi yang kita tinggali," ujar Jawara.