
"Kau baik-baik saja?" tanya Sandy, Alex masih kesulitan berjalan karena Sandy menendangnya terlalu keras.
Melihat hal itu, Ray tak bisa menahan tawa karena geli. "Aku minta maaf, aku terpaksa melakukannya sebelum Kau kehilangan kendali," ujar Sandy.
"Aku baik-baik saja, ini bukan salahmu kok," ujar Alex, ia masih takut karena teringat bagaimana Sandy menendangnya dengan keras.
"Berdirilah, atau perlu kuambilkan makan?" tanya Sandy. "Tidak apa-apa, aku bisa mengambil makananku sendiri," ujar Alex sambil berusaha bangun dari posisi tidurnya.
Tak lama kemudian Atlas datang dengan beberapa hidangan. "Aku tidak percaya kau sampai mengadu para pemuda ini hanya untuk kesenanganmu saja! Sampai kapan kau akan dewasa?" tanya Atlas. Ray hanya bisa tertawa sambil menggaruk-garuk kepala. Sandy tidak menyangka Dark Warden yang selama ini dikagumi banyak orang tampak sangat bodoh.
"Aku juga tidak menyangka dia bisa sejahil itu! Padahal secara usia ia cukup pantas dikatakan sebagai anak dari kedua pemuda ini," ujar Kaa.
"Apa?" Alex dan Sandy terkejut bukan main. "Kenapa kalian berdua tampak sangat terkejut?" tanya Atlas. Alex langsung menghadap Ray. "Ray! Berapa usiamu sekarang? Katakan dengan jujur!" pinta Alex. Ray hanya memalingkan wajah karena enggan menjawab.
"Lihatlah pria tak tahu diri ini! Dia dua puluh tahun lebih tua dari kalian," ujar Kaa. "Be... benarkah? Setua itu?" tanya Alex terkejut, ia tidak menyangka selama ini menganggapnya sebagai teman sebaya, ia merasa bersalah karena sering bersikap tidak sopan padanya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Alex?" tanya Ray merasa tidak nyaman. "Bu... bukan apa-apa, jika dua puluh tahun lebih tua dariku, kau bahkan lebih tua dari kedua orang tuaku. Aku harus memanggilmu apa? Pak Ray?" tanya Alex.
"Kejam sekali! Apakah aku terlihat setua itu?" tanya Ray. "Seharusnya kau terima saja kalau dirimu sudah tua! Jangan banyak menyangkal! Benar-benar memalukan sekali!" ujar Kaa.
"Permisi, apa hubungannya Dark Warden denganmu, Kaa? Kau tidak pernah bercerita," ujar Sandy, ia sangat penasaran.
"Aku hanyalah seseorang yang kebetulan menemukannya di tempat sampah dan memungutnya," jawab Kaa.
"Te.. tempat sampah? Apa yang sebenernya ia lakukan di tempat sampah?" tanya Alex penasaran. "Berhentilah bertanya," ujar Ray, raut wajahnya berubah serius.
"Sudah saatnya kau melupakan semua itu, Ray! Kau harus menghadapi kenyataannya! Kau juga sudah tua sekarang!" ujar Kaa.
"Kau lihat ini?" tanya Ray sambil menunjukkan batu berbentuk lentera, ada nyala api yang tampak redup di dalamnya, hal itu bahkan membuat Alex dan Sandy keheranan.
__ADS_1
"Lihatlah! Bukankah masih menyala? Kalian juga berpikir begitu kan?" tanya Ray pada Alex dan Sandy. Keduanya hanya mengangguk, mereka pikir itu adalah jawaban yang Ray inginkan sehingga tidak berani berbicara banyak.
"Lihatlah! Mereka juga melihat cahaya yang ada di dalam batu ini! Aku tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi saat itu! Ralph masih hidup dan aku akan menemukannya! Aku harus menemukannya!" teriak Ray sambil memukul dinding kemudian pergi meninggalkan mereka semua.
Alex bahkan terkejut karena ini kedua kalinya ia melihat raut wajah Ray yang begitu serius.
Kaa hanya menghela nafas pasrah karena sikap Ray yang begitu keras kepala.
"Untuk hari ini sebaiknya kita istirahat terlebih dahulu, kita akan membahas rencana kita besok pagi. Semoga kalian bisa nyaman berada di sini," ujar Atlas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya Alex mendapati Ray sedang duduk di atas pohon, ia pun menghampirinya karena penasaran sambil berharap suasana hatinya sedang baik.
"Ada apa?" tanya Ray. "Ti.. tidak.... maaf.... aku hanya...." Alex takut merusak suasana hati Ray.
"Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Seharusnya aku yang meminta maaf. Maafkan aku karena memperlihatkan hal yang sangat kekanak-kanakan. Aku hanya ingin percaya bahwa ia masih hidup, aku harus percaya bahwa ia masih hidup!" ujar Ray sambil menggenggam batu berbentuk lentera itu.
"Terima kasih telah menghiburku, Alex. Mungkin sebaiknya kita segera masuk untuk membahas misi kita hari ini," ujar Ray, ia tampak sedikit menahan tawa. Rupanya ia baru saja memenuhi kepala Alex dengan tumpukan daun kering dan membakarnya.
"Argh! Kapan kau akan berhenti bercanda?" tanya Alex kesal. "Sepertinya tidak bisa, itu sudah melekat pada jiwaku," ujar Ray sambil tertawa kemudian masuk ke dalam rumah Atlas.
Saat masuk ke dalam rumah, ia mendapati enam Ray dengan pakaian berbeda sedang duduk di kursi.
"Jarang sekali kau menunjukkan dirimu yang seperti itu," ujar Alex. "Yeah, aku sudah lama menahan tubuhku agar tidak banyak berubah. Menjalani hari dengan kepribadian yang berbeda itu sangat tidak menyenangkan. Akhirnya mereka semua keluar karena jenuh berada dalam tubuhku tanpa bisa melakukan apapun," ujar Ray berpakaian serba hijau.
"Luar biasa sekali! Aku tidak menyangka ada kemampuan hebat seperti ini. Apakah kalian saling berbagi panca indera?" tanya Sandy, ia mencoba menepuk pundak Ray dengan pakaian serba coklat.
"Apa-apaan kau? Kenapa pegang-pegang tubuhku? Cari masalah denganku?" tanya Ray berpakaian serba coklat dengan ekspresi yang mengintimidasi layaknya seorang preman.
__ADS_1
"Jangan begitu, Boulder! Kau membuatnya takut," ujar Ray berpakaian hijau. "Kalian punya nama-nama yang berbeda?" tanya Sandy.
"Tentu saja, kami akan kesulitan berbicara jika hanya menggunakan Raya Stephen. Ngomong-ngomong, aku adalah Inferno, yang berpakaian hijau itu.... Ray yang asli, kami memanggilnya Alpha, lalu berbaju coklat itu. seperti yang kalian dengar adalah Boulder...." Ray berbaju merah hendak terus menjelaskan, namun tiba-tiba Alex menghentikannya.
"Tunggu dulu, itu tidak seperti yang pernah kau katakan padaku! Kenapa kau menyebutkan nama yang berbeda dari sebelumnya?" tanya Alex.
"Karena itu terlalu membosankan, untuk saat ini nama yang kami pakai adalah yang baru saja kukatakan. Lalu, untuk yang paling tampan dari yang lain... kami ada Frost yang berpakaian serba biru ini. Lihatlah matanya bahkan berwarna biru seperti laut," ujar Inferno.
"Apakah itu baju santai? Ia hanya mengenakan rompi dan celana pendek? Padahal di sini sangat dingin, kenapa ia mengenakan pakaian seperti hendak ke pantai di musim panas?" tanya Sandy.
"Oh, itu adalah salah satu daya tarik tersendiri darinya," jawab Alpha. "Heh?" Sandy tetap tidak mengerti. "Kau selalu menjawab dengan sesuatu yang tidak diharapkan orang lain," keluh Alex.
"Sudahlah, kita di sini hendak membahas rencana kita untuk meredam sekte sesat dari Warden. Mereka sudah merajalela di berbagai bumi lainnya. Bahkan Gordon dan Adraksh sudah menjadi markas besar mereka," ujar Atlas.
"Kukira kita sudah memberantas sekte Warden di Gordon," ujar Sandy. "Tidak semudah itu, anak muda! Gordon adalah bumi paling luas dibandingkan bumi-bumi lainnya," ujar Atlas.
"Sepertinya ini akan merepotkan! Adraksh adalah bumi yang sangat berbahaya, hanya pengendali petir yang bisa bertahan hidup di sana," ujar Kaa.
"Kenapa hanya pengendali petir yang bisa hidup di sana? Memangnya ada apa di bumi itu?" tanya Alex.
"Bumi Adraksh adalah bumi yang selalu diselimuti badai petir. Tidak seperti badai yang terjadi di bumi lainnya. Badai di sana tidak disertai angin kencang mau pun hujan, namun sambaran petir yang bertubi-tubi," jawab Kaa.
"Konyol sekali! Apakah kalian serius dengan apa yang kalian bicarakan ini? Sambaran petir bertubi-tubi? Kalian sedang tidak menceritakan dongeng kan? Aku juga belajar biologi, kimia, dan fisika di sekolah! Jika terjadi hal mengerikan seperti sambaran petir bertubi-tubi, bahkan setiap hari, mana mungkin ada yang bisa bertahan hidup di tempat seperti itu!" ujar Alex, ia merasa dibodohi oleh orang-orang primitif.
"Haruskah aku menjelaskan lagi? Reaksi yang sama seperti Sandy saat pertama kali mendengarnya. Aku sudah menjelaskannya dan enggan mengulanginya lagi," ujar Kaa.
"Baiklah, biar kujelaskan pada kucing belagu yang selalu merasa paling pintar ini! Padahal kakaknya yang jenius saja tidak pernah sesombong itu," ujar Sandy.
"Apa? ku... kucing? Sepertinya sapi ternak ini memiliki masalah pada matanya!" ujar Alex kesal.
__ADS_1
"Hei! Hei! Alex! Dari mana kau mempelajari kata-kata seperti itu? Kenapa kau menjadi lebih mirip Tesla sekarang? Kau ini seorang pria, sadarlah!" ujar Alpha, ia mencoba menyadarkan Alex yang tampak penuh emosi itu.
"Sandy, sebaiknya jangan bahas tentang kakaknya di sini," ujar Kaa seolah melarangnya untuk mengungkit Alesse. Ia takut Atlas akan marah jika ia tahu bahwa Alex adalah adik Alesse.